DIAJAK KE BALI

1231 Words
“M-maaf, Pak.. tapi saya lebih senang bekerja di departemen saya..” jawab Naya menegang. Diusapnya telapak tangan di paha yang mulai berkeringat. Meskipun pendingin ruangan dinyalakan pada angka terendah, tapi tetap saja, hawa dingin ruangan tidak mampu membunuh kegrogiannya. “Loh? Ini promosi jabatan, Mbak.. dipromosiin kok malah nggak mau?” tanya Bu Laksmi tiba – tiba. “Bukannya nggak mau, Bu.. passion saya bekerja melayani tamu..” “Memangnya apa bedanya tamu dengan saya?” suara dalam Rey membuat Pak Johan dan Bu Laksmi merunduk. Tapi tidak dengan Naya. Kelopak matanya meredup melihat wajah Rey yang datar. “Melayani tamu dengan baik memberikan saya kepuasan batin, Pak..” kata Naya. Matanya setengah melotot. “Kepuasan batin – kepuasan batin..” suara Rey lebih meninggi, Membuat dua manager kian merundukkan kepala. Suaranya seperti saat Rey memarahi jajaran manager yang tidak memenuhi target bulanan. “Seharusnya suamimu yang dipuaskan, bukan tamu!” gertak Rey. Tentu saja, dua manager kian merundukkan kepala, seperti orang membungkuk, takut menghadapi amarah sang bos besar. Jika mereka tahu sang bos besar sedang berbicara dengan istrinya sendiri, maka suasananya tidak akan semenegangkan ini. Bahkan mereka akan tertawa lepas dan mengompori Rey untuk menyudutkan istrinya sendiri. Namun, lagi – lagi. Kerahasiaan status mereka membuat masalah kecil jadi lebih rumit. “Kelakuan suami saya kaya REY-og, Pak.. jadi saya enggan melayaninya.” balas Naya tak mau kalah. Bahkan ia menekankan kata REY agar lelaki itu terpancing emosi. Hening sejenak. Hanya ada suara pendingin ruangan dan hembusan nafas berat Pak Johan. “Kalo kamu jadi sekretaris pribadi saya, kamu bisa ikut saya kemana pun saya pergi. Tidak melulu berdiri di konter reception selama tujuh jam.” “Kemana pun bapak pergi?” tanya Naya meyakinkan sekali lagi. “Hm.. kenapa?” “Wahh bahaya nanti, Pak.. bisa – bisa saya dilabrak istri bapak..” ucapan Naya membuat Bu Laksmi mendongak. Alisnya yang dicetak hitam bertaut. Seolah –olah kalimat Naya menimbulkan pertanyaan besar. “Loh? Kok Mbak Naya bisa tahu Pak Rey sudah punya istri?” kata Pak Johan. Kepalanya mencondong ke arah Naya. Sementara itu, Bu Laksmi mengangguk pelan sekali. Seperti sudah mendapatkan jawaban dari keheranannya. Pernikahan sang bos besar itu hanya diketahui segelintir orang saja. Bahkan, Bu Laksmi tidak mengetahui sang bos besar sudah menikah. Bukannya wanita berumur 40an itu tidak peduli, atau jarang bergosip. Tapi, orang – orang di sekitarnya tidak pernah membahas tentang kehidupan personal sang pewaris. Wanita berumur 40an itu melihat Naya yang sedikit panik. Tiga pasang mata sedang menusuk gadis lugu itu. Ia semakin tidak nyaman dengan pandangan itu tatkala Pak Johan dan Bu Laksmi memasang mata curiga. Seakan – akan Naya punya hubungan dengan Pak Rey. “Engg.. sa- saya tahu dari ayah saya, Pak. Kebetulan guest house ayah saya berdekatan dengan hotel baru Pak Rey. Ayah saya melihat rombongan keluarga Pak Rey memakai baju kondangan..” jelas Naya dengan raut wajah dipaksakan untuk tidak terlihat seperti berbohong. “Ooohhh...” jawab Pak Johan. Lelaki itu mulai menyandarkan bahu setelah mendapatkan jawaban logis. Rey semakin meredupkan kelopak mata mendengar kebohongan Naya. Gadis itu rupanya pintar menyembunyikan fakta. “Jadi gimana? Kamu mau nggak jadi asisten pribadi saya?” Rey meyakinkan sekali lagi. Raut wajahnya serius, juga penuh wibawa. Membuat Naya harus berusaha menguasai keadaan yang sedikit canggung ini. “Tidak, Pak.. mau ditawarin gaji berapa pun saya tidak mau menjadi asisten pribadi bapak.” “Padahal mau saya gaji 10 juta.. belum uang service – nya. Tugasnya cuma melayani kebutuhan pribadi saya.” “Kenapa nggak minta istri bapak aja yang melayani kebutuhan pribadi bapak?” “Istri saya agak bego. Sop sayur seminggu diangetin, masak nasi kuning nggak pake kunyit, tapi diulekin krayon kuning. Sukanya mengigau ‘aku pengen liburan di pulau terlarang sama Zayn Malik’. Kurang bego apalagi coba?” ucap Rey asal. Naya mengangkat satu alisnya. Menyadari bahwa kunyuk berbalut kemeja itu sedang memulai perang dingin. Naya ingin segera membalas mulut yang julitannya melebihi nyai. Tapi segera ia urungkan niatnya. Karena Pak Johan dan Bu Laksmi terus- terusan menatapnya tajam. Segala gerak – gerik, ucapan dan raut mukanya sedang dinilai. “Yaudah kalo nggak mau. Saya cari asisten pribadi lainnya saja..” Naya spontan mengkerut mendengar ucapan Rey yang mengalah begitu saja. Sedetik kemudian, ia baru paham. Lelaki itu memang tidak berniat menjadikannya asisten pribadi. Tujuan memanggilnya kemari hanya satu – mengibarkan bendera perang yang pasti dimenangkan oleh lelaki bersempak bau itu. *** Naya tergesa – gesa menyusuri lorong rumah Rey yang amat besar menuju dapur. Heels yang masih ia pakai terpatuk amat keras. Nafasnya memburu wajah lelaki yang tadi pagi mengoceh ngawur di depan Pak Johan dan Bu Laksmi. Ternyata, lelaki itu pintar balas dendam juga. Dengan cara yang lebih elegan, lebih menusuk. Di depan dua managernya. Tentu saja, rantai tak kasat mata membuatnya tidak leluasa membalas celaan Rey. Bahkan, rantai itu terasa lebih mengikat ketimbang borgol yang ia ikat di tangannya. “Heh!! Ngapain tadi nuduh aku sembarangan di depan Pak Johan dan Bu Laksmi?!” gertak Naya kesal, sesaat setelah ia sampai di dapur khusus untuk Rey. Gertakan itu seharusnya memancing reaksi emosi Rey. Namun, lelaki itu diam saja, tangannya sibuk memotong bawang bombay. Entah gerangan apa yang sedang dimasak lelaki itu. Yang jelas, kebisuannya malah membuat Naya menurunkan sedikit emosinya. “Itu nggak sebanding daripada kamu nyentil anuku” balas Rey tanpa melihat Naya sedikit pun. Ada yang aneh. Mata lelaki itu tak menoleh ke arahnya sama sekali. Pun juga nada suaranya tak seperti memendam kekesalan seperti biasanya. Naya mendekati Rey pelan –pelan. Lelaki itu mulai menyiapkan dua piring di pantry. Lalu mencapit spagheti dari panci ke masing –masing piring. “Nih habisin..biar nggak kerempeng” pinta Rey cuek. Sudut matanya melirik Naya yang sedang menghirup aroma sedap bumbu spagheti. “Tumben baik..” “Yee.. emang udah baik dari dulu” balas Rey. Kata – katanya tak jelas sebab mulutnya kepenuhan spagheti. Belum sampai semenit, isi piring Rey ludes tak tersisa. Naya yang belum menyentuh spagheti sama sekali hanya termangu melihat kerakusan Rey. “Dimakan nggak? Kalo nggak buat aku aja sini..” tukas Rey. Kedua tangannya langsung menggeser piring Naya di hadapannya. “Ehh.. Ehh.. jangaan..aku laper” balas Naya. Spontan ia menarik kembali piring itu dengan raut tidak sabaran. Naya segera meraih sendok garpu dan melahap spagheti banyak – banyak, sekali suap sebesar satu kepal tangan. Bukannya dia rakus, tapi ia tidak mau Rey mengambil bagiannya. Dua menit kurang ia menghabiskan makanan lezat itu. Mulutnya belepotan. Pinggir bibirnya merah semua. Rey langsung mencabut beberapa tisue, lalu dilapkannya ke mulut Naya secara asal. Bahkan kepala gadis itu terdorong oleh kekuatan tangan Rey yang terlalu kuat mengelap mulutnya. “Hihh.. pelan – pelan tauk! Kayak nggak ikhlas banget” seru Naya kesal. Tangan kanannya meraih tisue yang masih dipegang Rey. Lalu ia tepuk – tepukkan tisue yang sudah memerah itu ke mulutnya sendiri. “Akhir Desember aku mau ke Bali.” ucap Rey sembari menaruh piring kotor Naya ke wastafel. “Terus?” “Kamu harus ambil cuti 4 hari.. aku mau ngenalin kamu ke semua klienkudi Bali..” “Ehh.. mana bisa? Akhir Desember hotel lagi rame – ramenya tauk! Bahkan HRD aja rencana mau nambah tiga anak training buat bantu operasional di front office. Ehh, malah disuruh cuti. Aneh banget..” “Kalo aku yang bilang HRD semuanya beres..” “Enggak.. enggak.. pokoknya nggak mau! Ke Bali sendiri aja!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD