PERNIKAHAN

1169 Words
Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Namun suasana di Pendopo Sadewa yang biasanya lengang kini tampak ramai. Party organizer sibuk berlalu lalang mempersiapkan pernikahan putra tunggal pewaris Sadewa Group. Kerabat dari dua keluarga mempelai bercengkerama santai sembari menikmati kudapan. Mereka tampak anggun dan gagah dengan pakaian adat masing – masing. Sementara itu, tim make – up hampir selesai mendandani mempelai wanita. Hampir lima jam mereka memoles make – up, memasang berbagai aksesori di kepala, dan juga melilitkan kain sepanjang empat meter di tubuh ramping Naya. Pakaian adat yang dikenakan Naya adalah paes ageng kebesaran. Pakaian adat yang memang membuat pemakainya terlihat anggun bak putri kerajaan Bagian d**a atasnya yang terbuka dan lengannya yang ramping menegaskan keindahan penampilannya. Wajahnya yang dipoles make – up tebal khas pengantin tidak menyurutkan kecantikannya yang paripurna. Meskipun begitu, raut wajahnya tidak semenyenangkan hari spesial ini. Kelopak matanya meredup. Hatinya tertekan oleh pernikahan yang tidak ia harapkan. Ditambah, pikirannya terus khawatir kalau – kalau karyawan hotel Sadewa tempatnya bekerja datang di acara pesta ini. “Bu.. ibu udah bilang sama mereka kan untuk nggak ngundang semua karyawan hotel?” tanya Naya memastikan sekali lagi. Sang ibu yang sedang duduk di samping kursi make – up menghela nafas pelan. “Sudah, nak.. kamu tenang aja.. pokoknya semuanya udah diatur sama Bu Melanie..” “Gimana kalo ada karyawan hotel yang dateng? Bisa hancur impianku..” keluh Naya. Bibirnya terisak saat mengucap kata’impian’. Bagaimana tidak? Jika temen- teman kerjanya tahu dia menikah dengan pewaris tunggal Sadewa Group, pasti mereka akan mencibirnya habis – habisan. Karena Naya pernah bilang pada mereka untuk tidak akan menikahi lelaki kaya raya. Ia ingin kaya dan sukses dengan caranya sendiri. “Enggak, Naya – ku, sayang.. Mami nggak ngundang karyawan hotel sama sekali, kok..” balas Melanie yang sudah berdiri di ambang pintu. Wanita sosialita nan manja itu bergegas menghampiri Naya dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin. Memang kain jarik yang melilit kakinya membuat langkahnya tidak leluasa. Tapi memang dasar wanita itu ingin terlihat anggun, mau mengenakan celana kulot pun langkahnya tetap seperti memakai kain jarik. “Pokoknya kamu tenang aja.. Mami udah atur semuanya biar pernikahanmu sama Rey nggak ketahuan sama temen – temen kerjamu..” ucap Melani sembari menyelipkan senyum kelewat ramah. “Ihhh.. seneng banget Mami bentar lagi punya mantu cantik kayak kamu..” dicubitnya kedua pipi Naya saking gemasnya. Naya yang tidak siap dengan reaksi dadakan calon mertua meringis kesakitan. “Aduh, Bu.. sakiiit..” “Ohh.. sakit, ya? Mami kira enggak, soalnya bedak kamu tebel banget sih.. hehehe” lelucon garing Melanie membuat Naya semakin kesal. Tapi bagaimana pun juga, hatinya bersyukur. Calon ibu mertuanya tidak sejahat ibu mertuanya dulu. Tak berapa lama kemudian, Wening dan Melanie mengapit Naya yang sudah benar –benar terbebas dari tangan – tangan MUA. Saatnya sang mempelai wanita di bawa ke pelaminan dan dipertemukan mempelai laki – laki. Semua anggota keluarga sudah siap dengan perannya masing – masing. Keluarga Naya berbaris mengekori gadis itu. Begitu pun dengan Rey. Kedua mempelai berdiri berseberangan di pinggir Pendopo Sadewa. Di tengah – tengah pendopo, Pak Amir, para saksi dan penghulu setempat sudah duduk takzim di kursi berlapis kain satin putih. Mereka sudah siap dengan perannya masing – masing. Dentingan suara gamelan membunyi pelan. Naya mulai berjalan anggun menuju tengah pendopo. Dilihatnya Rey yang berjalan gagah dan menatapnya acuh. Lelaki itu mengenakan pakaian adat paes kebesaran, dengan kain yang melilit setengah badannya. Baru disadari oleh Naya, ternyata lengan lelaki itu sungguh kekar. Perawakannya atletis. Hasil dari konsistensi olahraga tiap hari. Naya sempat menelan ludah melihat pemandangan yang tak dimiliki oleh mantan suami. Bulu kuduknya tiba – tiba merinding. Namun, bayangan insiden syal Lady Gaga terlintas di pikirannya. Membuat pandangannya ke lelaki arogan itu berubah. “Jalannya cepet dikit napa?” bisik Rey kepada Naya sesaat setelah mereka duduk di kursi ijab kabul. “Jariknya ketat banget, bego!” kesal Naya mendengar mulut Rey yang suka asal bicara. Sesaat kemudian, penghulu memberi sedikit pengarahan kepada kedua mempelai, Pak Amir dan para saksi. Setelah Pak Amir menjabat tangan dengan Rey, saatnya lelaki itu mempraktekkan ijab kabul, “Saya terima nikahnya Rinso Mel-“ seketika Naya membelalak mendengar candaan Rey yang sama sekali tidak lucu. “Rinaya, Mas.. kok bisa Rinso, sih?” ucap Pak Penghulu yang tidak sengaja melepas tawa. Membuat Naya semakin kesal. “Ikrar sama Tuhan malah dibercandain.. nggak lucu tauk!” “Yeee.. sapa juga yang ngelucu, kan emang namamu gampang dipelesetin..” “Bodoh amat.. dasar Reyog!” “Apa lo bilang?” Mereka berdua pun saling melotot satu sama lain. Membuat Melanie dan Wening sama – sama mengelus d**a. Sementara itu, Pak Amir yang biasanya emosian tidak fokus dengan pertengkaran mereka. Kedua kakinya bergetar tanda sedang menahan kencing. “Ehh..ehh.. ini jadi nikah nggak? Bertengkarnya lanjut di kamar aja.” Pak Penghulu mencoba menengahi. “Ciyee.. ciyee.. Mas Rey udah nggak sabar itu, Pak” “Ihiiirrr...” ledekan para sepupu Rey yang masih kuliah membuat suasana menjadi renyah. Spontan para ibu juga ikutan menciye – ciye mereka. Bukannya membuat kedua mempelai tersipu malu. Mereka malah kian melempar pandangan sengit seperti mau perang. “Awas lo ngatain gue Reyog lagi” tangan Rey mengepal ke arah Naya. “Biarin.. emang kelakuan kayak reog.. hahaha” bisik Naya sembari menutup mulutnya yang pura – pura tertawa. “Dasar kerempeng!” dicubitnya paha Naya sekeras mungkin. Membuat Naya meringis kesakitan. Naya pun tak tinggal diam. Tanpa mempedulikan para tamu, Naya memelintir p****g abu- abu Rey sekeras mungkin. Pelintiran itu otomatis membuat Rey berteriak sekencang –kencangnya. “Aaarrrgghhhh!!” “Wahahahahah.. p****lnya dipelintir” teriak salah satu keponakan Rey yang masih berumur 10 tahun. Otomatis adegan lucu dan tak biasa itu menimbulkan gelak tawa seisi pendopo. Begitu juga dengan Pak Penghulu. Bahkan tertawanya melebihi keponakan Rey. Pak Buana yang merasa malu dengan tingkah anaknya menutup wajah dengan tangan kanannya, sembari menggeleng – gelengkan kepala. Melanie mencoba menahan tawa karena ingin terlihat seanggun mungkin. Wanita itu memilih menutup mulutnya dengan kipas tangan. Pak Amir tak sengaja melepas tawa juga. Lelaki nyentrik yang memang sedari tadi menahan pipis langsung terdiam, saat menyadari celana dalamnya basah. “Waduhh.. malah bocor..” gerutunya. “Haduuuhh.. baru kali ini ada mempelai selucu kalian..” Pak penghulu mengakhiri tawanya dengan meminum segelas air putih. Rey yang masih memegang putingnya yang kesakitan menatap kesal Naya. “Liat ya ntar malem gue bales..” “Hihh.. siapa juga yang mau tidur ama elu?!” ledek Naya. Rey yang memicing pada Naya merasa peperangan hari ini belum usai. Karena memang dasarnya ia tak suka mengalah. Apalagi sama makhluk bernama wanita. “Sudah siap? Mana tangannya Mas Rey..” kata Pak Penghulu sembari mengulurkan tangan. Rey masih enggan mengulurkan tangan. Karena suhu ruangan yang dingin membuat p****gnya yang memerah semakin nyeri. Tapi mau bagaimana lagi, tidak lucu jika satu tangan menjabat Pak Penghulu sementara tangan lainnya masih memegang p****g. Disambutnya telapak tangan Pak Penghulu. Kedua mempelai yang sama – sama tidak menginginkan pernikahan kontrak ini sebentar lagi menjadi pasangan sah suami – istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD