Bunga bergegas untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kedai es krim seperti yang dijanjikan oleh Raden Cakra.
Namun dia sangat bingung karena ternyata asisten Raden Cakra hanya membeli pakaian saja, atasan kaos dengan celana jins panjang tanpa ada dalaman dan BH. Terlebih lagi asisten Raden Cakra itu malah beli pampers bukannya pembalut. Benar-benar mem-bagong-kan sekali.
Ohh-Terlele!!!
Usai mandi, Bunga bingung.
"Cakra......"
Panggi Bunga ragu.
"Ada apa?"
Jawab Raden Cakra secepat kilat.
"Sini bentar!"
"Kenapa, lo mau gue mandiin???"
Goda Raden Cakra sambil tersenyum.
"Dasar cowok m***m emang lo ya!!!"
Bunga gondok setengah mati.
"Terus apaan?"
"Gue butuh....."
"Butuh apa?"
"Mau gue pakein bajunya?"
Tawar Raden Cakra sambil membayangkan hal yang seharusnya tidak dibayangkan itu.
"Gue butuh daleman CD sama BH!!!"
Ucao Bunga yang bikin Raden Cakra terbatuk-batuk saking kagetnya.
UHUGK!!!
UHUGK!!!
"APA LO BILANG???"
Ulang Raden Cakra stress.
"Ya habisnya asisten lo cuman beli baju sama celana doang! Disuruh beli pembalut malah dapetnya pampers! Gimana sih?"
Rengek Bunga kesal.
"Bisa gila lama-lama gue kalo sama lo!"
Raden Cakra stress.
Gimana caranya dia bilang ke Radit, coba???
Masa dia minta tolong suruh beliin CD sama BH buat pacarnya???
Malu lah! Bisa diketawain seumur nanti dia.
"Mending telfon temen lo aja deh suruh beli terus bawa kesini!"
Ujar Raden Cakra akhirnya.
"Ohh iya ya?"
Sahut Bunga yang langsung menelpon Frena untuk membawakan bajunya dan perlengkapan lengkap untuk dirinya.
Karena Frena dijemput oleh Radit, asisten pribadi Raden Cakra, maka nggak butuh waktu lama untuk Frena sampai di apartemen milik putra mahkota paling kaya ini.
Bunga pun langsung siap-siap.
"Lo ikut gue ya, Fren?"
Pinta Bunga sambil sibuk sisiran.
Frena bingung.
"Nggak ada, gue mau ngedate sama Bunga!"
Sahut Raden Cakra secepat kilat.
"Ngedate matamu!!!"
Protes Bunga sebel.
"Gue boleh ikut nggak sih?"
Masih aja nanya nih si Frena yang kadang suka nggak peka.
"Nggak usah!"
Jawab Raden Cakra to the point.
"Lo pulang aja sama Radit!"
Jelas Raden Cakra yang langsung main menggandeng tangan Bunga lalu melesat dengan motor gede Harley Davidsonnya yang sudah dibawa oleh anak buahnya ke apartemen.
Bunga hanya diam di sepanjang perjalanan.
Membuat Raden Cakra nggak tenang.
"Lo kenapa sih?"
Tanya Raden Cakra nggak kuat karena didiemin sama Bunga.
"Lo pikir aja sendiri!"
Sahut Bunga jutek.
Raden Cakra mendadak tancap gas yang bikin Bunga ketakutan. Dia pegangan Raden Cakra sekuat yang dia bisa karena takut jatuh saking kencangnya laju motor Raden Cakra.
Lima belas menit kemudian, Raden Cakra memarkirkan moge nya di sebuah kedai es krim tradisional yang sangat melegenda.
Dimana lagi kalo bukan di Kedai Ragusa Es Italia yang terletak di daerah Gambir, Jakarta Pusat yang tidak terlalu jauh dari apartemen Raden Cakra.
Bunga tampak sangat senang karena kedai Ragusa ini adalah kedai langganannya sejak kecil bersama Maminya.
Es krim disini sangat enak karna resep mereka dibuat dengan metode handmade dan dipertahankan turun-temurun sehingga rasanya tetap original.
Bunga duduk di kursi kayu karna memang fasilitas disini hanya ada kursi kayu tanpa ada wifi pula. Hanya ada kipas angin saja tanpa ada pendingin ruangan karna pengelolanya tetap ingin mempertahankan suasana seperti tahun 1932 untuk para pengunjungnya. Tempat ini memiliki interior bangunan bergaya khas era kolonial yang sangat kental.
Di dalam kedai yang bernuansa zaman dulu ini ada berbagai pigura yang berjejer rapi di sepanjang dinding kedai.
Dan pada bagian kanan dinding terlihat foto-foto hitam putih yang menggambarkan rupa kedai Ragusa di Bandung pada tahun 1940-an dan potret Kota Jakarta Kota Jakarta jaman dulu.
"Lo biasa kesini, ya?"
Tanya Raden Cakra sambil duduk di sebelah Bunga.
"Lo sendiri?"
Bunga malah balik nanya.
"Gue biasa kesini sama Nenek gue!"
Sahut Raden Cakra santai.
"Lo marah kenapa tadi di jalan?"
Tanya Raden Cakra sambil menatap wajah Bunga dan dia sibuk memperhatikan bibirnya. Si tukang sosor sudah bersiap nih.
"Ya lo nggak peka banget sama temen gue! Dia kan pengen ikut makan es krim juga!"
Bunga ngambek.
"Ya masa' gue harus bawa orang satu kampung buat ngedate?"
Jeplak Raden Cakra cuek.
"Terserah lo deh, Paijo!"
Kini Bunga males debat karena pesanan dia sudah datang.
Dia memesan varian best seller yaitu spaghetti ice cream yang dibentuk dengan spaghetti dengan taburan sukade dan kacang diatasnya dengan porsi yang sangat besar dan banana split yang disajikan dengan pisang yang ditumpuk oleh tiga scoop es krim coklat, stroberi, dan vanila seta tidak lupa dengan taburan sukade dan siraman saus coklat yang super lezat.
"Gue juga nggak suka membangun hubungan dengan orang lain!"
Tambah Raden Cakra serius.
Bunga sudah tidak menggubrisnya karena dia mulai sibuk melahap es krim di depannya.
"Hmmmm, yummy....."
Ucap Bunga sambil menikmati makanan kesukaannya.
Raden Cakra yang di cuekin itu mendadak berpindah duduknya dan duduk tepat di sebelah Bunga.
Dan tanpa basa-basi, dia langsung menyambar es krim yang sudah ada di mulut Bunga.
Tentu saja hal ini membuat para pengunjung yang lain syok sekaligus baper dibuatnya.
"Anjay...."
Ucap Bunga lirih.
Dia nggak habis pikir sama kelakuan Raden Cakra yang suka main nyosor di tempat umum.
"Ondee Mande......"
Nyaris saja Frena teriak karena terkejut dengan tingkah Raden Cakra yang bucin parah sama Bunga.
Radit buru-buru membekap mulut Frena agar segera diam karena takut acara ngintip dan nguntit mereka ketahuan alias gagal.
Wajah Bunga memerah karena panas dan juga gugup karena dicium tiba-tiba itu. Dia pikir, hal seperti ini hanya terjadi dalam drama korea saja, namun ternyata hal manis serta romantis ini sedang terjadi dalam hidupnya seperti sedang mimpi saja.
"Enak nggak es krimnya?"
Tanya Raden Cakra sambil memandangi wajah Bunga yang terlihat manis dan imut di depannya itu.
"Enak, lo mau?"
Bunga menyuapi Raden Cakra dengan sendok yang lain. Namun Raden Cakra menolak.
"Gue maunya disuapin pake ini!"
Sahut Raden Cakra sambil menghapus noda es krim yang belepotan di mulut Bunga.
Tentu saja hal ini membuat para cewek-cewek iri dengan Bunga. Apa lagi si Frena yang syok berat karena Bunga yang disuapin, dia yang deg-degan setengah mati.
"Jangan macem-macem lo sama gue!"
Ancam Bunga pada Raden Cakra sambil mendelik yang justru bikin Raden Cakra bengek.
"Tapi gue suka banget macem-macem sama lo! Gimana dong?"
Sahut Raden Cakra iseng.
"Dasar grandong emang lo!"
Bunga gondok setengah mati.
"Sekali lagi lo ngatain gue grandong, gue bikin hamil nanti lo!!!"
Bisik Raden Cakra di telinga Bunga yang bikin Bunga terdiam dengan wajah semakin merah.
"Bunga?!"
Panggil seseorang lantang.
Bunga menoleh ke arah suara dan syok.
"MAMI???"
Teriak Bunga kaget.
Mampus deh gue! Tamatlah sudah riwayat gue!
Batin Bunga panik.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya???
❤️Kepincut Pangeran Kulkas❤️