Hari senin. Hari terkutuk bagi kelas XI Multimedia 2. Lima belas menit yang lalu bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi. Langsung saja semua murid memasuki kelas, meski ada sebagian yang betah duduk-duduk di lantai koridor mengabsen siapa saja yang lewat, kebiasaan anak sekolah.
Berbeda dengan kelas XI Multimedia 2. Tidak ada satu, pun, siswa kelas XI Multimedia 2 yang berkeliaran. Semuanya duduk anteng di kelas. Ada yang memangku dagu dengan mata yang hampir sepenuhnya terpejam. Ada yang menguap dengan berpura-pura mencari bolpen ke laci meja agar tidak ketahuan guru pengajar, karena kalau ketahuan bisa-bisa kena hukuman jalan jongkok di koridor jurusan Multimedia. Bahkan ada yang sok-sok'an dengerin penjelasan guru meskipun otaknya tidak menangkap penjelasan sang guru, mulutnya cuma ber'oh ria seolah mengerti sangat padahal tidak sama sekali. Benar-benar pencitraan yang luar biasa.
Seperti yang dilakukan seorang cewek yang duduk di bangku urutan nomor dua dari belakang, tempat duduk yang bisa dikatakan nyamanable karena berdekatan dengan tembok dan jendela. Cewek dengan rambut ikal satu itu tengah mencoret buku catatannya dengan tulisan yang berada di papan tulis, karya seorang guru yang tengah berdiri di depan dengan mulut komat-kamit menjelaskan materi.
"Psssttt... Kaila." Panggil seorang cewek yang duduk di sampingnya.
Cewek rambut ikal satu itu menoleh ke sumber suara, dimana sahabatnya berada. "Apa?" Tanyanya yang kembali fokus menyalin tulisan di papan.
"Punya bolpen lagi, gak?"
"Kagak. Gue ada satu. Kalo bawa lebih takut kecolongan."
"Yahhh... bolpen gue tintanya abis, nih." Gerutu Anita meletakkan bolpennnya ke laci meja.
"Derita lo. Makanya sebelum berangkat sekolah, cek dulu tinta bolpen masih banyak atau udah kritis." Ejek Kaila menaik turunkan alisnya dengan senyum miring menatap sahabatnya tanpa belas kasihan.
"s****n lo. Bukannya bantu cari solusi malah nambah emosi."
Kaila terkekeh. Di tutupnya buku catatan bersampul hitam dengan tulisan hangul kecil-kecil dan di tengahnya ada logo pintu terbuka dengan nama BTS di bawah logonya.
"Nih, pakek. Gue udahan nyalinnya." Kaila mengulurkan bolpen gel berwarna kuning yang di atasnya ada animasi BT21 karakter Chimmy.
Anita meraih bolpen gel berwarna kuning itu dan secepat kilat menulis di buku catatannya dengan tulisan rapi. Sedangkan Kaila memangku dagunya menatap ke arah papan tulis dengan pandangan bosan. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dijelaskan pak Rohim, mau tidur rasanya tidak mungkin karena mata Pak Rohim begitu jeli meskipun ia duduk di bangku nomor dua dari belakang.
Matanya hampir tertutup andai saja tidak sengaja melihat seorang cowok yang duduk di bangku urutan depan yang berhadapan dengan meja guru. Cowok tampan dengan seragam sekolah yang rapi, menatap ke depan dengan serius dan anggukan kepala paham dengan penjelasan Pak Rohim. Dia, Haikal.
Kaila hampir lupa untuk berkedip jika saja teriakan pak Rohim tidak mengagetkannya.
"Cewek yang duduk di bangku nomor tiga dekat tembok, maju kesini."
"Kaila, lo di panggil Pak Rohim." Sentak Anita yang sukses membuat Kaila menegakkan duduknya menatap ke depan dengan tampang polos.
"Ya?" Cengonya.
"Maju sini." Panggil Pak Rohim yang duduk di kursinya.
Kaila gemetar. Ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu lepas control hingga melupakan kalau di depan berdiri seorang guru Produktif Umum yang hobinya ngincar murid-murid yang tidak menjelaskan penjelasannya. Ini dia yang Kaila tidak suka dari pelajaran Pak Rohim, dihukum dan dihukum.
"Ada apa, pak?" Tanyanya sopan meski jantungnya sudah melompat-lompat tidak karuan.
"Saya lihat kamu kurang mengamati penjelasan saya. Coba jelaskan kembali yang saya sampaikan." Titah Pak Rohim sambil membuka laptopnya.
Kaila melihat papan tulis yang isinya hanya beberapa pengertian elektronika dasar.
Kaila menelan kasar ludahnya. Demi apapun, lidahnya terasa kelu meskipun mengucapkan sepatah katapun. Apalagi otaknya dari tadi tidak menangkap penjelasan pak Rohim. s**l!
"Ayo, jelaskan sebelum bapak suruh kamu merakit sekarang juga." Ancam Pak Rohim membuat Kaila berdiri mematung dengan keringat dingin.
"Oke. Bapak hitung sampai tiga. Satu, dua, tig..."
"I-iya pak. Sa-saya akan menjelaskan." Jawabnya lantang.
"Oke, silahkan."
Kaila berjalan ke tengah. Mengamati wajah-wajah teman sekelasnya. Tatapannya jatuh pada sahabatnya yang tertawa mengejek padanya membuatnya mendengus. Sahabat laknat! Sahabatnya dilanda kesialan malah di ejek bukannya dibantu. Arghhh...
Kaila melirik papan tulis. Membaca tulisan yang Pak Rohim tulis. Lalu kembali menatap ke arah teman-temannya yang ekspresinya benar-benar membuatnya ingin menonjok wajah temannya satu-persatu, terlebih sahabatnya.
Menghela nafas kasar, Kaila menatap sekitar. Tatapan semua teman-temannya yang begitu menantikan penjelasan darinya. Lalu, sepersekian detik iris matanya bertabrakan dengan iris mata hitam yang tak jauh darinya, Haikal.
Kaila cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk memandang cowok yang ia suka itu. Ia malu berdiri di depan karena tidak mendengarkan penjelasan Pak Rohim.
Tangannya gemetar, bibirnya mulai bergerak membentuk serangkaian kalimat yang untungnya otak buntunya ini bisa sedikit di ajak kompromi. "Say---,"
"Kaila lebih baik merakit saja, pak." Teriak salah satu cowok yang pemilik suaranya begitu ia kenal.
Kaila sampai lupa bagaimana caranya bernafas. Matanya melebar dan tiba-tiba tenggorokannya mendadak menjadi kering. Merakit? Oh my! Demi keseksian Park Jimin! Ia paling lemah dalam hal merakit. Membayangkan dirinya mencocokkan kabel-kabel kecil yang ada di bawah power supply untuk di sambungkan dengan beberapa gigi ujung kabel untuk di pasangkan dengan pasangannya yang berada di dekat fan dan RAM. Membayangkannya saja kepalanya sudah mau pecah, apalagi melakukannya? Demi apapun, ia ingin menghilang detik ini juga.
Dilihatnya Pak Rohim yang sudah menyuruh salah satu temannya untuk mengambilkan satu CPU di ruangannya. Seketika tubuhnya melemas. Matanya sudah berkaca-kaca ketika ada satu dua temannya yang tertawa mengejek ke arahnya. Hari Senin tersial! Ralat. Bukankah tiap hari Senin ia selalu s**l dan tak pernah luput dari hukuman pak Rohim (?) Hufttt...
"Duduk dulu, nanti kalau CPU-nya datang, bapak panggil lagi." Titah Pak Rohim yang langsung ia turuti.
"Kasian holang Korea suruh merakit." Ejek teman cowok yang duduknya di belakang bangkunya. Ia ingin menyumpal mulut s****n itu dengan celana dalam Jungkook, tapi sayangnya itu hanya ilusi karena boro-boro ngambil celana dalamnya Jungkook, ketemu saja belum. Nasib Fangirl bag remahan rengginang yang hanya modal kuota yang kalo suruh nonton konser langsung angkat tangan karena uang yang tidak mungkin mencukupi yang harga tiketnya sekitar dua jutaan itu.
"Diem lo!" Sentaknya yang langsung duduk bersandarkan ke tembok dengan tatapan ke arah langit yang terlihat cerah. Menikmati angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan anak rambutnya yang terurai.
Hingga tak beberapa lama tepukan pelan mendarat di bahu kanannya membuatnya menoleh. Anita. Sahabatnya, lah, yang menepuk bahunya.
"Gak udah ngejek. Nanti aja ngejeknya. Gue lagi males buat dengerin ejekan lo." Ujarnya langsung karena sudah biasa sahabatnya mengejeknya jika dirinya tertimpa masalah.
Puk
Pukulan keras di kepalanya membuatnya mengaduh kesakitan dan menatap sahabatnya tajam. "Apaan, sih, lo Ta!" Geramnya.
"Yee abis lo, sih. Gue, kan, lagi gak ada niatan buat ngejek lo. Justru gue mau ngucapin bela sungkawa ke lo."
"Itu mulut sembarangan banget ngomongnya, btw. Bela sungkawa pala lo gondrong!" Geram Kaila melempari Anita dengan buku.
Anika terkekeh. "Canda. Gue cuma turut prihatin sama nasib s**l lo di hari senin itu. Lo kayaknya jadi langganan korban mata pelajaran produktif umum, deh. Bukan cuma sekali dua kali lo dapet hukuman di mata pelajaran produktif umum, tapi udah berkali-kali sampek pak Rohim hafal sama nama lo."
Kaila mendengkus kesal. "s****n lo." Tatapannya kembali ia alihkan ke arah langit yang cerah. Menikmati ciptaan tuhan dengan hati kalut karena sebentar lagi siksaannya datang, merakit CPU.
"Kaila. Maju ke depan!"
Panggilan yang tak lain berasal dari Pak Rohim menyadarkan Kaila dari pikirannya. Kaila langsung berdiri dari duduknya dengan perasaan ketar-ketir. Dikangkahkan kakinya dengan gerakan pelan. Tangannya sudah berkeringat dingin menatap horor CPU yang sudah di buka oleh Pak Rohim dan di keluarkan isinya seperti ; RAM, kabel, dan BIOS.
Kaila sudah berdiri di depan meja yang di atasnya ada satu CPU yang sudah di acak-acak oleh Pak Rohim. Tinggalah tugasnya untuk memperbaiki dan merakitnya seperti semula.
Pak Rohim menatapnya. "Silahkan rakit kembali sesuai urutan dan tata letaknya. Jangan sampai ada yang longgar dan pemasangannya jangan sampai salah tempat." Sindir Pak Rohim yang sukses membuat pipinya memerah, malu. Baru saja Pak Rohim menyebutkan kesalahan yang selalu ia lakukan dalam merakit. Hhh... menyebalkan.
"I-iya pak."
Pak Rohim mengangguk. "Silahkan kerjakan. Untuk yang lain, dengarkan kembali penjelasan saya."
"Baik pak." Jawab teman-temannya serempak.
Dengan wajah yang di tekuk dan tak enak di pandang, Kaila mulai memasangkan alat-alat yang ada di dalam CPU. Ia mengambil benda kecil bulat yang baru ia ketahui benda itu merupakan BIOS, jantung dari komputer. Untungnya, berkat ledekan temannya ia jadi tahu di mana tata letak BIOS, si benda bulat kecil ini.
Perlahan Kaila mengangkat fan yang di bawahnya ada lubang bulat, tempat BIOS. Tanpa menunggu lama, Kaila meletakkan BIOS ke lubang bulat yang berada di bawah fan.
Menghela nafas lega karena BIOS terpasang dengan benar. Sekarang, giliran memasang RAM ke gigi-gigi kecil memanjang yang berada di dekat kabel audio. Dengan gerakan pelan Prilly memasang RAM. RAM terpasang, tetapi tangan Prilly sama sekali tidak melepaskan pegangannya pada RAM. Ia masih menekan pelan RAM agar tidak longgar. Tangannya gemetar. Jujur, ia tidak tahu seperti apa untuk memastikan RAM longgar atau tidak. Karena ketika merakit ia tidak pernah mengecek apapun itu. Asal selesai maka beres.
Tapi, untuk sekarang ia benar-benar seperti orang yang begitu bodoh. Rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya untuk menumpahkan air matanya yang sudah mendesak keluar ini.
Matanya mengerjap berkali-kali, menghalau air mata turun.
Ia benar-benar malu. Apalagi di hadapannya ada Haikal yang duduk anteng mendengarkan dengan seksama penjelasan Pak Rohim. Sebenarnya ia marah kepada cowok itu. Bukan karena masalah di malam minggu. Melainkan masalah barusan. Ya, suara lantang yang mengajukan agar dirinya merakit adalah, Haikal. Si cowok tampan yang ia suka. Arghhh...
Kalut dengan pikirannya, Prilly sampai lupa untuk melanjutkan merakit. Tangannya tetap memegang RAM tanpa mau melepasnya. Dan, tiba-tiba......
"Pak. Biar saya bantu Kaila merakit. Sepertinya Kaila kurang paham."
Sontak semua penghuni kelas termasuk Pak Rohim menatap Kaila yang terus menganggu RAM. Sedangkan yang ditatap tidak sadar jika tengah menjadi pusat perhatian penghuni kelas. Justru yang ditatap tetap asik berkelana dengan pikirannya sampai tidak sadar jika cowok yang berenang-renang di pikirannya.
Kaila memekik ketika ada jari telunjuk yang menyentil dahinya membuatnya mengerjap dan menoleh ke samping. Matanya hampir keluar dari tempatnya saking kagetnya melihat ada Haikal berdiri di sampingnya menatapnya dengan senyum tipis-tipis yang sukses membuatnya melupakan kemarahannya kepada cowok tampan itu.
"Lo ngap---,"
"Gue udah ijin Pak Rohim kalo gue bakal bantu lo merakit di lab RPL, sekarang." Potong Haikal cepat sambil memasukkan isi CPU ke dalam tas kecil dan menyerahkan padanya.
"Pegang." Ujarnya ketika Kaila tidak kunjung mengambil tas kecil yang Haikal sodorkan.
Kaila mengambil alih tas kecil yang berisi anak buah CPU itu. Setelah berpamitan kepada Pak Rohim, Haikal mencolek lengan Kaila agar mengikutinya menuju lab RPL yang ada tiga ruangan. Untuk lab RPL pertama, khusus untuk anak jurusan RPL atau MM jika ada pelajaran KKPI jika praktek menggunakan aplikasi corel draw. Lab kedua, khusus untuk anak jurusan RPL sendiri jika sedang praktek menemukan IP Address komputer atau hoading. Lab ketiga, khusus pelaksanaan LSP anak jurusan RPL dan MM serta untuk pelaksanaan UNBK. Berbeda dengan lab Multimedia yang hanya memiliki satu lab. Tetapi, meskipun memiliki satu lab. Bila di bandingkan lebih aktif mana lab RPL atau MM. Jawabannya adalah, lab MM. Lab MM setiap hari aktif. Aktif dalam artian, anak jurusan MM dari berbagai kelas tidak absen berada di dalam lab MM untuk praktek. Seperti kelas XII yang saat ini sedang sibuk-sibuknya mengedit video untuk mengikuti lomba film pendek se-provinsi.
Untuk kelas sepuluh sedang sibuk membuat program menggunakan aplikasi khusus yaitu, visual basic. Untuk kelas sebelas sendiri sedang sibuk-sibuknya membuat video tutorial yang di berikan oleh guru mata pelajaran SIMDIG. Jadi, tiap kelas sudah memiliki beberapa tim dalam pelaksanaan syuting.
***
Kaila meletakkan tas kecil yang ia pegang ke meja komputer. Ia melangkah mendekati meja guru, dekat proyektor. Diraihnya remote AC dan menghidupkan AC ruangan. Senyum puas tercetak di bibir tipisnya. Rasa panas yang ia rasakan tidak terasa lagi tergantikan rasa sejuk.
"Kaila. Duduk sini."
Kaila menoleh, melihat Haikal yang berada di bangku panjang yang berada di pojok kanan belakang. Kaila'pun mendekati Haikal dan duduk di kursi yang ada di samping Haikal.
"Tas tadi yang gue kasih, mana?"
Kaila menunjuk meja depan dimana letak tas yang Haikal maksud.
"Ambil sana, cepetan!" Titah Haikal tegas membuat Kaila mendengkus kesal. Menghentakkan kaki kesal, Kaila berjalan mengambil tas kecil yang ia letakkan di meja depan.
"Nih." Ujarnya yang sudah mengambil tas kecil yang Haikal maksud dan duduk kembali di tempatnya.
Kaila menatap wajah serius Haikal yang tengah mengeluarkan isi di dalam tas kecil itu, anak buah CPU.
Kaila tersenyum kecil. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya sangat dan sangat menyukai Haikal. Apalagi bulu matanya yang lentik menjadi daya tarik tersendiri membuatnya gemas ingin menariknya. Hidung mancung yang dilihat dari samping semakin menambah kadar ketampanan Haikal. Apalagi bibir merah mudanya yang sama sekali belum merasakan yang namanya rokok dan minuman keras. Ini masih belum bukan tidak, tak tahu ke depannya.
Oke. Lupakan kekaguman kepada sosok Haikal. Sekarang ia harus fokus merakit karena cowok yang ia sukai yang akan mengajarinya. Duhhh... ini benar-benar bagaikan mimpi. Tidak pernah terlintas sebelumnya Haikal akan mengajarkannya merakit. Demi apapun, ia bahagia.
"Kenapa senyum-senyum? Gila lo? Gue lupa, kalo cewek kpopers kebanyakan gak waras." Kekeh Haikal sambil menyentil hidung Kaila.
Kaila mencebik. Perdebatan akan segera dimulai jika cowok di sampingnya ini sudah menerbangkan jurusnya. "Apaan, sih, lo. Lagian terserah gue, lah, mau senyum-senyum sendiri. Bukan urusan lo juga." Ketusnya.
Kaila terkekeh. "Untung gue yang lihat lo senyum-senyum sendiri. Gak tahu lagi kalo guru BP yang lihat lo begini, mungkin lo langsung ditarik ke rumah sakit jiwa."
"Rese lo.", Gerutu Kaila lirih. Ia malas untuk berdebat karena masih ada kemarahannya kepada cowok di sampingnya ini.
"Lha, cemberut." Ujar Haikal memiringkan kepalanya agar menatap wajah Kaila.
"Gue kesini buat belajar merakit, bukan mau debat yang unfaedah sama lo." Ujar Kaila kesal.
Haikal mengulum senyumnya. Entah setan darimana, tangannya terangkat membelai puncak kepala Kaila dengan gerakan pelan. Bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyum tipis yang sukses membuat Kaila meleleh.
Tubuh Kaila menegang. Jantungnya dengan kurang ajarnya berdetak tak karuan membuatnya dilanda ketakutan, takut Haikal mendengar detak jantungnya.
"Gak usah di tahan nafasnya, nanti lo mati." Bisik Haikal lembut tepat di telinga kirinya membuatnya langsung menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan dan menatap Haikal yang jarak wajah cowok itu sangat dekat dengannya.
Demi apapun, Kaila tidak bisa untuk tidak berkata kalau ia butuh oksigen sebanyak-banyaknya. Disaat seperti ini, otak gesreknya melayang ke salah satu adegan di drama Korea yang sering ia lihat. Jika cowok dan cewek jarak wajahnya sangat dekat seperti dirinya dan Haikal maka secara perlahan akan semakin dekat sampai tidak ada jarak dan yang terakhir akan terjadi......
"Awww..." Kaila menjerit seketika merasakan sakit di area hidungnya. Kaila mengusap hidungnya yang mungkin memerah karena tarikan yang begitu kuat itu.
Kaila mendengkus. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Haikal yang sekarang malah terkekeh geli.
"Sakit." Gumamnya lirih.
"Sori. Gue sengaja. Lagian suruh siapa ngelamun mulu, kan gue jadi gemes sendiri." Kekeh Haikal.
Kaila bersedekap d**a sambil mencebik. "s****n lo. Udah buruan gue mau belajar merakit, nih."
Haikal menggeleng. "Sebelum merakit. Gue mau.....,"
"Mau apa?!" Potong Kaila cepat dengan keingintahuan yang memuncak. Jantungnya semakin berdebar. Entah kenapa sekarang ia berharap Haikal akan menembaknya dan memintanya untuk jadi pacar Haikal. Membayangkan itu terjadi sukses membuat bunga-bunga cinta di hatinya bermekaran.
Tapi.....
"Gue mau minta maaf sama lo kejadian malam minggu. Mulut gue emang s****n gak bisa di kontrol. Seharusnya gue hargain usaha lo yang susah payah masakin gue. Gue gak bohong, masakan lo enak banget. Ehm... lo mau maafin gue, kan?"
Plak. Mulut Kaila menganga lebar. Lagi, ia ditampar oleh kenyataan. Mana mungkin Haikal dengan tiba-tiba menembaknya, ,itu sangat mustahil. Matanya mengerjap menyadarkan dirinya jika ia masih berada di alam bawah sadar. Kaila tersenyum miris. Ia malu dengan dirinya sendiri yang terlalu berkhayal begitu jauh. Haikal menembaknya? Hhh... benar-benar konyol.
Kaila menatap Haikal dan mengembangkan senyum terbaiknya meskipun hatinya rasanya ingin menangis meraung-raung jika ia benci dengan rasa yang ia rasakan sendiri ini, cinta.
"Gue maafin. Lo gak usah terlalu merasa bersalah gitu, lah. Gue biasa aja, kok, cuma marah dikit karena mulut lo kalo ngomong terlalu pedes." Kekeh Kaila hambar.
Haikal memicingkan matanya merasa ada yang aneh dengan Kaila. "Lo beneran?"
Kaila mengangguk mantap. "Iya gue beneran. Gak usah tegang gitu." Kaila meluruskan kerutan di dahi Haikal. "Nanti cepet tua." Ujarnya sambil terkekeh geli membuat Haikal ikut terkekeh.
"Sebagai gantinya. Nanti pulang sekolah gue ajak lo makan. Tenang, gue yang bayar." Ujar Haikal membuat Kaila mengerjap tidak percaya.
"Lo---,"
"Lo bawa sepeda motor?" Potong Haikal.
Kaila menggeleng. "Sepeda motor gue di service."ujarnya.
Haikal mengangguk. "Sip. Nanti biar sekalian gue anter lo pulang. Tapi, gak apa-apa, kan, nanti lo nunggu gue bentar. Gue ada rapat Dewan Ambalan. Biasa, persiapan kemah adik kelas."
Lagi. Kaila mengerjap tidak percaya. Kenapa sebahagia ini?
"Iya, gak apa-apa, kok." Jawab Kaila dengan senyum tertahan. Rasanya tidak sabar menantikan bel pulang sekolah berbunyi. Tidak sabar duduk di boncengan Haikal sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Haikal dan menyandarkan kepalanya di punggung Kaila. Ahhhh... membayangkannya saja sudah membuat jantungnya ingin keluar, apalagi sudah terjadi.