“Ya Allah.. capek banget Naya..” keluh Naya sesaat setelah dia merebahkan diri di sofa ruang make – up.
Hampir lima jam ia bersalaman tiada henti dengan kerabat, teman, tetangga dan teman lama mertuanya. Bahkan kedua tangannya kebas saking seringnya bersalaman. Pun juga sudut bibirnya yang harus tersenyum saat kamera sedang on. Membuat rahangnya kaku luar biasa.
“Mbak Naya, habis ini ganti baju, ya.. night party dimulai dua jam lagi..” kata seorang party organizer berblazer hitam.
“Hehh? Ada party lagi? Ya Allah.. kalo aku nggak ikut party gimana? Capek banget, mbak..” Naya lagi – lagi mengeluh. Memang selain bekerja, hobi utamanya adalah mengeluh.
“Masa’ penganten nggak ikut party? Nanti tamu undangan pada nanyain loh..”
“Iya, iya.. yaudah deh sekarang aja ganti bajunya..” bergegas tim MUA membantu Naya melepas segala aksesori Naya satu per satu. Lalu melepas kain jarik dengan hati – hati.
Sejam berlalu, Naya yang tadinya bagai putri kerajaan sekarang tampak anggun mengenakan long dress modern berbahan sifon. Rambut sebahunya yang bergelombang digerai begitu saja. Riasan make – upnya tidak mencolok. Warna nude yang mendominasi polesan make – upnya terlihat natural dan menegaskan kecantikannya.
Setelah semuanya dirasa sempurna, Naya dan beberapa pendamping pengantin menuju ballroom hotel yang sudah dipenuhi tamu undangan. Meskipun badannya capek luar biasa, ia berusaha berjalan tegap dan menyunggingkan senyum membalas tepuk tangan para tamu.
“Cantik banget ya istrinya Rey..” komentar salah satu kerabat Melanie.
“Ohh.. gini to tipenya Rey. Pantesan baru sekarang dapet jodoh..” komentar yang entah menuju ke arah nyinyir atau pujian terlontar dari mulut teman lama Melanie.
Sementara itu, Pak Amir, Ibu, Dayu dan kakak ipar tersenyum bahagia di salah satu meja bundar dekat pelaminan. Dilihatnya sang ayah yang berkali – kali mengusap air di sudut mata. Membuat Naya tersentuh. Bapaknya memang emosian, tapi ia mudah terharu oleh momen langka seperti ini.
Tak berapa lama kemudian, Naya telah sampai di atas pelaminan, dimana Rey berdiri dengan wajah acuh dan memendam kekesalan. Lelaki itu mengulurkan tangan dengan malas. Naya menyambutnya dengan ogah – ogahan.
“P****g gue diplester gegara cubitan elo!”
“Ohh.. iya kah? Mau ku cubit satunya lagi biar dua – duanya diplester? Biar kayak emoji males gitu.. hehehe” Naya menyipitkan kedua mata seperti emoji malas di w******p. Rey yang mendongkol terpaksa diam saat sang pengisi acara ibukota membuka acara.
Setelah sambutan super lengkap kepada para pejabat yang datang, saatnya sang pengisi acara mengumumkan acara inti, yaitu berdansa.
Sang pengisi acara laki – laki itu mempersilahkan kedua mempelai turun dari pelaminan untuk berdansa.
“Haduhh.. males banget!” seru Naya dalam hati.
Kedua mempelai pun saling berhadap – hadapan dengan raut canggung.
“Maju..” perintah Rey acuh
“Elo lah yang maju, lo kan cowok..”
“Hisshhh..!”
Dengan gerakan tangan kaku seperti robot, Rey meraih pinggang Naya agar tubuhnya bisa mendekat pada tubuh ramping gadis itu. Spontan saja gerakan itu membuat Naya merangkul leher Rey yang dirasa terlalu lebar. Wajah mereka berdua canggung meskipun masih menyimpan dendam kesumat satu sama lain.
Alunan piano yang dimainkan dengan lembut mengiringi gerakan dansa mempelai yang baru menikah. Sesaat kemudian, para tamu mulai ikutan berdansa di tengah – tengah ballroom. Suasana yang tadinya riuh menjadi lebih romantis.
“Heh.. napa lo diem aja? biasanya berisik..” tukas Rey. Alis matanya yang tebal mengkerut melihat Naya yang bungkam seribu bahasa.
“Kata mami kamu, kamu nggak pernah deket sama cewek ya?” suara Naya lebih enak didengar daripada sebelumnya.
“Iyaa..”
“Kok bisa?”
“Yaaa.. karena gue nggak pernah cinta aja sama makhluk manja kayak elo..” balas Rey santai.
“Ohh.. lu homo?”
“Enak aja..” spontan Rey melotot. Namun setelah itu ekspresinya berubah seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Aku nggak percaya apa itu cinta..” alis Naya berkerut mendengar jawaban Rey. Gadis itu tersenyum nyengir. Niatnya ingin mengejek lagi, tapi saat menyadari lelaki itu menatapnya serius, Naya mengurungkan niat itu.
Di tengah gerakan dansa kedua mempelai yang kaku seperti robot, tiba – tiba saja mata Naya terpaku pada sosok pria yang tak asing baginya berjalan menuju ke arahnya. Dilihatnya lagi lamat – lamat sosok beruban itu, dan...
“Astagaa!! Kenapa Pak Johan ada di sini?” Naya langsung menenggelamkan kepalanya ke d**a bidang Rey, setelah melihat bosnya sendiri sedang berjalan menghampirinya.
Pak Johan adalah General Manager tempat Naya bekerja. Sesuai permintaan Naya, semua karyawan hotel- hotel Sadewa tidak diundang oleh keluarga Rey. Agar mereka tidak mengenali siapa istri Rey. Dan Naya bisa melanjutkan impiannya bekerja di Sadewa Boutique Hotel.
Lagipula, hubungan kerja antara karyawan dan pemegang saham membuat mereka selalu membatasi urusan personal dan bisnis. Jadi sudah biasa, jika sekelas General Manager saja jarang diundang keluarga Rey di pesta – pesta spesial seperti ini.
“Mana?” tanya Rey yang malah toleh kanan dan kiri.
“Di belakangmu..” Naya terus meringkuk di d**a Rey agar tidak terlihat oleh bosnya.
“Selamat ya, Pak Rey atas pernikahan Bapak..”
Deg!
Naya kaget setengah mati karena tahu – tahu suara Pak Johan sudah ada di dekatnya. Diintipnya wajah Pak Johan yang biasanya memasang muka sangar kini terlihat santun di hadapan Rey. Pria paruh baya itu menjabat tangan Rey, lalu pandangannya turun ke arahnya. Membuat Naya memalingkan kepala dan semakin meringkuk di d**a Rey.
“Istri Bapak kenapa?” tanya Pak Johan terheran – heran.
“A-anuu.. emm.. dia malu karena matanya sembab. Dari tadi nangis terus nih cewek karena terharu, akhirnya bisa nikah sama saya.. hehehe..” Naya memutar kedua bola mata mendengar jawaban sombong Rey. Tapi setidaknya, jawaban itu bisa menyelamatkannya.
“Ohh.. kirain kenapa..” ucap pria paruh baya itu. Namun tentu saja, alisnya masih mengkerut melihat tingkah aneh istrinya Rey.
“Ngomong – ngomong, Bapak ngapain ke sini?” tanya Rey, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Naya.
“Saya habis mewawancarai beberapa pegawai untuk menempati posisi manager, karena manager marketing mau pindah ke resort Bali, dan manager front office mau resign karena hamil.”
Naya membelalak mendengar ucapan Pak Johan. Bukan tanpa alasan, tapi ia memang sudah direkomendasikan oleh HRD untuk menggantikan posisi Bu Maya, manager front office-nya akhir bulan nanti.
Tapi kenapa bosnya malah mencari pengganti Bu Maya dari luar? Bukan kah kemampuannya memimpin tim sudah terbukti selama dua tahun bekerja di sana?
“Bapak nggak mempromosikan jabatan kepada karyawan yang udah ada?” tanya Rey. Lelaki itu tahu Naya membutuhkan jawaban atas informasi mengejutkan yang baru saja didengarnya.
“Persaingan hotel semakin ketat, Pak. Saya lebih memilih orang dari Online Travel Agency, karena kemampuan marketing mereka sudah tidak dipertanyakan lagi. Beda dengan hotelier, mereka hanya mementingkan kepuasan tamu saja.”
Deg!
Hati Naya teriris perih mendengar jawaban gamblang bosnya. Ia tidak menyangka, Pak Johan yang dikenal idealis dalam memberikan pelayanan tamu ternyata tidak seperti apa yang ia lihat selama ini. Terlebih lagi, Naya yang sering dipuji karena sering memberi pelayanan terbaik nyatanya malah diremehkan. Membuat hatinya makin kecewa.
Sesaat kemudian, setelah Pak Johan berpamitan dengan Rey, Naya pun mulai berani mendongak dengan mata memerah menahan tangis.
“Kenapa?” tanya Rey keheranan.
Tangis yang coba ia tahan pecah begitu saja oleh pertanyaan ‘kenapa’. Membuat dirinya lemah karena sebenarnya ia tidak mampu menanggung kesedihan ini. Dadanya sesak saat dirinya terisak menangis tanpa suara.
“Udahh.. udahh.. kayak gitu aja nangis, tunjukin sama Pak Johan kalo kamu bisa melebihi ekspektasi dia..” kata Rey menenangkan. Nada suaranya lembut, tidak semenjengkelkan biasanya. Membuat Naya terheran. Ternyata cowok itu bisa bersikap dewasa.
Rey yang tidak tega melihat Naya menangis sesenggukan lalu menepuk- nepuk kepala Naya agar lebih tenang.
“Hehh! Udah ahh.. aku nggak suka liat cewek cengeng..!”
“Ya kenapa diliatin?!” jawab Naya sengau.
“Tuh kan.. mulai.. mulai..” tatapan Rey kembali acuh.
“Kamu yang mulai kok..”
“Bodoh amat ahh.. ayo makan.. gue laper..”