Malam itu, kemewahan Balai Kota terasa mencekik. Acara amal yang dihadiri Damian Sagara adalah ajang pamer kekuasaan, bukan kedermawanan. Di tengah kerumunan para pengusaha, politisi, dan tokoh bawah tanah, Alisa melakoni perannya dengan sempurna. Dia mengenakan gaun malam biru safir yang memeluk siluet tubuhnya dengan elegan dan kalung berlian yang Damian berikan. Senyumnya tenang, matanya dingin. Dia adalah perwujudan sempurna dari Nyonya Sagara yang diidamkan Damian, indah, anggun, dan tanpa jiwa. Di sisi lain, Damian, sang Don Corvus, memancarkan aura bahaya yang tersembunyi. Dia mengawasi Alisa seperti seorang penjaga gudang harta, memastikan tidak ada yang mendekat terlalu jauh. Dia tahu, di balik senyum itu, ada kebencian yang mendidih. “Kamu terlihat mempesona, Nyonya Sagara,”

