Neraka untuk Madu

509 Words
"Amira, sudahlah! Tidak perlu memperpanjang masalah yang ada, lagi pula Maya hanya menyuruhmu untuk pergi ke pasar dan membeli bahan masakan. Tidak ada yang susah sama sekali, jadi sebaiknya kamu pergilah sebentar, nanti kalau sudah selesai kan kamu juga bisa beristirahat." "Tapi-" "Jangan membantah, Amira! Tinggal pergi saja, belanja lalu pulang. Aku sungguh sangat lelah dan ingin segera beristirahat, kau tahu kan kalau semalam aku tidak bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman?!" Jahat kah aku kalau aku tersenyum dan merasa bahagia dengan apa yang terjadi di depan mataku saat ini? Rasanya aku sungguh sangat bahagia saat melihat Mas Panji yang membentak Amira di depan mataku seperti itu, padahal sebelumnya dia sangat lembut memperlakukan istri mudanya. Namun aku tidak peduli dan tidak ingin peduli, biarkan saja dia berbuat apapun sesuka hatinya. Lagi pula semua ini belum seberapa, masih ada banyak kejutan-kejutan lain yang akan aku berikan kepada dua manusia sampah di depanku ini! "Bagaimana, Amira? Apa kamu tetap tidak mau pergi juga, kita tidak akan bisa makan hari ini kalau kamu tidak pergi ke pasar dan belanja keperluan dapur." Aku diam-diam tersenyum setelah mengatakan semua itu, sengaja mengucapkan kalimat yang akan membuat suasana semakin memanas. "Kak Maya, apa Kakak tidak kasihan kepadaku? Aku bahkan masih merasa lemas dan kurang istirahat, kami tidur sangat larut dan bangun pagi-pagi sekali, itupun karena diusir oleh tukang parkir yang akan menggunakan lahan depan toko untuk memarkirkan kendaraan. Bisakah hari ini saja Kak Maya memberikan keringanan untukku, setidaknya biarkan aku beristirahat lebih dulu." Oh, tidak bisa adik madu! Aku tidak sebaik itu, kamu saja tidak kasihan kepadaku saat mengambil suamiku, lalu untuk apa aku harus kasihan denganmu! Tetapi mulutku tetap saja menyunggingkan senyuman simpul di bibirku, tidak ingin membuat Mas Panji dan Amira curiga dengan sikapku yang sangat berbeda dengan isi hatiku yang sebenarnya. "Tapi, Mas! Bukankah kamu dan dia sudah menyetujui syarat yang aku berikan untuk menerima pernikahan kalian, lalu kenapa sekarang Amira tidak ingin melakukannya?" "Aku hanya ingin beristirahat sejenak dari apa yang telah membuat hati dan tubuhku merasa lelah." Sengaja kupasang raut wajah yang begitu melas di depan Mas Panji, sengaja membuat pria itu semakin merasa kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan saat ini. "Amira ... Yang dikatakan oleh Maya itu benar, kita sudah menyetujui syarat yang diucapkan oleh Maya agar dia mau menerima pernikahan kita. Jadi, sebaiknya kamu memang tidak mengingkarinya." "Pergilah ke pasar dan belanja keperluan dapur yang dibutuhkan lalu segera kembali, aku akan menunggumu di kamar!" Mas Panji tidak mengeluarkan kalimat apapun lagi setelah itu, dia lebih memilih untuk berjalan pergi meninggalkan aku dan Amira yang masih berdiri saling berhadapan. Mungkin saja dia merasa bingung harus memihak kepada siapa, disaat tubuhnya merasa lelah, Mas Panji memang tidak bisa konsentrasi dengan suatu hal. Wajar saja kalau sekarang ini dia memilih untuk menghindar, sedangkan Amira terlihat dengan begitu terpaksa mengambil keranjang sayur yang sudah aku persiapkan sebelumnya dan kemudian melangkah meninggalkan rumah, meninggalkan aku yang masih berdiri seraya menatap tubuhnya yang semakin menghilang di telan jarak. Rasakan, Amira! Ini masih belum selesai, kamu harus mendapat balasan yang lebih menyakitkan dariku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD