Bab.10 Ciuman Pertama

1061 Words
  "Aku baik, Fel." Andra tersenyum simpul, memperlihatkan gigi gingsulnya.   "Syukurlah. Oh iya, sekarang kerja di mana?" tanya Felisha, begitu senang karena bertemu teman lamanya. Apalagi di dalam hatinya pernah ada rasa.   "Ehm ... ini." Ragu, Andra melirik beberapa tangkai mawar di tangannya.   "Apa?" Felisha masih belum mengerti.   Angga yang sedari tadi duduk, akhirnya berdiri. "Dia hanya penjual bunga mawar. Apa hebatnya?"   Deg! Andra terkejut, tidak menyangka kalau akan ada orang yang menghinanya. Felisha pun begitu, melotot ke arah Angga karena dalam hatinya, Angga terlalu kejam dalam mengatakan itu.   Dengan hati yang begitu terhina, Andra bertanya pada Felisha. "Siapa dia, Fel, ayah kamu?" tanyanya.   Langsung wajah Felisha berubah, perutnya seperti tergelitik. Beberapa detik kemudian, pecahlah tawanya. Sedangkan Angga berdecih karena kesal.   "Kenapa tertawa, Fel?" Andra kebingungan.   "Hahahaa. Iya benar, ayah ketemu gede!" Felisha terus tertawa sambil memegangi perutnya.   Angga menjadi semakin kesal, akhirnya dia angkat bicara.   "Enak aja aku jadi ayahnya! Aku ini calon suaminya tahu! Catat itu!" Sambil tangannya meraih pinggang Felisha, memaksanya masuk ke dalam pelukkan.   Andra yang mendengar itu langsung bungkam. Rasanya seperti ada yang menyayat hatinya dengan tiba-tiba. Perih.   Felisha mendelik. "Bukan, Ndra, dia bukan calon suamiku. Dia bohong. Hubungan kami hanya sebatas bos dan karyawan. Itu saja!" terangnya sambil menepis tangan Andra, mencoba untuk lepas dari dekapannya.   "Berani, ya, kamu!" Angga semakin mengencangkan dekapannya.   "Memberontak lagi, berarti kamu sudah nggak sayang sama adik kamu!" bisiknya kemudian, persis di depan telinga Felisha.   Mendengar itu, nyali Felisha menciut. Akhirnya dia diam, tidak memberontak lagi.   "Cepat usir temanmu dari sini!" tambah Angga kemudian, masih dengan suara lirih tetapi mengancam.   Andra yang menyaksikan sendiri bagaimana Felisha memberontak pun akhirnya merasa kasihan dan ingin menolongnya.   "Fel, kamu nggak papa?" tanyanya prihatin.   "Aku nggak papa, Ndra. Mending kamu pulang aja, ya, CALON SUAMI aku moodnya lagi kurang baik," ujar Felisha dengan senyum yang dia paksakan, kemudian memberi penekanan pada kata calon suami.   "Tapi, Fel ...." Andra masih saja ragu.   "Udah, Ndra. Pergi, ya, please!" Wajah Felisha memelas, membuat Andra tak bisa berkata-kata lagi, akhirnya dia pergi.   'Semoga kita bisa bertemu lagi, Fel!' batin Andra sembari terus melangkah menjauhi keduanya.   .    Pukul lima sore, Felisha sudah sampai di depan rumah. Dia langsung keluar dari mobil Angga.   "Terima kasih, Pak, sudah mengantar saya," ucapnya.   Tanpa memberi jawaban, Angga pun ikut keluar. Dengan santainya dia berjalan menuju ke depan rumah Felisha.   "Loh, Bapak kenapa ke sini?" tanya Felisha, perasaannya mulai tidak enak.   Rumah masih dikunci. Felisha tahu, pasti adik-adiknya belum pulang. Rara hari ini ada les, biasa pulang menjelang maghrib. Fredy ikut les piano, pulangnya menjelang maghrib juga.   Semua yang dilakukan oleh adik-adiknya, itu adalah perintah Angga. Dia tidak mau adik-adik Felisha tidak memiliki prestasi. Maka dari itu, dia menanggung semua biayanya.   "Kenapa, nggak boleh? Ini 'kan rumahku juga," ujar Angga, datar.   "Bukan begitu. Tapi, 'kan ...." Ragu, dia mengeluarkan kuncinya.   "Tidak usah pakai itu!"   Perlahan Angga menepis tangan Felisha. Kemudian dia berjalan menuju daun pintu, menempelkan jarinya di samping gagangnya, dan ... pintu terbuka.   "Haahh?" Felisha melongo melihatnya.   Rupanya pintu itu diberi alat pemindaian untuk membuka kunci. Felisha baru menyadarinya hari ini.   "Ayo, masuk!" Angga melangkahkan kakinya dengan santai.   Dengan berat hati, Feliaha mengikutinya masuk ke dalam dengan wajah ditekuk, juga bibir yang di monyongkan.   Sampai di dalam, Angga segera masuk ke kamar Felisha. Namun sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam kamar, dia berseru pada Felisha.   "Buatkan aku kopi, antarkan ke kamar segera!" titahnya..i87   "Dih, itu 'kan kamarku! Kenapa Bapak masuk?" protes Felisha, bibirnya manyun.   "Siapa bilang ini kamarmu?" tanya Angga dengan nada meledek.   "Bapak yang bilang!"   "Kapan?"   "Kemarin!"   "Oh, kemarin, ya? Oke, aku ralat, ya. Sekarang, ini kamar kita!" ujar Angga, kemudian melangkah dengan santainya.   "What?!" Felisha mematung, dia terkejut mendengar perkataan atasannya itu.   "Hey! Jangan bilang kita tidur sekamar, ya!" serunya lagi, tetapi sudah terlambat karena Angga sudah menutup pintu dan menguncinya dari dalam.   "Sial! Nyebelin banget si Omes! Semoga dia cepat pergi dari sini!" umpatnya, kemudian segera berlalu ke dapur.   .    Felisha mencoba menarik gagang pintu. Sudah tidak dikunci ternyata. Dengan perlahan, dia memasuki kamar dengan secangkir kopi di tangannya.   Jantungnya berdegup dengan kencang. Ada rasa takut yang terselip di antara keberaniannya. Dia terus berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi apapun padanya.   Dengan hati-hati, dia letakkan cangkir itu di atas nakas. Pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan.   'Si Omes tidak ada. Lagi di mana, ya?' batinnya.   Lalu terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. 'Dia sedang mandi ternyata.'   Felisha pun segera duduk di tepi ranjang. Pikirannya melayang entah ke mana. Sebentar tertuju pada adik-adiknya yang kini tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Sebentar teringat tentang nyinyiran orang-orang di kantor. Sedangkan yang terakhir teringat pada direktur m***m yang selalu membuatnya kesal, tetapi juga bahagia karena banyak bantuan yang dia terima. Sebelum akhirnya pintu kamar mandi terbuka.   Dengan buru-buru Felisha beranjak hendak meninggalkan kamar, tetapi sudah terlambat. Angga sudah terlanjur memergokinya.   "Mau ke mana, kamu?" tanya Angga.   Felisha menoleh, dan ....   "Aaa ...!!" Dia menjerit, saat matanya menangkap sosok sang direktur di depan pintu kamar mandi.   Angga berjalan dengan santainya. Tubuhnya yang dililit handuk hanya bagian antara pusar dan lutut, selebihnya telanjang. Dengan cepat, Felisha menutup matanya. Dia tidak ingin matanya kembali ternoda.   "Kenapa kamu?" tanya Angga lagi, sembari tangannya sibuk menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.   "Tolong, Pak, kalau mau bicara silahkan pakai baju dulu!" seru Felisha, masih dengan kedua tangan menutup wajahnya.   "Memangnya kenapa?" dengan santainya Angga bertanya tanpa dosa.   "Jangan kotori mata saya yang masih suci!" Felisha berteriak.   "Oh ya? Jadi kau masih suci?" bisiknya, tepat di samping telinga Felisha.   Embusan nafas Angga sukses menggelitik raga Felisha. Membuat bulu kuduknya berdiri, jiwanya melayang entah kemana.   "Biar aku cek dulu, boleh?" ucap Angga, sukses membuat Felisha membulatkan mata, lalu dia menoleh secara tiba-tiba, dan ....   Cup! Bibir keduanya menyatu, setelah sebelumnya saling bertabrakan kening. Angga menyerangnya lebih dulu, membawanya dalam kenikmatan.   Untuk sesaat, Felisha bergeming. Namun akhirnya dia tersadar dan segera mendorong bahu Angga sekuat tenaga dengan kedua tangannya.   "Dasar Omeess!!" jeritnya, kemudian mundur beberapa langkah.   Angga tersenyum miring. Dalam hati dia merasa puas, karena sukses mengerjai karyawannya itu.   "Hhuuaaa ciuman pertamaku!" tanpa sadar, Felisha berteriak. Dia sudah berlinang air mata.   "Wow! Jadi tadi adalah ciuman pertamamu? Wah, beruntungnya aku!" ledeknya, namun Angga merasa bangga dalam hati.   Felisha terdiam, merasa malu telah mengatakannya.   "Tenang saja, aku akan bertanggungjawab, kok!" ujarnya, sembari memakai kemeja.   "Ma-maksud Bapak?" Jantung Felisha berdegup kencang. Ada debaran di dalam sana.   "Besok, aku akan menikahimu!" jawabnya dengan santai.   "A-apa?!"   ***EA***   Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD