11. Halusinasi atau Kenyataan

1206 Words
Raline berbaring santai di kasur kamarnya. Ia sebenarnya terlalu malas untuk bangun. Hari minggu rasanya ingin ia habiskan untuk tidur seharian. Apalagi kemarin Miko sukses membuatnya menghabiskan waktu di Ancol seharian hingga membuat tubuhnya lelah. Kakinya pun masih merasa pegal meski ia sudah tidur selama sepuluh jam. Miko pada akhirnya membawanya ke pantai hingga ralut malam. Berduaan saja menikmati udara malam pantai dengan ditemani suara ombak. Entah kenapa Raline tak merasa bosan bersama pria itu semalam. Ada saja topik menarik yang dilontarkan Miko. Baik itu gombalan recehnya, cerita hidupnya, atau tentang pekerjaannya di dunia hiburan. Bersama Miko, Raline selalu merasa melakukan hal yang diluar kebiasaannya. Pria itu selalu membawanya ke tempat-tempat yang  tak pernah ia bayangkan bisa menginjakan kaki ke sana. Bukan karna tak mampu, tapi dengan kepribadian yang dirinya miliki, awalnya tak pernah terbayang ia akan mengunjungi tempat-tempat itu. Termasuk pantai Ancol. Sebuah pantai yang menurutnya pemandangan tempat wisata itu jauh dibawah kata biasa. Pengunjung yang begitu ramai membuat pantai itu jauh dari kata nyaman bagi Raline. Namun meski begitu, Raline ternyata bisa nyaman berada di sana.  Bahkan menghabiskan waktu hingga malam hari bersama Miko. Pria itu sukses membuatnya mengabaikan rasa tidak nyaman di pantai itu dan kelelahan yang ia alami hingga ia melupakan waktu. Semalam memang ia tidak merasakan kelelahan, tapi pagi ini rasa letih itu begitu menghujam tubuhnya. Raline merasa sekujur tubuhnya begitu sakit. Tulangnya terasa seperti remuk. Semua ototnya terasa begitu pegal. Waktu tidur yang telah ia habiskan seperti belum cukup menghapuskan seluruh rasa lelahnya. Kegiatan kemarin memang telah menguras fisiknya. Raline masih bergelut dengan selimutnya. Ia masih merasa berat untuk menyingkirkannya dan bangkit dari tempat tidur. Namun getaran ponselnya membuatnya terpaksa sedikit bergerak. Raline mengambil ponsel yang ia taruh di sebelah bantal tidurnya. Sebuah chat ternyata telah masuk. Raline lalu membuka pesan itu dengan mata setengah terbuka. Ia tersenyum singkat ketika menemuka pengirim chat itu ternyata adalah Miko.     Miko Rolando Hai. Lagi apa? J Raline Kenapa? Miko Rolando Emang kalo nanya doang tuh gak boleh? Raline Enggak. Miko Rolando Dih jahat banget! Raline Bodo! Miko Rolando Jangan jahat-jahat. Nanti makin sayang lho ;) Raline Lah kok aneh. Gak mungkin jatohnya begitu lah! Miko Rolando Gak ada yang gak mungkin sayang. Apalagi kalo itu urusan hati. Perasaan itu bukan pake logika, tapi dirasa pake hati ;) Raline Mulai lagi deh. Ini masih pagi! Gombalnya tuh tolong dikondisikan! Miko Rolando Hahahahaha ^^ Jalan yuk Raline Kemana? Miko Rolando Ke tempat Mama kamu ;) Raline Mau ngapain?! Miko Rolando Mau minta ijin nikahin kamu Raline DIH! Miko Rolando Yaudah kita pacaran aja dulu gimana? ;) Raline Ini nembak? Di WA?! H.a.h.a.h.a Miko Rolando Emang kamu mau ditembaknya tuh dimana? Raline Au ah! Miko Rolando See you! Raline Hah?! See you dimana? Miko Rolando See you pas aku nembak kamu secara langsung. Raline Please deh, Mik. Ini masih pagi. Miko Rolando Aku serius kok.   Raline menyunggingkan senyumnya sambil geleng-geleng kepala. Gombalan dan lawakan garing dari Miko sukses membuat matanya tak mengantuk lagi. Pria itu ternyata cukup mampu membuatnya tertarik tentang romansa percintaan yang semula selalu diacuhkannya. Kegigihan pria itu mampu menarik perhatiannya. Tanpa disadari, Raline telah membiasakan diri dengan kehadiran Miko. Raline menatap langit-langit kamarnya selama beberapa saat. Ia merenungkan perasaannya saat ini terhadap Miko. Pria itu memang telah sanggup menyentuh hatinya yang beku. Namun Raline masih ragu akankah ia bisa benar-benar mempercayakan hatinya kepada pria itu sepenuhnya. Didalam hidupnya, Raline belum pernah menemukan kisah cinta yang berakhir sempurna. Tidak ada romansa ideal yang terjadi disekitarnya. Termasuk hidup percintaan Mamanya. Raline bahkan tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Mamanya tak pernah menampilkan kesetiaan di hadapannya. Orang tuanya itu selalu bersenang-senang dengan berganti pria setiap harinya. Karena itu ia selalu menganggap cinta yang tulus adalah sebuah halusinasi. Namun jika cinta yang tulus dari Miko ternyata memang benar sebuah halusinasi, akankah ia tetap mau melemparkan hatinya untuk sedikit merasakan manisnya cinta? Meski mungkin itu hanya manis yang semu.  *** Raline memilih duduk di kursinya dengan tenang untuk menunggu  kedatangan dosen ke dalam kelasnya. Syeiba dan Claudia tampak asik melihat  tas bermerek keluaran terbaru. Seperti biasanya, Raline memilih menyendiri daripada ikut bergabung dengan euforia belanja ke dua temannya itu. Anak-anak di kelasnya juga tampak bersenda gurau dan menggosipkan para model kampusnya. Raline merasa semua orang sedang melakukan hal yang tak perlu. Raline memilih memainkan ponselnya dan membuka aplikasi i********:. Ia lebih tertarik melihat media sosial tanpa membicarakan pemikirannya kepada orang lain. Buat Raline menyamakan opini dan selera dengan orang lain itu sangat membuang-buang waktu. Karena itu ia lebih memilih melihat i********: tanpa membahasnya dengan orang lain. Namun tiba-tiba ada seorang pria yang menerobos masuk ke kelas dan berjalan menghampiri Raline dengan penuh percaya diri. Pria itu langsung menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Bergitu juga dengan Raline. Ia mengerutkan keningnya ketika pria itu berdiri dihadapannya. "Ngapain?" tanya Raline dengan wajah heran. "Kangen kamu."  Raline menghela nafas kesal mendengar jawaban klise Miko itu. Ia tau Miko memang sering bertindak sesukanya, tapi menerobos masuk ke kelas untuk bertemu dengannya sudah dirasakan keterlaluan. Raline tak pernah mengijinkan pria manapun untuk menemuinya di kelas. "Pergi sana," usir Raline dengan nada kasar. "Gak mau," jawab Miko dengan singkat. Raline langsung bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah Miko. "Candaannya udah gak berasa lucu lagi deh." Miko tiba-tiba menunjukan buket bunga mawar merah yang disembunyikan di belakang punggungnya. Pria itu tersenyum manis sambil menatap Raline dengan lekat. "Aku emang lagi gak bercanda kok. Aku serius... apalagi kalo itu tentang kamu." Raline masih menatap buket bunga mawar itu selama beberapa saat. Ini bukan kali pertama ia diberikan bunga dan mendengar pernyataan cinta dari seorang pria. Namun kali ini terasa berbeda meskipun cara yang dilakukan Miko itu sama seperti pria lainnya.  "Aku sayang kamu. Kamu mau jadi pacar aku?" Suasana kelas seketika menjadi hening ketika Miko mengungkapkan perasaannya. Semua mata di ruangan itu pun terfokus pada reaksi Raline. Raline masih terdiam. Ia juga masih memikirkan kalimat dan sikap apa yang harus ditampilkan. Namun tiba-tiba Miko memegang tangannya dengan erat dan menatapnya lebih dekat lagi. "Kasih aku kesempatan. Aku akan berikan yang terbaik," ucap Miko.    "Baiklah," jawab Raline. Satu kata yang diucapkan oleh Raline sanggup membuat Miko melompat kegirangan. Seluruh orang yang ada di ruangan pun ikut terkejut hingga mulut mereka menganga secara bersamaan. Suasana kelas yang semula hening kini mulai gaduh dengan suara bisikan. Semua orang tampak tak percaya dengan adegan romansa yang baru saja tercipta di ruangan itu. Ini kali pertama Raline menerima pernyataan cinta seseorang. "Lo terima Miko, Line?" Syeiba menghampiri Raline dengan mata terbelalak, tak percaya. "Lo sekarang udah resmi pacaran sama dia?" timpal Claudia. Raline tersenyum sinis dan menatap ke dua temannya itu. "Lo bsa bahasa Indonesia kan? Gak tuli, kan? Kayaknya gue gak perlu jawab pertanyaan bodoh itu." "KYAAA!!!" teriak Syeiba dan Claudia secara bersamaan. "Dia Raline, kan?" tanya Claudia ke Syeiba dengan tatapan takut. "Dia memang Raline. Cuma dia udah bukan Raline yang dulu." Syeiba menatap Raline dengan sorot mata tak percaya. Miko lalu merangkul Raline dengan erat, lalu berbisik "Makasih ya. Aku sayang kamu." Raline diam dalam pelukan Miko. Namun ia diam-diam tersenyum singkat. Raline bisa merasakan kehangatan pada moment ini, saat Miko sedang memeluknya. CONTINUED ************** Hai guys. ^^ Finally Raline dan Miko jadian. Ada yang seneng gak? ^^ Love dan komen ya! See you...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD