Miko Rolando
Udah bangun?
Raline menyeruput teh hangatnya sambil membaca chat dari Miko. Pria itu memang tak henti mengiriminya pesan meski seringkali Raline tak membalasnya. Rasanya cukup menyenangkan memiliki kekasih yang ingin tau keberadaan dan kondisinya. Bahkan Mamanya saja sangat jarang menanyakan keadaannya
Raline
Udah. Kenapa?
Miko Rolando
Buruan ke depan rumah. Kaki aku udah pegel L
Raline
Siapa suruh dateng gak ngabarin dulu ckckck
Miko Rolando
Buruan, yang. Ini kayaknya udah mau hujan deh. L
Raline
Ya. Tunggu.
Raline bangkit berdiri dan meninggalkan sarapannya yang masih bersisa. Sebenarnya Raline bisa menyuruh pembantunya untuk membuka pintu gerbang. Namun untuk kali ini ia sengaja membukanya sendiri. Mungkin ini yang dinamakan rasa masa diawal pacaran. Ia tanpa sadar ingin melakukan hal spesial untuk kekasihnya itu, meskipun dalam perkara kecil.
Raline membuka pintu gerbang rumahnya dan mendapati Miko berdiri disana. Kekasihnya itu menyapanya dengan senyuman manis. "Hai," sapa Miko.
Raline membalas dengan senyuman, meski terkesan datar. Ia masih belum terbiasa bersikap ramah, apalagi lembut. Ia masih merasa asing bersikap selayaknya seorang pacar. Terlebih lagi ini kali pertama dirinya berpacaran. "Ayo masuk," ajak Raline.
Jika Syeiba dan Claudia sedang menontonnya sekarang, pasti mereka akan tertawa terbahak-bahak. Sikap Raline ke Miko termasuk tergolong manis dan ramah dibandingkan biasanya. Raline tak pernah mengajak masuk seseorang dengan nada sepelan dan selembut itu. Siapapun yang sering berada disekitarnya pasti tau sikapnya kali ini tak biasa.
Ini terasa pengalaman baru baginya. Status dan peran sebagai seorang kekasih tentu terasa asing baginya. Ini kali pertama Raline berpacaran. Mungkin tampilannya saat ini terasa seperti orang bodoh. Senyum bahagia langsung mengembang lebar pada bibirnya hanya karna sebuah alasan sederhana. Hanya karena Miko saat ini ada di rumahnya dan sedang bersamanya.
Raline semakin merasa canggung ketika tiba-tiba Miko menggenggam tangannya. Ini memang bukan kali pertama pria itu menyentuhnya, tapi tetap saja Raline masih merasa asing. Meskipun begitu ia tetap membiarkan Miko menggenggam tangannya dan berjalan didekatnya. Bukankah ini hal biasa yang dilakukan setiap pasangan?
Debaran jantung yang Raline rasakan saat ini begitu keras. Sangat keras hingga membuatnya menarik nafas karna begitu gugupnya. Sensasi rasa yang selalu ia rasakan setiap kali berada di samping Miko.
"Kamu tadi emang lagi apa?" tanya Miko ketika mereka sudah sampai di ruang tamu.
"Lagi sarapan," jawab Raline singkat. Namun dengan nada yang cukup lembut. Tidak seperti yang biasanya ia lakukan.
"Udah abis? Aku temenin kamu makan deh."
"Udah kok." Raline sengaja berbohong. Ia rasanya sudah tak nafsu lagi menghabiskan roti panggangnya setelah melihat Miko. Bukan karena benci, tapi entah kenapa saat ini ia sedang merasa gugup hingga lidahnya tak berselera untuk makan.
"Aku boleh ke kamar kamu gak?" tanya Miko tiba-tiba.
Pertanyaan itu terasa begitu aneh di telinga Raline. Permintaan yang tak pernah ia dengar diucapkan oleh siapapun yang berkunjung ke rumahnya. Bahkan Syeiba dan Claudia saja menunggu dirinya untuk menyuruh ke kamar. Tidak ada yang mengajukan permintaan untuk bisa masuk ke dalam kamarnya.
Raline terdiam beberapa saat. Ia tampak berpikir sejenak. Ia tak tau apakah ini sebuah kewajaran ketika seorang pacar meminta untuk berkunjung masuk ke dalam kamar. Jika iya, Raline tetap merasa ini hal yang tabu untuk dilakukan.
"Mau ngapain?" tanya Raline heran. Matanya menatap Miko dengan penuh selidik. Berusaha menangkap maksud hati sebenarnya pria yang kini ada di hadapannya.
"Mau liat aja kamar kamu kayak gimana." Miko menyunggingkan senyum manis khasnya.
"Enggak ah. Aku gak biasa masukin cowok ke kamar." Raline masih menganggap tabu kamarnya dimasuki oleh pria, meskipun itu kekasihnya. Ada banyak area rumahnya yang bisa dijadikan tempat untuk duduk dan menghabiskan waktu dengan nyaman. Rumahnya sangat luas. Ada banyak pilihan area yang bisa dijadikan spot untuk berpacaran.
"Oh... ya udah. Terus kita ngapain dong?"
"Mana aku tau. Kan kamu yang datang sendiri ke sini. Bukan aku yang ajak," jawab Raline.
Raline sengaja tak memberikan jawaban. Ia hanya ingin tau apa isi kepala Miko. Kegiatan macam apa yang diinginkan pria itu ketika berpacaran. Ada sedikit perasaan ragu menyusup di hati Raline. Perasaan ragu bila ternyata Miko sama saja seperti pria lainnya.
"Iya sih. Kalo kita nonton film aja gimana?" usul Miko.
"Di bioskop?" tanya Raline sambil mengangkat sebelah alisnya. Miko tau ia benci tempat yang dipenuhi orang asing. Selama ini ia sudah cukup mengalah menuruti permintaan kekasihnya itu. Bahkan melakukan hal yang tak ingin ia lakukan.
Bukankah katanya sebuah hubungan itu didasari dari kata saling? Raline merasa Miko belum pernah menyesuaikan dirinya dengan kebiasaanya. Selalu Raline yang mengikuti kemauan Miko. Karena itu, ia bertanya dengan nada penuh penekanan. Berusaha memberi kode bila ia sama sekali tak ingin dan tak suka pergi ke bioskop.
"Enggaklah. Aku tau kamu gak suka ke bioskop. Nonton di sini aja."
Raline tersenyum mendengar jawaban Miko yang melegakan hatinya itu. Respon kekasihnya itu sesuai harapannya. Setidaknya bayangan Miko di kepalanya masihlah pria baik-baik. Tidak seperti kekhawatiran yang ia miliki sebelumnya.
"Nonton apa?" tanya Raline.
"Aku bawa film kok." Miko mengeluarkan flashdisk dari dalam sakunya. Pria itu memamerkan flashdisk itu di hadapan Raline.
Raline kembali tersenyum. "Yaudah. Itu ada TV." Raline menunjuk telivisi yang ada di ruang tamunya. TV itu cukup besar jika hanya untuk menonton berdua. Mereka bisa duduk di sofa atau lesehan di karpet. Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuat Raline bahagia. Ia senang bisa bersama Miko berdua saja seperti ini.
“Kamu mau makan apa? Biar aku suruh Bibi nyiapin.”
“Aku masih kenyang. Gimana kalo ngemil aja?”
“Ngemil apa?” tanya Raline balik.
“Kamu punya stock cemilannya apa? Aku terserah aja sih. Kita makan yang ada di rumah kamu aja,” jawab Miko.
“Aku coba tanya Bibi dulu deh.”
“Yaudah. Aku nyiapin film nya dulu ya.”
Raline mengangguk setuju. Ia lalu berjalan menuju dapur. Menghampiri pembantunya yang ternyata sedang sibuk membereskan dapur yang tampak berantakan selepas masak untuk makan siang. Raline menepuk pundak Bi Surti. Pembantunya itu tampak tak menyadari kehadirannya saat ini. Bi Surti yang sedang sibuk mengelap kompor langsung menghentikan kegiatannya ketika melihat keberadaan Raline.
“Eh Non... kok ke dapur? Non kan bisa telepon saya aja. Kenapa? Ada yang bisa Bibi bantu?” tanya Bi Surti.
“Ada cemilan gak? Aku mau cemilan,” ucap Raline tanpa senyuman. Ia memang tak terbiasa bersikap ramah dan manis pada pekerja di rumahnya itu. Sejak kecil keluarganya selalu mengajarkan kelas dirinya berada di atas mereka. Raline selalu diminta untuk bersikap layaknya majikan atau tuan di depan mereka.
“Ada, Non. Nona mau apa?” tanya Bi Surti lagi.
“Ada apa aja?”
“Snack kemasan ada, Non. Stock-nya ada di lemari ini.” Bi Surti membuka lemari kecil yang ada di sebelahnya. Di lemari itu terpajang berbagai snack dengan merek dan rasa yang beragam. Mulai dari keripik, kerupuk, kacang, hingga kue kemasan.
Selama ini Raline hampir tak pernah makan cemilan. Ia terlalu menjaga bentuk tubuhnya. Selalu memastikan kalori yang ia makan. Baginya mengemil hanya sebuah kegiatan makan tak berguna yang hanya merusak bentuk tubuhnya. Jikalau pun ingin, Raline lebih memilih memakan buah-buahan daripada cemilan kemasan yang menurutnya sama sekali tak sehat itu. Karena itu ia baru tau bila ternyata ada stock cemilan kemasan di rumahnya.
“Terus ada apa lagi?” tanya Raline lagi.
“Buah masih banyak di kulkas, Non. Kalo Nona mau makan buah, tinggal pilih aja.” Bi Surti membuka pintu kulkas dan menunjukan buah-buahan yang ada di dalamnya. Ternyata memang masih banyak stock buah kesukaannya. Ada buah apel, mangga, anggur, dan masih banyak lainnya.
“Terus apa lagi?”
“Nona mau saya masakin cemilan apa? Pudding? Agar-agar? Kue? Bolu? Atau apa? Biar Bibi masakin.”
Raline tampak berpikir sejenak. Bila ia menyuruh Bi Surti memasak, itu pasti akan memakan waktu yang lama. Rasa tidak enak menyuruh Miko menunggu makanan terlalu lama. Lagipula film yang akan mereka tonton pasti telah usai ketika Bi Surti selesai memasak.
“Gak usah deh, Bi. Bawa aja cemilan yang ada.”
“Yang mana, Non?”
“Bawain dua bungkus keripik singkong, dua bungkus kerupuk, dan buah-buahan,” jawab Raline.
“Nona mau buah apa?”
“Cukup mangga dan anggur. Seperti biasa, mangganya dikupas dan dipotong-potong. Jadi aku tinggal makan aja.”
“Baik, Non. Ada lagi?”
“Oh ya! Siapin dua jus buat minumannya.”
“Jus apa yang Nona mau?”
Raline sesungguhnya tak tau Miko suka jus buah apa. Namun ia terlalu malas untuk bertanya ke Miko yang saat ini masih berada di ruang tamu. Karena itu ia memutuskan sendiri pilihan jus yang akan diminum oleh kekasihnya itu.
“Ehm... melon dan sirsak aja.”
“Baik, Non. Mohon ditunggu sebentar ya. Bibi akan siapin secepatnya.”
“Oke.”
Raline lalu berjalan pergi meninggalkan Bi Surti yang kini mulai sibuk menyiapkan permintaannya itu. Ia kembali menghampiri Miko yang tetap setia menunggunya di ruang tamu. Raline mengerutkan keningnya ketika mendapati TV masih dalam keadaan mati. Padahal tadi kekasihnya itu berencana menyetel film yang akan mereka tonton.
Raline duduk di sebelah Miko. Ia menatap heran ke arah kekasihnya itu. “Kok masih mati TV-nya?”
“Kebetulan tadi ada telepon dari Mama. Pas udah kelar, eh kamu udah keburu dateng. Jadinya aku gak sempet nyetel. Yaudah aku setel sekarang ya.”
Miko lalu bangkit dari posisi duduknya. Pria itu mulai mencolokan flashdisk yang dipegangnya ke lubang USB yang ada dibelakang TV. Setelah selesai, ia kembali duduk di sofa. "Kamu mau film yang mana? Horor? Romantic? atau action?" tanya Miko sambil mengambil remote.
"Aku gak suka horor. Mungkin action atau romantic?"
"Kita nonton yang romantis aja kalo gitu," ucap Miko.
"Biasanya cowok suka film action deh," ucap Raline dengan tatapan heran.
"Karena aku lagi sama kamu, aku jadi pengen nonton drama," bisik Miko sambil merangkul Raline.
Raline pun tersipu malu dan mengalihkan tatapan matanya. "Baiklah."
Miko tertawa melihat tingkah canggung Raline. Pria itu bisa melihat jika Raline memang masih amatir dalam hal hubungan asmara. "Di rumah ada siapa aja?" tanya Miko.
"Cuma ada dua pembantu aja, Kenapa?"
"Gak papa. Cuma mau tau aja. Mereka dimana?"
"Biasanya sih lagi cuci piring atau cuci baju. Pokoknya di area belakang rumah. Kenapa sih?" Raline masih tak mengerti maksud pertanyaan Miko.
"Gak papa. Yuk nonton filmnya." Miko lalu menekan tombol play di remote.
Selama menonton film, Raline merasakan Miko semakin erat merangkulnya. Kekasihnya itu pun semakin mempersempit jarak duduknya. Ia lalu menatap heran ke arah Miko yang wajahnya kini tak berjauhan darinya.
"Kenapa?" bisik Miko.
"Bisa geseran dikit gak?" Raline merasa risih dengan posisi duduk mereka yang terlalu dekat. Raline bahkan bisa mulai bisa merasakan suhu tubuh kekasihnya itu. Karena itu ia meminta sedikit jarak diantara mereka.
"Kenapa? Aku bau?" canda Miko.
"Yah aku gak bilang bau. Cuma jauhan dikit gitu." Raline mendorong pelan lengan Miko. Isyarat agar kekasihnya itu duduk sedikit lebih jauh darinya. Rasanya benar-benar tidak nyaman bagi Raline. Mungkin karna ia belum terbiasa bersentuhan dengan pria begitu dekat.
"Enggak mau ah. Aku mau dideket kamu," bisik Miko dengan tatapan lekat dan senyum manis. Kemudian secara perlahan Miko mendekatkan wajahnya ke arah Raline.
Raline yang awalnya tampak risih, kini seketika mulai menjadi gugup. Ia bingung harus bereaksi seperti apa, apalagi saat ini Miko mulai membelai lembut pipinya dengan tatapan mata ke arah bibirnya. Ketika bibir Miko semakin dekat dengan bibirnya, Raline secara refleks langsung memejamkan matanya dengan wajah sedikit takut.
Sebuah kecupan manis dirasakan bibirnya. Kecupan singkat tapi tetap meninggalkan kesan. Raline perlahan membuka mata dan melihat Miko masih menatapnya dengan lekat. Pria itu tertawa pelan ketika melihat pipi Raline yang mulai merona. Raline lalu menyikut pinggang Miko untuk menyuruhnya berhenti tertawa.
Rasanya menyebalkan mendengar suara tawa kekasihnya itu. Raline tau pasti Miko menganggap lucu tingkahnya saat ini. Sangat terlihat jelas bahwa ia benar-benar seorang amatir. Tak pernah berpacaran dan bersentuhan dengan lawan jenis.
Raline masih merasakan pipinya memanas. Cukup panas hingga membuat pipinya terus merona. Ia lalu membenarkan posisi duduknya dan kembali berpura-pura menonton TV. Meski ia tau Miko masih saja menatapnya sambil tertawa cekikikan. Kekasihnya itu memang suka sekali menggodanya. Ia lebih memilih tak merespon tingkah usil Miko. Semakin diladeni, maka semakin pria itu tak berhenti menggoda dirinya.
Raline memang belum bisa kembali fokus menyaksikan adegan film. Jantungnya masih terasa berdebar dan gugup. Namun Raline tak ingin menunjukannya dan memilih berakting baik-baik saja.
“Nona ini snack-nya. Ini buahnya.” Kemunculan tiba-tiba Bi Surti membuat suasana cangguh itu pecah. Raline bisa sedikit bernafas di tengah kegugupan hatinya yang terasa menyesakan itu.
“Makasih, Bi.” Miko tersenyum ramah ke arah Bi Surti.
“Sama-sama Tuan,” jawab Bi Surti.
Setelah Bi Surti pergi, Raline langsung menoleh ke arah Miko. “Kamu mau apa?”
Miko tampak berpikir sejenak. Ia melihat pilihan cemilan makanan yang ada di hadapannya. “Aku mau keripik singkong aja deh.”
Raline mengambil snack yang diinginkan Miko itu. Ia membuka kemasannya, lalu memberikan ke tangan kekasihnya itu. Kemudian ia mengambil piring berisi potongan buah mangga untuk cemilan dirinya.
“Makasih sayang. Kamu baik banget sih,” puji Miko sambil mengunyah keripik yang ada di tangannya.
“Sama-sama. Yah karna kamu pacar aku, makanya aku baik. Kalo kamu bukan pacar aku, aku belum tentu baik sama kamu.” Raline mengunyah buah mangganya sambil tertawa kecil.
“Aku cukup beruntung kalo gitu. Cuma berbuat baik gak harus pake alasan, Line.”
“Haruslah. Gak semua orang itu baik. Buat apa kita baik sama orang yang gak baik?” Pertanyaan yang Raline lontarkan tentu bukan untuk mencari jawaban. Ia sedang memberikan alasan logis pada kekasihnya itu.
Dunia dianggap Raline begitu kejam. Sangat jarang orang memiliki ketulusan. Bahkan tidak banyak orang yang tulus mendekatinya. Kebanyakan orang pasti memiliki kepentingan terselubung ketika menghubunginya. Mungkin hanya Miko yang bisa ia percayai memiliki ketulusan itu.
“Aku pikir kita pasti pernah menerima kebaikan juga dari orang lain, walau bukan dari orang itu. Kebaikan yang terkadang sebetulnya kita belum tentu pantes buat terima.”
Raline mengerutkan keningnya. Raut wajahnya menunjukan ketidak setujuan akan pendapat kekasihnya itu. “Justru aku yang sering ngasih ke orang, bukan kebalikannya. Kebanyakan malah gak pernah dibales. Banyak juga yang justru ngomongin aku dibelakang. Padahal di depan aku, dia ngemis-ngemis minta bantuan. Aku udah cukup kaya. Semuanya bisa aku beli dan lakuin sendiri. Aku tinggal kasih uang... aku dapet apa yang aku mau.”
“Kebaikan yang kita terima itu gak selalu tentang materi sayang. Perhatian, kepedulian, dirawat sama orang... itu semua juga bentuk kebaikan.”
Raline menghela nafas kesal. Ia masih tak merasakan semua yang diucapkan kekasihnya itu sebagai sebuah kebenaran. Perhatian? Kepedulian? Dirawat? Raline tak menemukan satu orang pun yang melakukan hal itu tanpa mengharapkan keuntungan darinya.
Bila sakit, ia tinggal mengeluakan uang untuk mendatangkan dokter dan perawat ke rumahnya. Tidak ada yang merawat dirinya hanya karena peduli dan sangat memperhatikan dirinya. Termasuk bila itu Mamanya. Mamanya tak memiliki waktu untuk mengurus dirinya. Lebih tepatnya, tak tertarik mengurus dan memperhatikan dirinya. Bagi wanita itu uang yang telah dikeluarkan untuk Raline sudah cukup memenuhi semua kebutuhan dirinya.
Sedari kecil Raline memang sudah diajarkan bila tak ada yang tak bisa didapatkan bila memiliki uang. Semua bisa dibeli. Termasuk manusia. Bila ia ingin, detik ini juga rumahnya akan ramai dipenuhi oleh teman-teman kampusnya. Di kepala Raline, tak ada manusia yang tak menyukai uang miliknya.
“Baiklah. Suatu hari nanti kamu pasti akan paham maksudku.” Miko berusaha mengalah ketika melihat raut wajah Raline tak berubah. Pria itu tampak tak ingin memulai pertengkaran dengan Raline.
“Mungkin juga aku gak akan paham,” balas Raline.
Miko hanya tersenyum, lalu membelai kepala Raline. Kekasihnya itu tak lagi mengeluarkan kata-kata. Miko hanya menarik lengannya, lalu membuat kepalanya bersender di bahunya. Selama beberapa saat tak ada perbincangan yang terjadi. Mereka tampak asik menonton tanpa mengeluarkan suara.
Raline begitu nyaman duduk dalam rangkulan kekasihnya itu sambil memakan buah mangga hingga habis. Begitu pula Miko yang juga menghabiskan keripik singkong, tanpa melepaskan rangkulannya. Miko bahkan terus mengelus lembut lengan Raline sambil menikmati adegan film yang sedang mereka tonton.
"Kamu laper gak?" tanya Miko tiba-tiba.
"Kenapa emang? Kamu laper?" tanya Raline balik.
Miko mengangguk. "Kamu mau aku masakin gak?"
"Kan ada pembantu. Ngapain kamu yang masak?" tanya Raline heran. Seumur hidup Raline tak pernah menyentuh dapur. Semua sudah tersaji rapi di meja makan setiap kali ia merasa lapar.
Raline tak mengerti mengapa kekasihnya itu ingin bersusah payah memasak, padahal pekerjaan itu bisa dilakukan oleh pembantu. Bahkan ia bisa memesan makanan di restoran bila pembantunya tak bisa memasaknya, lalu pasti akan diantarkan langsung ke rumahnya. Semua bisa dilakukan dengan uang. Tidak perlu repot atau membuat diri menjadi susah.
"Karna masakan aku pasti lebih enak dari pembantu kamu," jawab Miko sambil mencubit pipi Raline.
“Pembantu aku itu disekolahin masak sayang. Kalo kamu gak percaya, aku bisa datengin koki bintang lima kok. Kamu tunggu ya.” Ketika Raline hendak menelepon koki kenalannya, Miko langsung menghentikan dirinya. Pria itu menahan tangan Raline dan langsung mengambil ponsel itu dari tangannya.
“Aku cuma pengen masakin buat kamu. Itu aja. Lagian masak gak terlalu capek kok buat aku. Sekalipun capek, kan itu buat kamu. Gak papa dong sayang.” Miko berusaha meyakinkan Raline bahwa dirinya baik-baik saja. Kegiatan masak tak akan membuat tubuhnya lelah. Tak akan membuat kastanya sama dengan pembantu.
“Yakin?” tanya Raline. Sekali lagi ia memastikannya ke Miko.
Miko menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala. “Kamu percaya aja ke aku. Masakan aku tuh pasti enak! Masakan pembantu dan koki-koki kamu itu juga pasti lewat!” Miko mendongakan kepalanya dengan raut wajah sok angkuh dan penuh percaya diri.
Namun Raline justru tampak ragu. Ia menaikan sebelah alisnya. Ia meragukan kalau perkataan Miko itu benar. Lidahnya sangat selektif dalam hal makanan. Bahkan ia mengirimkan para pembantunya untuk sekolah masak agar bisa menyajikan makanan yang enak sesuai standar lidahnya.
"Di kulkas kamu ada bahan apa aja?" Miko lalu langsung berjalan menuju dapur tanpa menunggu persetujuan Raline. Pria itu seakan tau bila Raline tak akan pernah menyetujui niatnya itu.
"Emang kamu tau dapur ada dimana?" Raline geleng-geleng kepala. Ia akhirnya berdiri dan menyusul langkah Miko. Raline menunjukan dapur rumahnya yang terletak dibelakang ruang makan.
Tanpa basa-basi, Miko membuka kulkas dan melihat isi yang ada di dalamnya. Selama beberapa saat Miko meneliti isi kulkas itu. "Lengkap ya," ucap Miko.
Kulkasnya memang pasti lengkap berisi bahan-bahan makanan. Mulai dari sayur, lauk pauk, hingga bahan pelengkap masakan lainnya. Raline bahkan memiliki satu pekerja yang bertugas khusus memastikan stock bahan-bahan masakan di rumahnya. Tidak boleh ada yang kosong. Semua harus memiliki persediaan.
Terkadang bahan makanan itu memang terbuang sia-sia. Karena rumah ini tidak berisi banyak orang. Hanya Raline yang menginap tidur setiap malam. Namun tak ada yang tau kapan Mamanya akan datang ke rumah itu. Sementara kepribadian Mamanya juga sama seperti dirinya. Tidak suka bila makanan yang sedang diinginkan tidak bisa disajikan, apalagi bila alasannya tidak ada bahan. Maka amukan amarah pasti terdengar detik itu juga.
Karena itu persediaan bahan makanan di rumahnya begitu lengkap. Meskipun pada akhirnya kebanyakan dari stock itu berakhir di tong sampah. Namun sebenarnya Raline tau para pekerjanya sering membawa pulang bahan makanan itu sebelum busuk. Raline tak pernah mempermasalahkan hal itu. Anggap saja sedang beramal kepada para pekerja rumahnya itu.
Raline mendekati Miko yang masih menatap isi kulkas-kulkasnya. "Jelaslah. Isi kulkas gak boleh kosong. Harus lengkap dengan bahan makanan. Kalo aku laper tengah malam kan gawat kalo gak ada yang bisa dimasak," ucap Raline.
“Ini benar-benar terlalu lengkap,” gumam Miko.
“Kamu emang mau masak apa?” tanya Raline.
Miko terdiam dengan kening berkerut. Pria itu masih terus menatap bahan-bahan makanan yang ada di hadapannya. Berusaha menemukan menu masakan yang tepat untuk di masak. Karena terlalu lengkap, Miko semakin bingung menu makanan mana yang harus ia pilih untuk dibuat.
“Kalo spagethi aja gimana?” tanya Miko.
“Terserah kamu aja. Aku ngikut. Asal itu makanan beneran bisa dimakan. Aku gak mau terlalu asin atau terlalu manis. Kamu bisa bedain garam dan gula kan?” ledek Raline.
Miko melirik kesal ke arah Raline. “Aku itu bisa masak Raline! Jangan remehin aku deh! Liat aja nanti!” ucap Miko, penuh tekad.
Raline tertawa. Ia menaikan sebelah alisnya dengan tatapan menyangsikan. “Oh ya? Oke... kita liat nanti.
Miko dengan penuh tekad mulai mempersiapkan bahan-bahan masakannya. Ia mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkan. Spagethi, jamur, daging, tomat, udang, keju, cabai, bawang putih, jeruk nipis, dan bahan-bahan lainnya yang ia butuhkan. Miko menata semua bahan itu di atas meja. Ia menatap sekali lagi apakah ada bahan yang masih kurang untuk disiapkannya.
“Garam, gula, merica, mentega, dan minyak ada dimana?” tanya Miko ke Raline.
Raline mengangkat bahunya. Ia mana tau letak semua bahan itu. Seumur hidup Raline tak pernah memasak di dapur, sehingga menjadi sebuah kewajaran ia tak tau letak semua bahan yang disebutkan Miko itu.
“Mau aku tanya Bibi dulu?” tanya Raline.
“Gak usah deh. Aku coba cari dulu.” Miko membuka semua laci-laci yang ada di dapur itu. Setelah dua menit mencari, Miko akhirnya menemukan apa yang dia cari. Ada sebuah laci kecil di dekat kompor. Ternyata di sanalah semua bumbu dapur disimpan.
Miko mulai sibuk memasak. Ia mencuci semua bahan makanan itu dengan bersih. Kemudian memotongnya sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Sementara Raline hanya berdiri di dekat pintu kulkas sambil memperhatikan aktivitas memasak kekasihnya itu.
Miko lalu mulai menyalakan kompor dan merebus air untuk memasak mie. Sambil menunggu air mendidih, Miko menyiapkan irisan bawang putih, bawang merah, tomat, dan cabai.
Sesekali Miko memastikan tingkat kematangan mie spagethi yang sedang ia rebus. Sambil menunggu mie itu matang, Miko menyiapkan penggorengan satu lagi di sebelahnya. Ia bersiap membuat saus spagethinya, agar bisa menghemat waktu memasak.
Sambil memasak, Miko mencoba untuk mengajak bicara Raline yang masih setia menontonnya dari samping. “Kamu gak bosen berdiri di situ terus? Duduk aja gih. Gak papa. Ini juga bentar lagi selesai.”
“Ehm...” Raline memikirkan ucapan kekasihnya itu. Namun ia langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak ah. Gak enak. Kamu di sini capek-capek masak buat aku. Terus masa aku enak-enak duduk di sofa ruang tamu. Aku gak sejahat itu.”
Miko tertawa. “Kamu anak baik memang.”
“Aku gak baik! Jangan mikir aku itu orang baik cuma karena tindakan sederhana.” Raline enggan diekspektasikan sebagai orang baik. Baginya itu beban. Lagipula ia juga tak merasa menjadi orang sebaik itu.
“Baiklah. Terserah kamu. Cuma buat aku, kamu itu baik. Kalo enggak baik, mana mungkin kamu jadi pacar aku.”
Raline tertawa sambil geleng-geleng kepala. “Emang kamu suka sama aku gara-gara aku baik? Wah kalo kamu tau karakter asliku, berarti sebentar lagi kita bakalan putus.”
“Kamu itu baik sayang. Kamu hanya berpura-pura menjadi jahat. Aku bisa merasakan hal itu. Kalo kamu jahat, kamu gak akan mau terima aku jadi pacar kamu. Kamu gak akan mau nurutin semua permintaan aku. Permintaan yang kadang gak sesuai sama apa maunya kamu. Aku tau itu. Hati kamu itu gak sejahat mulut kamu kok.”
Raline terdiam mendengar ucapan kekasihnya itu. Belum pernah ada yang memujinya setulus itu. Iya, kali ini Raline bisa merasakan pujian yang didengarnya itu tulus.
“Bentar lagi bakalan mateng nih kayaknya. Kamu bisa tolong aku gak?”
Ucapan Miko itu membangunkan Raline dari lamunannya. “Bantu apa?”
“Tolong ambilin piring. Dua ya.”
Raline mengambil dua piring dari rak sesuai perintah kekasihnya itu. Ini kali pertama ia menuruti perintah orang lain. Bila itu bukan Miko, Raline tak akan mungkin mau mematuhi.
“Ini...” Raline menyodorkan piring yang ada di tangannya itu ke Miko.
“Makasih sayang.” Miko tersenyum ke arah Raline. Kemudian kembali fokus menyelesaikan masakannya.
Setelah dua puluh menit berkutat di dapur, Miko akhirnya selesai memasai. Dua piring spagethi telah dibuat dengan baik. Miko tampak yakin makanannya itu akan terasa enak. Pria itu memastikan tampilan masakannya itu juga terlihat menggiurkan.
“Udah selesai. Yuk ke meja makan,” ajak Miko.
Raline mengikuti langkah kaki Miko menuju ruang makan. Ia sebenarnya ingin membantu kekasihnya itu untuk membawa ke dua piring itu. Namun Miko menolak niat baiknya itu. Sepertinya kekasihnya itu sedang benar-benar ingin melayaninya sepenuhnya.
Raline langsung duduk ketika melihat Miko juga telah duduk di ruang makan rumahnya. Ia menatap penuh kekaguman spagethi yang ada di hadapannya. Hidangan itu tampak benar-benar enak.
“Ayo makan, sayang. Aku gak sabar kamu nyicip makanan buatanku.”
Raine tersenyum. Kemudian mulai menyicipi masakan kekasihnya itu. Ia meneliti setiap rasa spagethi yang sedang dikunyahnya. “Enak,” gumam Raline.
“Yes!” seru Miko dengan penuh kepuasan. Pria itu merasa semua kelelahan memasaknya telah terbayar dengan satu kata pujian yang baru saja Raline lontarkan itu.
“Yaudah. Sekarang kamu yang makan dong. Gak enak nih makan sendirian,” ucap Raline.
Miko mengangguk. Kemudian mulai melahap spagethi miliknya. Pria itu tampak benar-benar kelaparan. Selama beberapa saat Miko dan Raline tampak sibuk menikmati makanan mereka. Tak ada perbincangan. Hanya sibuk menyecap setiap rasa yang sedang mereka nikmati dari makan siang mereka.
"Kamu pengen apa dari aku?" tanya Miko tiba-tiba.
Raline tampak terkejut dengan pertanyaan abstrak yang tiba-tiba dilontarkan kekasihnya itu. Sebuah pertanyaan yang tak diduga Raline akan keluar ditengak aktivitas makannya. "Maksudnya?" Raline masih tak mengerti.
"Kamu pengen aku ngelakuin apa sebagai pacar? Kan kadang cewek suka punya tuntutan ke cowok. Kayaknya kamu gak pernah nuntut apa-apa deh ke aku.” Miko menatap penasaran ke arah Raline. Pria itu juga masih tampak mengunyah mie spagethi miliknya.
Raline terdiam. Pada awalnya ia memang tak memiliki ekspektasi apapun pada hubungan ini. Ia tak menaruh harapan apapun pada Miko. Karena Raline menghindari rasa kecewa jika harapan dan ekspektasinya tak tercapai.
"Kok diem?" tanya Miko. Pria itu seolah tak menyerah untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya itu. Seolah Raline memang memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu tanpa bisa menghindarinya.
"Aku gak ngarepin apa-apa kok. Mungkin cuma perhatian aja." Hanya itu yang terbesit di kepala Raline. Setelah berpacaran, Raline menerima banyak perhatian dari Miko dan ternyata rasanya enak.
Miko tersenyum. "Kalo itu kan udah. Aku selalu perhatiin kamu, kan?"
"Iya. Good job, yang." Raline tersenyum dengan wajah tersipu.
"Kamu gak nanya aku mau apa?" tanya Miko balik. Pria itu sepertinya sengaja memancing Raline untuk bertanya dan penasaan dengan apa mau hatinya.
"Emang kamu mau aku ngapain?" tanya Raline dengan sebelah alis terangkat.
"Masakin aku dong. Aku pengen bekal makan siang buatan kamu," jawab Miko sambil melirik Raline.
"Aku? Masak? Kamu mau mati keracunan?" Raline tertawa mendengar ide gila Miko. Ia tak pernah menyentuh alat dapur, apalagi masak. Ia bahkan tak bisa membedakan bumbu dapur dan bahan makanan. Garam dan gula saja kadang tertukar. Apalagi memasak makanan. Raline benar-benar heran dengan permintaan Miko itu. Permintaan yang terasa aneh baginya.
"Gak papa kok. Aku siap keracunan karna kamu," canda Miko.
"Dih... alay!" Raline tertawa sambil geleng-geleng kepala.
CONTINUED
****************
Jangan lupa vote dan komen ya! ^^
*penulis amatir yang berusaha konsisten menullis.