PENANGKAPAN
"Jika apa yang kau katakan itu bualan belaka, An Zi, aku akan memastikan pamanm kaisarku memotong tunjangan bulananmu di akademi," kelakar Pangeran Qing sambil menyandarkan tubuhnya pada bantal sutra.
An Zi terbahak, mengibas-ngibaskan kipas lipatnya dengan gaya flamboyan yang khas. "Tenang saja, Yang Mulia. Jika malam ini kau tidak mendesah puas, aku sendiri yang akan berlutut dan menjadio pelayan pribadimu selama sebulan penuh. Paviliun Guanji tidak pernah mengecewakan darah bangsawan."
Tak lama kemudian, kereta berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga yang dipenuhi ornamen ukiran naga dan foniks emas. Musik petikan pipa dan tawa renyah para wanita langsung menyambut kedatangan mereka. Bau parfum mawar yang pekat menyeruak, membius siapapun yang melintasi gerbang utamanya.
Begitu melangkah masuk, sang mucikari—seorang wanita paruh baya bergaun sutra ungu ketat dengan riasan tebal—langsung mengenali An Zi. Dengan senyum merekah, ia menyambut kedua pria itu bagai raja.
"Ah, Tuan Muda An Zi! Sudah lama tidak berkunjung. Siapa pria tampan di sebelahmu ini? Aura bangsawan begitu kuat memancar darinya," puji sang mucikari dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Ini tamu agungku dari Negeri Lang, Bibi Mei. Berikan kami ruangan terbaik di lantai teratas, dan panggilkan tiga—tidak, lima wanita paling berbakat yang kau miliki malam ini. Pastikan mereka tahu cara melayani seorang pangeran," perintah An Zi sembari melemparkan sekantung berat koin emas ke udara, yang ditangkap denganb cekatan oleh Bibi Mei.
Mata Bibi Mei berbinar serakah. "Tentu saja, Tuan Muda. Segala keinginan Anda adalah perintah bagi kami."
Mereka berdua digiring menuju paviliun pribadi di lantai paling atasd, sebuah ruangan luas yang dilapisi karpet bulu domba impor dengan ranjang berukuran raksasa di tengahnya. Di atas meja kayu cendana, telah tersaji berbagai jenis arak terbaik dan buah-buahan segar.
Hanya butuh waktu beberapa menit sebelum pintu ruangan bergesert terbuka. Lima orang wanita dengan pakaian transparan yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuh mereka masuk dengan gerakan gemulai.
Kulit mereka putih bersih bak porselen, dengan senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria manapun. Pangeran Qing langsung menegakkan duduknya, matanya menatap liar bergiliran pada tubuh-tubuh elok di hadapannya.
"Bagaimana, Pangeran? Apakah matamu sudah terpuaskan?" bisik An Zi penuh kemenangan.
Pangeran Qing menyeringai lebar. Tanpa banyak bicara, ia menarik dua wanita sekaligus ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher jenjang salah satu wanita sambil mendesah nikmat. "Kau benar, An Zi. Sialan, ini jauh lebih baik daripada selir-selir tua di istanaku!"
Suasana paviliun itu pun dengan cepat berubah menjadi arena pesta pora yang penuh syahwat. Suara tawa, dentingan cawan arak, dan desahan napas yang memburu memenuhi ruangan. An Zi dan Pangeran Qing benar-benar larut dalam kesenangan duniawi yang ditawarkan oleh rumah bordil terbesar di ibu kota tersebut, melupakan sejenak beban protokoler kerajaan yang menanti mereka keesokan harinya.
Namun, kesenangan itu mendadak sirna ketika malam mencapai puncaknya.
BRAAKK!
Pintu kayu paviliun yang kokoh dihantam dari luar hingga engselnya jebol dan hancur berantakan di lantai. Suara benturan keras itu membuat para wanita menjerit ketakutan dan langsung meringkuk di sudut ruangan, berusaha menutupi tubuh mereka yang polos.
Pangeran Qing yang sedang dalam kondisi setengah telanjang langsung melompat berdiri dengan wajah merah padam karena amarah yang memuncak.
"Siapa k*****t yang berani mengganggu kesenanganku?!" teriaknya menggelegar.
Dari balik debu pintu yang hancur, muncul sekelompok prajurit berbaju zirah lengkap dengan pedang terhunus. Di depan mereka, berdiri seorang pria tegap berwajah dingin dengan pakaian resmi Panglima Kekaisaran. Mata pria itu menatap tajam ke arah Pangeran Qing dan An Zi yang masih kebingungan di bawah pengaruh alkohol.
"Pangeran Qing Lang dari Negeri Lang," ucap sang panglima dengan suara berat yang mengintimidasi. "Atas perintah langsung dari Pangeran Xu Zi, Anda ditangkap atas tuduhan konspirasi tingkat tinggi dan spionase militer berkedok kunjungan pernikahan."
An Zi membelalakkan mata, rasa mabuknya hilang seketika digantikan rasa pening yang luar biasa. "Apa-apaan ini?! Ini fitnah! Kami hanya bersenang-senang di sini!"
"Diam, An Zi! Kau juga terseret sebagai kaki tangan!" bentak sang panglima. Di belakang barisan prajuritr, perlahan muncul sesosok pria lain dengan senyuman sinis yang sangat dikenal oleh Pangeran Qing—itu adalah mata-mata kepercayaan dari faksi lawan di negerinya sendiri.
Pangeran Qing menyadari satu hal dengan sangat terlambat: pesta pernikahan Pangeran Xu Zi hanyalah sebuah jebakan politik, dan rumah bordil megah ini telah diatur sejakl awal untuk menjadi tempat eksekusi reputasinya.
Di luar paviliun, terdengar gemerincing rantai besi yang siap mengikat kedua tangan sang pangeran.