K-POPERS | 8

2470 Words
Kaila merapatkan jaket kulit yang membaluti tubuhnya. Malam ini hawanya begitu dingin membuatnya harus mengenakan jaket saat keluar rumah seperti sekarang. Sesekali u*****n kecil keluar dari bibir mungilnya. Melihat arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam membuatnya bosan berdiri di depan rumah hanya untuk menunggu taksi pesanannya yang tak kunjung datang dari lima belas menit yang lalu. "Berubah jadi siput kayaknya tuh taksi." Gerutunya yang semakin merapatkan jaketnya dan memeluk dirinya sendiri. Sambil menunggu taksi pesanannya datang, Kaila memilih duduk di atas trotoar dengan ponsel yang berada di genggaman. Kaila melihat-lihat akun sosial media artis Korea yang menjadi candu baginya. Bahkan tanpa sadar bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman dan berakhir dengan pekikan tertahan. Dadanya bergemuruh hebat melihat postingan demi postingan oppa-oppa Korea-nya yang benar-benar membuatnya tahan nafas saking terpesona. Jari lentiknya terus menggulir foto-foto oppa-oppa Korea-nya yang terpampang jelas di layar ponselnya. Tapi, yang dilakukan olehnya tidak berlangsung lama karena setelah itu ponselnya melayang. Ah, tidak! Lebih tepatnya ponselnya tiba-tiba saja di rampas oleh tangan kekar yang sontak membuatnya mendongak dan siap menyemburkan kekesalannya karena sudah berani merampas ponselnya. "Eh, ja----," Perkataan Kaila tercekat saat melihat siapa yang telah lancang mengambil ponselnya. Haikal. Ini benar-benar mengejutkan. Sebelumnya, tidak pernah terlintas di pikirannya untuk Haikal yang menjemputnya. Arghh... ini seperti mimpi. Tapi.... bagaimana kalau yang ia lihat ini hanya ilusi semata karena kecintaannya kepada sosok Haikal. Bisa jadi. Tanpa aba-aba, Kaila menampar pipinya dengan cukup keras membuatnya meringis saking sakitnya. "Lo gila?!" Sentak seorang cowok yang berdiri di depannya dan yang telah merampas ponselnya. Mata Kaila membulat. Ini tidak mimpi. Ini nyata! Apalagi setelah tangan kekar yang tiba-tiba saja mengusap pipinya. Oh my! Demi keseksian Park Jimin! Jantungnya rasanya ingin keluar. Arghhh... lebay! "Haikal." tatapan Kaila terpaku kala iris matanya bertabrakan dengan iris hitam legam milik Haikal yang dibaluti bulu mata lentik. Demi ketampanan Jeon Jungkook! Kaila memasuki mode baper tingkat akut sekarang. Haikal benar-benar membuatnya lepas kontrol. Dasar cowok itu! Kaila meneguk salivanya dengan tatapan terpaku kepada sosok cowok tampan di hadapannya ini. Matanya sama sekali tidak berkedip untuk terus menatap wajah tampan di hadapannya ini. Apalagi ketika merasakan usapan lembut di pipinya yang terasa nyeri akibat tamparannya sendiri. "Pipi lo merah." Ujar cowok tampan yang mengenakan kaos hitam polo di padukan dengan jaket bomber berwarna maroon dan celana jeans yang sobek di bagian lututnya. Kesan brandal dan cool menyatu dalam gaya cowok tampan di hadapannya ini. Ditambah rambut yang buat poni samping. Rasanya seperti melihat Lee Min Hoo rasa lokal. Uhhh... jangan salahkan Kaila jika semakin jatuh dalam pesona Haikal, salahkan saja Haikal yang terlalu mempesona. "Gue heran sama lo, kerjaannya melamun mulu. Gue jadi ngerasa berhadapan sama anak indigo." Celetuk Kaila dengan nada ketus dan menjentikkan jari telunjuknya ke dahi Haikal. Kaila memberenggut kesal. Dengan satu tangan mengusap dahinya, Kaila menatap Haikal dengan tatapan kesal. "Terserah gue mau ngelamun kek, mau nikah sama Jimin kek, mau selingkuh sama Jungkook, atau pacaran sama Kim Taehyung kek. Bukan urusan lo!" Ketus Kaila. "Iya, emang bukan urusan gue. Tapi, gue cuma mau kasih tahu lo aja takutnya lo di sangka manusia michin." Kelakar Haikal dengan tatapan mengejek. Bugh Kaila memukul bahu Haikal dengan kesal setelah mendengar perkataan Haikal yang mengatainya 'Michin' yang merupakan bahasa Korea yang memiliki arti gila. Haikal terkekeh dengan satu tangan mengisap bahunya yang menjadi sasaran tangan mungil Kaila. Pukulan Kaila memang tidak sakit, tapi ia hanya berpura-pura dan mengamati raut kesal Kaila yang membuatnya terkekeh geli. "Muka lo jelek. Sumpah." Celetuk Haikal lagi membuat Kaila bersedekap d**a dengan bibir yang tertarik ke bawah, cemberut. "Mending lo pergi, deh, dari sini daripada nanti gue telen lo hidup-hidup." Ketus Kaila dengan tatapan lurus ke arah jalanan dengan harapan taksi pesanannya datang. Tawa Haikal pecah melihat raut kesal Kaila. Niatnya memang ingin membuat cewek di hadapannya ini kesal dan...... berhasil! Demi apapun, pipi tembem Kaila semakin mengembung saat sedang kesal. Kaila mendengkus kesal. "Dasar cowok gila." Desis Kaila. Haikal meredekan tawanya. Dilihatnya arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Ditatapnya Haikal yang mengalihkan tatapan darinya. Tanpa berkata apa-apa, Haikal meraih pergelangan tangan Kaila dan membawanya memasuki mobil. Jari telunjuk Haikal berada di bibir Kaila yang hendak protes. "Sttt... jangan protes! Gue disuruh Anita buat jemput lo. Jadi, stop jangan banyak bacot!" Tegas Haikal membuat Kaila diam saat tubuhnya di dorong oleh Haikal untuk memasuki mobil. Kaila diam, mencerna perkataan Haikal. Detik kemudian, senyumnya merekah. Rupanya sahabatnya telah memulai rencananya. Baiklah, ia akan dengan senang hati mengikuti permainan sahabatnya itu. *** "KAILA." Teriak Anita yang berdiri di halaman rumahnya dan berlari menghampirinya. "Gak usah teriak kali, Ta. Mau budeg nih telinga gue." Kesal Kaila sembari mengusap telinganya yang berdengung karena teriakan sahabatnya. Anita nyengir tanpa dosa. "Sori kali, Prill. Abisnya lo lama banget datengnya. Kan, gue jadi khawatir sama lo. Takut lo di culik atau di rampok. Tapi, gak apa-apa, sih, kalo lo di culik biar gak ada lagi yang nagih uang kas di kelas dan gak ada lagi mulut rombeng yang teriak-teriak gak jelas gara-gara oppa-oppa bungkuk tiga-nya Korea itu. Haha." Anita tertawa sambil berlari menjauhi Kaila yang sudah melepas sepatu vans-nya dan siap melemparinya dengan sepatu vans-nya itu. "Oy Anita! Jangan lari lo!" Teriak Kaila, mengejar Anita yang malah berlari menuju tiga cowok yang tengah duduk santai di teras dengan ponsel di tangan dan kedua tangan yang menari di atas layar ponsel yang di miringkan itu. Kaila tidak sadar kemana kakinya melangkah, karena tatapannya terpaku kepada Anita dan berambisi menangkap Anita lalu menjitak kepala sahabatnya itu. Kaila menambah kecepatan larinya dan tidak sadar kemana Anita berlari yang mendekati Elang -kakak Anita-, Adam, dan Haikal yang asik dengan game online-nya. Tak disangka sebelumnya, tiba-tiba saja tubuhnya seperti di dorong dari belakang membuatnya menabrak seorang cowok yang tengah fokus menatap ponselnya dengan satu tangan menyumpal telinganya dengan headset. Kejadian yang terduga'pun terjadi dan tidak bisa dihindari. Tubuh Kaila menubruk tubuh kekar itu dari depan. Posisinya bisa dikatakan begitu intim dengan tubuhnya yang berada di atas dan kedua tangannya dengan nyaman berada di d**a bidang seseorang yang memiliki bau parfum yang begitu familiar baginya. Haikal Satu nama muncul di kepalanya. Bau parfum yang ia tangkap merupakan bau parfum milik cowok yang ia suka, Haikal. Perlahan, matanya yang terpejam terbuka. Demi keseksiannya Park Jimin! Jantungnya tidak bisa di ajak kompromi ketika ia membuka mata, tatapannya langsung terpaku kepada sosok tampan yang ia timpa. Mulutnya menganga lebar dan matanya membulat sempurna. Dan, yang pasti telinganya mendengar sorakan yang ditujukan untuknya dan Haikal. Mendadak pipinya merona tanpa sedikitpun beranjak dari posisinya yang berada di atas Haikal. "Udah kali Kaila, kasian Haikalnya keberatan, tuh." Cibir suara sumbang yang sangat ia kenali, Anita. Bugh "AAAA..." Sontak Anita, Adam, dan Elang terkejut dengan reaksi Haikal dan teriakan Kaila yang bersimpuh di tanah dengan posisi yang tidak enak dipandang. "Haikal! Sahabat gue kenapa di dorong?!" Teriak Anita yang langsung mendekati Kaila dan membantunya berdiri. Haikal meringis sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Yang ia lakukan barusan murni sebuah spontanitas bukan niat. Toh, suara cempreng Anita yang menjadi pemicu utama spontanitasnya beraksi sehingga membuatnya mendorong Kaila sampai jatuh terjerembab. "Maaf, Kaila gue gak sengaja." Haikal mendekati Kaila yang dipapah oleh Anita menuju ruang tamu diikuti Adam dan Elang yang menahan tawa melihat ekspresi tidak nyaman Haikal. "Ashh... pelan-pelan kali, Ta. Kaki gue sakit, tuh." Protes Kaila ketika Anita melepas sepatunya dengan sedikit kasar. Anita mendongak dan memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Iya iya, sori gak sengaja." Ujarnya yang mulai membuka kaos kaki Kaila dengan gerakan pelan. Sedangkan Haikal sendiri memilih ngacir menuju kamar Elang yang berada di lantai dua. Bukannya lari dari kesalahan yang ia perbuat, justru Haikal mengambil minyak urut yang ada di kamar Elang setelah meminta ijin Elang. Selang beberapa detik, dengan nafas yang memburu Haikal berdiri tegap di depan Kaila yang duduk di sofa dengan ringisan kecil yang lolos dari bibir mungilnya. "Minggir, Ta." Usir Haikal menggunakan gerakan tangannya agar Anita menyingkir. "Bentar kali Kal, ini gue masih buka kaos kakinya dulu." Ketus Anita. Haikal menghela nafas panjangnya dan memutar bola matanya. Rasanya Anita terlalu lama hanya untuk melepas kaos kaki saja, padahal sekali tarikan kaos kaki itu akan terlepas. Tapi, lihatlah apa yang dilakukan Anita, sahabat Kaila itu membuka kaos kaki Kaika dengan sangat pelan sambil mengusap kaki Kaila. Hufttt... dasar aneh. "Udah." Ketus Anita yang berdiri dan menyingkir dari hadapan Kaila memberi Haikal ruang. Anita, Adam, dan Elang duduk di sofa yang muat diduduki tiga orang. Anita berada di tengah-tengah Adam dan Elang. Tatapan ketiga orang itu berpusat kepada Haikal dan Kaila dengan ekspresi yang berbeda-beda seolah-olah tengah menonton serial drama India yang menegangkan dan penuh misteri. "Mana yang sakit?" Tanya Haikal sambil meraih satu kaki Kaila dan meletakkannya di pahanya. Kini posisi Haikal tengah jongkok di depan kaki Kaila. "Yang ini." Kaila menunjuk bagian kakinya yang sakit dengan mata yang berkaca-kaca. Haikal berdiri dari duduknya dan berpindah posisi untuk duduk di sofa, tepatnya di samping Kaila. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Haikal menarik pelan kaki Kaila dan meletakkannya di pangkuannya. Sekarang, bukan hanya satu kaki Kaila yang berada di pangkuan Haikal, tetapi dua-duanya sekaligus. Melihat adegan yang tersaji di depan matanya tentu saja membuat Anita menggigit jarinya dengan satu tangan yang menarik baju Adam dan kepalanya yang bersandar di bahu kakaknya. "Anita juga mau di gituin." Gumam Anita dengan tatapan terfokus kepada Haikal dan Kaila. Elang menunduk menatap wajah adiknya dengan tatapan geli. "Minta dipijitin ke mama noh. Kalo minta ke Adam, kakak gak bakal ijinin." Jawab Elang melirik Adam sinis yang mendengkus kesal. Sebelum kakaknya dan kekasihnya beradu argumen, cepat-cepat Anita meraup wajah kakaknya dan kekasihnya satu persatu. "Udah udah jangan ribut. Mending cusss lanjutin nonton drama Indianya." Ujar Anita yang membuat fokus Adam dan Elang kembali kepada Haikal dan Kaila Sedangkan dua orang yang menjadi pusat tontonan oleh Anita, Adam, dan Elang itu kini tengah asik dengan kegiatan masing-masing. Ya, masing-masing. Haikal asik dengan kegiatannya yang memijit pelan kaki Kaila yang membiru, sedangkan Kaila asik menetralkan degupan jantungnya dan rona di pipinya yang semakin menjadi-jadi. Demi ketampanannya Jungkook, Keseksiannya Park Jimin, dan pesona Kim Taehyung! Kaila benar-benar melayang tinggi sekarang. Bahkan Kaila tidak bohong jika kulitnya meremang ketika kulit Haikal bersentuhan langsung dengan kulitnya. Apalagi gerakan tangan Haikal di kakinya membuatnya gemetar. Bahkan rasa sakit yang ia rasakan menjadi tidak terasa. Ini memang keliatan lebay. Tapi, percayalah jika sekarang Kaila memasuki mode spot jantung dan sulit untuk mengendalikan debaran jantungnya. Pipinya memanas dan senyumnya tertahan. Kedua tangannya meremas tote bag bergambar animasi BT21 yang ada di pangkuannya. "Masih sakit, La?" Pertanyaan Haikal membuat lamunan Kaila buyar dan mendongak menatap Haikal yang tengah menatapnya dengan raut khawatir dan menantikan jawaban. Kaila gelagapan, ia takut jika Haikal menyadari pipinya yang sudah memerah ini. "Ee... u ..udah gak sa... sakit kok." Jawabnya gelagapan dan mengalihkan tatapan ke arah dinding bercat biru muda yang dihiasi beberapa foto Anita dan keluarganya. Haikal bernafas lega. Tapi setelah melihat Kaila yang seolah menghindari kontak mata dengannya membuatnya mengernyit bingung. Haikal pikir Kaila marah padanya karena dirinya yang mendorong Prilly sampai jatuh. Pada akhirnya Haikal mengulurkan satu tangannya untuk mengapit pipi Kaila dan mengarahkan tatapan Kaila agar menatap ke arahnya. "Muka lo kenapa merah? Mana yang sakit? Bilang ke gue, jangan diem doang, La! Sekarang, tunjukin ke gue mana yang sakit biar gue obati." Panik Haikal ketika melihat wajah Kaila yang memerah. Kini kedua tangannya memegang pipi Kaila dengan raut khawatir membuat pipi Kaila semakin memerah. Lo b**o atau gimana, sih, Kal! Batin Kaila kesal. Kaila memaksakan untuk tersenyum dan tangannya menyentuh tangan Haikal yang berada di pipinya. Kepalanya menggeleng pelan. "Gue gak apa-apa, beneran." "Gak apa-apa gimana?! Wajah lo merah, apalagi pipi lo." Kaila menggeleng dengan u*****n yang menggunung di hatinya dengan kepolosan Haikal yang datang disaat tidak tepat ini. "Gue... gue cu---," "Cuma apa, Kaila!" Potong Haikal cepat. Menghela nafas panjang, Kaila menatap lekat Haikal. Lalu, bola matanya bergerak ke samping dan menangkap tiga orang yang anteng duduk di sofa sambil mengunyah keripik kentang ditemani tiga kaleng Coca-Cola. Kaila mendengkus, rupanya sedari tadi tiga manusia terkutuk itu menjadikan dirinya dan Haikal sebagai tontonan. Dengan raut kesal, Kaila menatap Haikal dan memaksakan untuk tersenyum. "Haikal. Elo ganteng, sumpah. Tapi, please deh jangan polos-polos amat. Ini pipi merah bukan karena gue jatuh barusan. Lagian barusan gue jatuh yang jadi sasaran empuknya kaki sama p****t gue, bukan wajah gue." Haikal menatap Kaila bingung. "Terus, wajah lo kenapa merah? Lo alergi udara malam?" Tahu, apa yang ingin Kaila lakukan sekarang? Yang ingin Kaila lakukan sekarang adalah, memukul kepala Haikal dengan sempaknya Kim Namjoon supaya kecerdasan Kim Namjoon yang memiliki IQ 148 itu berpindah ke Haikal. Kaila menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tersenyum manis yang kesannya dipaksakan itu. "Haikal yang ganteng tapi masih gantengan Jeon Jungkook. Haikal yang pinter tapi masih pinteran Kim Namjoon. Haikal yang seksi tapi masih seksian Park Jimin. Haikal yang keren tapi masih kerenan Kim Taehyung. Haikal yang cuek tapi masih cuekan Min Yoongi. Haikal yang kece tapi masih kecean Kim Seokjin. Haikal yang imut tapi masih imutan Jung Hoseok. Pipi gue merah bukan karena alergi atau apapun itu. Pipi gue merah karena......." Hufhhh... Kaila menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. Tatapannya tertuju kepada Haikal yang menatapnya lekat. "....PIPI GUE MERAH GARA-GARA LO!" Teriak Kaila, nafasnya memburu dan kepalanya sudah seperti mengeluarkan asap saking gregetnya kepada cowok tampan di hadapannya ini. "Lha? Kok gara-gara gue? Gue kan, gak nampar lo." Bantah Haikal yang menjauhkan kedua tangannya dari pipi Kaila. Kaila mengangkat kedua tangannya yang terkepal di depan wajah, menahan keinginan untuk melahap cowok tampan di depannya yang s**l beribu s**l cowok itu adalah cowok yang ia suka. "Gue males debat sama lo. Gue cuma mau bilang, gue baper gara-gara lo perhatian banget ke gue." Ujar Kaila yang mulai berdiri dari duduknya setelah tidak mendapat respon dari Haikal. Dengan langkah tertatih, Kaila menaiki tangga menuju kamar Anita. Sedangkan sahabatnya itu masih larut dalam drama alay yang diperankan oleh dirinya dan Haikal. Lima menit kemudian, Haikal sadar dari keterkejutannya. Ia mengerjap beberapa kali yang ternyata penglihatannya tidak salah jika Kaila sudah pergi meninggalkannya yang masih cengo. "Gila. Gue dosa besar udah bikin anak orang baper." Gumamnya. Puk Haikal memegangi pipinya yang terkena lemparan kaleng Coca-Cola. Sontak ia menoleh ke arah kaleng Coca-Cola berasal. Ia melihat tiga manusia yang dua jantan dan satu betina dengan menatapnya garang. "Ngapain liatin gue segitunya? Iri sama kegantengan gue?" Tanyanya yang begitu angkuh. "Iri pala lo bolong! Jadi cowok gak peka." Cerocos Elang yang berdiri dari duduknya setelah puas menempati Haikal dengan kaleng bekas. "Lha? Salah gue apa?" Tanya Haikal dalam kebingungan. "Salah lo? Salah lo adalah, lo gak peka!" Ketus Adam sambil menarik Anita untuk pergi meninggalkan Haikal. Sebelum pergi, Anita menatap Haikal sinis dan berkata, "Udah bikin anak orang baper, seharusnya lo mikir kalo cewek baper itu harus di gimanain!" Sarkas Anita dan berlalu bersama Adam. Haikal masih diam di tempatnya dengan raut bingung. "Ini gue yang b**o atau mereka yang aneh, sih?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD