Pintu terbuka, kemudian muncul sosok itu. Seorang wanita yang sama seperti sebulan yang lalu, datang dengan wajah merah padam. Menatap Felisha dengan penuh kebencian.
"Jadi karena dia, kamu nggak pernah angkat telepon aku, Ngga?!" Marah, menunjuk-nunjuk wajah Felisha.
"Hey, Rin! Bukannya aku sudah pernah bilang, tidak ada wanita yang akan bertahan denganku lebih dari sebulan. Kecuali, dia mampu membuka hatiku," jawab Angga dengan santai.
"Pasti gara-gara dia, 'kan?!" Menunjuk Felisha lagi.
Mendengarnya dituduh sebagai penyebab renggangnya hubungan kedua orang itu, Felisha hanya diam, tetapi dalam hatinya merasa takut. Barangkali nanti wanita itu berbuat nekat kepadanya.
"Tutup mulutmu! Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan dia!" Suara Angga meninggi, membuat Felisha terkejut setengah mati.
Merasa tidak enak hati, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Ingin membiarkan keduanya saling menjelaskan persoalan masing-masing. Namun, di saat Felisha mengangkat tubuhnya, Angga segera mencegah.
"Mau ke mana kamu?" tanyanya.
"Em, mau ke luar," jawab Felisha.
"Nggak usah keluar, sebentar lagi dia yang akan pergi." Sambil menunjuk wanita itu dengan matanya.
Felisha pun akhirnya membatalkan niatnya, dan memilih untuk duduk kembali.
"Apa maksudmu, Ngga? Aku belum mau pergi!" ucap wanita itu.
"Atau, mau kupanggilkan security?" tanyanya.
"Tega kamu, Ngga!"
Tanpa mendengarkan ocehan wanita itu, Angga langsung menekan tombol telepon di sampingnya.
"Panggilkan security untuk datang ke sini!" titahnya, kemudian segera meletakkan kembali gagang telepon itu di sampingnya.
Tak lama kemudian, dua security datang memasuki ruangan. Mereka pun langsung menyeret wanita bernama Airin itu ke luar.
.
Hari sudah mulai senja, Felisha keluar dari kantor untuk pulang. Sedangkan Angga sudah pergi sejak sejam yang lalu, karena ada klien yang menelepon meminta bertemu.
Menjadi seorang asisten itu tidak mudah. Dia harus mengerjakan ini itu sesuai yang diperintahkan oleh atasan. Lebih mending ketika dirinya masih seorang OG, bisa mengerjakan segala pekerjaannya dengan santai. Bisa sambil nyanyi-nyanyi atau sekedar nyinyirin karyawan lain, walau terkadang ada yang semena-mena kepadanya, sih.
Mengingat semua itu, dia jadi rindu pada teman-temannya sesama OG. Rindu makan bareng di pojok dapur, sambil ketawa-ketiwi ala mereka.
Sedangkan sekarang, melamun sebentar saja sudah dibentak, apalagi ketawa-ketiwi? Bisa-bisa dia dikatain orang gila sama direktur yang Omes itu.
Eh, kalau bicara tentang Omes, sejauh ini Felisha belum pernah mendapat perlakuan yang tidak wajar, sih. Hanya ucapannya saja yang sering membuat Felisha merinding dan geleng kepala dalam menanggapinya.
Felisha sampai di rumah pukul enam sore. Adik-adiknya sudah menunggu sejak tadi. Rara sudah menyiapkan makan malam, sedangkan Fredy sedang mengerjakan tugas di ruang belajar.
"Masak apa kamu, Ra?" tanyanya, sambil menarik kursi untuk duduk.
"Sayur bayam sama ayam goreng." Rara menjawab sambil meletakkan sepiring ayam goreng di meja makan.
"Kamu beli ayam? Perasaan kakak nggak ngasih uang banyak ke kamu."
"Enggak, Kak. Tadi ada ibu-ibu yang datang ke sini ngasih belanjaan, katanya dari Pak Angga. Isinya beras, bayam, sama ayam. Ya udah, akhirnya Rara masak itu."
Mendengar penjelasan adiknya, hati Felisha merasa kagum. 'Perhatian juga, Pak Angga. Padahal dengan ngasih tempat tinggal aja, kami udah bersyukur banget, apalagi kalau dikasih segalanya. Serasa punya orangtua lagi," batinnya sambil mengulum senyum.
"Kakak mikirin apa sampai senyum-senyum sendiri?" tanya adiknya, heran.
"Enggak mikirin apa-apa. Udah, panggil Fredy sana, kita makan sama-sama," ujarnya, Rara pun segera memanggil adiknya untuk makan bersama.
.
Di tempat lain, Angga tengah menunggu seseorang di sebuah club malam. Bau alkohol menyeruak di seluruh penjuru ruangan. Beberapa kali dirinya menghisap rokok di tangannya, kemudian mengeluarkan asapnya perlahan.
Tak lama kemudian, matanya menangkap seseorang yang dia tunggu tengah berjalan menerobos di antara kerumunan orang yang tengah mabuk.
Sampai di depan Angga, orang itu segera meletakkan beberapa lembar foto ke atas meja. Angga meraih salah satunya.
"Jadi benar, kecelakaan tujuh bulan lalu memang ada sangkut-pautnya sama perusahaan kita?" tanyanya pada orang itu.
"Benar, Bos. Mereka tidak sengaja melakukannya, tetapi tidak mau bertanggungjawab."
"b*****h! Jadi itu sebabnya kenapa anak-anak itu seperti terlantar, tinggal di rumah yang tidak layak huni?! Seharusnya sudah aku pecat saja mereka dari dulu, jadi tidak melebar ke mana-mana masalahnya!" Angga begitu geram, mendengar penjelasan orang itu.
"Tapi, Bos, mereka sudah mengganti rugi delapan puluh persen pada kita. Apa tidak kejam kalau kita pecat?"
"Bodoh! Kau masih memikirkan mereka?!" Angga menoyor kepalanya, sedangkan dia tetap diam.
Kemudian Angga menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Memejamkan matanya dan sedikit memijit keningnya. Rasa penat seharian menghadapi banyak masalah, membuat kepalanya terasa pusing.
.
Felisha berjalan menyusuri taman, mengikuti langkah sang direktur yang sudah lima langkah lebih jauh darinya. Bentuk tubuh yang terbilang mungil, membuatnya selalu tertinggal jauh dari atasannya. Mungkin julukan Unyil yang Angga berikan padanya memang pas, tidak ada yang salah sama sekali.
Hari ini Felisha disuruh untuk mengikuti Angga ke mana pun dia pergi. Sebagai seorang asisten, tentunya dia harus siap siaga di mana pun bosnya membutuhkan.
Seperti hari ini, dia harus berkali-kali mencatat apa saja yang direkturnya lakukan. Sebagai bukti bahwa selama perjalanan dia selalu memperhatikan atasannya itu.
"Nyil, kemari!" panggilnya, setelah duduk di bangku taman.
"Iya, Pak?" Felisha mendekat.
"Makan ini!" titahnya, sambil menyerahkan sebatang cokelat.
"Buat saya, Pak?" Mata Felisha berbinar, melihat makanan kesukaannya berada di depan mata.
"Hm."
Mendengar jawaban dari Angga, Felisha segera menerima cokelat itu dan langsung memakannya. Baru sekitar tiga gigitan, Angga sudah memintanya kembali.
"Berikan!" titahnya lagi.
"Apanya?" tanya Felisha sambil mengunyah.
"Berikan!"
"Maksud Bapak, ini?" Sambil menunjuk cokelat yang tinggal separuh.
"Hm." Kemudian Angga segera mengambilnya.
"Hey! Bukannya tadi Bapak memberikannya untukku?"
"Memangnya aku bilang suruh kamu habiskan?" jawabnya dengan santai.
"Tapi, 'kan ...."
Hap, potongan terakhir sudah masuk ke mulut Angga. Felisha hanya bisa cemberut melihatnya.
"Apa?" tanya Angga, merasa tak nyaman dengan tatapan Felisha.
"Nggak!" jawabnya kesal.
"Perempuan itu, nggak boleh makan cokelat banyak-banyak," ujar Angga tiba-tiba.
"Memangnya kenapa?"
"Ntar jadi gemuk."
"Memangnya kenapa kalau gemuk?"
"Nggak cantik."
Deg! Wajah Felisha memanas, saat mata keduanya saling bertemu. Ada desiran di hati mereka, tetapi kemudian saling berpaling menyembunyikan rasa masing-masing.
Tiba-tiba dari arah barat, terdengar suara seseorang memanggil Felisha. Dia pun menoleh.
"Andra!" serunya, kemudian melambaikan tangan.
Seseorang yang dia panggil Andra pun mendekat. Dia membawa beberapa tangkai bunga mawar di tangannya.
"Hai, Fel!" sapanya, kemudian menjabat tangan Felisha yang langsung berdiri.
"Hai, Ndra. Apa kabar?" Seulas senyum menghiasi bibirnya.
'Cih! Sama aku dia nggak pernah senyum semanis itu!' batin Angga, kesal melihat keakraban keduanya.
***EA***
Next