Bab.3 Kesal

1024 Words
  Bertemu dengan orang asing yang tiba-tiba mengejekmu itu, sangat menyebalkan. Apalagi saat dia mempermasalahkan bentuk tubuh. Beh, rasanya pengen gundulin itu kepala sampai botak! Itulah yang Felisha rasakan saat ini.   "Nyil, aku nggak bakalan mecat kamu, tapi dengan satu syarat," ucap Angga, matanya terus memindai tubuh Felisha yang masih saja duduk sejak tadi.   "Apa syaratnya, Pak?" tanya Felisha hati-hati.   "Jadilah OG pribadiku selama sebulan. Selama itu, kau harus menuruti segala sesuatu yang kuperintahkan. Tanpa terkecuali. Bagaimana apa kau setuju?"   "Tapi, Pak, saya ...."   Jauh di dalam hati Felisha menyimpan banyak keraguan, takut kalau atasannya berbuat yang tidak senonoh kepadanya. Ingatannya selalu tertuju pada berita yang pernah di tontonnya kala itu yang mengisahkan tentang OG yang dilecehkan atasannya.   "Aku tidak suka diprotes!" tegasnya, Felisha pun terlihat cemberut.   "Atau ... mau kupecat?" tambahnya.   "Ti-tidak, Pak. Sa-saya akan terima apapun keputusan Bapak." Akhirnya, jawaban itu yang Felisha berikan. Angga pun terlihat senang, mendengar jawabannya.   'Cih! Dasar tukang maksa!' Felisha.   Setelah itu, Felisha diizinkan untuk keluar, melanjutkan pekerjaannya. Baru juga menarik gagang pintu, dia sudah kembali dibuat kesal oleh atasannya.   "Nyil!" panggilnya.   Felisha menoleh. "Apalagi, Pak?"   "Ingat, jangan lupa besok, ya. Langsung ke sini!" titahnya.   "Iyaa, Paak!" Sambil geregetan dia menjawab, kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan itu.   .   Matahari sudah masuk ke peraduannya, saat Felisha memasuki gang kecil menuju tempat tinggalnya. Sebuah rumah sederhana yang jauh dari kata nyaman, terpampang jelas di depan mata.   Dia segera berlari, saat mendengar suara tangisan dari dalam rumah. Tangannya refleks membuka pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kecemasan dalam dirinya, tak bisa dia sembunyikan lagi. Apalagi saat melihat Fredy--adik kecilnya--terbaring lemah tak berdaya.   "Fredy kenapa, Ra?" Dengan wajah panik, tangannya meraih kepala adiknya itu, kemudian menaruhnya dipangkuan.   Tatapan paniknya mengintimidasi Rara, adik pertamanya.   "Rara nggak tahu, Kak. Tiba-tiba dia pingsan waktu Rara nyiapin makan malam tadi," isaknya.   "Tapi sebelum itu, dia sempat ngeluh sakit kepala, Kak. Tadinya aku suruh dia tiduran dulu, tapi belum nyampe ke kamar, dia udah pingsan ... hiks." Sambil terus mengusap air matanya, Rara menjelaskan.   Ya Tuhan, sebenarnya Fredy kenapa?   Sambil mengelus pipi adiknya, bulir bening itu melintasi pipinya.   Felisha ingat, tadi pagi adiknya masih baik-baik saja. Bahkan, bocah yang baru duduk dibangku kelas lima SD itu masih sempat tertawa, saat melihat kedua kakaknya kelimpungan, karena terbangun kesiangan.   Dadanya bergemuruh, menahan sesak yang kian mendera. 'Ayah, Ibu, sedang apa kalian di sana? Feli takut. Takut terjadi apa-apa sama Fredy. Feli takut, kehilangan orang yang Feli sayangi untuk yang kedua kalinya,' batin Felisha.   Air matanya berjatuhan, mengingat segala kenangan tentang kedua orang tuanya, juga nasib adik-adiknya.   "Lebih baik, kita bawa saja Fredy ke klinik, Kak. Rara juga takut terjadi apa-apa sama dia," usul adiknya, yang kini genap berusia lima belas tahun.   "Ya sudah, kamu panggil tukang ojek, ya. Biar kakak siap-siap dulu." Mengusap air matanya dengan kasar, kemudian bergegas ke kamarnya.   Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Rara langsung keluar mencari tukang ojek.   Sembari menunggu Rara, Felisha terus saja memanjatkan doa pada Yang Kuasa. Berharap diberi keajaiban, melihat adiknya terbangun kembali.   Sekitar lima menit kemudian, Rara sudah kembali dengan seorang tukang ojek yang biasa dia lihat di tikungan komplek. Mereka langsung membawanya menuju klinik terdekat   .   Di tempat lain, rasa kesal sedang bergelayutan di mana-mana.   "Sayang, akhirnya kamu pulang juga." Seorang wanita separuh baya menyambutnya di depan pintu.   Tanpa menjawab perkataannya, dia langsung menyambar tangan wanita itu, kemudian menciumnya.   "Angga capek, Mah. Mau istirahat." Berjalan melewati Mamanya, tanpa melirik seorang wanita yang tengah menantinya sejak tadi.   Mamanya pun mengejar, menyejajarkan langkahnya dengan putranya itu.   "Ikut mama sebentar, Ngga. Ada yang mau mama kenalin sama kamu," katanya, sedikit membujuk agar apa yang dia usahakan selama ini tidak sia-sia.   "Angga capek, Mah." Terus berjalan menaiki tangga, tanpa menoleh pada mamanya.   "Sebentar aja, Ngga," pintanya sedikit memaksa, karena dia memamg tak mau anaknya selalu sendiri dalam sepi.   Angga menghentikan langkahnya, kemudian menoleh, "Mah ... harus berapa kali lagi Angga harus bilang sama Mama? Berhenti ikut campur masalah wanita pilihanku, Mah!" Suaranya meninggi, ini bukti kalau sebenarnya dia tidak mau diganggu sama sekali.   Tanpa ingin mendengar jawaban Mamanya, dia pun segera berlari memasuki kamarnya. Kemudian membanting pintunya, asal.   Mamanya yang melihat kelakuan anaknya seperti itu pun hanya bisa menggelengkan kepala. Mencoba memahami isi hati putranya yang sesungguhnya.   "Sampai kapan kamu akan bertingkah seperti ini, Ngga? Mama rindu kamu yang dulu," gumamnya.   Kemudian segera menuruni anak tangga, dan menghampiri seorang wanita yang tengah duduk di sofa.   "Maafkan tante, Sis. Tante nggak bisa bujuk anak tante untuk sekedar kenalan sama kamu. Kamu lihat sendiri, 'kan, kelakuannya tadi bagaimana?" sesalnya, sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.   "Nggak papa, Tante. Siska yakin, suatu saat pasti Kak Angga bakalan mau kenalan sama aku. Bahkan mungkin, bisa menjadi suami Siska," ucapnya dengan penuh percaya diri, dan bayangan yang begitu indah di dalam angannya.   "Tante doakan, semoga seperti itu ya, Sis. Tante sangat berharap, kamu jadi menantu tante," ungkapnya, kemudian memeluk Siska dengan manja.   .   Di dalam kamar, Angga masih saja terlihat kesal dengan kelakuan mamanya yang selalu saja membawa perempuan untuk dijodohkan dengannya.   "Mama nggak bosen, apa, tiap hari bawa cewek mulu? Kaya nggak laku aja aku," bergumam, sambil melepas dasinya. Kemudian melemparnya ke sembarang arah.   "Huh! Coba aja waktu itu kamu nggak pergi, Key." Menghela napas perlahan, tatapannya tertuju pada gadis berambut pirang yang tengah tersenyum menatapnya.   Kemudian tangannya terulur, mengusap kaca pada bingkai itu. Dalam hatinya terus terucap janji, yang tak akan pernah dia ingkari.   "Nggak ada yang bakal bisa gantiin kamu, Key. Aku pastikan, hati ini akan tetap utuh hanya untukmu. Berbahagialah di sana."   Angga meraih bingkai foto itu, mengusapnya dengan lembut, kemudian menciumnya tepat di kening gadis itu.   "Always love you, Key. I miss you."   Kemudian segera ia letakkan kembali di atas nakas. Menjatuhkan diri di atas ranjang, dan terpejamlah matanya. Meredakan rasa penat yang sempat menyelimuti raganya.   .   Esok harinya, dia berangkat lebih awal dari biasanya. Tujuannya, ingin memastikan apakah karyawan barunya itu bisa bersikap disiplin atau tidak.   Namun, kenyataannya dia sudah menunggu terlalu lama, tetapi tetap saja yang ditunggu belum juga datang. Bahkan, ini sudah lewat dari jam masuk yang seharusnya.   "Sial! Dia datang terlambat! Lihat saja, aku pasti akan menghukumnya nanti!" desisnya, sambil sesekali tangannya menandatangani dokumen yang berada di depannya.   ***AE***   Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD