Bab 16 - Kemarahan Alisa

1204 Words

Bunyi dentuman palu di atas giok adalah pekikan tajam dan memekakkan telinga yang bergema di ruang kantor yang sunyi itu. Itu bukanlah bunyi benturan keras yang maskulin, tetapi bunyi pecahan rapuh yang bergetar. Gelang giok itu pecah total. Tidak hanya retak, tapi hancur menjadi serpihan kecil, berkilauan di bawah cahaya lampu yang berlebihan. Kepingan-kepingan hijau pucat dan tajam itu menggelinding di permukaan meja obsidian yang gelap, memantulkan tragedi. Akhir dari kenangan ayahnya, akhir dari harapannya, akhir dari setiap jejak dirinya yang bebas yang tersisa di Mansion ini. Alisa tidak lagi menjerit. Ia mengeluarkan suara yang jauh lebih buruk, desahan panjang, putus asa, seolah udara telah meninggalkan paru-parunya selamanya. Hatinya tidak lagi berdetak karena takut, ia berdeta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD