"Kamu, ikut saya!" Begitu tegas, khas seorang pemimpin.
Mendengar perintah dari pemilik suara berat itu, membuat bulu kuduk Felisha berdiri semua. Merinding. Dengan berat hati, ia pun segera mengikutinya.
"Apa yang tadi kamu lihat?" tanyanya datar, sambil jari-jarinya mengetuk meja bergantian, sedangkan tatapannya tertuju pada Felisha yang tengah duduk di kursi di seberang mejanya.
"E-anu, Pak, rak buku," jawab Felisha, asal.
Yang bertanya pun mendelik. Kemudian mengulangi pertanyaannya.
"Apa yang tadi kamu lihat?"
Kali ini terdengar ada penekanan di setiap kata. Felisha menelan ludah dengan payah. Lalu pandangannya teralih pada sebuah papan nama di atas meja. Angga Hadi Prawira. Begitu bunyi tulisannya.
'Oohh ... nama Direktur galak ini Angga Hadi Prawira. Lumayan juga, sih, tapi sayangnya dia galak!' batin Felisha.
Melihat orang di depannya malah melamun tanpa memberi sebuah jawaban, Angga pun semakin kesal.
"Apa yang tadi kamu lihat?!" sentaknya.
Felisha yang sedari tadi melamun pun gelagapan dibuatnya.
"Ci-ciuman, Pak. Tadi saya liat Bapak lagi ciuman, hot banget lagi! Ups ...!" Felisha langsung menutup mulutnya, menyadari bahwa dia benar-benar keceplosan.
'Haduuhhh ... mati aku! Kok sampai keceplosan, sih. Bapak Direktur, mohon jangan pecat saya,' batin Felisha.
Matanya pun terpejam, mulutnya komat-kamit merapalkan doa entah apa, sedangkan kedua tangannya menangkup di depan d**a.
Mendengar jawabannya, Angga pun menyunggingkan bibir. Kemudian menatap Felisha, dari ujung kepala hingga kaki. Menatapnya dengan teliti.
'Hmm ... rambut diikat ekor kuda, pakaian OG, tubuh kecil, mungil, tapi lumayan juga. Umur berapa dia? Bahkan paling kecil di antara semua pegawaiku, dan sepertinya aku juga baru pernah melihatnya. Apa mungkin dia OG baru yang Andi ceritakan?' batin Angga, sambil terus mengamati Felisha.
Pandangannya terus menilai, sambil pikirannya tertuju pada perkataan Andi kemarin malam.
"Seminggu lalu gue ketemu sama cewek kecil, mungil. Dia lagi kesusahan nyari kerja. Katanya sih, udah puluhan kali ngelamar di berbagai perusahaan, tapi nggak ada satu pun yang nerima. Gue kasihan sama dia, jadi gue bawa aja dia ke kantor. Kebetulan, di perusahaan kita juga lagi butuh OG tambahan. Setelah gue tawarin perkerjaan itu, dia katanya mau, mau banget malah katanya. Jadi gue langsung suruh dia kerja. Sorry ya, gue baru sempet ngasih tau lo." Andi bercerita panjang lebar, sedangkan Angga hanya fokus mendengarkan.
Oh iya, Andi adalah sahabat sekaligus tangan kanan Angga di perusahaan. Waktu itu, Angga sedang menjalani proyek di luar negeri, jadi semua kendali perusahaan dia berikan pada Andi sementara waktu, dan kini dia sudah kembali, jadi semua kembali seperti semula.
"Hey, Unyil!" Angga berseru, kedua tangannya terlipat di depan d**a, sedangkan punggungnya menyandar pada sandaran kursi.
Mendengar suara itu, Felisha pun membuka satu matanya, melirik sang pemilik suara. Mendapati kalau dia sedang ditatap, dia pun segera membuka kedua matanya. Menurunkan kedua tangannya, kemudian menatap sekeliling.
'Di mana ada Unyil? Apa aku salah denger ya?' Dalam hati dia bertanya, sedangkan matanya terus mencari-cari.
Kemudian pandangannya bertemu dengan tatapan atasannya itu. "Bapak, manggil saya?" tanyanya, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Memang di sini ada siapa lagi, selain kamu dan saya?" Yang ditanya malah balik bertanya.
'What?! Apa dia bilang, Unyil? Jadi, dia manggil aku, Unyil? No-no-no, ini nggak boleh dibiarin!' protes Felisha, dalam hati.
"Kok ... Unyil, Pak? Nama saya 'kan Felisha Dewi. Nih, kalau Bapak nggak percaya, F-E-L-I-S-H-A D-E-W-I. Felisha Dewi," ujarnya, sambil menunjukkan kartu nama yang menggantung di lehernya.
"Kamu pikir saya nggak bisa baca?!" sentaknya, wajahnya merah padam.
"Ma-maafkan saya, Pak. Bu-bukan itu maksud saya." Suara Felisha terdengar bergetar, dia begitu ketakutan.
"Terus apa? Kamu mau saya pecat, hah?!"
"Ti-tidak, Pak."
"Kalau begitu suka-suka saya, dong, mau panggil kamu apa. Mau Unyil, Bocil, Kancil, atau apa lah, terserah saya. Ini kantor saya, dan kamu juga pegawai saya, jadi suka-suka saya. Mengerti?!"
"I-iya, Pak."
'Cih! Mentang-mentang dia bos, terus bisa seenaknya? Enak aja! Eh, tapi ... aku nggak mau dipecat. Jadi, ya udah deh ikutin aja, dari pada dipecat," batin Felisha.
"Lagian, memang tubuh kamu kecil, 'kan, kayak si Unyil?" ujarnya, sedikit tersenyum, sambil terus mengamati Felisha, dari atas hingga bawah.
Mata Felisha melotot, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
'What? Jadi karena ini, dia manggil aku Unyil. Emang dasar ya, bos kurang ajar! Aku sumpahin, dia keselek kalau minum kopi!' makinya dalam hati.
Tak lama kemudian, Angga mengambil secangkir kopi yang Felisha suguhkan tadi. Dan ....
Uhuk! Dia benar-benar tersedak. Matanya melotot ke arah Felisha yang tengah menahan senyum.
"Kamu nyumpahin saya, ya?!" tuduhnya.
"Eng-enggak, Pak. Dari tadi saya diam kok," kilahnya, padahal dalam hati dia merasa puas.
'Sukurin! Emang enak orang keselek?! Eh, tapi kok bisa pas banget, ya. Emang bener ya, doa orang teraniaya itu cepat terkabul. Terima kasih Tuhan.'
Angga pun segera meletakkan kembali cangkir kopi itu, dia tidak jadi untuk meminumnya.
"Berapa usia kamu?" tanya Angga, setelah membenahi posisi duduknya.
"Saya, delapan belas tahun, Pak."
"Cih! Umur delapan belas tahun kok kayak anak kelas enam SD. Benar-benar si Unyil!" ejeknya.
Mendengar ejekannya, Felisha melotot.
'Dasar Om-Om tukang m***m! Awas aja kalau nanti kesengsem sama aku, pasti bakal aku kasih ganjaran dia!' batinnya.
Melihat tatapan tidak suka dari Felisha, Angga pun memulai lagi aksi kejamnya.
"Apa? Tidak suka saya panggil Unyil?"
"Ti-tidak, Pak. Semua terserah Bapak, saya menurut saja," jawabnya, pasrah.
Padahal dalam hati Felisha, dia sudah tidak tahan lagi untuk berada di depan Angga. Dalam bayangannya, wajah Angga sudah tercabik-cabik oleh kuku-kukunya yang panjang. Kejam.
"Ho-ho-ho, semua terserah saya, ya?" Angga menyunggingkan senyum, "Berarti, kalau saya ajak kamu melakukan hal yang tadi kamu lihat, kamu mau ya?" ledeknya.
Mendengar perkataan Angga, Felisha pun refleks menutup bibirnya. Kemudian muncul sumpah serapah yang sukses membuat Angga terpingkal mendengarnya.
"What?! Dasar Omes! Om-Om otak m***m! Ogah banget ya, enak aja!"
"Emang siapa yang mau sama Unyil? Saya juga ogah kali. Kamu itu bukan tipe saya," ucapnya, disela-sela tawanya.
Angga pun mendekatkan wajahnya pada Felisha, kemudian berbisik, "Kamu ... lebih pantas jadi anak saya."
'What?! Apa dia bilang, anak? Huh! Tak sudi aku punya seorang bapak sepertinya. Dasar Omes!'
***EA***
Next