Alisa dilemparkan kembali ke kamarnya, pintu baja yang dihias itu dikunci. Dia tidak menangis, air mata adalah kemewahan yang tidak mampu ia bayar sekarang. Ia terlalu marah untuk rasa duka, berjalan mondar-mandir di karpet mewah, setiap langkahnya terasa seperti api yang membakar. Pecahan gelang giok, itu simbol terakhir kebebasannya, koneksi nyata terakhirnya dengan kemanusiaan telah dihancurkan. “Hutang itu membuatku membayar harga yang sangat mahal,” lirih Alisa putus asa. Ia meninju dinding, tetapi rasa sakit fisiknya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Rasa sakit itu, ia sadari, harus diubah menjadi senjata. Ia teringat tatapan Damian saat ia menyebutnya Monster Tanpa Hati, Ada jeda. Ada keretakan. Damian tidak segera membalas atau menghukumnya. Pria itu hanya me

