“Come on, Mom.. aku udah bilang nggak mau nikah sama siapa pun, aku nggak bisa mencintai orang lain..” ucap Rey. Mulutnya hendak ingin muntah saat mengucap kata cinta. Bukan karena dia phobia atau anti terhadap kata itu. Tapi ia tidak pernah merasakan rasanya hati teremas – remas rindu, api kecil menyala di hati, dan rasa penasaran terhadap lawan jenis.
“Calonmu ini cantik banget, loh, nak.. Mama jamin kamu bakalan jatuh cinta sama dia..” Melanie mengatupkan kedua telapak tangan sangat erat, seperti orang memohon. Agar putranya paham apa yang menjadi kendala sang ayah yang belum juga menyerahkan tongkat estafet kerajaan bisnisnya.
“Bodo amat mau cantik kek, mau keluarga bangsawan kek.. aku nggak peduli.” seru Rey, suaranya yang dalam menggema di ruang tengah. Membuat Melanie memegang dadanya oleh jawaban yang tidak diharapkan.
“Jaga mulutmu!” suara bass Pak Buana membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.
“Papa? Kapan pulang?” Melanie berlari kecil menghampiri sang suami dan memeluknya. Lalu mereka saling mengatupkan bibir amat mesra. Membuat Rey menjulurkan lidah tanda mual.
“Jam berapa keluarga calon menantu kita datang?” tanya sang ayah. Umurnya memang sudah tidak muda lagi. Namun badannya masih tegap. Menunjukkan kewibawaannya.
“Seharusnya sekarang udah datang, sih..” Melanie mengangkat tangan dan melirik jamnya.
“Rey pergi dulu.. ada urusan penting..” lelaki jangkung itu berdiri dari sofa sembari memperbaiki posisi jasnya.
“Heh! Mau kemana?! Jangan beranjak sebelum ketemu calon istrimu!” gertak sang ayah. Raut wajahnya menegang. Pertanda ia tak mau disangkal. Rey hanya mendengus kesal. Ingin sekali ia pergi begitu saja. Malas berbincang yang tujuannya membangun keakraban saja. Lebih baik berbincang dengan klien, sedikit bicara tapi menghasilkan cuan.
Tiba – tiba saja bel rumah berbunyi. Pertanda masa tunggu mereka telah usai.
“Ehh.. Bu Wening.. silahkan masuk..” Melanie langsung berlari kecil ke arah ibu Naya dan memeluknya erat – erat. Membuat Bu Wening sesak napas. Dayu yang menyadarinya langsung melempar pandangan heran ke arah sang ibu.
“Aduuhhhh.. calon mantuku cantik banget..” setelah melepas pelukan dari Bu Wening, Melanie mengulurkan tangan ke arah Naya. Bergegas Naya menciumnya memberi rasa hormat. Begitu pun juga pada Pak Buana yang berada di sampingnya.
“Kok calon istriku kerempeng gitu, sih Ma?”
Kalimat tanpa disaring itu spontan membuat Naya menoleh ke sumber suara. Dilihatnya lelaki jangkung dengan paras tampan blasteran berdiri angkuh tak jauh dari mereka. Meskipun ganteng, hati Naya yang sudah mati rasa akan sulit terjerat pesonanya.
“Jaga mulutmu!” gertak Pak Buana lirih. Berusaha meredam suara. Bu Wening yang mendengarnya hanya menghela nafas. Berharap bisa lebih sabar.
Melanie langsung menyuruh mereka menikmati makan malam yang telah disiapkan. Obrolan basa – basi tentang Pak Amir yang tidak ikut, perabotan dan lukisan unik yang terpajang di ruang tengah, perkembangan wisata di kotanya mengiringi awal keakraban mereka.
Sementara itu, Naya menatap sinis Rey yang sedang melahap paella dengan nikmat.
“Apa lo liat – liat?!” gertak Rey spontan. Seketika semuanya terdiam dan menoleh ke arah Rey dan Naya yang duduk berseberangan.
“Penampilan rapi tapi mulut serampangan.. hiihh!” ejek Naya nyengir.
“Eeehhh.. emang bener kan kerempeng? Ketiup angin langsung ambruk.” balas Rey tak mau kalah. Membuat mata Naya membola seketika.
“Udah ahh.. kalian umur berapa sih? Masih kayak anak kecil!” Melanie meghardik kesal. Momen keakraban yang berusaha ia bangun jangan sampai rusak.
“Jadi.. kapan anak kita bisa menikah?” tanya Melanie. Sikapnya tampak hati – hati saat memasuki inti pembicaraan.
“Dua bulan lagi, Bu.. karena Naya harus melewati masa iddah dulu..”
“Waduh.. udah kerempeng, janda lagi..” spontan Naya mendongak dari piringnya dan mengatup bibirnya erat – erat ke arah lelaki yang baru saja memantik rasa bencinya.
“REY!!” kedua bola mata Pak Buana memicing ke arah Rey. Tentu saja Rey hanya melirik malas ayahnya.
Melanie pun mencari topik pembicaraan lain agar sang anak tidak sempat mencela calon istri. Untung usahanya berhasil.
“Jadi kamu kerja di Sadewa Boutique Hotel?” tanya Rey sombong.
“Yaps.. sebagai Front Office Supervisor..”
“Idihh.. bangga banget..” lagi – lagi Rey tersenyum nyengir. Naya mengangkat satu alisnya. Pertanda ia tak peduli dengan ejekannya.
“Oya.. kamu seneng kerja di sana, nak?” bergegas Melanie bertanya, agar Rey tak lagi mencela.
“Seneng banget, Bu.. apalagi saya bisa ketemu artis – artis idaman saya. Bulan kemarin aja saya ketemu Lady Gaga, penyanyi favorit saya..” Naya memasang senyum lebar sambil mengawang momen menyenangkan bertemu Lady Gaga, meskipun hanya sekejap.
“Hahh..!! ketemu aja bangga.. kayak aku ini lho.. dikasih syal yang dia pake syuting A Star Is Born..” seru Rey berbangga hati. Membuat kedua kelopak mata Naya meredup tanda acuh.
“Halahh.. paling nyolong..”
“Ehh.. gue liatin kalo nggak percaya.”
Rey langsung memerintahkan si bibik untuk mengambil syal yang dimaksud. Dan benar saja, syal warna putih gading, yang pernah Naya lihat di film A Star is Born disodorkan ke arahnya. Membuatnya menelan ludah.
“Gimana hidupku nanti dituduh sama istri terus? Lagi ketemu klien dikira selingkuh, lagi sakit dikira akting..” kata Rey sembari mengenakan syal Lady Gaga di lehernya.
Tentu saja itu memantik kekesalan Naya yang sudah di ujung ubun – ubun. Diletaknya dengan keras sendok dan garpu di tangan. Lalu beranjak berdiri menghampiri Bu Melanie yang duduk di samping Rey.
“Bu, bisa kah pernikahan ini dibatalkan saja?” pinta Naya kepada Melanie. Tentu saja wanita itu tidak mengijinkan.
Sembari berdiri membelakangi Rey, mereka pun berbicara panjang lebar mengenai perjanjian yang dirasa terlalu memaksakan. Siulan tanpa dosa Rey mengiringi pembicaraan mereka.
“Saya bisa meyakinkan ayah saya kok, Bu..”
“Saya nggak tega sama kamu, nak..”
Tiba – tiba saja, pohon lilin bertangkai yang berada di samping Naya tersenggol oleh tangannya dan mengenai punggung Rey. Membuat Naya terkesiap. Tak disangka, api lilin kecil itu malah merambat dan membakar syal yang terjuntai di punggung Rey.
“Aakkhhh!! Astaga..!!” Bu Melanie menjerit histeris. Begitu juga dengan Dayu dan Bu Wening.
Pak Buana yang memang takut api memilih mengindar. Sementara itu, Rey yang belum menyadari bergegas berdiri setelah merasakan panas yang merambat di punggungnya.
“Ada apa?” tanya Rey seperti orang bego.
“Api.. ada api..!!!” pekik Melanie sembari menunjuk – nunjuk api di punggung Rey yang mulai membesar.
“Arrrghhhh..” Spontan Rey menoleh ke belakang dan berusaha melepas syal yang telah terbakar. Tapi entah bagaimana cara ia melilitnya, syal itu susah dilepas.
Di tengah kepanikannya, Naya berusaha mencari solusi. Bergegas ia berlari mengambil pot bunga transparan berisi air penuh. Dibuangnya bunga begitu saja lalu..
Byuurr!
Wanita itu menyiram air dari pot ke tubuh Rey. Api yang melahap setengah syal Lady Gaga padam seketika. Membuat semua orang yang sedari tadi ribut dan berjeritan terdiam.
Syal Lady Gaga yang tadinya utuh kini tinggal separuh. Rey melepas syal kebanggaan itu perlahan dengan raut wajah tak bisa dijelaskan kata – kata. Lalu pandangannya beralih ke arah wanita yang telah membakar barang favoritnya.
“Kenapa kau membakar syalku?!” suara Rey meninggi. Sebagian tubuhnya basah. Rambut yang tertata rapi kini lepek seketika. Terdengar suara cekikikan lirih Dayu melihat rambut tuan muda yang lembab berubah seperti rambutnya babang tamvan.
“Kalau aku nggak segera bertindak, kau akan mati, bodoh!”