PERSETERUAN PAK AMIR DAN BU MELANIE

1170 Words
Kriing.. Suara dering telepon membuat mereka berdua langsung mematung. Rey menarik tangannya yang sudah hampir menyentuh d**a Naya dan langsung berjalan di sudut kamar. “Haloo..” suara Rey yang tadinya asyik terdengar lebih berwibawa. Bukan wibawa yang dibuat – buat, namun suara bassnya yang dalam memang terkesan seperti pemimpin. Maka tak heran jika klien yang dihandle-nya selalu terkagum dengan cara bicaranya. “Lagi ada di sini.. ada apa, Mas?” tanya Rey, setelah suara diseberang sana mengatakan sesuatu yang tak diketahui Naya. Gadis itu menebak – nebak mungkin Rendi sedang mencarinya. “Ohh.. oke..” ditutupnya gagang telepon warna putih gading berlabel logo perusahaan kebanggaannya. Lalu Rey memasang wajah serius sambil berkacak pinggang di hadapan Naya. “Anak buahmu nyariin tuh.. katanya grup dari Jakarta udah dateng..” “Astagaa.. Ya ampunn! Aku lupa kalo mereka dateng jam segini.. aku ke bawah dulu, ya..” Naya yang terkejut menutup mulutnya erat – erat. Akan semakin gawat jika ia tak segera membantu Rendi menghandle tamu berjumlah ratusan. Tak lama kemudian ia bergegas lari ke pintu keluar. “Eh.. Eh.. tunggu dulu..” seru Rey mencegah langkahnya. Naya yang sudah meraih daun pintu terpaksa membalikkan badan. “Apa lagi, sih?!” “Awas, ya kalo nanti nggak pulang ke rumahku..” “Hihh.. diem – diem m***m” *** Tidak seperti hari biasanya, Samitra Guest House hari itu dipenuhi para tamu wisatawan asing. Resepsionis hotel sampai kewalahan menghandle tamu yang tidak kunjung habis menyambangi konter reception untuk check –in atau pun check – out. Bahkan Dayu sampai menjadi resepsionis dadakan membantu karyawannya yang kewalahan. Jumlah kamar di Samitra Guest House sekitar 70 ruang. Tersebar di sayap kanan dekat kolam renang dan sayap kiri dekat taman. Area Guest House tersebut memang sangat luas dan asri. Jadi memang cocok untuk hunian wisatawan asing yang lebih mengedepankan ketenangan dari hiruk pikuk kota. “Pak.. habis ini bersihin kamar 312, ya. Tamunya udah nunggu di lobi dari tadi..” pinta Dayu kepada sang ayah. Selain Dayu, Pak Amir juga membantu petugas housekeeping membersihkan kamar yang baru saja check- out agar cepat selesai. Pria nyentrik itu memang sudah tidak muda lagi, tapi semangat juangnya luar biasa. Bahkan tahun kemarin ia mengikuti ajang lomba maraton yang sebagian besar diikuti anak muda. Meskipun menjadi peserta yang finish terakhir, ia selalu membanggakan medali keikutsertaannya dalam lomba itu di depan teman – teman kicau manianya. “Astaga.. kayak kapal pecah kamarnya..” seru Pak Amir setelah membuka pintu kamar 312. “Maklum, Pak.. bule mainnya kasar.. hehehe..” celetuk Budi. Petugas housekeeping yang suka bercanda dengan guyonan m***m. Bergegas mereka berdua melepas sheet di ranjang dan mengambil handuk yang berserakan. Budi mulai membersihkan kamar mandi,sementara Pak Amir memasang sheet baru di ranjang. Di tengah kesibukan mereka merapikan kamar dan bersenandung dangdut koplo yang disetel lewat ponsel Pak Amir, tiba – tiba saja suara heels seorang perempuan berhenti di ambang pintu kamar 312. “Ehh.. Pak Amir bantuin bersih – bersih, ya.. emang bos panutan Pak Amir, nih..” suara manja Melanie membuat Pak Amir dan Budi terbengong oleh kedatangan seseorang yang tidak diharapkan. Dilihatnya wanita setengah baya itu menenteng tas chanel dan juga es kopi s**u. Jumpsuit warna pink fanta yang dikenakannya terlihat mencolok. Bahkan warnanya tidak senada dengan tas hijau pupusnya. Meskipun begitu, Melanie tidak peduli dengan penilaian orang. Yang penting ia bisa menenteng tas yang tidak bisa dimiliki semua orang. Yang artinya, tas itu sudah cukup menjelaskan letak status sosial wanita itu. “Ibu ngapain ke sini?” tanya Pak Amir. Kedua tangannya sibuk mencabut sheet kotor dari bed. “Kebetulan lewat aja, Pak.. jadi sekalian mampir.. hehehe..” balas Melanie. Sehabis cengengesan diseruputnya es kopi s**u yang tinggal separuh. Bulu mata badainya menelisik gerak Pak Amir yang gesit di umurnya yang sudah tua. Bukannya terkagum, Melanie malah merasa tersaingi oleh kegesitan pria nyentrik itu. “Pak Amir bisa making bed?” “Bisa dong.. saya kan lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Saya juga pernah magang di Dubai, kerja di Hilton, jaringan hotel Accor, Hotel Amanjiwo.. banyak deh pengalaman saya..” jelas Pak Amir menyombongkan diri. Ia memukul pelan dadanya dengan kepalan tangan, menunjukkan bahwa ia tak mau diremehkan. “Ooohh.. saya juga lulusan manajemen perhotelan di Inggris, Pak.. Ya..meskipun Cuma sekelas D3 aja, tapi saya dapat ilmu banyak..” balas Melanie tak mau kalah. Kepalanya bergerak- gerak seperti orang india saat berusaha menyombongkan diri. “Manajemen mah nggak diajarin operasionalnya..” “Ehh.. diajarin saya Pak.. saya aja bisa making bed.. sini, biar saya tunjukin ke Bapak kalo nggak percaya.” Bergegas Melanie meletakkan tas dan kopi s**u di meja yang habis dilap Budi. Membuat Budi melirik malas wanita itu karena mejanya basah oleh gelas plastik yang mengembun. Diambilnya sheet bersih yang masih dipegang Pak Amir. Lelaki itu sebenarnya tak ingin Melanie memperlama durasinya membersihkan kamar. Tapi kali ini, ia menaham diri untuk tidak mencegahnya. Ia juga ingin tahu seberapa hebat lulusan manajemen perhotelan di Inggris. Melanie sudah berada di sela – sela antara kasur yang sudah ditarik ke depan dan senderan kasur yang terbuat dari kayu. Tak berapa lama, wanita itu menebar sheet yang belum terbuka sempurna ke depan kasur. Membuat Pak Amir tersenyum nyengir. “Bukan gitu caranya, Bu.. kalo kayak gitu hasil akhirnya nggak rapi..” “Ssstt.. diem dulu.. saya belum selesai..” kata Melanie sembari menempelkan telunjuk di hidung fillernya. Segera ia lanjutkan aksi pamernya sebelum Pak Amir meremehkannya lagi. “Gini lho, Bu..” tanpa tedeng aling – aling, Pak Amir langsung mengambil sheet yang sedang dipegang Melanie. “Ehh.. dibilangin nanti dulu ngeyel si bapak ini!” Melanie yang tak mau kalah menarik sheet yang sudah terlanjur dipegang Pak Amir. Alhasil, mereka berdua saling tarik menarik sheet yang seharusnya segera dipasang di atas bed. Budi yang baru saja keluar dari kamar mandi melongo melihat mereka. Pemuda itu ingin menengahi tapi melihat wajah kedua orang tua itu saling memicing tak mau kalah, jadi ia urungkan niat itu. “Lepasin, Pak!!” Melanie menggeram, heels yang ia kenakan ikutan terseret ke depan saking kuatnya Pak Amir menarik sheet. “Nggak usah ikut campur urusan hotel saya!” balas Pak Amir dengan mata melotot. “Kalo saya nggak ikut campur guest ini nggak akan ra – “ Breetttt..! Suara sobekan kain terdengar menggema di kamar. Dan tak lama setelahnya, kedua orang tua itu jatuh terjungkal bersama – sama. “Aduuhhhh..!!” Melanie terjungkal amat keras sampai –sampai kedua kakinya terangkat. Begitu juga dengan Pak Amir. Tubuh gempalnya terpental begitu saja seiring dengan sobeknya sheet yang mereka rebutkan. “Ibu udah ngerusakin properti hotel saya!” gertak Pak Amir. Lelaki itu tau – tau sudah berdiri di hadapan istri Crazy Rich yang masih terkapar. “Enak aja..salah bapak sendiri nggak mau ngalah! Kan saya niatnya juga bantu bapak!” “Bantuin kok maksa.. dasar hidung bengkok!” “Apaa?! Bapak ngatain saya apa?!” Istilah di dunia perhotelan 1. Making bed: merapikan tempat tidur di dalam suatu hotel yang akan digunakan oleh para tamu. 2. Sheet: sprei linen bewarna putih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD