"Kaila, buka aplikasi Visual basic, jangan youtube-an nanti ketahuan Bu Rika bisa di hukum kita." Ujar Anita mengguncang-guncangkan bahu Kaila dengan raut cemas.
Kaila berdecak, tatapannya masih fokus pada layar komputer. "Ck. Udah, deh, lo tenang aja. Lagian Bu Rika gak bakal lihat. Bu Rika pasti ngira kita lagi ngerjain tugas yang dia berikan. Lo diam makannya biar gak ketahuan."
Anita menghela nafas panjang. Sahabatnya ini memang selalu begini. Menganggap sepele segala hal, termasuk tugas yang diberikan guru. Apalagi kalau sudah berada di lab. Lab merupakan surga bagi Kaila karena setiap komputer sudah dihubungkan dengan wifi, maka dengan senang hati Kaila streaming MV boyband kesayangannya atau menonton drama Korea yang rilis beberapa tahun lalu. Karena earphone yang memang disediakan ditiap meja komputer sengaja di sembunyikan oleh Pak Rizal ---guru pendiri jurusan Multimedia di sekolahnya---, maka dengan sangat niatnya Prilly membawa headset dari rumahnya dan mencolok sambungan headset-nya ke CPU Kaila agar ia bisa mendengarkan suara-suara dari drama Korea dan MV boyband kesayangannya. Itulah Kaila, cewek penggemar artis Korea kelas akut.
"Kalo Bu Rika cek tugas kita, bisa mati kita Kaila." Cemas Anita menatap Bu Rika ---guru pemrograman dasar--- yang tengah mengecek tugas milik temannya yang duduk di depan.
Kaila berdecak, melirik Anita kesal. "Lo banyak bacot deh, Ta. Coba lo diem atau ikutan nonton drama koreanya Cha Eun Woo aja, nih. Dijamin lo bakal tergila-gila dengan ketampanan Cha Eun Woo yang sukses bikin gue kretek-kretek dan mencak-mencak kalo dia udah ngeluarin jurus senyum manisnya yang lumer di hati." Tangan Kaila bergerak mengusap layar komputer yang memperlihatkan wajah aktor yang berasal dari Korea Selatan itu.
Anita melirik layar komputer sebentar sebelum berdecak malas. "Gantengan juga Adam, my doi lope lope." Balas Anita dengan menirukan gaya lebay Kaila kalau sudah berhadapan dengan foto atau video oppa-oppa Korea-nya.
Kaila terkekeh melihat sahabatnya yang menirukan gayanya kalau sudah memasuki lebay akut itu. "Kok lo bikin gue ngakak, sih." Kekeh Kaila.
"Iya tahu kalau gue cantik dan imut makanya lo sampek ngakak liat gaya gue yang aduhai ini." Jawab Anita dengan pede-nya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tau taik babi? Nah, itu kayak lo."
"b*****t!" Teriak Anita saking kesalnya dan sukses membuat semua teman-temannya dan juga Bu Rika menatap ke arahnya dengan kening mengkerut.
Kaila menyenggol bahu Anita dengan tatapan penuh waspada. "Itu mulut gak ada lampu merahnya apa?! Liat noh Bu Rika udah otw kesini dan siap cincang-cincang lo jadi tujuh bagian biar sama kayak BTS yang terdiri dari tujuh member yang subhanallah bikin gue klepek-klepek."
Anita memutar bola matanya malas. Disaat-saat seperti saat ini, masih sempat-sempatnya sahabatnya ini membawa-bawa nama boyband kesayangan sahabatnya itu yang sukses membuat mood-nya semakin hancur.
Anita tidak bohong jika dirinya ketakutan sekarang. Apalagi setelah melihat Bu Rika yang berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam yang seolah membunuh Anita detik itu juga.
"Mati kita Kaila." Bisik Anita yang sudah gemetar.
"Kita? Lo aja kali, gue mah kagak." Ketus Kaila yang langsung buru-buru membuka aplikasi visual basic agar tidak kena semprot Bu Rika.
Dengan pandangan yang pura-pura fokus, Kaila membuka form di aplikasi Visual Basic dengan merancang aplikasi yang di perintahkan oleh Bu Rika. Masih dengan tampang sok fokus, Prilly mulai membuat tabel, text 1 sampai text 4, dan yang terakhir Command Button sebagai tool terakhir dalam pembuatan program kali ini, sesuai permintaan Bu Rika yang tujuannya adalah membuat aplikasi penentu harga, contohnya seperti aplikasi yang digunakan oleh kasir untuk mengetahui harga barang.
"Anita!" Geram Bu Rika menatap Anita tajam. Yang membuat Bu Rika geram karena teriakan Anita barusan yang meneriaki k********r yang sukses membuat Bu Rika meradang.
Anita gelagapan. Mencoba melirik Kaila dengan harapan sahabatnya itu mau berbaik hati membantunya. Tapi, hasilnya tak sesuai harapan. Sahabat laknatnya itu justru fokus pada layar komputer dengan kedua tangan yang sibuk menari-nari di atas keyboard, mengetik kode-kode palsu pada aplikasi.
"Maaf bu." Ujar Anita langsung dengan kepala tertunduk. Kakinya tidak tinggal diam. Menggunakan sepatu mahalnya, Anita menginjak kaki Kaila karena ini semua salah sahabatnya itu. Andai Kaila tidak mengatainya mirip kotoran babi mungkin Anita tidak lepas kontrol seperti saat ini.
Bu Rika menghela nafas. "Kamu, tuh, ya! Bukannya bantu Kaila malah teriak dengan k********r. Kamu itu anak jurusan Multimedia, dimana anak jurusan Multimedia itu dituntut untuk jaga sikap karena jurusan Multimedia merupakan jurusan yang paling direkomendasikan dan jurusan yang di junjung-junjung tinggi di sekolah ini. Apalagi kelas kamu ini, XI Multimedia 2 ini disebut kelas mafia oleh semua guru-guru. Gak malu apa kamu? Apalagi kamu ini perempuan, kata-katanya kasar pula. Sayang sama wajah cantik itu kalau mulutnya suka ngomong kasar. Sekarang, ibu perintahkan kamu untuk mengerjakan tugasnya bersama Haikal. Setidaknya kalau bersama Haikal, kamu tidak akan berulah dan Haikal akan menuntut kamu untuk mengerjakan tugasnya. Cepat! Pindah tempat ke Haikal!" Titah Bu Rika yang langsung dipatuhi Anita dengan senyum mengejek yang ia arahkan kepada sahabatnya yang mulutnya menganga lebar, terkejut.
"Iya, Bu." Sahutnya yang berdiri dari duduknya.
"Kaila, gue emang sempet ketiban s**l tapi dapet untungnya sebejibun. Haha. Bye, gue mau duduk sama Haikal, mumpung gak satu kelas sama Adam gue bisa nangkring ke Haikal dulu. Buat lo, semangat ngerjain tugasnya dan jangan sampai salah masukin kodenya." Ledek Anita setelah Bu Rika berjalan meninggalkan tempatnya.
Kaila menggerutu, mood-nya tiba-tiba langsung berada di titik terendah. Kalau sudah begini sama saja boomerang baginya. Ia yang bahagia di atas penderitaan sahabatnya, jutsru dia sendiri yang menderita. s**l.
Sambil mencebik kesal, Kaila membuka buku catatannya dan membuka lembar demi lembar buku catatannya untuk mencari catatan minggu lalu yang berisi kode-kode dalam program yang ia buat sekarang. Kaila merutuki dirinya sendiri setelah melihat buku catatannya tidak terisi catatan di minggu lalu. Arghh... ia lupa kalau dirinya memang tidak mencatat kode-kode yang di tulis Bu Rika di papan tulis minggu lalu. Ia baru ingat kalau sahabatnya yang mencatat kode-kode itu karena waktu itu ia keasikan dengan laptopnya yang sedang 4G streaming MV boyband kesayangannya sehingga melupakan tulisan di papan tulis yang begitu penting untuk pembuatan program sekarang. Oke, ini untuk yang kesekian kalinya dirinya tertimpa s**l dan lagi-lagi karena artis Korea!
"Gara-gara keasikan sama oh my my my-nya BTS, nih, gue jadi lupa daratan." Gerutunya sambil menatap layar laptop dengan tatapan bingung.
Tangannya sedari tadi sibuk menekan tombol delete dan mengetik kode yang tiba-tiba muncul di otaknya meski ia yakin kode yang ditulisnya ini salah.
Kaila menekuk wajahnya ketika matanya tak sengaja menatap ke arah Anita yang juga menatapnya dengan senyum mengejek dan mengeluarkan lidahnya. Sahabat laknat!
Kaila melototkan matanya ke arah Anita ketika sahabatnya itu menaik turunkan alisnya yang nampak santai duduk di kursi dekat Haikal. Bahkan Haikal tidak menyuruh sahabatnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Rika. Pantas saja, karena cowok itu sudah hafal betul kode-kode dalam pembuatan program, meski tidak tahu semuanya.
Kaila benar-benar kesal sekarang. Lihatlah sekarang, sahabatnya tengah bersenang-senang dengan memainkan ponsel secara diam-diam dan Haikal sendirian yang mengerjakan tugas yang diberikan Bu Rika, sedangkan dirinya sendirian dalam kondisi otak blank dan buku catatan yang tidak terisi kode-kode pemrograman. s**l.
***
Wajah Kaila sangat kusut seperti baju yang lama tidak di cuci. Langkahnya gontai dan pelan menaiki undakan tangga menuju kelasnya yang berada di lantai tiga. Buku catatannya ia gulung, tidak perduli jika nantinya bukunya menjadi koyak. Dia benar-benar kesal sekarang.
Pasti sekarang teman-temannya di kelas sedang asik-asikan menikmati jam kosong karena guru fisika yang tidak masuk. Sedangkan dirinya baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan Bu Rika. Menghela nafas berat berkali-kali sekedar menghilangkan penatnya karena sudah satu jam lebih berkutat dengan layar komputer, keyboard, dan mouse. Rasanya jari-jari tangannya mati rasa karena terlalu lama menari di atas keyboard.
Kaila menghentikan langkahnya ketika dirinya kurang beberapa langkah mencapai pintu kelasnya yang terbuka lebar dengan suara bising yang terdengar sampai ke luar. Temannya benar-benar! Ini sama saja teman-temannya berbahagia di atas penderitaannya.
Menghentakkan kaki kesal, Kaila melanjutkan langkahnya memasuki kelasnya. Wajahnya yang kusut semakin bertambah kusut.
BRAK
Kaila membanting pintu kelasnya cukup keras sehingga menimbulkan bunyi yang membuat teman-teman kelasnya langsung diam dan duduk rapi di tempatnya masing-masing. Melihat itu, Kaila menahan tawanya. Sepertinya teman-temannya mengira jika yang masuk adalah guru piket.
Kaila berdiri di depan papan tulis sambil bersedekap d**a. "Apa liat-liat?! Mau marahin gue, hah?! Sebelum marahin gue, lunasin dulu uang kas-nya!" Sentak Kaila layaknya rentenir menagih hutang.
"Selo napa, Kaila. Duit gue baru aja abis buat beli nasi bungkus sama air botol." Celetuk Kendra, cowok yang duduk satu bangku dengan Haikal yang sama-sama pecinta game online dan juga haters-nya.
Kaila mendelik tajam. "Bodo amat, Ken. Lo udah nunggak uang kas banyak banget. Kalo dulu, semester satu lo bilang duit lo abis karena sekolah kita yang full day, sekarang sekolah kita ini udah gak full day. Jadi, gue gak terima alasan dalam bentuk apapun!"
Kendra tidak lagi menjawab, justru dia sedang melototi layar ponselnya dan langsung mengacak rambutnya kesal. "Arghhhh... b*****t lo, Kal. Kita kalah, kan." Gerutunya sambil melempari Haikal bolpen yang entah milik siapa.
"Ngapain lo nyalahin gue. Seharusnya gue yang nyalahin lo. Gara-gara lo yang nyaut si rentenir penagih uang kas, lo jadi gak bantu gue hancurin tower lawan." Jawab Haikal yang tidak terima disalahkan oleh Kendra atas kekalahannya.
"Tau lo. Hero gue aja sampek mati." Sahut Gilang yang juga mabar dengan Haikal, Kendra, Alfin dan Amar.
"Udah gak apa-apa. Mending sekarang kita mabar free fire. Nanti malam mabar Mobile Legend. Baru hidup yang haqiqi namanya." Usul Amar, cowok berkacamata minus yang suka tidur di kelas karena kecanduan game online sampai lupa untuk tidur sehingga tidur malamnya ia ganti di sekolah. Anehnya, saat-saat jam kosong seperti sekarang, Amar yang suka tidur menjadi begitu semangat dan tidak ada tanda-tanda dia akan tidur.
"Bagus juga, tuh." Sambar Kendra begitu semangat dan langsung ber'tos ria dengan Amar.
"Mantap jiwa." Sambar Haikal, menaik turunkan alisnya dengan senyum merekah.
"Mari mari mabar." Ujar Alfin yang langsung diangguki Haikal, Kendra, Gilang dan Amar.
Sejenak, segerombolan lima cowok pencinta game online itu diam dan mengabaikan kegaduhan di kelasnya. Padahal Haikal selaku ketua kelas di tugaskan oleh guru piket untuk mengkondisikan kelasnya agar tidak ramai. Tapi, lihatlah sekarang. Cowok tampan itu malah asik sendiri dan mengabaikan teman-temannya yang sudah mengubah suasana kelas menjadi pasar dadakan.
Kaila yang berdiri di depan papan tulis tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak ada yang melihat jika dirinya tengah tersenyum. Kekesalannya memang masih ada, tapi setelah melihat wajah serius Haikal sedikit mengurangi rasa kesalnya. Aura ketampanan Haikal semakin bertambah berkali-kali lipat ketika fokus seperti sekarang.
Kaila hampir saja menjatuhkan air liurnya jika tepukan di bahunya tidak mengagetkannya dan sukses membuatnya geram saat tahu siapa yang menepuk bahunya. Anita.
"Tatap terus mak sampek sukses." Cibir Anita.
"Apa, sih, lo ganggu aja." Gerutu Kaila yang mulai melangkah menuju tempat duduknya diikuti Anita.
"Gedeg gue liat lo yang cuma natap Haikal." Ujar Anita yang memiringkan tubuhnya agar menghadap kearah sahabatnya dengan jelas.
Kaila menghela nafas panjang. Detik itu tatapannya berubah sendu. Ingatannya kembali ke kejadian kemarin siang saat pulang sekolah, dimana Haikal yang menggenggam tangannya dengan sangat erat yang nyatanya dijadikan sandiwara semata karena ada mantan cowok itu. Rasa sakitnya masih terasa di ulu hatinya. Tapi, rasa cintanya malah semakin bertambah kepada cowok itu. Rasa ini benar-benar menyebalkan dan membuatnya seperti orang bodoh.
"Kaila." Anita menyentil dahinya dengan jari telunjuknya.
"Hm."
"Lo kenapa bengong? Apa omongan gue bikin lo sakit hati?"
"Gak kok." Jawab Kaila pelan.
"Kalo nggak, kenapa muka lo jadi kusut gitu. Kalo omongan gue nyentil lo, maaf ya." Anita menatap Kaila dengan tatapan bersalah.
Kaila menatap sahabatnya dan menggeleng pelan. "Gak, kok. Omongan lo gak berefek apa-apa ke gue. Gue cuma.....,"
"Apa? Cuma apa, Kaila? Lo ada masalah? Kalo iya, cerita ke gue sekarang!" Desak Anita menatap Kaila tajam.
Kaila cemberut. Ia paling tidak suka di tatap tajam oleh sahabatnya. Tapi, salahnya sendiri yang membuat sahabatnya menatapnya tajam.
"Gue lagi patah hati." Ujar Kaila pelan dengan tatapan yang sulit du artikan.
"Patah hati kenapa?"
Kaila menatap Anita dengan tatapan sedihnya. "Gue dibikin baper."
"Iya, sama siapa?" Tanya Anita tak sabaran.
"Tuh." Kaila menunjuk ke arah barat dimana ada Haikal dan teman-temannya yang duduk di atas meja sambil bersandar ke jendela.
Anita mengerutkan keningnya. "Haikal?" Tanyanya.
Kaila mengangguk dan membuat Anita menatapnya horor sebelum tertawa terbahak-bahak.
"Lo kenapa ketawain gue? Jahat banget, sih!" Gerutu Kaila kesal.
Masih tertawa, Anita menjawab, "Lo, sih, jadi cewek kebawa perasaan. Haikal itu baik bukan ke lo aja, tapi ke semua orang apalagi ke cewek. Karena Haikal anggap cewek itu istimewa seperti mamanya yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya. Makanya, Haikal itu bersikap baik dan gak nyakitin cewek." Jelas Anita setelah tawanya mereda.
Kaila menggerutu. "Bukan gitu, Ta! Lo gak tahu aja gue sama Haikal kemana kemarin."
"Kemana emang?" Tanya Anita penasaran.
"Gue makan bareng Haikal di rumah makan yang bisa disebut restoran, sih."
Anita melototkan kedua matanya, menatap Kaila tidak percaya. "Lo gak lagi bercanda, kan?"tanyanya memastikan.
"Gue serius, Anita!"
Melihat ekspresi Kaila yang benar-benar serius membuat Anita percaya. "Terus maksud lo yang bikin baper itu apa?"
Mendadak Kaila diam dan sukses membuat Anita semakin ingin tahu apa yang terjadi dengannya dan Haikal.
"Kasih tau ke gue, Kaila! Kali aja gue bisa bantu lo." Desak Anita.
"Haikal pegang tangan gue yang gue kira itu secara naluriah. Nyatanya itu cuma sandiwara karena di tempat makan itu ada mantan Haikal sama pacar barunya."
"WHAT?! Gila apa?!" Anita terkejut dan tidak bisa untuk tidak mengumpati Haikal.
"Terus terus gimana?" Tanya Anita.
"Haikal bilang kalo itu cewek mantan kesayangannya. Hati gue sakit, kayak di remas-remas gitu, Ta." Lirih Kaila.
Anita mengusap bahu sahabatnya prihatin. "Sabar zeyenk. Mungkin ini tugas lo untuk bisa bikin Haikal lupain mantan kesayangannya itu." Hibur Anita.
"Gue gak yakin."
Anita menatap Kaila tajam. "Harus yakin! Kalo gak yakin, nanti malam lo ke rumah gue."
"Buat apa ke rumah lo?" Tanya Kaila bingung.
Senyum Anita merekah. "Nanti malam Adam mau ke rumah gue dan dia bakal ajak Haikal. Berhubung besok tanggal merah, jadi Adam sama Haikal bakal nginep di rumah gue biar bisa main game online sama kakak gue."
"Trus?"
"Nabrak Jungkook." Kesal Anita.
"Serius, dong, Ta!" Ujar Kaila kesal.
"Elo sih! Jadi gini, nanti malam lo nginep di rumah gue. Biar nanti malam gue usul ke kakak gue buat adain bakar jagung atau apalah asal bisa dibakar dan bisa dimakan. Pokoknya nanti gue bakal ajak Adam kerja sama supaya lo bisa deketin Haikal." Jelas Anita yang sukses membuat senyum Kaila merekah.
"Jadi, gimana?" Tanya Anita.
Kaila mengangguk. "Gue setuju. Nanti malam gue bakal nginep rumah lo." Jawabnya kegirangan.
"Mantap jiwa."
Kaila dan Anita ber'tos ria. Tidak sabar menantikan nanti malam dengan perpaduan rencana konyol yang Anita ajukan.