"Katakan padaku, Maya! Apapun syaratnya, pasti akan aku penuhi asalkan kamu mau menerima pernikahan keduaku dengan Amira. Aku mohon."
Lihatlah, bahkan wajahmu terlihat begitu bahagia saat aku mengatakan akan menerima pernikahan keduamu dengan perempuan itu, Mas!
"Benarkah Mas akan menuruti semua syarat yang aku inginkan ini?"
"Tentu saja, Maya! Aku akan melakukan segalanya agar kamu bisa memaafkan aku dan menerima pernikahanku dengan Amira," jawab Mas Panji dengan begitu yakin, seolah dia bisa memenuhi tiga permintaan yang akan aku ajukan kepadanya ini.
"Baiklah, aku akan beritahu apa saja syarat yang akan aku berikan kepadamu, Mas. Ah, lebih tepatnya kepada kalian berdua!" Ku tatap Amira dengan tajam, seakan sedang memberikan dia aura mengintimidasi yang begitu kuat agar dia merasa takut kepadaku. Tapi ternyata aku salah, ternyata perempuan ini hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, seolah enggan menanggapi ucapanku saat ini.
Lihat saja nanti, Amira! Kamu juga akan mendapatkan balasannya dariku, tetapi sekarang aku mulai berpikir untuk menjadikan dia yang pertama mendapatkan pembalasan dariku.
"Syarat pertama, aku ingin tidur terpisah denganmu, Mas! Akan tetapi kamar utama di rumah ini tetap menjadi milikku, sedangkan kamu dan istri keduamu itu silahkan mencari kamar lain yang ada di rumah ini."
"Tidak apa, Mas masih bisa tidur dengan Amira, dia juga istri Mas kan?" Lagi-lagi aku melihat senyum kebahagiaan yang tercetak di bibir Mas Panji, seolah dia sangat senang karena pada akhirnya mendapat kesempatan untuk selalu bersama selingkuhannya itu.
Ya, walaupun saat ini statusnya adalah seorang istri, tapi bagiku dia tetap saja seorang selingkuhan karena dia menikah dan menjalin hubungan dengan seorang pria beristri.
"Terserah kamu saja, Mas!"
"Syarat kedua adalah aku yang akan memegang kendali atas rumah ini serta seluruh urusan rumah tangga mulai saat ini, kamu tidak berhak lagi ikut campur dan semua keputusanku adalah mutlak!"
Kali ini aku lihat Mas Panji menolehkan kepalanya kepadaku, mungkin hendak mengatakan sesuatu, namun tidak sampai terucap dari mulutnya karena aku keburu memotong gerakan bibirnya dengan menyebutkan syarat ketiga.
"Dan syarat ketiga adalah aku tidak mau lagi memegang urusan rumah tangga, semua urusan rumah tangga ini aku serahkan semuanya kepada istri muda mu itu. Bagaimana, Mas?"
"Apa kamu setuju dan menyanggupi syarat yang telah aku berikan itu?" Kulihat raut wajah Mas Panji sudah sangat tidak enak dipandang, tetapi apa peduliku?
Makanya, Mas! Jangan bermain-main denganku kalau kamu tidak ingin terbakar seperti ini.
"Baiklah, Mas setuju dengan semua syarat yang kemudian berikan itu."
"Mas!"
Mas Panji menoleh menatap wajah Amira dengan cepat saat mendengar perempuan itu hendak mengucapkan keberatannya atas keputusan Mas Panji.
"Diam lah, Amira! Lagi pula rumah ini tidak terlalu besar, Maya juga sudah membayar seorang pembantu untuk membantu pekerjaan rumah, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan semua itu," ucap Mas Panji, seolah begitu yakin kalau aku akan tetap mempekerjakan Mbak Nani di rumah setelah perempuan ini datang ke rumahku.
Kamu tidak tahu saja, Mas! Aku bahkan sudah berencana untuk memindahkan Mbak Nani ke rumahku yang lainnya!
"Baiklah, kalau begitu aku setuju," ucap Amira, mungkin dia berpikir pekerjaannya tidak akan terlalu berat di rumah ini. Baiklah, kita lihat saja nanti Amira!