bc

Yang Tidak Pernah Ditanya

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
kickass heroine
drama
tragedy
lighthearted
kicking
city
office/work place
secrets
like
intro-logo
Blurb

Di balik senyum dan ketenangan sehari-hari, ada orang-orang yang selalu dianggap kuat, selalu mengerti, selalu ada — tapi jarang benar-benar didengar. Dari yang diam menenangkan diri sendiri, yang menjadi cadangan tanpa pernah dipilih, hingga yang takut kehilangan dan yang memilih diri sendiri, setiap cerita menyingkap lapisan sunyi dan lelah tersembunyi dalam kehidupan modern. “Yang Tidak Pernah Ditanya” adalah perjalanan 12 jiwa yang belajar bahwa mengakui lelah, takut, atau rindu bukanlah kelemahan, melainkan cara untuk merasakan hidup sepenuhnya.

chap-preview
Free preview
Kuat, Katanya
Di kantor itu, semua orang tahu ke mana harus pergi saat sesuatu tidak berjalan semestinya. Bukan ke atasan. Bukan ke ruang rapat. Tapi ke meja Raka. Ia tidak pernah secara resmi ditunjuk sebagai penenang, pemecah masalah, atau tempat bersandar. Ia hanya selalu ada. Datang paling pagi, pulang tidak paling malam, tapi hampir selalu jadi yang terakhir meninggalkan ruangan saat yang lain sudah merasa cukup. Tidak ada yang pernah benar-benar bertanya apakah Raka baik-baik saja. Hari itu berjalan seperti biasanya. Seorang rekan berdiri di samping mejanya dengan nada tergesa. Tenggat yang meleset. Klien yang tidak sabar. Keputusan yang harus diambil cepat. Raka mendengarkan tanpa menyela. Ia mengangguk di saat yang tepat, bertanya seperlunya, lalu menyusun ulang kekacauan itu menjadi sesuatu yang bisa dikerjakan. “Untung ada kamu,” kata rekannya sebelum pergi. “Kalau bukan kamu, aku sudah panik dari tadi.” Raka tersenyum kecil. Senyum yang sudah ia kenal luar kepala—tidak terlalu lebar, tidak terlalu dingin. Cukup untuk membuat orang merasa aman. Ia kembali ke layar komputernya. Tapi kalimat itu tertinggal di kepalanya. Untung ada kamu. Kalimat yang terdengar seperti pujian, tapi entah sejak kapan terasa seperti kewajiban. Di ruang kerja yang hampir selalu sibuk, Raka lebih sering menyelesaikan tugas orang lain daripada tugasnya sendiri. Ia tidak keberatan. Setidaknya, begitu yang ia yakini selama ini. Siang hari, ia makan sendirian di pantry. Bukan karena tidak punya teman, tapi karena ia sering kebagian sisa waktu orang lain. Yang baru selesai rapat. Yang harus menelepon rumah. Yang ingin makan cepat lalu kembali bekerja. Raka selalu menyesuaikan. Ponselnya bergetar. “Kak, bisa telepon Mama malam ini? Mama lagi kepikiran banyak hal.” Pesan dari adiknya. Raka membaca dua kali. Ia sudah bisa menebak bagaimana percakapan itu akan berjalan. Ia akan mendengar. Ia akan menenangkan. Ia akan bilang semuanya akan baik-baik saja, meski ia sendiri tidak yakin bagaimana caranya. Sore menjelang. Langit di luar jendela kantor berubah warna, pelan dan tidak mencolok. Raka menyelesaikan satu tugas terakhir, lalu membereskan mejanya dengan rapi—terlalu rapi untuk seseorang yang katanya sedang kelelahan. Saat ia berdiri untuk pulang, atasannya memanggil. “Raka,” katanya sambil tersenyum, “kamu luar biasa hari ini. Selalu bisa diandalkan. Kamu memang kuat.” Kata itu lagi. Kuat. Raka mengangguk. Mengucapkan terima kasih seperti yang diharapkan. Semua orang bermaksud baik. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mengendur sedikit—seperti simpul yang terlalu lama ditarik. Dalam perjalanan pulang, ia duduk di bus yang tidak terlalu penuh. Kota bergerak di luar jendela, lampu-lampu menyala satu per satu. Ia memandang pantulan dirinya di kaca. Wajah yang terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang tampak retak. Ia akhirnya menelepon rumah. Percakapan berjalan seperti dugaannya. Ibunya bercerita panjang tentang kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang menumpuk. Raka mendengarkan. Sesekali menimpali. Sesekali tertawa kecil di bagian yang memang perlu ditertawakan. “Kamu jangan capek-capek ya,” kata ibunya di akhir. “Mama tahu kamu kuat.” Telepon ditutup. Bus berhenti. Orang-orang naik dan turun. Raka tetap duduk beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ia tidak merasa sedih. Tidak juga marah. Hanya ada rasa berat yang sulit dijelaskan—seperti membawa tas yang terlalu penuh tapi tidak pernah dibongkar. Malam itu, di apartemennya yang tenang, Raka berdiri di depan cermin. Ia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. Gerakannya pelan, hampir ritual. Ia menatap dirinya sendiri dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak tersenyum. Bukan karena ingin menangis. Tapi karena ia lelah berpura-pura tidak ingin apa-apa. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka ponselnya, dan menemukan draf pesan yang sudah lama tersimpan. “Aku capek.” Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Ia membacanya sebentar. Lalu menghapusnya. Bukan karena ia tidak berani. Tapi karena ia sadar—mengakui kelelahan tidak selalu harus diumumkan agar menjadi nyata. Di kantor, saat orang lain runtuh, Raka berdiri. Saat orang lain bingung, ia memberi arah. Kata “capek” jarang keluar dari mulutnya, bukan karena ia tidak pernah lelah, tapi karena ia terbiasa menahan. Malam itu, setelah semua orang pulang dari hidupnya masing-masing, Raka mematikan lampu lebih awal. Tidak membuka pesan baru. Tidak menawarkan diri untuk apa pun. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya tidak kuat—setidaknya, untuk dirinya sendiri. Karena bahkan yang kuat pun bisa lelah dalam diam.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
3.9K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.6K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook