Bentakan Panji

508 Words
"Bagus! Kalau begitu sekarang juga kamu pergilah ke pasar dan belanja bahan makanan untuk satu minggu ke depan, kebetulan saat ini bahan-bahan di dapur sudah habis!" Aku mengambil sejumlah uang dan menyerahkannya pada Amira, perempuan itu terlihat kaget melihat apa yang aku lakukan saat ini. Dia terlihat menoleh menatap ke arah Mas Panji, sepertinya sedang berusaha mencari pembelaan dari pria itu. "Maya, apa kamu tidak kasihan dengan Amira? Lihatlah, bahkan wajahnya saja terlihat begitu pucat. Kau tidak tahu kah, kami semalam tidur di emperan toko karena tidak mendapatkan penginapan." Seperti yang aku duga, Mas Panji pasti akan membela perempuan itu. Tapi memangnya aku peduli?! Oh, tentu saja tidak! Lagi pula mau mereka tidur di emperan toko pun aku tidak mau tahu, salah siapa berani bermain-main denganku! Itu baru tidur di emperan toko, aku bahkan bisa membuat mereka tidur di kolong jembatan! Masih beruntung aku tidak melakukannya, tapi mendengar pengakuan Mas Panji yang mengatakan mereka menghabiskan malam di depan emperan toko membuat perasanku sedikit lebih bahagia. Hahaha, memangnya bisa apa mereka tanpa uangku itu? "Oh, kasihan sekali kalian! Tapi, bukankah kalian sudah menyetujui persyaratan yang aku berikan untuk kalian, lalu kenapa sekarang kalian tidak mau melakukannya?" "Mas, apa Mas mau aku berubah pikiran dan tidak menerima Amira sebagai adik maduku?" Aku mengalihkan tatapan mataku kepada Mas Panji, saat itu juga raut wajah Mas Panji terlihat gusar antara menuruti perkataanku atau tetap meminta agar Amira tidak pergi dalam keadaan lemas seperti itu. Selain itu, aku juga tahu kalau pria itu sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi dalam semalam. Aku tahu dia sudah sangat ingin beristirahat dengan nyaman di dalam kamar yang memiliki kasur empuk. "Bagaimana, Mas? Apa keputusanmu, hari sudah semakin siang, nanti kalau terlalu siang maka harga sayuran biasanya akan dengan cepat melonjak naik. Aku hanya menjatah tiga ratus ribu untuk beli bahan makanan satu minggu, lho! Ya, kalau kamu mau nombok kekurangannya si aku juga tidak apa-apa sekalipun Amira mau pergi ke pasar saat sore hari." Sengaja aku bicara begitu di depan Mas Panji, aku tahu betul saat ini uang yang ada di dalam dompet dan ATM-nya pasti hanya tersisa sedikit. Tidak akan mungkin kalau sampai dia mau memberikan uang itu untuk menombok biaya belanja istri mudanya itu. Biarpun selama ini Mas Panji ikut membantuku mengelola berbagai macam bisnis yang aku miliki, tapi tetap saja akulah yang menjadi bos di sini dan dia hanyalah bawahanku. Selama ini Mas Panji sudah begitu terlena dengan apa yang bisa dia nikmati dari hartaku dan seluruh aset yang aku miliki hingga membuatnya tanpa sadar menganggap semua itu adalah miliknya sendiri. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak akan membiarkan kamu semakin besar kepala dan menganggap dirimu begitu penting untukku dan menganggap aku sangat mencintaimu, Mas! "Ya sudah lah, Amira! Lagi pula hanya belanja ke pasar saja, tidak akan membutuhkan waktu lama, toh pasarnya juga tidak terlalu jauh kan?" Bibirku tersenyum sinis saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Mas Panji, berbeda dengan Amira yang seketika langsung membulatkan kedua matanya. "Mas, apa yang kamu katakan?!" Amira melotot, sepertinya kecewa dengan ucapan mas Panji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD