KPOPERS | 3

1720 Words
Malam ini Kaila duduk di teras depan rumahnya, menunggu kedatangan Haikal yang katanya masih ada di jalan. Senyumnya terus terukir. Sebab, ini kali pertama ia bertukar pesan dengan Haikal. Terlihat aneh memang karena dari kelas sepuluh ia dan Haikal tidak pernah bertukar pesan. Boro-boro bertukar pesan, menyimpan nomernya saja tidak. Meskipun dirinya menyimpan nomer w******p Haikal, tetapi cowok itu tidak. Kaila tersenyum miris akan itu. Tapi, tidak apa-apa. Lagian sekarang cowok itu sudah menyimpan nomer w******p-nya dan itu terjadi karena paksaannya yang men-spam chat kepada Haikal agar nomer w******p-nya di simpan. Lama menunggu sampai Kaila merasa bosan sendiri. Hingga pesan w******p yang masuk menyadarkannya. Haikal Gue udh ad d dpn rml L Kaila langsung berdiri dari duduknya. Berlari mendekati pagar rumahnya meninggalkan ponselnya di teras. Saking bersemangatnya membukakan pagar untuk Haikal sampai dirinya tidak sadar jika ada batu besar yang ia sandung. "Aww...," Ringisnya merasakan perih di bagian lututnya yang berdarah. "Eh, cewek b**o bin ceroboh. Hati-hati, dong!" Teriak seseorang dari luar pagar. Kaila yang menunduk, meniup lututnya yang berdarah mendongak dan mendapati Haikal di luar pagar yang berdiri di samping sepeda motornya menatapnya tajam. Kaila mencoba berdiri meskipun lututnya terasa semakin sakit. Dengan langkah yang tertatih, Kaila menggapai pagar dan memberi Haikal dan sepeda motornya ruang untuk masuk. "Lo ceroboh banget, sih! Itu mata liat kemana aja, sih, sampek gak liat ada batu di depan." Omel Haikal yang memilih mendekati Kaila. Kaila mendengus. Cowok di depannya ini tidak melihat kondisi jika sedang marah-marah. Sudah tahu dirinya kesakitan, masih sempat marah-marah. Untung suka, kalau tidak arghhh.... "Awww...sakit..," rintih Kaila ketika Haikal menutup luka di lututnya dengan slayer yang di lingkarkan di pergelangan tangan cowok itu. Haikal mendongak, "Tahan bentar, biar darah yang keluar gak terlalu banyak. Sini, gue bantu lo jalan ke teras." Haikal meletakkan tangan kanannya di bahu Kaila. Tangan kirinya memegang lengan Kaila dengan erat, takut Kaila limbung. Dalam jarak sedekat ini, wangi tubuh Haikal membuat Kaila menggigit bibir bawahnya. Apalagi posisinya seperti sekarang seperti Haikal memeluknya dari samping. Ahh... rasanya ada banyak kupu-kupu berterbangan. Oke, lupakan. Sekarang, mari pikirkan detak jantungnya yang menggila ini. Dengan lancangnya Kaila mendekatkan kepalanya di d**a bidang Haikal yang terbalut baju putih polos yang di padukan dengan kemeja berwarna merah yang kancingnya tidak dipasang. Nyaman. Satu kata yang cocok untuk Kaila ucapkan. Kaila semakin lancang dengan menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Haikal dan menghirup dalam-dalam wanginya tubuh Haikal. Jantungnya kian menggila ketika tidak sengaja bagian lengannya menyentuh otot-otot perut Haikal. Rasanya...... Kaila ingin melihatnya *eh "Lo duduk sini, gue mau naruh sepeda motor gue dulu." Haikal mendudukkan Kaila di teras rumah dengan gerakan pelan. Kaila mengangguk dengan perasaan tidak terima. Dirinya belum puas berdekatan dengan Haikal. Kapan lagi coba bisa seintim ini dengan Haikal. Tapi, tidak apa-apa. Lagian sebentar lagi dirinya dan Haikal akan menghadapi malam yang indah. Dan, Kaila baru ingat malam ini adalah malam minggu. Hmmm... serasa di apelin pacar *eh Tapi, senyumnya memudar setelah ingat jika ia sama sekali tidak mendengar debaran di d**a Haikal. Arghh...kenapa sesak rasanya? Oke, disini ia sadar jika yang ia rasakan adalah, cinta sendiri. "Awas kesurupan." Kaila mengerjap setelah tangan Haikal mengusap wajahnya. Sontak dirinya mendongak menatap si pemilik tangan. "Apa, sih, lo." Haikal duduk di samping Kaila. "Masih sakit?" Kaila memiringkan kepalanya, menatap Haikal dan beralih menatap lututnya yang diikat oleh slayer milik cowok itu. "Masih." Jawabnya sambil menggerakkan kakinya dan meringis ketika rasa nyeri menyerang. Haikal berdiri dari duduknya. Berjongkok di hadapan Kaila, tangannya bergerak membuka slayer di lutut Kaila. "Tahan ya, ini mungkin sedikit sakit." Ujarnya dengan nada lembut yang sukses membuat Kaila mematung ditempatnya. Ini kali pertama Haikal berkata selembut ini dan...... begitu perhatian kepadanya. Siapapun, tolong Kaila. Demi apapun, Kaila butuh oksigen yang banyak. Sikap Haikal malam ini benar-benar membuatnya kehabisan oksigen. Manis, satu kata yang menjadi pernyataan akan sikap Haikal malam ini. "Darah lo banyak banget yang keluar, ini harus cepet di obatin biar gak infeksi." "Yaudah masuk, yuk. Biar sekalian gue ambil antiseptik buat luka gue. Oh iya, btw pagarnya udah di tutup lagi, kan?" Sambil membantu Haikal berdiri, Haikal mengangguk. "Udah." "Jalannya pelan-pelan! Nanti darahnya makin banyak yang keluar." Ujar Haikal dengan nada perintah sambil membantu Kaila berjalan menuju ruang tamu. "Dimana kotak p3k-nya?" Tanya Haikal setelah mendudukkan Kaila di sofa. "Ehm, jangan. Biar pembantu gue aja yang ambilin. Lo duduk aja." Haikal berdecak. "Udah, deh, gak usah banyak bacot. Cepetan kasih tahu dimana letak kotak p3k-nya?!" Kaila menghela nafas. "Di dekat dapur paling pojok, sebelahnya wastafel." "Oke, gue ambilin. Tunggu bentar, lo jangan banyak gerak dulu." Kaila mengangguk, menatap kepergian Haikal dengan senyuman bahagianya. Bodo amat meskipun Haikal tidak memiliki rasa sepertinya. Karena Kaila tahu, cinta datang karena terbiasa. Maka dari itu, mulai sekarang ia akan membiasakan diri berada di dekat Haikal meskipun hanya untuk berdebat tentang kpop dan game online. "Woy," Kaila terperanjat ketika Haikal menepuk bahunya. s**l! Untuk kedua kalinya dirinya tertangkap basah tengah melamun. Uhh... beginilah efeknya jika sudah membayangkan jadian sama Haikal dan nonton konser boyband kesayangannya bersama Haikal sambil megang satu lighstik untuk dirinya dan Haikal, biar keliatan so sweet bin romantis. Arghh...sepertinya malam ini menjadi malam yang indah. "AWWW...," Teriak Kaila kala merasakan perih yang amat luar biasa di lututnya. Ia menatap Haikal dengan tatapan tajam karena tidak ijin dulu sebelum memberikan antiseptik di lukanya. Haikal yang jongkok di depan Kaila, mendongak menatap Kaila dengan pandangan masa bodo. "Lebay lo, cuman gini doang." Cibirnya yang sukses membuat Kaila geram. Lebay katanya? Ishh... nyebelin. Padahal ia tidak bohong kalau lukanya sangatlah perih dan Haikal dengan tampang tak berdosanya menekan kapas yang sudah di teteskan antiseptik ke luka Kaila membuat Kaila semakin menambah oktaf suaranya. "Udah. Sumpah mau bocor telinga gue denger suara lo. Makan toa apa lo tiap hari." Gerutu Haikal, melempar kapas ke meja dan mulai melilitkan perban di lutut Kaila. "Jangan tebal-tebal gulung perbannya nanti gue susah gerak." Haikal mendongak dan menengok perban yang ia lilitkan. Ya, perbannya memang terlalu banyak ia lilitkan sehingga terlihat tebal. Haikal'pun mengurangi lilitannya dan meminta persetujuan Kaila, "Kayak gini?" "Iya, kayak gitu." Haikal mengangguk, menggunting hansaplas dan menempelkannya di ujung perban agar tidak lepas. "Gue mau taruh kotak p3k-nya dulu." Belum sempat Kaila membuka suara, Haikal sudah melenggang dan menghilang dari pandangan. Sepeninggal Haikal, Kaila mendengar getaran ponsel di meja. Keningnya mengkerut, bukan ponselnya yang bergetar karena ponselnya ia letakkan di sofa, samping tubuhnya. Lalu? Ah.... ponsel Haikal. Kaila menengok pesan w******p yang masuk. Dengan jelas Kaila melihat pesan yang dikirim oleh username 'Nita TBG1'. Deg Tubuh Kaila menegang melihat nama yang tertera. Apalagi setelah melihat isi pesannya yang hanya sebagian ia lihat. "Besok jadi, kan?" Kaila membaca sekilas sepenggal isi pesan itu. Besok? Nita? Mau kemana mereka? Batinnya bertanya-tanya. Tapi, kalau terus-terusan begini, lebih baik besok ia harus tinjau langsung. Ya, besok ia harus menjadi penguntit. Ini demi kesuksesan pendekatannya. Ya, harus! Kaila memperbaiki posisi duduknya saat melihat Haikal yang mendekati ruang tamu. Senyumnya mengembang setelah Haikal duduk di sampingnya dan meraih ponselnya di meja. Senyum Kaila memudar. Pasti Haikal sedang membalas pesan dari Nita, anak jurusan TBG (Tata Boga). Huftt...belum memulai aksi pendekatan saja sudah ada penghalang, apalagi nanti kalau sudah mencapai tahap pendekatan. Sepertinya Kaila harus membangun satu kesatuan yang kuat agar Haikal tidak direbut oleh cewek manapun. Catat! Cewek manapun! "Kaila. Kuy makan. Gue udah laper." "Ya udah, ayo." Kaila berdiri dengan pelan karena lututnya yang susah digerakkan karena di perban. Tetapi, tiba-tiba saja Haikal dengan sigap membantunya. Kaila hampir saja lupa caranya membuang nafas ketika satu tangan Haikal mendekap tubuhnya dan tangan satunya menggenggam tangannya. Ahh... kenapa harus begini? Ini sama saja membuatnya terbunuh secara perlahan dalam debaran yang menggila. *** "Enak, Kal?" Tanya Kaila melihat Haikal yang dengan lahapnya memakan Udon, masakan khas Negeri Sakura yang ia masak sendiri dengan bantuan YouTube dan Google. Haikal yang tengah asik menyantap makanannya mendongak sambil mengangguk. "Enak. Ini mie instan pertama kali yang gue puji keenakannya. Rasanya beda dari mie instan yang pernah gue makan." Kaila terkekeh. Rupanya Haikal tidak tahu jika itu mie instan melainkan Udon, makanan khas negeri sakura. "Kenapa ketawa?" Tanya Haikal, merasa tersinggung dengan tawa Kaila yang seperti mengejeknya. Kaila menggeleng. "Gak. Cuma mau bilang, yang lo makan itu namanya Udon, bukan mie instan." "Udon? Apaan, tuh? Yang gue tahu cuma suudzon." Kaila menahan tawanya melihat wajah polos Haikal. "Udon, Haikal. Udon merupakan makanan khas negeri sakura." "Negeri Sakura?" Sambil meraih tisu untuk mengusap sisa kuah di sudut bibirnya, Haikal mencoba berpikir. Menatap mangkuk yang sudah bersih itu, tidak ada sisa kuah sama sekali karena kuahnya ia habiskan juga saking enaknya. Haikal meraih Chocolat blended, meneguknya hingga setengah hingga otaknya menangkat maksud kata yang Kaila ucapkan. Negeri sakura berarti..... Byur Uhuk Haikal menyemburkan minumnya dan memukul dadanya yang terasa sakit. "Haikal, lo kenapa?" Kaila berdiri di samping Haikal, memijit tengkuk Haikal dengan wajah cemas. Haikal meraih tisu, membasuh sisa Chocolate blended di sudut bibir. "Negeri sakura? Berarti Jepang, dong?" Dengan tangan mengusap baju putihnya yang ada noda cokelatnya, Kaila mendongak menatap Kaila yang mengusap bahunya. "Iya. Kenapa?" Haikal mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Arghhh... gue makan makanannya manusia jelly." Erang Haikal sebelum meraih cokelat blended dan meneguknya sampai habis tak tersisa. Kaila cemberut, di pukulnya bahu Haikal. "Apa, sih, lo. Segitunya banget. Itu Udon gue bikin sendiri dan setelah makanannya lo habisin, lo malah kayak gitu. Ini sama aja lo gak hargain usaha gue." Lirih Kaila dengan suara bergetar. Haikal tertegun. Di teguknya ludahnya yang tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering. Apa ia sudah keterlaluan? "Kalo lo masih mau habisin burger, kebab sama green tea-nya gak apa-apa. Gue mau ke kamar, ngantuk. Kalo udah habis lo langsung pulang aja biar pembantu gue yang beresin." Setelah mengucapkan itu, Kaila langsung pergi menuju kamarnya, meninggalkan Haikal sendiri dalam perasaan bersalahnya. "Kaila, gue___,' Terlambat. Tubuh Kaila sudah menghilang setelah menaiki tangga dan menutup rapat-rapat pintu kamarnya. Haikal mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar merasa bersalah. Tidak seharusnya ia begitu. Tetapi, ia merasa sedikit aneh dengan Kaila. Biasanya cewek itu jika ia mulai mencibir biasanya akan bersikap biasa saja dan tidak kebawa emosi. Tapi, kenapa sekarang Kaila marah? Haikal masih punya malu. Tidak mungkin ia menghabiskan makanan yang tersaji di meja tanpa ada sang tuan rumah. Akhirnya Haikal memilih keluar dari rumah Kaila dan menjalankan motornya menuju kafe yang biasa ia kunjungi tiap malam minggu. Biarlah, minta maaf ke Kaila saat berada di sekolah saja. Kalau di w******p, takutnya kurang sopan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD