K-POPERS | 7

1424 Words
Kaila menghentikan laju sepeda motornya ketika merasa ada yang janggal dengan sepeda motornya. Kaila turun dari sepeda motornya dan melihat kejanggalan yang terjadi. "Yahhh pantesan. Bannya kempes lagi." Gerutu Kaila setelah melihat ban belakangnya kempes. Kaila melihat-lihat sekitar dengan harapan ada tumble ban di dekatnya. Hasilnya nihil, tidak ada tumble ban terdekat. Yang ada hanya warung makan dan juga rumah warga. Kaila menggerutu. Mau menelfon papa atau mamanya tidak bisa karena ia lupa tidak membawa ponsel. s**l. Kalau sudah begini, terpaksa Kaila menuntun sepeda motornya sampai ke tumble ban yang jaraknya cukup jauh itu. Menghela nafas panjang, Kaila menuntun sepeda motornya dengan perasaan dongkol. Teriknya matahari membuat buliran keringat membasahi wajah putihnya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Dan, posisi matahari seperti berada di atas kepalanya. Beruntungnya ia mengenakan helm, jadi tidak khawatir kulit kepalanya panas terkena panas matahari. Satu menit rasanya seperti satu jam. Wajahnya sudah kusam dan basah oleh keringat. Seragam putihnya juga nampak lusuh dan basah menyisakan bau tak sedap yang mengganggu indra penciumannya. Kaila berharap ada sebuah keajaiban yang menantinya. Mungkin. Tak jauh dari posisinya, Kaila melihat ada warung kecil yang menjual makanan dan minuman. Senyumnya merekah, setidaknya sebelum kembali melanjutkan perjalannya ia mengisi dahaganya dulu dengan minuman dingin dan segar. Wajahnya kembali murung setelah melihat di depan warung kecil itu ada segerombol anak SMA yang nangkring dengan kepulan asap yang melintasi penglihatan. Niatnya yang ingin beristirahat sejenak dengan mengalirkan tenggorokannya dengan minuman dingin nan segar terpaksa ia urungkan, takut terjadi yang tidak-tidak dengannya. Jujur saja, ia takut melewati warung kecil itu, takut ada yang mengganggunya. Menghela nafas panjang dengan u*****n yang tertahan, Kaila kembali menuntun sepeda motornya dengan langkah pelan. Kaila memfokuskan pandangannya ke arah jalanan, mencoba tidak memperdulikan suitan yang ia dapat dari segerombol anak SMA yang nangkring di depan warung kecil. Langkahnya mulai ia percepat supaya cepat-cepat menjauhi segerombolan itu. "Arghhh..." Kaila dikejutkan dengan sesuatu yang dingin yang tiba-tiba saja hinggap di pipi kanannya. Sontak Kaila menoleh ke arah kanannya dan mendapati air botol dingin yang di tempelkan ke pipi kanannya. Bukan. Bukan itu yang membuat Kaila terkejut. Melainkan pemilik tangan yang memegang air botol dingin itu. Satu nama yang selalu melintasi pikirannya. Satu nama yang menjadi sumber detakan jantungnya. Haikal. "Ngelamun terus." Kaila mengerjap saat tangan Haikal meraup wajahnya yang penuh keringat. Lagi, jantungnya kembali marathon. s**l. "Haikal." "Iye gue Haikal. Lo kenapa, sih, gitu banget liat guenya. Berasa liat hantu." Gerutu Haikal sambil mengulurkan air botol dingin ke Kaila. "Buat gue?" "Gak. Buat si Jono." Ujar Haikal ngasal karena Kaila banyak tanya. Kaila menggerutu. "Gue serius!" "Ya buat lo, lah, pakek nanya segala. Ambil, nih." Haikal mencairkan satu tangan Kaila dan meletakkan air botol dingin yang ia beli ke genggaman Kaila. "Makasih." Kaila mengangguk dan tanpa mengucap sepatah katapun, Haikal mengambil alih sepeda motor Kaila sehingga sepeda motor Kaila berada dalam kuasa Haikal. "Eh, lo mau ngapain?" Tanya Kaila saat Haikal menuntun sepeda motor Kaila menuju warung kecil yang terdapat segerombol anak SMA. "Kal, ngapain kesini?!" Geram Kaila diliputi rasa takut saat semua cowok-cowok dengan seragam putih abunya melekat di tubuhnya menatapnya dan Haikal lekat. Haikal menatap Kaila. "Gue tau lo capek. Tangan gue sampek basah waktu ngusap wajah lo yang banyak keringatnya. Mending, sekarang lo duduk sini dulu." Haikal menarik Kaila menuju kursi panjang yang terletak di depan warung kecil itu. "Menjauh lo pada! Ini cewek paling anti sama asap rokok." Usir Haikal kepada anak SMA yang duduk di kursi panjang. Anak SMA itu terkekeh. "Dia pacar lo, Kal? Perhatian banget kayaknya." Celetuk anak SMA itu setelah mematikan puntung rokoknya dan membuangnya ke asbak yang tersedia di meja. "Kepo lo kek dora." Jawab Haikal diiringi kekehannya. "Cuma tanya aja. Kalo bukan pacar, boleh lah gue gebet." Haikal mengambil minuman kaleng yang telah habis isinya dan melamparnya ke arah cowok SMA itu. "Berani nyentuh dia, mampus lo di tangan gue." Cowok SMA itu terkekeh. "Santai kali. Kalo tuh cewek udah berlebel punya lo, gak bakal ada yang ganggu termasuk gue." Setelah mengucapkan itu, cowok SMA itu meninggalkan Haikal dan Kaila menuju teman-temannya yang duduk di atas motornya. Kaila menatap kepergian cowok SMA itu dengan senyum merekah. Tidak. Bukan berarti dirinya menyukai cowok SMA itu. Hanya saja, ia menjadi berbunga-bunga setelah mendengar percakapan antara Haikal dan cowok itu. Apalagi secara tidak langsung Haikal meng'iyakan perkataan cowok itu kalau dirinya adalah pacar Haikal. Ehmm... kenapa dirinya semakin kebaperan begini?! "Lo ngelamun sekali lagi, gue gak janji bakal anterin lo pulang." Ujar Haikal yang mengandung ancaman yang sukses membuat Kaila membuyarkan lamunannya dan menatap Haikal dengan tatapan seperti orang bodoh. Kaila terperangah, matanya mengerjap berkali-kali menatap cowok tampan yang duduk di sampingnya ini dengan tatapan tidak percaya. Demi keseksiannya Park Jimin! Telinganya masih berfungsi dengan baik. Ia yakin seyakin-yakinnya orang yakin jika Haikal baru saja Haikal bilang akan mengantarkannya pulang. "Lo---mau nga---nganter gue pulang?" Haikal menoleh, menatapnya sambil melempari roti ke arahnya. "Habisin dulu rotinya." Haikal berdiri dari duduknya dan berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil s**u kotak rasa cokelat. "Nih, minum. Gak usah gengsi, gue tahu lo suka sama jenis makanan dan minuman yang rasa cokelat." Haikal membantu menusukan sedotan ke s**u kotak dan meletakkannya ke meja. Kaila tersenyum. Ia tidak bohong jika dirinya berada dalam mode baper tingkat akut. Baginya, sikap Haikal yang sekarang membuat detakan jantungnya menggila dari sebelumnya. Dan, yang lebih membahagiakan lagi, Haikal tahu dirinya merupakan pecinta cokelat. Arghh... kalau sudah negini, tingkat kebaperannya menjadi naik ke level teratas dan terberat. Menurutnya, Haikal yang sekarang sedikit dekat dengannya. Setidaknya dengan ini kedekatannya dengan Haikal berjalan 5%. "Thanks ya, Kal." Ujarnya tulus. "Selo aja. Btw, sepeda motor lo kenapa?" "Ban kempes." Jawab Kaila sambil melahap roti cokelat yang Haikal berikan. "Gak dibawa ke tukang tumbles?" "Maunya gitu, makanya gue tuntun tuh sepeda." "Lha?" "Tukang tumbles-nya jauh." Jawab Kaila setelah meneguk s**u cokelatnya sampai habis. Haikal mengangguk. "Udah gak capek?" Kaila menoleh, menatap Haikal heran. "Kenapa?" "Kalo udah gak capek, biar gue antar pulang. Kalo masih capek, duduk sini dulu." Kaila berusaha menahan senyumnya karena saat ini Haikal tengah menatapnya. "Gak, kok. Gue udah gak capek." "Ya udah gue antar lo pulang. Sepeda motor lo biar nanti gue suruh Kendra sama Alfin buat bawa ke tukang tumbles." Haikal berdiri dari duduknya. "Lo tunggu di sepeda motor gue dulu. Gue mau bayar ini dulu." Ujar Haikal yang diangguki Kaila. Sambil menenteng helm-nya, Kaila berjalan ke sepeda motor Haikal. Kaila tersenyum kecil setelah sampai di sepeda motor Haikal yang telah berganti menjadi matic. Ini sudah biasa karena Haikal memang suka bergonta-ganti sepeda motor. Kalau tidak moge ya matic seperti sekarang. "Kunci sepeda motornya ada di sepeda motornya, kan?" Tanya Haikal. "Iya, ada di sepeda motornya." Haikal mengangguk. "Ya udah. Yuk, pulang." Kaila mengangguk dan mulai menaiki sepeda motor matic milik Haikal. "Gak gue bantu naiknya soalnya ini matic bukan moge." Celetuk Haikal setelah Kaila duduk anteng di boncengannya. "Gak apa-apa. Ada yang nganter pulang aja gue udah seneng---" Ujar Kaila. Apalagi orang itu lo, Haikal. Lanjut Kaila membatin. "Pegangan." Titah Haikal yang senang hati Kaila lakukan. Melingkarkan kedua tangannya di perut Haikal. Akan tetapi, keningnya mengkerut saat Haikal tidak juga menjalankan sepeda motornya padahal ia sudah pegangan. "Kenapa gak jalan, Kal?" Haikal menoleh ke belakang sehingga tatapannya jatuh pada mata Kaila. Detik kemudian Haikal melepas pelan tangan Kaila yang melingkari perutnya. Tanpa berkata apa-apa, Haikal mengambil gerakan membuka jaket berwarna hitam yang ia kenakan dan memberikannya ke arah Kaila. "Ini apa maksudnya?" Tanya Kaila bingung. "Rok lo kependekan. Lo tutupin paha lo yang gak ada mulus-mulusnya itu pakek jaket gue. Gue gak mau ambil resiko kalau rok lo tersingkap." Ujar Haikal dengan tatapan tajam agar Kaila cepat-cepat mengambil jaket yang ia ulurkan. Kaila menerima jaket Haikal dan melingkarkan ke pinggangnya hingga jaket Haikal menutupi pahanya sampai lutut. "Makasih ya, Kal." Ujarnya dengan sangat tulus sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Haikal dengan senyum yang merekah. Haikal menjalankan motor maticnya dengan kecepatan standar, berjalan menyusuri tiap jalanan yang di d******i bunyi klakson dari kendaraan beroda empat sampai beroda dua. Semilir angin yang membawa hawa panas menerpa wajah Kaila yang kaca helmnya tidak di turunkan ke bawah agar menutupi wajahnya. Kaila tidak perduli itu karena sekarang dia sedang sibuk menata hati dan pikirannya. Mencoba menahan senyumnya yang sejak tadi memaksa untuk merekah. Debaran yang dirasakannya ikut berpacu seiring kecepatan yang Haikal kendalikan pada motor maticnya. Kaila bahagia dan Kaila semakin menguatkannya tekatnya untuk terus mendekati Haikal. Tangannya meremas baju Haikal dengan pelan seiring dengan indra penciumannya yang bekerja aktif menghirup dalam-dalam wangi tubuh Haikal yang selalu ia ingat. Kadang, cinta se-simple ini meski cinta yang di rasakan cinta sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD