Kaila memainkan gantungan di tasnya yang berwarna merah muda animasi BT21 karakter Shooky dengan jari mungilnya. Ia duduk sendiri di undakan tangga dekat aula. Bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Dan seperti yang Haikal katakan di lab, ia menunggu Haikal yang sedang berkumpul dengan anggota Dewan Ambalan untuk membahas persiapan kemah adik kelas.
Sebenarnya Kaila bosan. Tapi, demi kelancaran makan bersama Haikal yang ia jadikan sebagai ajang pendekatan untuk mencapai suatu keinginan yang ia nantikan seperti jadian bersama Haikal. Sekuat tenaga Kaila menahan rasa bosannya. Andai ponselnya tidak kehabisan baterai, mungkin sekarang ia tidak sebosan ini sebab dengan adanya ponsel ia bisa cuci mata dengan melihat-lihat foto atau video boyband kesayangannya yang kadang secara blak-blakan memperlihatkan perutnya yang tercetak jelas otot-ototnya yang sukses membuat histeris sendiri. Kebahagiaan seorang kpopers sesederhana itu hanya dengan oppa-oppa Korea memperlihatkan abs-nya sudah membuat kalang kabut dan histeris tak karuan.
Kaila tersenyum tipis mengingat kelakuannya itu, kalau kata Anita, ia seperti orang gila kalau sudah stalking media sosial oppa-oppa Korea.
Kaila menoleh ke samping saat ada seorang cewek bertopi hitam dengan nama Ambalan Squad. Tanpa Kaila tanya, cewek yang tiba-tiba duduk di sampingnya ini pasti salah satu anggota Dewan Ambalan.
Cewek berambut sebahu itu terus menatapnya dari atas sampai bawah, menilai penampilannya. Dan tatapan cewek itu jatuh pada tas yang ada di pangkuannya.
"Kpopers." Gumamnya dan kepalanya mengangguk-angguk. "Fansnya BTS." Gumamnya lagi yang sukses membuatnya menatap aneh cewek di hadapannya yang terus menatap ke arah tasnya.
Detik kemudian tangan cewek itu terulur ke arahnya. "Nama gue Devita. Lo bisa panggil gue Vita. Salam kenal." Ujarnya yang langsung di angguki olehnya dan membalas uluran tangannya.
"Nama gue Kaila." Jawabnya singkat.
Cewek yang bernama Vita itu mengangguk. "Ehm... gue tau kenapa lo bisa duduk disini." Ujar Vita yang sekarang memiringkan tubuhnya agar menatap ke arah Kaila.
Kaila mengerutkan keningnya. Cewek di hadapannya ini datang langsung duduk di sampingnya dan sok akrab dengannya. Cewek aneh.
"Nanti cepet tua, jangan kebanyakan mikir." Kekeh Vita menunjuk kerutan di kening Kaila dengan tatapan mengejek.
Kaila tersenyum kikuk. Diusapnya pelan keningnya dan menatap ke arah lapangan yang sedang ada kegiatan ekskul volly.
"Lo pacarnya kak Haikal?"
Kaila menoleh cepat ke arah Vita dengan mata membulat sempurna. Ia hampir tersendat ludahnya sendiri saking terkejutnya mendengar pertanyaan Vita yang blak-blakan itu.
Kaila menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya dengan canggung. Tersenyum kikuk menatap Vita yang terus menatapnya dengan tatapan menuntut meminta jawaban.
"Ehmm... anu---,'
"Alah, gak usah gugup gitu. Tanpa lo kasih tahu gue udah tahu." Sergah Vita mengibaskan tangannya ke depan wajah Kaila.
Kaila mengernyit, kalau sudah tahu kenapa masih bertanya? Benar-benar aneh.
"Asal lo tahu ya. Gue ini mantannya Haikal sewaktu SMP. Gue sama dia satu kelas dari kelas 7 sampai kelas 9. Gak nyangka sekaligus terkejut di SMK gue satu sekolah sama dia meskipun beda jurusan. Yang paling mengejutkan lagi, gue satu organisasi sama dia dan parahnya lagi dia ketuanya. Gue kadang ngerasa bakal balikan lagi sama Haikal. Tapi, setelah lihat lo di gandeng sama Haikal terus lo nungguin Haikal, gue rasa harapan gue pupus dan itu gara-gara lo." Vita menoleh, menatap Kaila tajam.
Glek
Kaila menelan ludahnya kasar saat jari telunjuk Vita berada di depan matanya. Mungkin sedikit lagi Vita memajukan jari telunjuknya, matanya sudah tercolok oleh jari telunjuk Vita.
Vita berdeham. Ia menurunkan jari telunjuknya dan bersedekap d**a. "Ini pertama kali Haikal gandeng cewek di sekolah apalagi nungguin dia." Ujar Vita pelan.
Vita menghela nafas panjangnya melirik Kaila sekilas sebelum kembali menatap ke arah lapangan. "Gue jadi curiga. Apa jangan-jangan lo penyebab Haikal putusin gue." Tuding Vita yang langsung menatap Kaila tajam.
Kaila tersentak. Mulutnya menganga lebar. "Eh eh, enak aja itu mulut ngomongnya. Lo sama Haikal putus dari kapan, hah?!"
"Gue sama Haikal putus waktu lulus SMP. Ehm... lebih tepatnya saat pendaftaran SMK."
"Duhh... gue bilangin, jangan suka fitnah orang sembarangan. Gue kenal Haikal aja waktu pertama kali masuk kelas. Boro-boro deket, waktu itu aja mau bertegur sapa rasanya kayak haram buat di lakuin. Gue sama Haikal emang sekelas dan bukan berarti gue sama Haikal-------,"
"Gue sama Kaila pacaran." Potong suara berat yang berasal dari belakang.
Mata Kaila membulat sempurna. Mulutnya terkatup rapat ketika suara seseorang memotong ucapannya begitu cepat sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
Sontak Kaila dan Vita menoleh ke asal suara. Kini, giliran Vita yang membulatkan matanya dengan mulut menganga lebar saat tahu siapa pemilik suara itu.
"Haikal." Pekik Kaila dan Vita secara bersamaan.
Haikal menurunkan tiga undakan tangga agar semakin dekat dengan jarak Kaila dan Vita yang sudah berdiri dari duduknya.
"Iya gue Haikal. Mantan lo yang sekarang udah bahagia bersama pacar barunya, Kaila namanya." Ujar Haikal yang langsung meraih tangan Kaila dan menggenggamnya erat. Haikal menatap Vita dengan tatapan tak bersahabat.
Kaila melongo. Tangan kirinya yang menyanyi tasnya hampir ia jatuhkan ke bawah jika saja Haikal tidak menahannya dan langsung mengambil alih tasnya dari tangannya. Haikal menyampirkan tasnya ke bahu kanan Haikal.
Kaila merasa senang dan takut secara bersamaan. Senang karena Haikal menggenggam tangannya dengan sangat erat dan takut karena Vita menatapnya penuh kebencian.
Kaila dibuat gelagapan berada dalam situasi yang mencekam ini. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berada di tengah-tengah dua orang yang berstatus menjadi mantan ini. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi.
"Lo gak capek apa selalu ngelabrak cewek yang deket sama gue. Apa gue terlalu jahat karena selama ini gue nyesel udah pernah pacaran sama cewek kayak lo." Tatapan Haikal tajam membuat Vita menatapnya tidak percaya.
"Haikal---,"
"APA?! Lo mau bilang kalo lo belum move on dari gue gitu, iya?! Basi tau gak!" Potong Haikal cepat membuat Vita terdiam.
"Sekali lagi gue peringatin lo, jangan pernah ganggu hidup gue. Gue udah bahagia dengan Kaila dan lo gak ada hak untuk menghancurkan kebahagiaan gue karena lo bukan siapa-siapa gue!" Peringat Haikal yang langsung meninggalkan Vita yang menatap punggungnya yang semakin jauh dengan tatapan nanar.
***
"Lo gak di apa-apain, kan, sama dia?" Tanya Haikal dengan raut khawatir membalikkan tubuh Kaila ketika keduanya sampai di parkiran yang mulai sepi.
Kaila menggeleng. "Gue gak di apa-apain, kok." Jawabnya singkat.
Haikal memegang bahu Kaila dan menatap Kaila lekat. "Beneran lo gak di apa-apain? Kalau dia ngancem lo buat gak ngasih tau apa yang udah dia lakuin ke gue, lo jangan takut. Kasih tahu gue." Desak Haikal yang masih tidak percaya.
Kaila menggeleng menatap Haikal dengan tatapan geli ketika raut khawatir Haikal begitu kentara membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. "Gue gak apa-apa, kok. Lo tenang aja. Lagian gue gak takut sama cewek modelan dia." Jawab Kaila sambil terkekeh. Tangan mungilnya mengusap kening Haikal yang ada keringatnya.
"Lo keringetan." Ujarnya karena Haikal yang terus menatapnya, tidak memperdulikan bulir-bulir keringat di keningnya.
Haikal melepas pegangannya pada bahu Kaila. Haikal tersenyum kecil dan mengacak rambut Kaila. "Thanks." Ujarnya yang sukses membuat Kaila mematung di tempat karena perlakuan Haikal yang kelewat manis.
"Naik." Titah Haikal kepada Kaila yang masih berdiri di tempatnya dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana.
"Eghh... i-iya." gugup Kaila yang mulai menaiki sepeda motor gede Haikal. Dengan tangan yang gemetar Kaila memegangi bahu Haikal untuk mempermudah dirinya menaiki sepeda motor Haikal.
"Pegangan, gue kalo nyetir gak pernah kalem." Ujar Haikal sambil menarik kedua tangan Kaila mengarahkan kedua tangan Kaila melingkari perutnya.
Demi apapun, jantung Kaila berdetak tidak karuan. Perlakuan Haikal hari ini benar-benar berbeda dari hari-hari biasanya. Tapi tidak menampik jika Kaila merasa amat sangat bahagia akan ini. Setidaknya Kaila bisa meraup banyak keuntungan dan sedikit membuka celah untuk mendekati Haikal.
"Gue tancap gas, nih. Lo pegangan ya." Ujar Haikal, menatap Kaila melalui kaca spion.
Kaila mengangguk dan dengan lancang meletakkan dagunya di bahunya. Mengeratkan kedua tangannya di perut Haikal. Senyumnya mengembang, hatinya berbunga-bunga tetapi lebih bahagia jika ia bisa menonton konser BTS bersama orang yang ia cinta. Oke, inilah impian terbesarnya menjadi seorang kpopers.
***
Kaila menatap Haikal melalui kaca spion hingga tatapan keduanya beradu. Kaila mengulas senyum tipis dan mengangguk. "Iya gue pegangan." Jawab Kaila yang mengeratkan pelukannya di perut Haikal.
Tangannya gemetar, Kaila tidak bohong jika sekarang dirinya merasa gugup. Tapi yang lebih mendominasi adalah rasa bahagia di hatinya. Hari ini menjadi hari yang sangat bersejarah baginya.
****
Tidak butuh waktu lama motor Haikal berhenti di parkiran sebuah rumah makan jika dilihat dari luar sudah dipastikan orang yang berdompet tebal yang bisa memasuki rumah makan ini.
Kaila terperangah. Rumah makan yang tidak pernah ia masuki karena harganya yang fantastis, apalagi pelajar ingusan sepertinya yang masih pakai uang dari orang tua untuk membeli kebutuhannya, terlebih barang kpop yang harganya luar biasa membuat semua orang terkejut bukan main.
Oke, lupakan semua tentang kpop. Sekarang, fokus kepada Haikal yang membuka helmnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Kaila.
Senyum Haikal terbit. Haikal menarik hidung Kaila lalu terkekeh melihat raut kesal Kaila yang terlihat menggemaskan di matanya. "Turun. Jangan ngelamun terus. Kalo lo ngelamun terus, yang ada gue makan sendiri dan lo duduk di atas motor gue kayak orang kekurangan otak." Kelakar Haikal yang mendapat pukulan pelan di bahunya.
"Rese lo. Lagian gue gak ngelamun. Gue cuma lagi mikir aja."
"Mikir? Lo bisa mikir juga? Gue kira lo gak bisa mikir." Canda Haikal.
"Ihhh... kok lo nyebelin, sih! Lo?!" Geram Kaila yang mencoba turun dari motor Haikal dan dengan sigap Haikal membantu Kaila turun dengan menggenggamnya tangan Kaila erat.
"Buruan. Gue udah laper banget." Ujar Kaila tak sabaran sambil menata rambutnya dan kembali memasang ikat rambutnya.
"Udah cantik gak usah ngaca segala." Celetuk Haikal memandangi Kaila yang tengah bercermin di kaca spionnya.
Kaila menoleh dengan pipi yang memerah. s**l. Ia tidak bisa untuk tidak kebawa perasaan ketika mendengar perkataan Haikal yang kedengarannya begitu manis dan sukses membuat jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Jatuh cinta memang semenyebalkan ini. Tapi, lebih menyebalkan lagi saat cinta itu dirasakan sendiri, seperti Kaila yang cinta kepada Haikal yang sama sekali tidak ada rasa apa-apa kepadanya. Miris.
"Itu mulut ceplas-ceplos." Ujar Kaila mengalihkan pandangannya dari Haikal untuk menutupi pipi merahnya. Kaila berjalan memasuki rumah makan lebih dulu, meninggalkan Haikal yang melepas jaketnya dan meletakkannya di stang motornya, lalu berlari mengejar Kaila untuk mensejajarkan langkahnya dengan cewek K-Pop itu.
"Lo jalan apa lari. Cepet amat." Gerutu Haikal menatap cewek mungil di sampingnya kesal.
"Terbang." Jawab Kaila enteng.
Kaila hampir saja jatuh terjerembab saat tangan kekar Haikal tiba-tiba menarik tangannya ke meja paling pojok. Padahal dirinya ingin duduk di meja yang dekat dengan jendela besar yang berhadapan langsung dengan hamparan bunga-bunga dekat pintu. Tapi, cowok nyebelin sekaligus cowok yang dia cinta ini menariknya ke meja pojok.
Menghela nafas panjang dan menelan protes dan k********r demi kelancaran makan berdua bersama Haikal. Ia tidak mau acara makannya ini menjadi kurang istimewa karena kebanyakan adu bacot. Ia ingin acara makannya di penuhi kata-kata manis dan perlakuan kelewa romantis. Oke, ini memang kedengarannya sangat tidak masuk akal. Tapi tidak ada salahnya untuk berharap, bukan? Karena sejatinya Kaila tukang halu kelas atas jadi tidak tau malu merupakan nama tengahnya.
***
"Makan yang banyak biar pipinya makin kembung." Haikal menggembungkan pipinya menatap Kaila dengan tatapan mengejek diiringi tawanya yang langsung pecah melihat ekspresi kesal Kaila.
"Pipi gue gak kembung!" Kesal Kaila sambil memasukkan steak dagingnya dengan kasar.
"Hati-hati kalo makan nanti sendoknya kena telen bahaya nanti. Gue cuma mau bayarin makan lo, bukan bayar pengobatan lo di rumah sakit." Celetuk Haikal sambil berkutat pada ponselnya sesekali melahap makanannya.
"Dikira mulut gue kayak mulut gorila, lebar."
"Mungkin." Jawab Haikal, meletakkan ponselnya di saku celananya sambil terkekeh.
"Kampret."
"Haha. Eh, gue mau rasain makanan lo, dong." Pinta Haikal menunjuk makanan Kaila dengan sendok yang di pegangnya.
Kaila mendongak dengan kedua pipi yang menggembung karena baru saja memasukkan makanan dan belum mengunyahnya. Kedua matanya membulat membuat Haikal tersenyum dan gemas dengan Kaila yang kelihatan lucu seperti mata kelinci.
"Kok gue jadi gemes sama lo, sih." Haikal mencubit pipi Kaila membuat Kaila memukul tangannya.
"Syyyaaakitt..." Ujar Kaila yang kurang jelas karena mulutnya masih ada makanan yang belum ia telan.
"Maaf. Abisnya pipi lo dari tadi manggil-manggil minta di cubit sama tangan gue." Kekeh Haikal sambil menyeruput chocolate blandednya.
Kaila menelan makanannya dan meraih matcha tea yang ia pesan lalu meneguknya sebanyak tiga tegukan. Menatap Haikal dengan tatapan yang dibuat kesal yang nyatanya ia mati-matian menahan gejolak yang meletup di dadanya. Ia tidak bohong jika dirinya semakin jatuh dalam pesona Haikal yang sulit di lupakan.
"Lo---,"
"Udah cepet habisin makanannya. Gue mau cepet pulang, gak ada orang di rumah soalnya." Potong Haikal cepat sambil melirik jam digital di pergelangan tangannya.
Kaila mengangguk, melahap makanannya cepat. Cara makan Kaila memang lelet karena ia menghitung kunyahannya. Kalau belum mencapai 32 kunyahan maka ia tidak akan menelan makanannya karena menurut dokter jika mengunyah makanan dengan cepat maka akan membuat perut kita sedikit-dikit merasa lapar dan menjadi pemicu menumpuknya lemak dan kegendutan. Maka dari itu, Kaila menghitung kunyahannya agar tidak cepat gendut.
Selagi menunggu Kaila menghabiskan makanannya, Haikal memainkan ponselnya. Menggunakan fasilitas yang ada di rumah makan mewah ini dengan menyambungkan wifi pada ponselnya, hitung-hitung hemat paketan.
Sambil memainkan game online yang membuatnya ketagihan dan mengabaikan orang di dekatnya. Tatapannya fokus pada layar ponselnya, tangannya sibuk menari-nari di atas layar ponselnya, mengarahkan hero kesayangannya ke arah musuh dan menghancurkan tower lawan. Mulutnya menahan geraman saat heronya kalah cepat dengan lawannya.
"Haikal, gue udah makannya. Pulang kuy." Ajak Kaila sambil meneguk habis matcha tea-nya.
"Hm. Bentar." Jawab Haikal yang masih fokus memainkan game online kesayangannya.
Kaila menggerutu. "Nge-push rank-nya di rumah aja, jangan disini. Keburu malam nanti."
"Alah, bacot."
Kaila menghela nafas panjang. Mengusap dadanya, sabar. Mungkin ini akibatnya jika sudah berhubungan dengan cowok gamers, di abaikan. Kaila harus menyiapkan fisik dan mentalnya jika suatu saat takdir membuat Haikal menjadi miliknya.
"Kalo lo masih nge-push rank. Gue pulangnya pakek Go-Jek aja." Kaila sudah berdiri dari duduknya, menyampirkan tas punggungnya ke bahu kirinya.
Ketika hendak melangkah, tangan Haikal menahannya. Dan tiba-tiba saja Haikal menggenggam tangannya dan menariknya lembut keluar dari rumah makan setelah menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan.
Lagi. Kaila sudah tidak bisa lagi menghitung seberapa banyaknya degupan yang ia rasakan. Intinya, Haikal merupakan seseorang yang sukses membuatnya merasa tidak karuan.
***
"Gue pegang tangan lo soalnya ada mantan kesayangan gue yang juga makan disana bareng doi barunya. Gue gak mau dianggap gagal move on." Ujar Haikal setelah sampai di parkiran dan memakai helmnya lalu menghidupkan sepeda motornya dan menjalankannya setelah Kaila sudah duduk anteng di boncengannya.
Dalam posisi kedua tangan melingkari perut Haikal dan meletakkan dagu di bahu Haikal, Kaila tersenyum miris. Entah hatinya terasa tercubit. Dalam hati ia memaki dirinya sendiri yang kelewat baper dengan sikap Haikal. Padahal Haikal bersikap manis padanya hanya karena ada mantan kesayangannya. What? Kenapa Kaila merasa dirinya dijadikan mainan Haikal?