Dokumen itu terbanting hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Dengan sebelah tangannya yang masih berada di sisi pinggangnya, Erwin memandang wajah sambil menggeram kesal. Menahan amarah yang siap diledakkan saja kapan pun ia mau. "Win, tenanglah," tegur Adam yang duduk di sisi kanannya ketika melihat Erwin yang sudah tidak bisa duduk tenang di tempatnya lagi. Erwin mengusap wajahnya dengan kasar. "Doni Suryadiningrat? Kenapa kepada manusia ini kita harus mengemis demi dana untuk pembangunan proyek baru yang akan kita lakukan di Papua?" dengusnya. Suasana hening, tak ada satu orang pun yang berani mengangkat wajahnya untuk menjawab pertanyaan atasannya saat ini. Pertama karena takut jika jawaban mereka salah, dan kedua tentu saja karena mereka tidak mempunyai jawaban lain selain Do

