SEMUA ORANG PUNYA KEPENTINGAN MASING - MASING

1425 Words
Seminggu sebelumnya, “Semua orang punya kepentingan masing – masing, Bu” ucap Pak Amir kepada istrinya saat sang istri melarangnya menemui istri pemilik Sadewa Group. Sembari menenteng sebendel laporan keuangan guest house, dan mengenakan celana pendek bunga – bunga khasnya, Pak Amir melangkahkan kaki ke hotel sebelah guest house. Hotel berlantai 10 itu benar – benar terlihat dominan dan mengintimidasi hotel-hotel di sekitarnya. “Bapak sudah buat janji?” tanya sang receptionist saat Pak Amir menanyakan keberadaan pemilik Sadewa Group. “Sudah, bilang saja saya teman lamanya..” jawabnya berbohong. Dielus- elus kumis tebalnya saat berhasil meyakinkan pegawai muda itu. Sesaat kemudian, seorang bellboy mengantarnya ke kamar Bu Melanie, istri pemilik jaringan hotel kapitalis yang dibencinya. “Silahkan masuk..” ucap sang bellboy sembari membukakan pintu kamar president suite yang disulap menjadi kantor Bu Melanie. Bergegas Pak Amir masuk dan mengucapkan terima kasih. Wanita berumur 40 tahunan berpakaian serba mencolok berjalan melenggak –lenggok bak model menghampirinya. Tidak ada raut curiga di wajahnya. Malah ia memasang senyum kelewat ramah. “Ehh.. Pak Amir dulu sekolah di SD Al-Azhar juga, ya? Wahh.. nggak nyangka lho Bapak bisa bangun guest house di tempat strategis kayak di sini..” seru Bu Melanie kegirangan. Sesekali ia menyelipkan tawa renyah di ujung kalimat. Membuat Pak Amir yang mendongkol tidak sabar meluapkan emosinya. Braakkk!! “Baca laporan keuangan saya! gara – gara hotel Ibu, guest house saya jadi sepi!” ucap Pak Amir geram. Bu Melanie yang terkejut memegang dadanya erat – erat. “B- bisa duduk dulu, Pak?” pinta Bu Melanie gelagapan. “Ndak usah! Saya mau ngomong intinya saja. Kalau Ibu tidak menutup hotel ini, saya akan membawa masalah sanitasi air yang tercemar karena hotel Ibu ke meja hijau!” Pak Amir berkacak pinggang. Tidak peduli sekaya apa wanita di hadapannya, yang jelas, ia kesal dengan cara wanita itu mengambil hak yang menjadi rejekinya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Bu Melanie berjalan ke sudut ruangan dan bergegas meraih gagang telepon. Ditutup mulutnya dengan tangan sembari membisik ke seseorang di seberang telepon agar tak didengar lelaki emosian itu. “Jawab dulu, Bu! Jangan menghindar!” “Emm.. S- saya lagi bicara sama suami saya. Mungkin suami saya punya solusi. Bapak yang sabar ya.. kalo marah – marah gitu cepet tua, loh.. hehehe..” ucap Bu Melanie setengah takut. Ia memang seorang Crazy Rich, tapi itu tidak mengubah sifatnya yang lembek. Tiba – tiba saja, pintu kamar dibuka oleh dua security berbadan besar dan tegap. Tanpa perintah dari sang bos, mereka langsung memegang kedua lengan Pak Amir. “Apa – apaan ini?!!” pekik Pak Amir. Harga dirinya yang tinggi jelas tidak terima diperlakukan seperti itu. “Bapak kalo di sini terus bisa stroke, loh.. mending Bapak pulang aja, yah? Biar karyawan saya nganter Bapak. Bye- bye, Pak Amir..” ucap Bu Melanie sembari tersenyum dan melambaikan tangan tanpa dosa. Membuat emosi Pak Amir semakin tak terbendung. “Dasar kapitalis b******k! Pemuja uang!! Pemuja s****n! Aku doakan keluargamu masuk neraka!!! *** Bu Melanie berjalan mondar – mandir di ruang tengah kediamannya. Kediaman seluas dua hektar itu hanya ditinggali dirinya, suami dan anak semata wayangnya, Rey. Pikirannya carut – marut. Masalah bertubi – tubi datang semenjak suaminya pergi mengurus bisnis di California. Bukan hanya masalah pemilik guest house yang mengancamnya akan melaporkan kasus suap yang ia lakukan pada warga sekitar karena limbah hotel telah mencemari sumur mereka. Namun juga masalah tentang anak satu – satunya yang belum kunjung menikah. Rey sudah hampir 30 tahun, tapi ia tidak pernah sekalipun mengenalkan wanita pada dirinya. Padahal posisi suaminya harus segera digantikan Rey. Namun tidak semudah itu, suaminya mensyaratkan Rey untuk menikah terlebih dahulu sebelum menyerahkan tonggak jabatan yang diembannya selama puluhan tahun. Biippp.. Biipp.. Dering ponsel wanita sosialita itu membuyarkan lamunannya. Dibukanya pesan yang baru saja masuk. Mr. Thomas Humbert, kolega bisnis dari Jerman menulis kesan amat menyenangkan setelah menginap di salah satu hotelnya. Terima kasih atas pelayanan hebatnya. Kemarin saya hampir tidak bisa mengikuti konferensi internasional penting di Bangkok karena terjebak di lift. Namun, salah satu karyawan Anda, bernama Rinaya Samitra, dengan sigap menolong saya dengan mencongkel pintu lift. Saya benar – benar berhutang budi padanya. Berikan penghargaan yang pantas untuk dia. Dibukanya foto Mr. Humbert dan karyawan wanita cantik berseragam merah maroon. Kegusaran di hatinya sedikit terlupakan saat melihat senyum lebar Mr.Humbert bersama karyawan wanita yang telah menolongnya. Namun tiba – tiba, langkah mondar mandirnya terhenti begitu saja. “Samitra?” bisiknya lirih. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Tapi dimana? Kedua matanya berputar ke kanan dan ke kiri. Dahinya yang habis dibotox berkerut. “Aaaww! Aku tahu..!!” jerit Bu Melanie manja. Bergegas ia berlari kecil meraih tasnya di sofa. Dirogohnya sebendel laporan keuangan guest house milik bapak – bapak aneh yang ngaku – ngaku teman SD-nya. “Astagaa.. ternyata namanya Samitra Guest House.. jangan – jangan?” Melanie menutup mulutnya yang terperangah. Jantungnya berdegup kencang. Buru – buru ia meraih ponsel dan segera menghubungi Pak Nova, manager HRD pusat, untuk memastikan tebakannya benar. “Iya betul, Bu.. ayah Mbak Rinaya pemilik Samitra Guest House..” Pak Nova mengkonfirmasi tebakannya di seberang telepon. Setelah mengucapkan terima kasih dan menutup telepon. Wanita setengah baya itu kembali bersorak kegirangan. “Aaaakkhhhh!! Terima kasih ya, Tuhan.. Akhirnya Engkau memberi jalan..” Sekian detik lalu, Otak bisnisnya yang terlatih menemukan solusi cerdas untuk memecahkan dua masalah berbeda. Setelah mengetahui siapa itu Rinaya, Melanie berencana akan menikahkan anaknya, Rey dengan Rinaya. Agar anaknya bisa segera menggantikan sang ayah. Dan Pak Amir, ayah Rinaya bisa membatalkan niatnya untuk melaporkannya ke meja hijau. Jika bapak – bapak emosian itu tidak bersedia menikahkan anaknya dengan Rey, dia akan mensyaratkan apa pun agar rencananya berhasil. Ya. Apapun itu. *** Bu Melanie memencet bel rumah Pak Amir. Kedua tangannya kesusahan menenteng parsel yang cukup besar. “Duuhhh.. kok nggak dibuka – buka, sih?!” keluhnya. Beberapa kali ia membenahi posisi parsel yang melorot terus. Tak berapa lama kemudian, seseorang di balik pintu membuka pintu lebar – lebar. “Cari siapa, ya?” tanya Bu Wening yang masih mengenakan daster. Karena tidak bisa melihat wajah sang tamu yang tertutup parsel yang menjulang, Bu Wening bergegas meraih parsel itu dan meletakkannya di pinggir. “Hahh.. akhirnya..” Melanie menarik nafas lega. “Maaf.. Pak Amir ada di rumah?” tanyanya sembari merogoh tisu di tas. “Bapak sedang pergi.. Ibu siapa?” “Saya Melanie, pemilik hotel sebelah..” ditepuk- tepuknya peluh di dahi menggunakan tisu seanggun mungkin. Lalu telunjuknya menunjuk hotel berlantai 10 yang menjulang tinggi di samping rumah. “Ohh.. silahkan masuk, masuk, Bu..” pinta Bu Wening berusaha sesopan mungkin setelah tahu wanita di hadapannya adalah seorang Crazy Rich. “Jadi.. apa keperluan Ibu datang ke sini?” tanya Bu Wening lembut, sesaat setelah Dayu meletakkan segelas air mineral dingin dan duduk di samping ibu. “Begini Bu.. saya sebenarnya merasa bersalah karena telah membuat guest house ibu sepi semenjak kami membangun hotel di sebelah..” Dayu memutar kedua bola matanya. Ia sudah bosan dengan basa – basi khas orang tua. “Jadi.. saya berencana membantu ibu agar guest house ibu ramai lagi..” “Benarkah?” Bu Wening membelalak tak percaya. “Iya.. tapi ada syaratnya, Bu..” ucap Melanie lembut. “Apa syaratnya?” tanya Dayu datar. “Ibu punya putri yang bekerja di hotel kami, kan?” Bu Wening mengangguk mantap. “Syaratnya putri ibu itu harus menikah dengan anak saya, Rey..” “Apa?! Naya udah nikah, Bu..” ucap Bu Wening spontan. Sementara itu Dayu hanya terdiam terpaku. Wajahnya seperti sedang berkutat dengan pikirannya. “Astaga? Benarkah?” Bu Melanie menutup mulutnya yang melongo. Rencana yang sudah ia pikirkan matang – matang pudar begitu saja. Mereka bertiga sejenak terdiam. Sudut mata Dayu melirik si ibu. Lalu sang ibu menyenggol lengannya. Berharap anak sulungnya itu mau menyampaikan sesuatu yang mengganggu pikiran mereka. “Bu Melanie.. kami semua punya kepentingan masing – masing...” Dayu mengawali ucapannya. Ia menarik nafas sekali sebelum melanjutkan, “Sebenarnya pernikahan adik saya sedang diambang kehancuran. Namun, ayah melarangnya untuk bercerai karena ayah tidak ingin punya anak berstatus janda..” “Terus.. terus..?” wajah Bu Melanie memburu. Harapan yang sedetik lalu rapuh kembali menguat. “Kami nggak mau usaha guest house yang sudah dirintis puluhan tahun ini tutup begitu saja.. Jadi kami bersedia menerima bantuan Ibu dan menikahkan adik saya dengan anak Ibu..” Kembali Melanie bersorak kegirangan. Namun menyadari dua wanita di hadapannya keheranan dengan tingkah kekanak – kanakannya, ia segera mengubah raut wajahnya seanggun mungkin. “Saya akan segera mengatur pernikahan ini.. Terima kasih ya Tuhan...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD