"Dari mana saja, kamu?!" melirik, sambil menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya.
Felisha yang baru saja menutup pintu sempat terkejut karenanya. Kemudian menunduk dan beralih pada sapu yang terletak di sudut ruangan. Mengambilnya, dan menyapu lantai yang penuh dengan remahan kertas itu tanpa ingin menjawab pertanyaannya.
"Hey! Kau bisu atau tuli?!" Menghentikan aktivitas, dan meliriknya tajam.
"Saya habis keluar sebentar, Pak. Ada sedikit urusan," menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
"Kalau ngomong, lihat lawan bicaramu!" titahnya.
Felisha pun menghentikan aktivitasnya, kemudian beralih menatap atasannya sekilas.
"Saya habis keluar sebentar, Pak. Ada sedikit urusan," ulangnya.
"Siapa yang nengizinkanmu keluar?"
"Tidak ada."
"Terus kenapa kamu keluar?!"
"Kan ini waktunya istirahat." Masih dengan santainya dia menjawab.
"Kamu buta?! Lihat, jam berapa sekarang?!" Angga begitu geram pada karyawannya itu. Sudah tahu salah, masih saja menjawab dengan santainya.
'Ya Salam ... kenapa aku punya atasan seperti ini, sih?' batin Felisha.
"Maafkan saya, Pak. Saya terlambat." Membungkuk, kemudian kembali seperti semula dan menundukkan wajahnya.
"Kamu ...!" Baru akan berteriak memarahinya, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Akhirnya dia bersuara, sedangkan Felisha masih pada posisi semula.
Derit pintu terdengar, lalu muncullah sosok yang sangat dia kenal. Berjalan dengan santainya, dan tersenyum dengan riang.
"Ngga, gue punya kabar baik buat lo." Sambil berjalan, kemudian pandangannya jatuh pada gadis mungil di hadapannya.
"Hey! Bukannya tadi kamu di rumah sakit, ya? Kupikir kau sakit, ijin nggak masuk kerja." Sambil terus memindai gadis di hadapannya.
"Rumah sakit?" Kini Angga yang terdengar kaget.
"Iya. Tadi gue liat dia lagi ngobrol sama Dokter Erina. Gue pikir dia sakit serius. Lo tau, 'kan, Erina itu dokter spesialis apa?"
Mendengar jawaban sahabatnya itu, Angga pun beralih menatap Felisha.
"Kamu sakit?" selidiknya.
Felisha terdiam. Mengingat kejadian di rumah sakit, rasanya enggan sekali untuk menjawab.
"Jadi lo nggak tahu, kalau dia pergi ke rumah sakit?" Andi balik bertanya.
Angga menggeleng.
"Cih! Atasan macam apa lo, karyawan sendiri lagi sakit, malah nggak tahu apa-apa!" ejeknya.
"Ya, mana gue tahu. Dia aja nggak ngomong. Pergi main nyelonong aja. Untung nggak langsung gue pecat." Angga tak mau disalahkan.
'Memangnya dia siapa, sampai perlu kuperhatikan?' batin Angga, sambil memutar bola mata.
"Nyil, jawab! Kamu sakit?" Angga mengulangi pertanyaannya, Felisha pun menggeleng. Masih enggan membuka suara.
"Terus ngapain ke rumah sakit?" Semakin gereget Angga dibuatnya.
"Adik saya ...." Tak terasa, berlinang sudah air matanya, tanpa dapat ia cegah sedikit pun.
"Hey! Kenapa menangis?" Andi mendekat.
"Ngga, kayaknya lo terlalu kasar deh sama dia. Dia kan masih kecil, lo udah main bentak-bentak aja." Sambil meraih bahu Felisha, tapi dia menolak dengan menggeleng kuat.
'Duh, kalau nangis gini, 'kan jadi makin repot. Mending kalau dia sedikit ngelawan kayak kemarin, 'kan mau neriakin dia kayak apa juga nggak masalah. Nah ini?' Hati Angga terus berkecamuk dilanda kebingungan.
"Hey! Nyil ... Unyil!" Sambil menggoyangkan bahu Felisha, tapi dia tetap kekeuh.
"Eh, Ngga. Lo ganti juga, nama dia?"
Yang ditanya hanya mengedikkan bahu sebagai jawabam, tak ingin terlalu panjang masalahnya.
"Wahh ... nggak bener lo!" potesnya.
"Nyil! Oh ... ayolah, berhenti menangis. Gue nggak jadi marahin lo deh." Mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Seperti mendapat angin segar, pelan-pelan Felisha menghentikan tangisannya.
"Cih! Ternyata nurut juga, setelah gue bilang kaya gitu," gumamnya, sedikit kesal. Tapi masih cukup untuk terdengar oleh mereka berdua.
"Lo nggak boleh ingkar janji, loh, Ngga. Udah ya, gue keluar dulu. Selesain masalah kalian berdua. Anggap aja lo lagi ngomongin Si Derra, adik lo yang bandel itu." Setengah berbisik di akhir kalimat, kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
"Sialan lo, Ndi!"
Sempat kesal, tapi setelah dipikir-pikir, Andi ada benarnya juga. Mengingat betapa bandelnya adik bungsunya itu.
Pelan-pelan, dia kembali duduk, setelah mendudukkan Felisha di kursi depannya.
"Ceritakan, kenapa kau bisa sampai ke rumah sakit!" Dia berkata, dengan nada dibuat selembut mungkin.
"Adik saya, semalam masuk rumah sakit, Pak."
Felisha mulai bercerita, setelah awalnya menimbang terlebih dahulu, bercerita atau tidak. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin lebih baik berbagi dengan orang lain, daripada menyimpannya sendiri. Siapa tahu ada yang bisa membantunya keluar dari masalah ini.
"Dia sempat pingsan, sebelum akhirnya kami membawanya kesana."
"Dia sakit apa?" Angga mulai penasaran.
"Tadi, hasil CT Scannya keluar."
"Dia sakit apa?" ulangnya.
"Ternyata, dia mengidap ... tumor otak." Luruhlah air matanya, kali ini dia benar-benar tak mampu membendungnya.
"Tumor ... otak?" Sempat tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, tetatpi Felisha mengangguk dengan mantap.
Kemudian sekelebat bayangan lima tahun silam, kembali melintas di otaknya.
.
"Di, anterin Key ke rumah sakit, yuk!" Sambil bergelayut manja di pangkuannya.
"Kamu kenapa, Key?" Sambil menutup laptop, menghentikan pekerjaannya.
Tangannya terulur menyentuh dahi kekasihnya itu. "Kamu Sakit?" Dia bertanya, setelah merasakan suhunya lebih tinggi dari biasanya.
"Nggak tahu, Di. Dari kemarin rasanya pusing banget." Sambil memegang kepalanya.
Melihat kekasihnya terlihat lemah seperti itu, Angga, atau biasa kekasihnya memanggil dengan sebutan Adi, dia merasa begitu sakit.
Kemudian ... cup. "Kita ke rumah sakit sekarang, ya." Setelah melepas kecupan hangat di dahinya.
Kayla pun tersenyum, kemudian mengangguk menyetujui. Dia sangat bersyukur, bisa mendapat seorang kekasih yang begitu menyayanginya disisa-sisa hidupnya.
Sebenarnya dia sudah tahu apa penyakitnya, tetapi enggan memberitahu Angga. Biar tahu sendiri saja dari dokter, agar tak melihat masa-masa tersedihnya, pikir Kayla.
Dan saat-saat itu pun telah tiba.
Kayla terbaring di rumah sakit, setelah sebelumnya pingsan saat dalam perjalanan.
Angga terlihat begitu cemas. Mondar-mandir di depan pintu, menunggu hasil pemeriksaan.
Dua jam berlalu. Rasa lelah dan letih telah menyergapnya, tetapi dia tetap bertahan pada posisi itu. Menunggu dokter yang menangani Kayla keluar.
Dia menoleh, setelah mendengar suara pintu terbuka. Terlihat, Dokter Erina--sahabatnya semasa SMU--keluar dengan beberapa map di tangannya. Dia pun segera menghampirinya.
"Gimana keadaan Key, Rin?" Dengan wajah panik, dia bertanya.
"Kayla, saat ini kritis, Ngga. Kamu harus sabar." Mengusap bahu Angga, mencoba menenangkan.
"Sebenarnya dia sakit apa?" Menyugar kepalanya dengan kasar.
"Kamu belum tahu?" Yang ditanya malah balik bertanya. Angga menggeleng.
"Ini hasil CT Scannya." Sambil menyerahkan map berwarna cokelat. Angga pun menerima dan segera membukanya.
"Dia ... mengidap kanker otak stadium akhir. Ada tumor ganas yang bersarang di otaknya." Dokter Erina menjelaskan.
Seperti petir yang menyambar tiba-tiba, Angga tersentak karenanya. Tubuhnya lunglai, luruh bersama buliran bening yang meluncur dari kelopak matanya dengan tiba-tiba.
Dia mencoba bersandar di dinding, tetapi tenaganya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dia ... rapuh. Tak sanggup menerima kenyataan ini.
Dokter Erina berjongkok, "Kamu yang sabar, Ngga." Sambil mengusap bahu sahabatnya itu, mencoba menguatkan.
"Apa dia masih bisa disembuhkan?" tanyanya, mencoba mencari celah angin segar.
"Kemungkinannya sangat kecil," jawabnya, sambil menggeleng lemah.
"Ya Ampun, Key! Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku? Seharusnya, aku bisa bahagiain kamu disisa hidupmu ini!" sesalnya.
Kemudian tatapannya beralih pada Dokter Erina. "Rin, tolong bantu aku selamatkan dia!"
"Tapi kemungkinannya sangat kecil, Ngga."
"Aku nggak peduli, pokoknya dia harus sembuh!"
"Baiklah, akan kucoba. Tapi kamu harus tetap menyiapkan hati, kalau seandainya terjadi suatu padanya nanti." Kemudian berlalu meninggalkannya sendiri.
Angga berdiri, menuju pintu kamar di mana Kayla berada. Mengintipnya melalui kaca kecil di pintu itu.
"Kanapa, Key? Kenapa kau berbuat seperti ini sama aku? Apa kamu berniat meninggalkanku?" Sambil mengepalkan tangan dengan kuat.
"Tuhan ... kenapa semua ini harus terjadi?"
***EA***
Next