Felisha memasuki kamar barunya. Kamar dengan ukuran paling besar daripada yang lain. Dia ingat saat terkahir kali sang direktur berpesan.
"Yang ini khusus kamar kamu. Jangan sampai ada orang lain yang masuk, kecuali ... aku!" pesannya.
Mata Felisha membulat. "Maksud Bapak?"
"Tidak ada maksud lain. Ikuti saja perintahku, atau aku akan--" Belum selesai Angga berbicara, Felisha sudah memotongnya.
"Baik, Pak. Saya tahu," jawabnya dengan cepat.
Dia tahu apa lanjutan kalimat itu. Bahkan sudah di luar kepala. Kalimat ancaman yang selalu membuatnya merinding, apalagi di saat hanya berdua dengan direkturnya itu.
"Satu lagi. Semua pakaian sudah tersedia di dalam lemari. Gunakan itu untuk berangkat ke kantor ataupun untuk sehari-hari. Jangan memakai pakaian lamamu, mencemari pemandangan saja!" titah sang direktur.
'Cih! Memangnya pakaianku seburuk itu, sampai-sampai mencemari pemandanganmu? Dasar Direktur ngeselin! Awas aja kalau sampai suka sama aku! Aku kerjain habis-habisan nanti!' batin Felisha memaki.
"Baik, Pak. Terima kasih." Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya.
.
Suasana kamar yang begitu elegan, dengan beberapa perabot yang terbilang cukup mahal, membuat mata Felisha berbinar, serasa dimanjakan. Ini pertama kalinya Felisha tinggal di rumah mewah, bahkan lebih mewah dari rumah mendiang orangtuanya.
Penasaran dengan isi lemarinya, dia pun segera membukanya. Betapa terkejutnya Felisha, saat mendapati belasan baju baru tergantung rapi di dalam sana. Juga beberapa tumpuk bawahan yang cukup memanjakan mata.
Ada laci kecil di dalam sana, dia pun tak melewatkan itu untuk dibuka. Puluhan aksessoris baju dan juga perhiasan, begitu memanjakan matanya. Dia serasa masuk ke dalam toko perhiasan.
Lalu matanya beralih pada rak paling bawah. Ada puluhan dalaman yang tertumpuk rapi di sana. Wajahnya memerah, telinganya memanas merasakan malu yang tak bisa disembunyikan lagi.
'Sampai segitunya si Omes perhatian sama aku. Sampai dalaman pun dia belikan. Dan sialnya, kenapa ukurannya pas banget dengan yang kupunya?' ucapnya dalam hati, sambil tangannya menenteng dua dalaman berbeda jenis.
Lalu netranya tergerak untuk menatap tumpukan pakaian asing yang ada di sana. Tangannya terulur untuk mengambil satu di antaranya.
Betapa terkejutnya dia, saat menenteng baju itu. Baju dengan bahan yang sangat tipis dan juga transparan. Sangat pendek, lebih seperti dalaman, yang bila dipakai dapat memperlihatkan semua bentuk dan lekuk tubuhnya. Lingeria.
Kemudian segera dilemparnya baju itu, dan dia tutup lemari itu dengan cepat. Dia mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar, ada rasa takut yang muncul tiba-tiba.
'Ada apa dengan diriku? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Hah! Ini pasti gara-gara kelakuan si Omes yang nyebelin itu! Sampai-sampai begitu detailnya menaruh barang-barang yang bahkan aku sendiri tidak tahu. Jadi gini, 'kan, akhirnya!"
.
Pagi-pagi sekali Felisha sudah rapi. Dia memakai pakaian sesuai dengan yang Angga minta. Sarapan berupa nasi goreng sudah terhidang rapi di meja makan. Dia pun segera menyantap masakannya bersama dengan kedua adiknya.
Usai sarapan, dia segera berangkat ke kantor, sedangkan kedua adiknya berangkat ke sekolah yang baru. Mereka berdua berangkat dengan mengayuh sepeda yang sudah tersedia di rumah, karena memang jarak sekolahan keduanya tidak terlalu jauh dari rumah.
Sedangkan Felisha sendiri, dia lebih memilih untuk naik angkot, karena ongkosnya yang relatif murah. Walaupun sebelumnya Angga sudah berpesan agar dia naik taksi, tetapi Felisha tidak menghiraukannya.
"Eh, liat tuh si Felisha, OG baru yang kemarin, 'kan?" Kata seorang, saat Felisha memasuki kantor.
Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan yang aneh. Ada yang takjub, ada yang iri, ada pula yang semakin benci.
Gadis manis bertubuh mungil yang dulu menjadi suruhan mereka, kini bahkan jabatannya selangkah lebih tinggi dari mereka.
"Iya tuh, padahal kemarin masih jadi OG. Sekarang liat tuh, pakaiannya juga mahal. Pasti dia jadi simpanannya Pak Direktur," tebak karyawan satunya.
"Dengar-dengar sih, selama sebulan kemarin dia jadi OG pribadinya Pak Direktur. Pasti waktu itu dia manfaatkan dengan merayu Pak Direktur buat jadi Sugar Dadynya."
"Hm, bener tuh. Pasti seperti itu."
Begitulah nyinyiran mereka yang iri padanya. Felisha hanya diam, tak mau menanggapi. Dia langsung saja menuju ruang sang direktur, karena sejak sepuluh menit yang lalu, dia sudah mendapat berbagai peringatan lewat pesan w******p.
[Nyil!]
[Sudah berangkat belum?]
[Nyil, jawab!]
[Nyil, kutunggu lima menit lagi]
[Belum juga datang, kuberi hukuman!]
[Satu]
[Dua]
[Ti ...]
Felisha sampai di depan pintu, langsung dia buka pesannya dan menjawab.
[Saya sudah di depan pintu, Pak]
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
"Selamat pagi, Pak," sapanya.
Terlihat sang direktur sedang duduk di kursinya, dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Menatap ke arah Felisha dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sebenarnya, ada rasa kagum di sana. Gadis mungil yang selalu dia ejek, kini terlihat lebih dewasa dengan balutan jas warna jingga dan rok jeans selutut. Juga high heels yang membuatnya terlihat lebih tinggi dari biasanya.
Angga terpaku. Memandangi Felisha yang berjalan mendekat ke arahnya. Entah kenapa, rasanya ada desiran di dalam hatinya. Seperti melihat seseorang yang paling penting dalam hatinya, ada pada Felisha.
Tiba-tiba saja teringat pesan terakhir dari Kayla. 'Carilah wanita yang baik, yang mencintaimu bukan karena harta atau yang lainnya. Carilah yang lebih baik dariku.'
Matanya berkedip dengan cepat, seperti melihat seseorang yang sangat dicintainya berada di depannya. Angga tersadar, saat melihat lambaian tangan Felisha berada di depan wajahnya.
"Pak. Pak. Woy!" Felisha terus melambaikan tangannya.
"Key ...," lirihnya, tetapi masih tertangkap oleh telinga Felisha.
"Pak. Sadar! Ini Felisha, bukan Key!" serunya.
Kali ini Angga benar-benar sadar. Dia menggeleng cepat, mengusir bayangan Kayla yang berputar di otaknya.
"Duduk!" titahnya kemudian.
Felisha menurut, dia duduk di kursi depan Angga.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya.
"Ehm, untuk tugas pertama, kerjakan ini."
Angga meletakkan setumpuk berkas di hadapan Felisha. Felisha yang melihatnya merasa kebingungan.
"Ini harus saya apain, Pak?" tanyanya.
"Kamu makan!" jawab Angga, Felisha hanya melongo mendengarnya.
"Ya ditulis lah. Ketik ulang semua yang ada di situ," lanjutnya kemudian.
Felisha mengangguk, kemudian mulai mengetik seperti yang Angga perintahkan. Tidak butuh waktu lama, Felisha sudah menyelesaikannya.
Pekerjaan yang biasa dilakukan Angga dengan memakan waktu dua jam, kini hanya butuh waktu satu jam lewat lima belas menit oleh Felisha. Itu berarti Angga bisa menghemat waktu sebanyak empak puluh lima menit.
'Cepat juga ngetiknya. Nggak sia-sia aku pilih dia jadi asistenku,' batin Angga, tersenyum puas dengan hasil yang Felisha peroleh.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Felisha segera berdiri, namun langsung duduk saat melihat kode dari Angga agar ia segera duduk. Setelah itu, Angga menekan sebuah remot di sampingnya, dan ....
***EA***
Next