GARA - GARA SHEET

1225 Words
“Hidung beng-“ “Apa – apaan ini, Pak?!!” suara Dayu dari ambang pintu mengagetkan dua orang tua yang sedang adu emosi. “Dia udah nyobek sheet kita!” pekik Pak Amir. Tangannya berkacak pinggang, sementara tangan satunya menunjuk – nunjuk Melanie yang masih berusaha bangun. “Enak aja! Ayahmu ini yang mulai!” entah energi dari mana, akhirnya Melanie terbangun setelah susah payah mengangkat tubuhnya. “Udah!! UDAAHHH!!” teriakan Dayu yang memekik membungkam kedua orang tua yang masih kekanak – kanakan itu. Sampai – sampai tamu yang menginap di kamar seberang membuka pintu dan menegur Dayu. “M – maaf Bu.. saya tidak tahu kalau ada tamu di lantai ini.” ucap Dayu kepada gadis bule yang rambutnya acak – acakan. Seperti habis bertempur di ranjang. Tak berapa lama kemudian, gadis bule itu menutup pintu kamar setelah Dayu berkali –kali bilang “I’m sorry, forgive me”. Semua kosa kata maaf bahasa inggris ia keluarkan, agar bule itu tidak jadi marah. “Budi.. kamu aja yang making bed. Tamunya udah nunggu setengah jam di lobi!” “M – maaf mbak, sheetnya tinggal satu itu aja. Yang lainnya masih dilaundry..” ucap Budi setengah takut. “Apa?! Duhhh!!! Kenapa malah makin runyam gini sih?!” seru Dayu kesal. Digaruk – garuknya kepala yang tidak gatal. Kepalanya sudah pusing melayani tamu di konter reception. Malah ditambah mikirin masalah yang seharusnya tidak terjadi. “Bud! Ambil sheet di hotel ibu ini! Bilang sama petugas hotel kalo bosnya udah ngerusak properti hotel kita. Pokoknya saya nggak mau tau, ibu ini harus tanggung jawab!” perintah Pak Amir. Ditekan suaranya agar tidak menggelegar dan menganggu tamu di kamar seberang. Sungguh bukan posisi yang nyaman baginya. Karena ia tak suka menahan amarah yang tidak tuntas. “Ehh.. enak aja! Nggak.. nggak bisa! Sheet hotel saya itu impor lho..” cegah Melanie. Dayu memutar kedua bola matanya mendengar kata impor. Rasanya ingin menyumpal mulut sombong itu dengan sheet yang sudah disobeknya. “Harganya berkali –kali lipat dari sheetnya bapak. Saya harus nunggu tiga bulan sebelum sheet itu dikirim” lanjut Melanie. Suaranya terdengar tersengal menahan emosi juga. Emosi karena merasa disudutkan. “Lha terus mau pake apa? Taplak meja?” Tanya Pak Amir kesal. Ditariknya ke atas celana kolor yang hampir melorot. Saking sibuknya membantu operasional guest house, pria nyentrik itu sampai lupa memasang karet di celana kolor yang sudah kedodoran. “Emmhh.. Pake selimut aja udah..” “Selimut dengkulmu!!” “Kan bapak ta-“ Ceklek.. Suara pintu kamar seberang terbuka sedikit oleh gadis bule yang sekian menit lalu komplain karena merasa terganggu. Tangannya memegang erat – erat selimut yang menutupi tubuhnya yang telanjang, lalu menempelkan telunjuk di hidung mancungnya. Tak berapa lama kemudian pintu itu ditutup. Pertempuran di kamar seberang pun berlanjut. “Ahh.. udah lah! Males aku ngurusin kalian berdua! Kalo ibu nggak ikhlas sheetnya dipinjem, biar saya beli! Budi..! Ambil sheetnya sekarang di hotel sebelah..” “I – iya, mbak..” jawab Budi patuh. Segera ia berjalan merunduk melewati Dayu yang masih emosi. “Y-ya enggak dibeli juga, sih... Mbak..” ucap Melanie ragu. Kedua tangannya mendekap ke d**a saking takutnya melihat Dayu marah. “Terus gimana?! Ibu ditanyain solusi malah diem aja!” nafas Dayu tersengal. Baru kali ini ia memarahi orang yang lebih tua saking kesalnya. “Emhh.. sebenernya saya pesen sheet itu di luar negeri karena saya nggak mau ada hotel lain yang meniru sheet hotel saya. Tapi kali ini saya ikh-“ Melanie berdehem dan mencubit leher sebelum melanjutkan kalimat. “Saya ikhlas kali ini..” spontan saja kalimat itu membuat Dayu dan Pak Amir melega. Akhirnya Crazy Rich menjengkelkan ini bisa mengikhlaskan satu sheetnya. “Duhh.. kalian nggak kepanasan ya di ruangan ini?” tanya Melanie, tangannya mengipas wajahnya dengan manja. Membuat Dayu mengangkat satu alis saking herannya dengan perubahan drastis tingkah Melanie. “Saya pulang dulu, ya.. mau berendam di bathup. Bye Pak Amir, Bye Ayu.. ehh Bayu.. ehh siapa lah namamu, sampai jumpa ya..” pamit Melanie sambil menepuk – nepuk bahu Dayu. Lalu berlenggang begitu saja dengan langkah melenggak – lenggok bagai model. “Dasar wanita aneh!!” *** “Ehh.. Bu Melanie.. udah lama nggak ke sini.. Ibu apa kabar?” dr. Vivin, dokter kecantikan langganan Melanie menyambut pelanggan VVIP-nya dengan wajah kelewat santun. Dua wanita sosialita itu berpelukan dan cipika – cipiki. Tak berapa lama kemudian, dr. Vivin mempersilahkan Melanie duduk di kursi. “Mau treatment apa, Bu?” tanya dr.Vivin. Senyum yang merekah tak henti – hentinya menghiasi wajah dokter cantik itu. Agar Melanie mau memborong treatment di kliniknya seperti yang biasa ia lakukan. “Mau filler hidung lagi, dok.. kayaknya bengkok, ya?” kata Melanie, tangan lentiknya memencet – mencet hidung mancungnya. “Bengkok? Enggak kok, Bu.. masih bagus gitu..” balas dr. Vivin. Dokter cantik itu mulai memegang dagu Melanie agar mau memiringkan wajahnya. “Lagipula belum ada tiga bulan ibu filler hidung. Nanti kalo ditambahin lagi malah bentuknya nggak bagus..” “Ohh, gitu ya?” wajah Melanie berubah kecewa. “He’em, Bu..mending botox lagi aja.. dahi Ibu kayak udah berkerut.. saking stresnya mikirin hotel yang nambah – nambah terus ya, Bu?” puji dr. Vivin. Ia selipkan tawa renyah di akhir kalimat. Agar Melanie juga ikut bahagia akan pujiannya. Selang beberapa saat setelah diskusi mengenai perawatan yang akan dilakukan Melanie, saatnya Crazy Rich itu membaringkan tubuhnya di ranjang perawatan. Tangan dr. Vivin pun telah siap memegang suntikan berisi cairan botox. Di tengah percakapan yang isinya terus memuji kecantikan dan kekayaan Melanie, tiba – tiba ponsel wanita itu berdering. Diraihnya ponsel di dalam tasnya, lalu diusapnya tombol hijau di layar, “Ya, nak.. Mami lagi treatment, nih.. ada apa?” “Tadi siang mami bertengkar sama bapak mertua Rey?” “Emmhh.. ya nggak bertengkar sih, cuma adu mulut karena insiden kecil.” “Insiden merobek sheet? Aduhh, mom.. bisa nggak sih mami ngalah dikit? Rey malu tau sama bapak mertua Rey dan.. Naya juga.” “Habisnya Pak Amir ngeremehin mami..” Tiba – tiba hening. Rey sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di sampingnya. Dr. Vivin yang sedari tadi membeku menantikan Melanie menutup mulut mulai menyuntikkan botox di dahinya. “Ya nggak harus diladeni, lah.. mom.. Rey tadi sampe minta maaf sama Pak Amir, sekalian Rey bawa 50 sheet buat cadangan guest house mereka.” “Astaga.. kok malah dikasih? Itu limited edition, Rey..” saking terkejutnya, Melanie beranjak dari pembaringan dengan suntikan yang masih menempel di dahi. Dr. Vivin bergegas mendorong tubuh wanita itu kembali ke ranjang dengan wajah was – was dan khawatir. Reaksi dadakan ibu Crazy Rich itu membuat dr. Vivin dan para asistennya setengah syok. Jika sampai salah treatment, ia takut kliniknya akan dilaporkan pihak polisi. Apalagi yang ia tangani bukan sembarang orang. “Limited Edition dari mana? Pabrik tekstil di Tangerang udah ada yang niru sheet kita..” “Astagaaa.. mami baru tau..” Hening lagi. Kali ini dokter kecantikan itu bisa bernafas lega karena cairan botox sudah menyerap sempurna di dahi Melanie. “Oya, nak.. Naya tidur dimana malam ini?” “Tidur di sini.. tuh orangnya lagi cekikikan nonton film..” “Loh? Kok malah nonton film sih? Kalian nggak gitu – gitu?” “Nggak ngapa – ngapain, mom. Rey nggak nafsu sama dia.. udah dulu ya mom, filmnya bagus, nih. Bye mommy..”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD