Yang Selalu Mendengar

570 Words
Nadira selalu tahu kapan harus diam. Ia bisa membaca jeda napas orang lain, mendengar perubahan kecil di akhir kalimat, menangkap bahasa tubuh yang gugup atau lelah. Ia mengumpulkan semua isyarat itu tanpa sadar, menyimpannya rapi di kepalanya, seolah itu bagian dari pekerjaannya. Padahal tidak pernah ada di kontrak hidupnya yang menyebutkan ia harus menjadi tempat berhenti semua cerita. Pagi itu, di kafe tempatnya bekerja, Nadira berdiri di balik meja kasir. Tangannya cekatan menyiapkan pesanan—satu latte hangat, satu croissant—sementara telinganya mendengarkan rekan kerjanya mengeluh tentang hubungan yang tidak jelas arahnya. “Capek nggak sih,” kata rekannya, “selalu jadi yang lebih peduli?” Nadira tersenyum. Bukan senyum basa-basi, tapi senyum yang memberi izin. Izin untuk melanjutkan, untuk jujur, untuk tidak ditahan. “Capek,” katanya pelan. “Tapi kamu nggak salah kok ngerasa begitu.” Rekannya menghela napas lega, seolah baru saja meletakkan beban besar. Setelah itu ia pergi, meninggalkan Nadira dengan suara mesin kopi dan antrean pelanggan berikutnya. Tidak ada yang bertanya bagaimana perasaan Nadira setelah percakapan itu selesai. Ia memang selalu tahu harus berkata apa. Mengangguk di waktu yang tepat. Memberi ruang tanpa menyela. Memilih kata yang menenangkan tanpa menghakimi. Teman-temannya datang dengan cerita patah, konflik, dan luka yang tidak tahu harus ditaruh di mana. Nadira mendengarkan. Ia menjadi tempat singgah yang aman, meski tak pernah diminta secara resmi. Siang hari, ponselnya hampir tidak berhenti bergetar. Pesan dari teman lama, teman dekat, bahkan seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Isinya berbeda-beda, tapi tujuannya sama: curahan. Ia membalas satu per satu. Dengan sabar. Panjang. Tulus. Ia selalu memilih kalimat yang membuat orang merasa dimengerti, bukan ditelanjangi. Seseorang pernah berkata, “Ngobrol sama kamu tuh bikin lega.” Nadira mengingat kalimat itu sambil menatap layar kosong setelah mengirim pesan terakhir. Ia merasa lega untuk mereka. Tapi tidak untuk dirinya. Sore menjelang, setelah jam kerja selesai, Nadira duduk di sudut kafe. Secangkir teh di depannya sudah dingin. Ia membuka ponsel, menggulir percakapan yang ada, lalu berhenti di satu nama. Ia mengetik. “Hari ini aku agak lelah.” Kalimat itu terlihat aneh di layar. Terlalu singkat. Terlalu jujur. Nadira membacanya ulang, lalu menambahkan satu kata. “Sedikit.” Pesan itu terkirim. Terbaca. Lalu berhenti di sana. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi—dari orang yang sama. “Eh, aku mau cerita dikit boleh nggak? Lagi butuh teman.” Nadira menatap layar cukup lama. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa yang meledak. Hanya rasa jatuh pelan, seperti sesuatu yang sudah ia duga, tapi tetap berharap salah. Ia membalas, seperti biasa. “Boleh. Cerita aja.” Malam turun tanpa banyak suara. Di kamar kosnya yang sederhana, Nadira berbaring sambil menatap langit-langit. Hari itu penuh dengan suara orang lain, tapi pikirannya sendiri terasa sunyi. Ia baru menyadari satu hal: semua orang tahu caranya bercerita kepadanya, tapi tidak satu pun tahu caranya bertanya bagaimana kabarnya. Ia juga ingin didengarkan tanpa harus menyusun kata dengan rapi. Ingin bercerita tanpa takut mengganggu. Ingin berkata, aku juga butuh, tanpa merasa egois. Tapi Nadira terlalu pandai mengerti. Dan entah sejak kapan, kepandaiannya itu berubah menjadi kebiasaan menghilangkan dirinya sendiri dari percakapan. Sebelum tidur, ia menulis di catatan kecil yang selalu ia simpan di laci. “Aku tahu semua orang punya cerita. Aku hanya berharap, suatu hari, ada yang bertanya tentang ceritaku.” Ia menutup buku itu, mematikan lampu, dan membiarkan sunyi datang. Sunyi yang tidak memintanya untuk mendengarkan. Sunyi yang akhirnya mendengarkan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD