Siapa sangka, pagi-pagi sekali ternyata Mas Panji sudah berada di depan rumahku. Penampilannya sedikit berantakan dan wajahnya terlihat sedikit pucat, entah dari mana saja mereka semalaman ini, aku tidak ingin menanyakan semua itu kepada mereka.
‘’Maya, bagaimana dengan keputusanmu semalam? Aku sudah memberikanmu ruang dan waktu selama semalam penuh kan, jadi sekarang katakan padaku apa keputusanmu itu?’’
‘’Kamu menerima pernikahan keduaku ini, kan? Kamu-‘’
"Ya Tuhan, Mas! Kamu baru memberiku waktu satu malam tapi sudah seperti satu tahun saja, lagi pula mana bisa aku memutuskan semua ini dalam waktu satu malam? Lagi pula kamu menikah dengan dia juga begitu mendadak tanpa memberitahu aku sebelumnya, lalu tiba-tiba datang dan menyuruhku untuk menerima pernikahan kedua mu dengan Amira."
"Bisakah kamu memberikan aku waktu lebih lama lagi untuk memikirkannya?"
Akh, sebenarnya aku tidak berniat untuk mengatakan itu kepada Mas Panji. Lagi pula aku sendiri sudah memutuskan untuk meneruskan rencanaku selanjutnya, tidak perlu terlalu lama berpikir untuk mengambil keputusan tentang dua manusia sama di depanku ini.
Akan tetapi aku hanya masih merasa malas untuk melihat wajah mereka, oleh karena itulah aku berusaha mengusir mereka kembali. Lagi pula, dengan atau tanpa adanya Mas Panji dalam hidupku, aku masih tetap bisa memiliki dan melakukan segalanya.
"Tidak, Maya! Mas tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan jawaban dari kamu, Maya, Mas mohon berikan jawaban dan keputusanmu saat ini juga!"
Aku bisa melihat tatapan mata Mas Panji yang begitu memohon kepadaku, dia pasti berharap kalau aku akan dengan segera menerima pernikahan keduanya ini, sepertinya Mas Panji dan Amira baru saja mengalami hal yang berat semalaman ini yang membuat Mas Panji dengan berani mendesakku agar segera memberikan jawaban atas keputusanku.
Baiklah, kalau begitu aku akan mengabulkannya! Tapi, lihat saja apa yang akan aku lakukan setelahnya.
‘’Mas, sebenarnya aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi aku juga tidak bisa mengubah semua yang sudah terjadi ini, kamu dan Amira sudah terlanjur menikah dan aku juga sudah mengetahuinya.’’ Aku memasang wajah sayu di depan Mas Panji dan Amira saat ini, seolah aku merasa begitu sedih, padahal semua yang terjadi saat ini rasanya biasa saja bagiku.
Meskipun aku berbohong kalau sampai mengatakan aku tidak terluka atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Mas Panji di belakangku ini, akan tetapi rasa sakit itu dapat dengan cepat memudar saat aku menyadari apa yang harus membuat aku merasa sedih?
Lagi pula Mas Panji juga bukan siapa-siapa tanpaku, semua aset milikku dan atas namaku. Justru di sini Mas panji lah yang sebenarnya membutuhkan aku, bukan sebaliknya.
‘’Maafkan aku, Maya! Aku juga menyesal melakukan ini, tetapi sekarang ini Amira juga adalah istriku, jadi kamu juga harus bisa menerimanya dan hidup rukun bersama dengan dia, kamu mau menerima pernikahan keduaku ini kan?’’
‘Cih! Menyesal dia bilang, setelah menikah baru menyesal, memang dasar lelaki buaya!’
‘’Iya, Mas! Baiklah, kalau begitu aku akan menerima pernikahan kalian berdua-‘’
‘’Terimakasih, Maya! Kamu tidak perlu khawatir, Mas pasti akan bersikap adil dengan kalian berdua.’’ Mas Panji langsung menyela ucapanku dengan senyum yang menyala di kedua sudut bibirnya, dia tidak tahu saja apa yang sedang aku pikirkan.
‘’Tapi dengan tiga syarat!’’