K-POPERS | 9

2516 Words
Anita membuka pintu kamar dengan pelan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Kepalanya menyembul di balik pintu, tatapannya menyapu seisi kamarnya dan terpaku kepada satu objek yang menjadi tujuannya memasuki kamarnya. Di tutupnya dengan pelan pintu kamarnya dan berjalan dengan cara mengendap menuju sahabatnya yang tengah duduk di meja belajarnya dan memainkan laptopnya. Sekarang, Anita berdiri tepat di belakang Kaila yang tengah fokus menatap layar laptop yang memperlihatkan boyband kesayangannya yang tengah live performance di salah satu acara musik bank di Korea Selatan. Anita menggeleng kepalanya pelan melihat kelakuan sahabatnya yang tiada hari tanpa menonton video oppa-oppa Korea-nya itu. Untung dirinya kelewat sabar, jadi yang ia lakukan adalah, mengusap d**a dengan tingkah sahabatnya yang kpopers kelas berat itu. "Pura-pura marah trus ngacir ke kamar gue, gak taunya tujuan awalnya biar bisa liat live performance oppa Korea." Cibir Anita yang duduk di pinggir kasurnya, menatap sahabatnya kesal. Kaila membalikkan badannya menatap sumber suara. Ketika tatapannya bertabrakan dengan tatapan Anita, yang Kaila lakukan adalah, memperlihatkan deretan gigi putihnya dengan wajah sok imut. "Sori, Ta. Soalnya gue gak mau ketinggalan sedikit'pun tentang boyband kesayangan gue. Takutnya suami online gue si Park Jimin marah kalo gue gak nonton live streamingnya. Emang lo mau kalo sahabat lo ini di talak tiga sama Park Jimin. Ya kali gue janda di umur delapan belas tahun." Buk "Awshh... kok lo jahat banget sama gue, Ta!" Gerutu Kaila ketika Anita melemparinya dengan bantal. Anita bersedekap d**a tanpa rasa bersalah. "Salah sendiri. Gue, Adam, sama Bang Elang udah mikirin gimana caranya supaya lo bisa deket sama Haikal, gak taunya lo malah kayak gini. Siapa yang gak kesel coba!" Ketus Anita. Kaila menggaruk kepala bagian belakangnya dengan kikuk. "Sori lagi, deh. Gue janji, setelah nonton live performance BTS gue bakal lakuin sesuai rencana." Anita memutar bola mata jengah. "Telat! Si Haikal udah tempur sama game onlinenya. Gak ada pilihan lain, akhirnya Adam sama Bang Elang ikutan main." Kaila kembali memusatkan tatapannya ke layar laptop dan kembali hanyut kedalam pesona oppa-oppa Korea-nya. Bahkan dirinya tidak sadar ikut menyanyikan lagu boyband kesayangannya itu. "Oh my my my you make me fly so fast i empthhhhh...," Kaila memukul tangan Anita yang membekap mulutnya. Tatapannya tajam agar Anita menjauhkan tangannya dari mulutnya. "Gak bakal gue lepas. Suara lo udah fals, bikin telinga gue mau bocor. Apalagi lagu yang lo nyanyiin bikin nyamuk di kamar gue pada puyeng." "Empthhh... empthhh...," Kaila menggerakkan tubuhnya agar Anita menjauh darinya. Tapi, percuma karena Anita melingkarkan satu tangannya ke lehernya membuatnya hanya bisa menghentakkan kakinya kesal. "Lo diem dan lupain oppa Korea-nya lo itu karena gue dapet pesan dari Adam kalo para cowok gamers sekarang lagi siap-siap buat bakar jagung. Please, jangan sia-siain kesempatan emas bercampur permata ini." Celetuk Anita yang langsung menarik tangan Kaila keluar kamar. Tidak perduli ringisan kesakitan yang Kaila serukan. "Pelan-pelan kali, Ta. Ya kali, gue ke bawah gak pakek alas kaki, berasa kek ayam jadi-jadian gue." Gerutu Kaila sambil menuruni undakan tangga. "Gak apa-apa, gak pakek alas kaki lebih elite, lumayan biar sandal gue gak lo pakek." "Sialan." "Sama-sama zeyenk." "Jijik." Cibir Kaila yang langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat ketika dirinya dan Anita sudah sampai di halaman rumah Anita. Anita menarik Kaila mendekati tiga cowok yang tengah sibuk mengumpulkan peralatan untuk membakar jagung. Semua sudah siap, tinggal menunggu api di nyalakan. Anita duduk di atas karpet yang sudah digelar di atas rerumputan diikuti Kaila yang memasang wajah datar. "Buat yang cewek, bantu kupasin kulit jagungnya ya. Biar gue, Bang Elang sama Haikal yang bakar jagungnya." Titah Adam dan meletakkan plastik besar berisi jagung. Anita tersenyum sumringah. "Siap babe." Jawabnya diiringi kerlingan mata yang dibalas senyuman oleh Adam. "Mari Kaila, kita kupas bareng-bareng." Anita melempar beberapa jagung ke hadapan Kaila dengan senyum yang super duper menyebalkan bagi Kaila. "Jijik gue liat lo." Ketus Kaila yang mulai mengupas jagung dengan gerakan kasar. Anita terkekeh, ia tidak lagi membalas perkataan sahabatnya. Justru ia tengah menatap gerak-gerik kekasihnya yang memasuki rumah. Senyum misterius tercetak, kekasihnya sudah mulai beraksi. "Lo dapet berapa, Kaila?" Tanya Anita. "Dua." "Lha, dua? Gile lelet amat lo. Gue udah dapet lima ini." "Bodo. Lagian ini keras banget. Untung tangan gue gak lecet." Gerutu Kaila. "Lebay lo. Oh iya, gue tahu elo pasti lagi cari perhatiannya Haikal, kan? Oke, lo gak usah repot-repot jawab karena gue dengan senang hati bakal panggilin Haikal. HAIKAL, KAILA BUTUH BANTUAN LO. KATANYA KAILA MAU TANYA CARA MENEMUKAN IP ADDRESS." Kaila kalang kabut. Ia menggeram dan ingin menelan Anita hidup-hidup. Apalagi yang dipanggil menoleh dan berjalan mendekatinya dan Anita. Oh my! Demi keseksian Park Jimin! Wajahnya menghangat. Ia benar-benar malu dengan tingkah sahabatnya yang blak-blakan ini. "Anita b*****t!" Pekiknya sambil melempari Anita dengan jagung. Sialnya, jagung yang ia lempar tidak mengenai sasaran. "Ada apa, Ta?" Tanya Haikal yang sudah mengambil duduk di depan Anita sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan meletakkannya di atas karpet. Anita sempat menoleh kearah Kaila dan tersenyum sok manis. "Gini, si Kaila ini kan lemah banget dalam mata pelajaran produktif umum. Merakit aja sana-sini longgar gak ada yang bener. Apalagi kalo udah masang kabel UTP ke konektor RJ 45 yang kurang kuat tenaganya buat merapatkan konektor ke kabel. Aduhh... pokoknya ancur banget deh, produktif umumnya ini bocah. Apalagi materi pelajaran di kelas kita sudah memasuki materi baru yaitu, menemukan Ip Address yang kudu cari sedetail-detailnya status dan cara kerja sebuah aplikasi dalam laptop atau PC. To the point ya Kal, gue mau minta bantuan lo buat ajarin ini bocah menemukan Ip Address." Jelas Anita menatap Haikal dengan tatapan memohon dan bertepatan dengan kekasihnya yang keluar dari rumah dengan menenteng laptopnya. Adam mengambil duduk di sampingnya dan meletakkan laptop miliknya ke karpet. "Bantuin si kutil, Kal. Kasian dia, bentar lagi kita prakerin dan si kutil belum menguasai tiap materi, yang ada dia di hapus dari daftar nama murid yang siap berangkat prakerin." Sahut Adam melirik Kaila yang tengah menatapnya tajam. "Gak usah gitu natapnya, La. Gue tahu lo lagi terhura karena gue ternyata perhatian ke lo." Kelakar Adam diiringi kekehannya yang menular pada Anita. "Iya Kaila, pacar gue ini gak butuh kata terimakasih dari lo. Karena apa? Karena kita ini sahabat dan keluarga kedua setelah keluarga di rumah." Sahut Anita merangkul Kaila. "Ish..." Kaila menepis tangan Anita di lehernya. "B aja kali, Kaila. Btw, gue sama Adam bakar jagung dibantu Bang Elang. Biar lo sama Haikal disini belajar yang bener ye bareng Haikal. Haikal udah siap lahir batin ngajarin lo." Ujar Anita menepuk bahu Kaila. "Ayo sayang, kita ke Bang Elang." Adam menarik tangan Anita meninggalkan Haikal dan Kaila dengan suasana canggung. Sekarang, yang Kaila lakukan adalah, menatap pagar rumah Anita dengan perasaan ketar-ketir. Ada rasa malu dalam dirinya mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Sebenarnya ia tidak menyangka jika bisa blak-blakan di hadapan Haikal. Mulutnya ini memang s****n. Keberaniannya menciut kala tatapan matanya bertemu pandang dengan tatapan Haikal. "Kaila, kita mulai ya." Haikal membuka pembicaraan lebih dahulu sambil meraih laptop Anita. Kaila tidak tahu harus merespon apa. Karena pada dasarnya ia tidak mengerti kemana arah permainan yang direncanakan oleh sahabatnya itu. Bahkan Anita tidak memberitahu apa yang harus ia lakukan. Kaila melirik Anita yang tengah menatapnya. Disana, Anita menatapnya tajam, seolah menginterupsinya untuk melaksanakan permainan dengan baik. Bahkan ia melihat Anita menganggukkan kepalanya membuatnya berpikir jika ia harus meng'iyakan apa yang Haikal ajukan. Oke, kalau begitu, ia akan bermain dengan sangat baik kalau perlu sampai semuanya super Perfect seperti dalam permainan Superstar BTS yang sering ia mainkan. Anggap saja Haikal bagaikan kartu prisma dalam permainan superstar BTS yang memiliki level jauh diatas kartu A sampai C. Membuang jauh-jauh rasa malunya, Kaila menghadapkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Haikal yang sudah siap dengan laptop di pangkuannya. "Mulai aja Kal biar cepet selesainya." Jawabnya dengan senyum sumringah. Haikal mengangguk, satu tangannya menepuk tempat kosong di sampingnya sambil menatap Kaila. "Ngapain liatin gue begitu?" Tanya Kaila heran. "Duduk sini, samping gue biar enak gue jelasinnya dan lo bisa liat dengan jelas panduan yang gue ajarkan." Ujar Haikal yang diangguki Kaila. Tanpa mengulur waktu, Kaila berpindah tempat di samping Haikal. Mati-matian ia menahan letupan di dadanya saat tak sengaja lengannya bersentuhan dengan lengan Haikal. Berada di dekat Haikal rupanya masih tetap menimbulkan debaran yang luar biasa dan ia tidak bohong jika hati dan pikirannya tidak fokus lagi dengan perkataan Haikal sebelumnya. "Kaila." "Ehh.. i.. iya?" "Lo ngelamun, gue jadi gak enak buat ajarin lo. Yang ada lo gak dengerin gue dan akhirnya tenggorokan gue kering tanpa hasil yang pasti." Ungkap Haikal membuat Kaila gelagapan. Ia kesal sendiri dengan dirinya sendiri yang mudah sekali melamun kalau sudah berdekatan dengan Haikal. Di otaknya terus saja mencoba membangun imajinasi yang mustahil di capai, contoh nyatanya seperti impiannya yang ingin menonton konser BTS bersama Haikal dengan memegang satu lighstik. Hufttt... halu kelas akut. "Nggak kok, gue gak ngelamun. Gue cuma lagi ingat-ingat aja penjelasannya Pak Rohim minggu lalu. Gak tahunya di otak gue burem semua penjelasan yang disampaikan Pak Rohim." Kekeh Kaila memanipulasi keadaan. "Gimana mau inget kalo isi otak lo aja tentang manusia jelly itu." Kaila meringis. Ia ingin marah, tapi ditahannya demi kelancaran pendekatannya yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. "Hehe, iya. Otak gue made in Korea, makanya isinya oppa-oppa Korea semua." Kelakar Kaila mencoba setenang mungkin meski dalam hati ia sudah mencak-mencak tidak terima oppa-oppa Korea-nya disebut manusia jelly. Haikal terkekeh sebelum pada akhirnya berdeham. "Mulai ya?" Tanyanya meminta persetujuan Kaila. Kaila mengangguk. "Kuy mulai." "Dimulai dari menemukan IP f*******:, ya. Pertama-tama yang perlu lo lakukan adalah, gunakan pintasan tombol windows dan tombol X. Nah, setelah itu ada beberapa ikon pilihan seperti kotak disitu, lo klik Command Prompt. Setelah lo klik Command Prompt maka aplikasi Command Prompt akan terbuka. Nih, lo liat layarnya jadi hitam dengan beberapa bacaan yang berisi ping Facebook." Haikal memperlihatkan layar laptop yang menggelap kepada Kaila dan menunjukkan bacaan yang tertera disitu. Kaila mengangguk, sedikit paham dengan penjelasan Haikal yang begitu detail meski ada beberapa yang belum ia tahu. Ia maklumi itu, karena mungkin Haikal masih menjelaskan langkah awalnya. Kaila terkejut ketika Haikal meletakkan laptop ke pangkuannya. "Lo yang klik dan gue yang kasih tahu tombol mana aja yang harus lo tekan." Ujar Haikal dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Kaila terperangah dan sesaat terpesona dengan kenikmatan Tuhan yang tersaji di depan matanya Haikal. Sebelum pada akhirnya ia disadarkan dengan tepukan di bahunya. Haikal. Ya, Haikal. Haikal menepuk bahunya dengan senyum manisnya. "Gue yakin lo bisa," ujar Haikal yang sukses membuat ribuan kupu-kupu bertebaran di dalam perutnya dan seperti banyak bunga yang bermekaran di hatinya. Mendadak lagu BTS yang berjudul Boy With Luv mengalun di otaknya. Listen my my baby naneun Dengarkan aku sayangku Jeo haneul-eul nop-i nalgo iss-eo Aku terbang tinggi ke angkasa (geuttae niga naege jwossdeon du nalgaelo) Dengan dua sayap yang kau berikan padaku saat itu Ije yeogin neomu nop-a Sekarang, sangat tinggi dari atas sini Nan nae nun-e neol majchugo sip-eo Aku ingin kau terus menatap mataku Hingga tak lama setelah itu Kaila kembali ke alam sadarnya ketika tangan Haikalmengusap puncak kepalanya. "Ada daun di atas kepala lo." Ujar Haikal membuatnya cengo diantara debaran yang menggila ini. "Ayo, lanjut." Lanjut Haikal dengan anggukan kepala. Kaila tergagap dan perlahan menganggukkan kepalanya pelan. Kaila mencoba memfokuskan tatapannya ke arah laptop, mengabaikan debaran yang dirasakannya. Kepalanya menunduk, menatap layar laptop yang dijadikan tameng agar Haikal tidak tahu jika pipinya memerah. "Ini gue harus gimana?" Tanya Kaila dengan tatapan yang terfokus kepada layar laptop. "Setelah itu, lo ketik bacaan ping sss. Facebook.com-t yang ada di jendela Command prompt. Oh iya, jangan ketik karakter atau spasi tambahan, ya." Kaila mengangguk, tangannya mulai menari di atas keyboard melalui intruksi dari Haikal. "Muncul kayak gini, Kal?" Kaila memperlihatkan beberapa pilihan yang terpampang di layar laptop. "Lo klik ikon terminal yang ada di urutan paling atas. Setelah itu, akan muncul beberapa bacaan seperti di bagian-bagian dua, caranya'pun juga sama. Lo ketik ping Facebook.com pada jendela terminal." Jelas Haikal ketika Kaila telah mengetik ping Facebook.com yang berfungsi untuk meminta alamat IP dari f*******:. "Setelah ini klik apa?" "Lo klik tombol return dan setelah tombol return lo klik, maka perintah terminal akan dijalankan dan alamat IP f*******: akan ditampilkan." Mata Kaila berbinar setelah mengetik tombol return dan muncul alamat IP f*******: yang merupakan baris angka yang berada di samping kanan atas baris teks. Kaila tersenyum puas. Sekarang, ia sedikit tahu bagaimana caranya menemukan alamat IP f*******:. Di form terakhir tertera bacaan Ping Facebook.com di dalam kurung yang berisi beberapa baris angka dengan dilanjutkan kata 56 data bytes. "Wahhh... alamat IP-nya udah ditemuin, Kal." Heboh Kaila sambil menunjuk layar laptop. Haikal mengangguk. "Iya. Jadi, setelah ini lo harus belajar lagi supaya lo ingat gimana caranya menemukan IP Address. Gak sulit, kok." Ujar Haikal yang entah sejak kapan memangku dagunya dengan tangan yang berada di atas pahanya dan tatapan yang fokus kepada wajah ceria Kaila seolah baru saja mendapat seperangkat alat sholat *eh "Kalo gitu, gue mau bel...," Perkataan Kaila terpaksa berhenti di tengah jalan ketika kepalanya menoleh hendak menatap Haikal, ternyata yang ingin ia tatap tengah menatapnya dengan tatapan dan senyuman yang lumer di hati. Demi keseksian Park Jimin! Kalau begini terus-menerus, yang ada ia bisa terkena penyakit jantung stadium akhir dalam debaran kencang melebihi angin p****g beliung. Arghhh... lebay! Bodohnya lagi, Kaila malah ikut-ikutan menopang dagu dan membalas tatapan Haikal. Tatapan penuh cinta tak pernah padam dari tatapan Kaila. Bahkan bibirnya juga ikut-ikutan tersenyum yang manisnya melebihi senyumnya Min Yoongi. Di detik berikutnya, Kaila hampir saja pingsan jika saja usapan lembut di puncak kepalanya menyadarkannya dan membuat otaknya bekerja untuk mencernanya kata yang Haikal ucapkan. "Maafin gue udah bikin lo baper." Perkataan Haikal terus terngiang membuatnya menatap Haikal lekat dengan debaran yang semakin menggila. Bahkan, bibirnya tidak bisa untuk menyerukan isi hatinya yang terhenti di kerongkongannya. Arghhh... s**l! Haikal benar-benar keterlaluan. Haikal sudah lancang membuatnya terbang tinggi dan berada dalam zona baper kelas atas dan terberat. Puk "Awww....," Jerit Haikal dan Kaila bersamaan ketika punggungnya seperti dihantam oleh benda yang keras. Haikal dan Kaila menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok manusia yang entah sejak kapan memasuki kamus manusia naklat dalam hidup Kaila tengah bersedekap d**a dan menatapnya dan Haikal dengan tatapan datar. "Sakit tau!" Gerutu Kaila setelah melihat sepasang sepatu vans yang menjadi s*****a menimpuk punggungnya dan Haikal. "Bodo. Suruh siapa dari tadi sibuk tatap-tatapan dan gak dengerin gue yang udah teriak-teriak manggil kalian." Ketus Anita yang berjalan menuju karpet dengan membawa dua piring yang berisi jagung bakar. Kaila mengerjap. Baru saja Anita mengatakan jika sedari tadi sahabatnya itu memanggilnya dan Haikal tetapi tidak ada respon. Ehmmm... demi keseksian Park Jimin! Pipinya menghangat. Secara tidak langsung dirinya dan Haikal sedari tadi hanyut dalam tatapan mata yang sama-sama memabukkan. "Udah ah udah, mending kita makan jagungnya. Keburu dingin, gak enak nantinya." Setelah sekian lama tidak angkat bicara, akhirnya Haikal angkat bicara yang Kaila anggap sebagai penyelamatnya dari tatapan interogasi yang Anita perlihatkan. "Kuy. Gue udah gak sabar ngabisin, tuh, jagung." Celetuk Adam yang langsung mencomot dua jagung sekaligus dan menggigitnya satu-persatu. Kaila bernafas lega karena sudah terbebas dari tatapan interogasi Anita. Tapi, tetap saja jantungnya makin gila. Apalagi secara tidak sengaja ia melihat wajah Haikal yang memerah seperti tengah menahan malu. Duh... kalo begini terus, yang ada Kaila semakin optimis untuk mendapatkan hati Haikal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD