LINGERIE 1

1132 Words
“Hihihihhihihi.....” “Aahahahhaahaha....” “Ya ampuuunnn... lucu bangeett...” Naya tertawa terbahak – bahak sambil menabok – nabok pahanya yang terangkat di atas kursi. Adegan dramatis Mr. Bean yang ia tonton membuatnya terpingkal – pingkal selama setengah jam. Sampai ia lupa waktu. Biasanya jam sebelas malam ia sudah tidur nyenyak. Apalagi keesokan harinya masuk shift pagi. Ditambah menghandle grup check- out. Maka otomatis dia akan membenamkan diri di ranjang lebih awal. Tapi tidak kali ini. “Aku dah ngantuk..” kata Rey datar. Lelaki yang sedari tadi berkutat dengan ponselnya mulai memindahkan perhatiannya kepada Naya. “Yaudah sana bobo duluan.. filmnya belum kelar, nih..” Klik.. “Loh? Kok dimatiin?” Naya langsung menoleh ke arah Rey yang baru saja mematikan layar televisi. Direbutnya remote yang disembunyikan di balik badan Rey. Tapi tentu saja, gadis itu kesusahan mengambil remote di balik badannya yang besar. “Udah waktunya tidur.. besok kamu shift pagi.” “Hihh.. bodoh amat.. filmnya bagus tauk” tangan mungil Naya menyelip ke pinggang belakang Rey. Membuat Rey terpaksa berdiri menjauhi Naya. Dilepasnya baterei remote televisi, lalu ia buang begitu saja keluar jendela. “Lah.. kok dibuang?” “Biar kamu bobo..” ucap Rey cuek. “Aaaaahh.. ngeselin!” bergegas Naya berdiri dan meraba setiap sudut televisi, mencari tombol hidup. Tapi entah merk apa televisi tersebut, ia tidak menemukan tombol sama sekali di layar itu. “Buruan tidur..” ajak Rey sekali lagi. Lelaki itu tau – tau sudah di ambang pintu kamarnya. Naya melirik malas Rey. Ingin sekali menjambak rambutnya yang gondrong. Tapi ia ingat, ia sedang di rumahnya sang tuan muda. Bikin ulah sedikit pasti para pelayannya akan langsung menolong makhluk sialan itu. “Aku tidur sini aja.. males tidur di kamarmu.” “Bener? Itu lukisannya bisa gerak – gerak sendiri loh pas tengah malem” Rey menunjuk lukisan besar bangsawan eropa yang mengenakan pakaian klasik. Wajah bangsawan itu sebenarnya tidak terlalu menakutkan. Senyumnya malah kelewat menawan. Tapi karena disisipi cerita horor oleh Rey, kesannya malah menyeramkan. Ceklek.. Tanpa tedeng aling – aling, Rey menutup pintu kamar tanpa menunggu Naya masuk. Suasana pun menjadi hening. Hanya ada suara pendingin ruangan dan sayup – sayup suara jangkrik dari luar. Naya bukan lah tipe gadis yang berorientasi pada horor. Tapi suasana rumah Rey yang terlalu besar, redup, bercat merah maroon, pilar – pilar rumah yang menjulang tinggi dan sunyi sudah cukup memenuhi label rumah berhantu. Bergegas Naya masuk ke kamar Rey setelah merasakan bulu kuduknya tiba – tiba merinding. “Dasar penakut!” ledek Rey. Bukannya langsung berbaring di ranjang, lelaki itu malah sibuk memindahkan bantal – bantal kecil yang memenuhi sebagian kasurnya ke sofa. Naya tidak membalas ledekan itu. Matanya masih terpaku oleh dekorasi kamar Rey yang mewah dan terasa hangat. Kamar ini terlalu luas untuk ditempati satu orang. Dekorasi kamar didominasi gaya timur tengah, dengan banyak corak dan ornamen. Pun juga kasurnya Rey, kasur seukuran king bed itu dikelilingi tiang yang menyangga tirai kelambu berwarna krem. Naya mengira kamar Rey lebih maskulin dari yang ia bayangkan. Dengan d******i warna abu gelap dan minim perabotan, seperti di film 50 Shades Of Grey. Namun, kenyataannya, kamar itu tidak menunjukkan sisi masukulinitas laki – laki. Malah terkesan seperti kamar di negeri dongeng. “Bantalnya udah tak pindahin.. biar muat berdua..” kata Rey datar. Diliriknya Naya yang hanya mematung dan sesekali meliriknya acuh. Meskipun Rey juga sempat kesal dengan wanita itu, tapi ada waktunya ia ingin berdamai dengan istri barunya. Malu – malu Naya berjalan menghampiri Rey yang sudah berbaring. Baru kali ini ia merasa aneh. Tidur dengan lelaki yang tiba – tiba jadi suaminya. Terlepas dari perlakuan Andra yang semena – mena dengannya, jika ia mendengar kata suami, maka yang ia bayangkan adalah sosok lelaki sejati yang ia cintai. Seperti pangeran berkuda putih di negeri dongeng. Namun, dua lelaki yang menikah dengannya bukan lah sosok yang ia idam – idamkan sejak kecil. Suami pertama yang tak punya hati, dan suami kedua yang menjengkelkan. Meskipun Rey jauh lebih baik dari Andra, tapi entah mengapa, sulit baginya untuk membuka hati lagi. “Sunyi banget..” keluh Naya sesaat setelah ia membenamkan tubuh di ranjang. Ditengoknya Rey yang berbaring disamping. Kedua matanya sudah memejam. Tapi nafasnya tidak panjang, bukan seperti orang tidur. “Ya ampun.. aku lupa sesuatu.” Tiba – tiba saja Rey beranjak dari pembaringan, membuat Naya harus menyebut istighfar berkali – kali saking kagetnya. “Astagaa..! Kenapa mendadak gitu sih bangunnya? Kayak zombie!” seru Naya kesal. Dipegangnya d**a erat- erat. Jantung yang berdegup kencanng belum juga mereda. Rey berjalan menuju ruang pakaian yang berada di sebelah kamar. Lama. Entah apa yang lelaki itu cari. Yang jelas, tingkah Rey yang tiba – tiba membuat Naya curiga. “Buruan pake ini!” seru Rey. Lelaki itu melempar kain warna merah yang bentuknya aneh sekali. Naya mengambil kain itu dengan wajah mengkerut. “Apa ini?!” “Lingerie bego!” “Apa?!” Naya membelalak. Setelah beberapa kali ia memutar – mutar kain itu, baru ia sadari bentuk segitiga terbalik seperti bentuk c*****************a pada umumnya. “Nggak! Nggak mau.. emangnya kita mau gitu – gitu sekarang? Orang aku belum kenal kamu juga..” Naya melempar kembali lingerie ke arah Rey. “Kita kan udah jadi suami istri.. emangnya kamu nggak mau punya anak?” Rey melempar kembali lingerie itu ke wajah Naya. “Aku nggak mau ngelakuin itu tanpa cinta..” seketika mulut Rey serasa ingin muntah mendengar kata cinta. Alis Naya bertaut. Lalu pikirannya melayang pada saat ia berdansa dengan lelaki sialan itu. Baru disadarinya, lelaki menjengkelkan itu tidak percaya yang namanya cinta. Hening sejenak. Rey tidak tahu mau berkata apa lagi karena memang baru pertama kali ini ia berurusan ranjang dengan wanita. Naluri lelakinya memang tidak bisa dibohongi. Apalagi ia sudah memiliki wanita yang halal disentuh. Terakhir kali ia pacaran saat ia masih berumur 21 tahun. Gejolak muda yang membara memaksanya untuk berpacaran meskipun tanpa didasari cinta. Untungnya gadis yang ia pacari lumayan playgirl. Jadi ia tak perlu repot – repot memutuskan gadis itu tanpa air mata. “Ohh.. aku tau.. kamu cuma alesan aja kan suruh aku make lingerie ini? Sebenernya kamu masih pengen balas dendam, kan?” “Balas dendam apa?” wajah Rey mengkerut. Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Naya. “Melintir putingku” kata Naya, tangannya mempraktekkan pelintiran sekencang – kencangnya ke arah putingnya agar Rey paham bahwa perang dingin belum usai. “Enggak lah.. aku udah ngelupain kejadian itu..” balas Rey. “Halahh bo’ong..” Naya beranjak dari pembaringan, lalu berjalan mengambil tasnya di sofa. “Emangnya aku masih bahas syal Lady Gaga yang kamu bakar? Enggak, kan?” Rey berkacak pinggang saking kesalnya. Kantuknya hilang begitu saja karena jengkel menerima tuduhan wanita itu. “Aku mau pake lingerie, asalkan kamu mau pake ini!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD