Hari minggu Felisha libur. Dia memutuskan untuk menjemput adiknya di rumah sakit, karena memang keadaannya sudah berangsur pulih.
Menjadi kepala keluarga di usia yang masih dini, membuatnya mengalami berbagai kesulitan. Apalagi ditambah dengan peraturan yang diberikan oleh sang direktur, itu membuatnya harus bekerja dengan ekstra.
“Hari libur, wajib absen lewat w******p!” seru Angga pada sore itu, saat dia hendak pulang kantor.
“Iya, Pak.” Felisha mengangguk.
“Handphone harus standby, barangkali saya butuh sesuatu.”
“Baik, Pak.”
“Jangan lupa memberi kabar, kemanapun kamu pergi!”
“Iya, Pak.”
“Kamu mengerti?”
“Baik, Pak.” Kesal Felisha dibuatnya, akhirnya hanya jawaban itulah yang keluar dari mulutnya.
Menjadi OG pribadi untuk seorang direktur yang terlalu posesif, membuatnya harus memperbanyak stok sabar dalam hatinya. Kalau tidak demikian, bisa-bisa dia kehilangan pekerjaannya.
“Iya, Pak! Baik, Pak! Kamu mengerti, tidak?!” bentak Angga, karena kesal sedari tadi hanya dua kalimat itu yang keluar dari mulut Felisha.
Felisha terkejut. “Me-mengerti, Pak,” gagapnya sembari mengelus d**a.
‘Kok bisa, ya, aku dapat atasan yang kayak gini? Suka maksa, galak, posesif. Enek juga ngadepinnya. Tapi, kalau nggak kerja sama dia, mau kerja di mana lagi?’ batin Felisha.
“Kak.” Adiknya memanggil, membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Iya, Dy?”
“Kak Rara nggak ikut jemput Fredy, ya?” tanyanya.
“Enggak, Sayang. Kak Rara lagi ada tugas kelompok yang nggak bisa ditinggalin, kamu pulang sama Kak Feli aja, ya,” ujarnya, Fredy mengangguk.
.
Sampai di depan gang menuju rumahnya, dia dikejutkan dengan beberapa mobil yang berjejer rapi. Heran juga dirinya. Karena selama tinggal di komplek itu, tidak ada seorang pun yang memiliki rumah mewah, apalagi mobil. Ini adalah kali pertamanya dia menyaksikan itu.
Dia segera berjalan melewati gang. Sampai di depan rumahnya, dia kembali dikejutkan lagi oleh beberapa orang berpakaian rapi yang sedang membawa perabotan rumahnya menuju mobil pick-up di depannya.
“Hey! Siapa kalian?!” Felisha berteriak dan berlari menuju rumahnya.
Beberapa orang menghentikan aktivitasnya, dan mengangguk hormat pada Felisha.
“Hey! Mau kalian bawa ke mana barang-barangku?” Felisha mencegah salah satu di antara mereka.
“Maaf, Nona, tolong jangan ganggu kami. Kami hanya menjalankan perintah saja,” jawab orang itu.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
“Atasan saya.”
“Siapa atasanmu?”
Felisha tidak mendapat jawaban, hanya gelengan kepala lah yang dia terima. Dia benar-benar kesal dibuatnya, sampai-sampai dia lupa kalau adiknya tidak lagi bersamanya.
“Loh, Fred, Fredy! Kamu di mana?” Berteriak, mencari sekelilingnya.
“Hey, di mana adikku?” Dia bertanya pada salah satu orang, yang ditanya malah menggeleng.
‘Ya ampun, di mana Fredy, dan kenapa orang-orang itu bisa di sini?’ batinnya menjerit.
“Sudah selesai, Nona. Mari ikut saya!” ajak salah satu dari mereka.
Felisha menatap rumahnya, yang bisa dibilang lebih mirip gubuk, sudah kosong tanpa perabotan.
“Hey! Kalian bawa ke mana semua barang-barangku?!” Dia berteriak, tetapi tidak ada yang menjawab.
Beberapa saat kemudian, dia dibawa paksa oleh orang-orang itu. Kemudian dia dimasukkan ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melesat entah ke mana.
.
“Bagaimana keadaanmu, adik kecil?” tanyanya, pada anak kecil di depannya.
“B-baik, P-Pak. Ba-Bapak S-siapa?” Tubuhnya bergetar, menjawab pertanyaan orang asing di depannya.
"Tidak penting siapa saya. Yang terpenting adalah, sekarang kamu bisa tidur dengan nyaman tanpa digigit nyamuk," jawabnya.
Anak itu kemudian menatap sekelilingnya. Rumah yang terbilang cukup mewah, bahkan lebih mewah dari rumah yang pernah dia tinggali bersama mendiang orangtuanya. Di dalam hatinya, dia merasa senang, tetapi juga takut karena tidak melihat kedua kakaknya.
"Di-di mana kakak saya?" tanyanya.
"Tenang saja, mereka pasti akan segera tiba di sini," jawabnya.
Tak lama kemudian, sampailah Felisha di tempat itu. Pandangannya menyapu sekeliling. Rumah mewah, dengan ornamen yang begitu indah, mengingatkannya pada rumah mendiang orangtuanya.
'Rumah siapa, ini?' batinnya.
Lalu muncullah sosok itu dari balik pintu. Sosok yang sangat dikenal, sekaligus menyebalkan baginya.
"Selamat datang di rumah barumu, Unyil," ujarnya, menyunggingkan senyum.
"Pak Angga?" Heran dia melihat orang itu.
"Bagaimana, kamu suka?" tanyanya.
"Maksud Bapak?" Felisha tidak mengerti, bahkan semakin terkejut saat melihat siapa yang tiba-tiba muncul dari balik punggung Angga.
"Fredy?" Tak percaya dengan siapa yang dia lihat.
"Kak Feli?" Matanya berbinar, melihat siapa yang datang.
"Jadi Pak Angga yang nyulik adik saya?!" Suaranya meninggi, merah padam sudah wajahnya.
"Nyulik? Hah, kamu terlalu kejam menuduhku!"
"Terus apa? Bukannya memang benar, 'kan, Bapak yang membawa adik saya tanpa pamit dulu? Itu namanya apa, kalau bukan nyulik?" tuduhnya.
"Oh, oke. Kamu masih belum mengerti apa maksudku?"
"Memangnya apa? Seorang Omes sepertimu, yang sukanya ngatur-ngatur, sok berkuasa, semena-mena pada bawahannya! Pasti juga penculik, 'kan?!" Tersulut sudah amarah Felisha.
"Cukup! Bawa gadis itu masuk!" titahnya.
Kemudian Felisha dibawa paksa masuk ke rumah itu oleh orang-orang yang tadi datang bersamanya.
"Lepaskan!" Felisha memberontak, tetapi tenaganya kalah jauh oleh mereka.
"Kau menurutlah, Unyil! Atau akan kutagih semua biaya operasi adikmu itu dengan tubuh mungilmu?!"
Deg! Felisha terdiam, mengingat perjanjian yang pernah dia sepakati. Kemudian dia menurut untuk memasuki rumah itu.
Beberapa saat sesudah semuanya tenang, Angga mulai menjelaskan semua niatnya pada Felisha. Felisha duduk di sofa bersama dengan adiknya. Wajah keduanya terlihat ketakutan, sedangkan Angga menatap dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kamu ingin tahu, kenapa aku menyuruh mereka membawa kamu dan adikmu ke sini?" tanyanya, Felisha mengangguk.
"Aku hanya tidak ingin, karyawanku tinggal di rumah gubuk seperti itu," ucapnya, Felisha tetap diam.
"Jadi, tinggallah di sini bersama adik-adikmu," lanjutnya.
"Perlu kamu tahu, aku sudah memindahkan sekolah adik-adikmu ke sekolah yang lebih dekat dari sini."
Felisha terkesiap. "Kenapa Bap--" Ingin protes, tetapi langsung disentak.
"Aku belum selesai bicara, jadi diamlah!"
Suasana hening seketika.
"Semua perabotan di rumahmu, sudah aku ganti dengan yang baru. Ada beberapa yang aku bawa ke sini, karena mungkin itu barang yang menjadi kenangan bersama orangtuamu." Dia menatap Felisha yang menunduk, kemudian melanjutkan lagi.
"Dan kamu, Unyil. Mulai besok, kamu akan jadi asisten pribadiku. Kudengar kamu sangat berprestasi waktu sekolah. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kecerdasan seseorang hanya untuk menjadi OG. Itu namanya penghinaan."
Menyunggingkan senyum, melihat Felisha sedikit mengulum senyum.
"Jadi, ke manapun aku pergi, kamu akan selalu bersamaku." Angga menyudahi penjelasannya.
"Apa kau mengerti?" tanyanya pada Felisha.
Felisha mengangguk. "Me-mengerti, Pak," jawabnya.
"Ada lagi?" tanyanya.
"Ah, apa? Saya rasa tidak," jawab Felisha.
"Apa kau tidak mau berterima kasih?"
'Ampuun! Ternyata dia mengharapkan itu?!' batin Felisha.
"Te-terima kasih, Pak."
Lalu terangkatlah bibir Angga. Dia tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan hari ini.
***EA***
Next