Bab.6 Ruangan yang Sama

1072 Words
  "Di mana kamar adikmu?" tanya Angga, sambil mengamati sekelilingnya.   Mereka tengah berjalan menyusuri koridor rumah sakit di mana adik Felisha di rawat.   "Di ujung sana, Pak!" jawab Felisha, menunjuk salah satu ruangan.   Matanya menyipit, mencoba membaca tulisan di atas pintu itu.   Ruangan ini ....   .    "Key, bangun, Key! Oh, ayolah ... jangan bercanda begini dong, Key! Katanya kita mau nikah? Aku udah siapin semuanya, Key, tinggal nunggu kamu bangun." Mencoba mengguncang tubuh Kayla yang sudah terbujur kaku.   "Key, aku mohon ... bangunlah!" Angga terisak, sambil memegangi tangan dingin Kayla, cinta pertamanya.   Apa yang lebih menyakitkan dari ini, saat cinta telah berlabuh pada satu hati, namun tiba-tiba pergi tak kembali? Sakit. Itu yang Angga rasakan saat ini.   "Yang sabar, Nak. Ikhlasin Kayla. Dia pasti sudah tenang di alam sana." Ayah Kayla mencoba menguatkan, walau dirinya juga merasa kehilangan putri sulungnya itu.   Angga masih terisak di sampingnya, mengeluarkan semua kegundahan di hatinya. Kemudian Dokter Erina mendekat, membawa sebuah amplop berwarna merah jambu di tangannya.   "Udah, Ngga. Kamu nggak boleh terus-terusan kayak gini. Kayla pasti akan sedih, kalau tahu orang yang dia sayangi begitu terpuruk kerenanya," ujar Erina, sambil mengusap bahunya.   "Oh iya, ada yang Kayla titipkan buat kamu, ini." Menyerahkan secarik amplop di tangannya.   Tangan Angga terulur, kemudian meraihnya. Perlahan, dia membuka amplop itu, kemudian mengambil selembar kertas di dalamnya.   "Dear Adi yang Tercinta,   Apa kabarmu, Sayang? Aku harap kau baik-baik saja. Saat kau menerima surat ini, pasti aku sudah tiada. Maafkan aku, karena tak sempat pamit kepadamu.   Sebenarnya aku sudah lama tahu, kalau hidupku sudah tidak lama lagi. Tapi bersama denganmu, aku merasa bahagia. Aku tidak ingin kebahagiaan kita lenyap, hanya karena kau tahu penyakitku yang sebenarnya. Maka dari itu, kusembunyikan semuanya darimu.   Tapi percayalah, Sayang. Aku selalu mencintaimu, sampai kapanpun. Aku mohon, jangan tangisi aku. Karena itu semakin membuatku terluka.   Satu pesanku. Carilah wanita yang benar-benar tulus mencintaimu, bukan karena harta atau yang lainnya. Percayalah, di luar sana pasti kau akan menemukan wanita yang lebih baik dariku.   Sekali lagi, maafkan aku.   Dariku, yang selalu mencintaimu. Kayla."   Angga mendekap surat itu, kemudian menangis sesenggukkan. Ada sesal di hatinya, kenapa tidak dari awal dia mengetahui keadaan kekasihnya itu. Sampai akhirnya dia harus merelakan kepergian orang yang sangat dicintainya.   Sejak saat itu, dia berubah menjadi orang yang dingin. Hatinya seperti mati, tak pernah mau mengenal cinta lagi. Bergaul dengan wanita, hanya untuk kepuasan semata. Selebihnya, tak ada lagi cinta yang tersisa. Semua sudah dia berikan pada satu wanita. Kayla.   .    "Pak, Pak. Hallo? Kita sudah sampai." Felisha mengibas-ibaskan tanggannya di depan wajah atasannya.   Angga yang tadinya melamun, kini tersadar. Kemudian menatap tajam pada Felisha, yang dalam benaknya, tidak tahu sopan santun.   "Kita sudah sampai, Pak," ulangnya.   "Hm!" jawab Angga.   "Bapak ... mau masuk?" Felisha bertanya dengan ragu.   Angga melamun kembali, pikirannya melayang lagi. Namun, segera tersadar saat pintu terbuka dari dalam.   "Loh, Angga?" Dokter Erina sedikit terkejut dengan seseorang yang kini berada di depannya.   "Erina?" Angga juga kaget, walau sebelumnya Andi pernah mengatakan padanya, kalau Erina yang menangani adik Felisha. Sepertinya dia lupa.   Tanpa menghiraukan keterkejutan masing-masing, Felisha tetap menanyakan keadaan adiknya itu.   "Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanyanya.   "Keadaan adikmu semakin memburuk. Dia harus segera di operasi untuk mengangkat tumor yang bersarang di otaknya. Kalau tidak, saya tidak bisa jamin kalau dia bisa disembuhkan," terang Dokter Erina.   "Berapa biaya operasinya, Dok?" tanya Felisha.   "Biayanya sekitar--" Belum juga Dokter Erina menjelaskan, Angga sudah memotongnya.   "Lakukan saja operasinya, tidak usah memikirkan biaya. Aku yang akan menanggungnya," ujar Angga.   Felisha terkejut, seperti ada angin segar yang tiba-tiba menerpanya. Akan tetapi, dia masih ragu dengan kebaikan atasannya itu.   "Tapi, Pak. Apa tidak--"   "Kau mau adikmu meninggal, hah?!" Tiba-tiba suara Angga meninggi, membuat kedua wanita di depannya terkesiap.   Felisha bergetar. Ini pertama kalinya dia melihat atasannya begitu marah. Padahal tadinya dia hanya ingin bertanya, apakah tidak merepotkan. Akan tetapi, malah begini jadinya.   "Angga, kamu kok--"   "Sudah, Erina, lakukan yang terbaik! Aku tidak mau hal yang buruk terjadi padanya."   Setelah memberi perintah, Angga segera berlalu. Pikirannya berkecamuk, mengingat kejadian yang telah lalu. Entah kenapa, rasanya dia tidak ingin melihat karyawannya kehilangan orang yang dia sayangi. Apalagi dengan kasus yang sama, seperti yang dialaminya.   "Dokter, bagaimana ini?" Felisha masih bingung.   "Kami akan melakukan yang terbaik, Felisha. Percayalah, apa yang Angga katakan adalah sungguh-sungguh," jawab Dokter itu, menenangkan Felisha.   "Oh iya, kok kamu bisa kenal sama Angga?" lanjutnya.   "Saya OG di kantornya, Bu." Felisha menjawab.   'Pantas saja dia peduli, ternyata karyawannya. Apalagi ini kasusnya hampir mirip seperti lima tahun lalu. Semoga kau bisa kembali seperti dulu, Angga. Tidak dingin lagi pada setiap wanita,' batin dokter itu.   "Oh ... ya sudah, jangan takut. Sebenarnya Angga itu orang yang baik, hanya saja masa lalunya yang membuat dia jadi keras seperti ini." Felisha mengangguk mendengarkan penjelasan dokter itu.   .    Beberapa hari setelah operasi, keadaan Fredy--adik Felisha--sudah terlihat baik dari sebelumnya. Operasi berhasil, tentu saja mengundang kebahagiaan tersendiri bagi Angga. Karena dia berhasil menyelamatkan satu nyawa dengan uangnya. Uang yang seharusnya menjadi sumber kehidupan bagi dia dan mendiang calon istrinya.   Felisha sangat berterima kasih sekali. Berkat atasannya itu, dia bisa kembali melihat senyuman adik bungsunya.   "Sekali lagi terima kasih ya, Pak. Berkat Bapak, keadaan adik saya menjadi lebih baik," ucapnya, terus mengulum senyum di depan meja atasannya itu.   "Kamu jangan senang dulu, di dunia ini tidak ada yang gratis," ujarnya, menyunggingkan senyum liciknya.   Felisha terkesiap. 'Seharusnya dari awal aku tahu, kalau yang dia lakukan itu tidak tulus. Hah, walau bagaimanapun, dia sudah menyelamatkan adikku. Aku harus membalas semua budinya,' batinnya.   "Tenang saja, Pak. Saya pasti akan mencicilnya tiap bulan."   "Tidak perlu."   "Loh, kok--"   "Karena dirimu sendiri yang akan jadi bayarannya." Tersenyum miring, menatap Felisha.   "Maksud Bapak?" Sedikit bingung, karena dia memang belum berfikir sejauh itu.   "Ikuti saja semua perintahku. Sekali kau membantah, aku akan menagihnya." Sesudah itu, Angga segera meninggalkan ruangannya.   Sedangkan Felisha, masih bingung dengan apa yang baru saja diucapkan atasannya. 'Maksudnya apa, coba?' batinnya.   Kemudian dia segera melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan seluruh ruangan itu. Kebetulan Angga pergi dengan cepat, akhirnya Felisha bisa bekerja dengan santai.   .    Di ruangan lain.   "Andi, tolong lakukan penyelidikkan tentang Felisha dan keluarganya," pintanya.   "Wuih, tumben. Ada apa gerangan, Bapak Angga Hadi Prawira mau menyelidiki keluarga seseorang?" Andi malah menanggapinya dengan bercanda.   "Lakukan saja perintahku. Atau kau mau kukirim ke Afrika?" ancamnya.   "Oh, oh, oh, sabar, Bro! Aku cuma bercanda. Lagian, ngapain kamu nyelidikkin keluarganya? Apa kamu ... jatuh cinta?" tebak sahabatnya.   "Bodoh!" Menoyor kepala sahabatnya itu.   "Cintaku cuma buat Key!" tegasnya. Kemudian segera berlalu entah ke mana.   ***EA***   Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD