ASISTEN PRIBADI

1116 Words
Naya yang tadinya masih positif thinking mendadak menggigit jari. Alisnya bertaut khawatir. Ia berharap tidak ada masalah lagi hari ini. Tapi sepertinya, tidak mungkin. Jantung Naya semakin berdegup kencang saat para waitress berjalan membawa nampan berisi klepon. Wajah para waitress tampak tegang. Apalagi saat mereka mulai menaruh sepiring klepon ke masing –masing meja. Tawa para bapak – bapak tidak cukup menutupi ketegangan mereka. Semakin mereka tertawa semakin merasa berdosa, apalagi jika makanan yang mereka sajikan tidak sesuai harapan. Setelah semua klepon dihidangkan, satu per satu bapak –bapak menusuk satu klepon dengan tusukan gigi lalu mulai melahapnya. Rendi tidak berani melihat reaksi mereka. Ia memilih menutup wajahnya dengan kertas HVS. Dan benar saja, klepon yang disajikan terlihat alot dan susah dikunyah. Bahkan ada bapak – bapak yang memolorkan klepon itu menjadi panjang seperti keju mozarella. Membuat Naya menepuk jidat. Yang lebih parah lagi, ada bapak – bapak yang kecipratan oleh isi klepon setelah dibelah. Isi klepon yang terlalu cair itu memenuhi wajah sang bapak. Sebagian teman – temannya tertawa tidak leluasa. Karena mulut mereka penuh dengan dua atau tiga klepon yang dikunyah secara bersamaan. Sebagian lagi, bapak –bapak yang giginya sudah tidak lengkap memilih mengemut klepon dengan raut muka sangat serius. Butuh waktu lama untuk menelannya. Sehingga ada yang memilih meneguk air putih agar kleponnya segera mampir ke perut. Kesannya malah seperti minum obat. Namun, tidak apa –apa bagi mereka untuk tidak merasakan rasa gurihnya klepon. Karena nama bahasa inggris yang terdengar mewah – green ball cake – cukup membuat mereka berbangga hati merasakan makanan tradisional yang dikira kekinian itu. Sekian menit suara restoran hening oleh usaha para bapak – bapak yang sedang menikmati klepon dengan caranya masing – masing, tiba –tiba saja, seorang bapak yang duduk di sudut restoran tersedak. Bapak tersebut mengeluarkan suara batuk yang amat memekikkan telinga. Membuat semua orang langsung menoleh ke sudut ruangan. Teman – teman di samping bapak tersebut langsung berdiri dan menepuk – nepuk bahunya agar klepon yang tersendat di tenggorokan keluar. Ada juga yang memberinya segelas air putih. Namun tetap saja, muka bapak tersebut semakin memerah, suara batuk semakin menggelegar dan menyayat hati. Desti dan Naya yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung bergegas berlari mendatangi sang bapak. Desti yang lebih duluan sampai langsung menepuk – nepuk bahu sang bapak. Wajahnya semakin khawatir, apalagi setelah tepukan kerasnya mata sang bapak melotot seperti orang kejang – kejang. “Minggir.. minggir, Des.. biar aku aja..” seru Naya kepada Desti. Naya langsung mengangkat tubuh sang bapak, lalu kedua tangannya merangkul pinggangnya. Setelah itu, ia tarik – tarik ke atas tubuh bapak itu agar klepon yang mencekat di tenggorokannya naik ke atas mulut. Gadis itu tahu betul bagaimana menolong orang yang tersedak. Karena sang ayah yang seorang hotelier berpengalaman pernah memberitahunya untuk menguasai segala bentuk pertolongan pertama jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi di hotel. Bagaimana pun juga, semua hotelier bertanggung jawab atas keselamatan para tamu. Dan benar saja, tak lama kemudian, klepon yang mencekat leher sang bapak keluar menggelinding ke lantai. Semua bapak – bapak yang melihat kejadian mencekam itu serentak menurunkan bahunya yang menegang. Lega. “Alhamdulilah, Mbak..” kata bapak yang tersedak. Suaranya serak dan parau. Disekanya peluh di dahi sambil melihat Naya yang melega melihat sang bapak. “Terima kasih ya, mbak.. saya tidak bisa balik ke Aceh besok kalo saya sampai masuk rumah sakit.” ucap sang bapak setelah meneguk segelas air putih yang disodorkan teman. Setelah sang bapak berkali – kali mengucapkan terima kasih kepada Naya, ia dan Desti kembali ke tempat kerja masing – masing. “Heran aku, Mbak.. semenjak Pak Rey tinggal di sini, ada aja masalah di hotel” keluh Rendi, sesaat setelah Naya memasuki konter reception. “Emang pembawa sial tuh orang..” “Hushh!! Bos besar beliau, Mbak..” Rendi langsung memelototi Naya yang berbicara asal tentang Rey. Naya langsung menepuk jidat lagi. Lelahnya dalam menangani tamu membuatnya tak fokus dengan apa yang dikatakannya. Semenjak menikah dengan Rey, dia hampir tidak punya batasan antara Rey yang di hotel dan Rey yang di rumah. Dimana pun dia, lelaki itu sama menyebalkannya. Bahkan lebih menyebalkan ketimbang kucing oren. Kelakuan seperti reyog, gampang birahi, gemar menjulid, sempak bau. Tidak ada hal positif yang ia temui dari lelaki itu. Di tengah lamunannya memikirkan sifat Rey, tiba –tiba dering telepon berbunyi. Secepat kilat Rendi mengangkat gagang telepon dan menyapanya dengan ramah. “Baik, Pak.. baik.. siap Pak” Tutt “Siapa Ren?” Rey menelan ludah sebelum menjawab. “Pak Johan, Mbak.. beliau nyuruh Mbak ke ruang meeting Arjuna sekarang..” “Duhh.. apalagi ini?!” “Tenang, Mbak.. Pak Johan cuma mau mengkonfirmasi kejadian di restoran barusan, kok..” “Lohh? Kok tiba – tiba tau?” “Entah lah.. mungkin dikasih tahu staf banquet..” Naya menghela nafas dalam –dalam, sebelum akhirnya ia melangkah ke ruang meeting Arjuna. Langkahnya sedikit meragu. Apalagi mengingat Pak Johan suka melebih –lebihkan kejadian. Meskipun sudah dijelaskan dengan sangat detail. Begitu ia membuka pintu ruang meeting, Naya dikagetkan oleh sosok bos besar yang sedang serius membaca revenue hotel bulan kemarin. sosok tersebut tidak menoleh atau meliriknya sedikit pun. Raut wajahnya datar, sangat datar ketimbang waktu pertama kali mereka bertemu. Di samping Rey, ada Bu Laksmi, Director of Sales (DOS) yang sedang membantu Rey menjelaskan jabaran revenue hotel. “Silahkan duduk, Mbak Naya.” Seru Pak Johan. Tangan kanannya memberi tanda untuk duduk di sampingnya. “Tadi saya dapet informasi dari Mas Azam tentang insiden di restoran. Saya benar – benar sangat mengapresiasi kinerja Mbak Naya yang langsung cekatan menangani tamu..” Pak Johan mengawali inti pembicaraan. Naya menghela nafas panjang sebelum mendengarkan kalimat selanjutnya. Dilihatnya Rey yang duduk di seberang, jenis reyog binal berkemeja putih itu menggulirkan kedua netranya di atas kertas laporan. Seolah –olah tidak mempedulikan kehadirannya. “Sebagai apreasiasi, Pak Rey menawarkan Mbak Naya untuk menjadi sekretaris pribadi, Mbak..” “Apaa?!” spontan Naya menoleh ke arah Pak Johan. Bukannya mendapatkan anggukan mantap dari sang general manager itu, malahan ia mendapatkan tatapan memicing. Pertanda tidak ingin dibantah. Istilah – istilah dalam perhotelan: 1. Staf banquet : staf yang bertugas mengurusi jamuan makan, pesta, atau meeting di hotel. 2. Director of Sales (DOS): direktur penjualan yang bertanggung jawab dalam mengelola fungsi utama penjualan di hotel. 3. Revenue: pendapatan yang diterima selama periode waktu dari penjualan akomodasi untuk tamu. Catatan dari penulis: Hai para pembaca semuanya.. terima kasih ya sudah membaca Terpaksa Jadi Istri CEO. Penulis mau menyampaikan satu hal aja, dikarenakan banyaknya istilah –istilah dalam dunia perhotelan yang terdengar asing, penulis minta kepada para pembaca semuanya untuk jangan ragu bertanya tentang istilah perhotelan yang masih belum dimengerti ya. Silahkan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar J
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD