PACTA | 6

1492 Words
Safira mencengkram erat kemeja Sean demi menyalurkan rasa berdebar di dadanya. Ia masih berusaha mencari keberadaan otaknya yang entah tercecer dimana karena dengan bodoh telah membiarkan lelaki itu menciumnya. Bahkan saat telapak tangan besar Sean berpindah menelusuri tengkuknya, naik menuju belakang kepala, dan merebahkan tubuhnya ke atas sofa dengan hati-hati, Safira merasakan perutnya melilit seketika. Sean melepas ciuman itu sesaat, memberi jarak sedikit untuk menatap wajah Safira. Ia tersenyum, mengusap bibir merah yang sedikit membengkak itu dengan ibu jarinya sebelum kemudian kembali menyatukan bibir mereka lagi. Kali ini lebih menuntut, ada lumatan keras yang mampu membuat aliran darah Safira semakin memanas, dan bodohnya, ia malah membalas ciuman itu sama gilanya. Safira melingkarkan lengannya di sepanjang tengkuk Sean, menekannya lebih ke bawah. Sesekali mereka melepas ciuman itu hanya untuk mengambil napas demi memasok oksigen ke paru-paru. Tangan Sean mulai bergerilya menyentuh pahanya, naik untuk mengelus perutnya, semakin ke atas dan melepas dua kancing teratas piyama Safira. Ciuman itu berpindah ke rahang dan turun hingga menuju tulang selangka. Safira sadar betul ini tidak seharusnya terjadi mengingat hubungannya dengan Sean tidak sebaik suami istri pada umumnya. Hanya saja, tubuh Safira seperti merespon lain apa yang otaknya perintahkan. "Sean..." Bahkan bibir itu masih sempat mendesah begitu Sean memberikan gigitan kecil pada kulit lehernya. Safira membelalak, merasakan sebuah remasan kuat dari telapak tangan besar Sean di dadanya. "Ah..." Lagi-lagi nada berbau sensual itu tidak bisa ia cegah keluar dari bibirnya. Ini gila! Safira tidak mengerti mengapa sensasi ciuman itu bisa membuatnya lupa diri. "Se..." Desahan Safira kali ini berhasil membuat Sean tersentak. Seolah kesadarannya terenggut kembali, lelaki itu membuka matanya dan secara refleks beranjak dari atas tubuh Safira lalu menegakan tubuhnya untuk kembali terduduk. Tentu Safira terkesiap atas perubahan sikap Sean yang secara tiba-tiba itu. Ia mengerjap bingung dan ikut terduduk di sebelahnya. Safira masih berusaha untuk menyadarkan diri sekaligus meredam dentam jantung yang menggila saat Sean mulai menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang bertopang di atas paha. Lelaki itu merasakan pening yang sangat luar biasa di kepala. Alkohol benar-benar sudah berhasil merenggut kesadarannya, bahkan hampir membuatnya merenggut kegadisan Safira. Sean berdecak seraya memijat keningnya demi menghilangkan rasa sakit itu. "Pu—sing ... banget?" Safira bertanya, sedikit terbata, masih bingung dengan situasi mereka saat ini. "Ke—kepala lo pusing?" Untuk apa sih ia bertanya ini? Safira meringis pelan. Tidak langsung menjawab, lelaki itu perlahan menoleh ke arah Safira lalu mengulurkan tangannya untuk mengaitkan kembali dua kancing teratas piyama perempuan itu yang tadi sempat ia buka. Safira sedikit berjengit, namum masih membiarkan Sean melakukan itu. Ia sedikit gugup, atau sebenarnya sangat gugup karena nyatanya mereka tidak pernah seintim itu sebelumnya. "Ma—mau gue buatin s**u?" Entah mengapa jiwa istri teladan yang sangat Safira benci kini bangkit lagi. Ia tidak sebaik itu pada Sean, lalu kenapa harus repot-repot menawarkan s**u? Astaga, Safira benar-benar perlu menyiram otaknya dengan air dingin saat ini juga. Sean menarik tangannya kembali setelah dua kancing piyama itu sudah terkait. "Boleh," ujarnya sebelum kemudian menelungkupkan kembali wajahnya di atas kedua tangan. Satu kata dari bibir Sean itu membuat Safira secara cepat beranjak dari sana, buru-buru berlari masuk ke dalam dapur. Di sana, Safira langsung membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air dingin untuk ia tenggak hingga habis. Safira meringis sambil mengingat-ingat kebodohannya barusan. "Ya ampun ... gue kenapa sih? Masa iya gue kerasukan jin? Dimana gue naruh otak gue sebenarnya?" keluh perempuan itu seraya menjedukan kening pada pintu kulkas, berharap setelah melakukan itu otaknya bisa berpikiran jernih. "Bego lo, Fir ... bego!" Setelah puas mengutuki dirinya sendiri, Safira kemudian membuatkan Sean segelas s**u hangat yang telah ia janjikan tadi. Kembali menuju ruang tengah, dimana lelaki itu berada, ia lihat Sean yang bersandar pada badan sofa dengan mata yang terpejam erat. Safira lalu berdehem pelan, meletakan segelas s**u hangat itu ke atas meja. "Minum dulu," ujarnya seraya menggigit bibir. Mata Sean terbuka, menegakan tubuhnya dan menyesap s**u buatan Safira dengan perlahan. Ia lirik perempuan di sebelahnya itu. "Lo tadi ke rumah Mami?" Memutar bola matanya jengah, Safira lantas berdecak. "Ya, menurut lo!?" sentaknya kesal. Aura galaknya kembali lagi. "Lo tuh ngeselin tahu gak! Bikin emosi!" "Sorry karena gue gak jadi jemput lo." "Bukan cuma gak jadi jemput, lo bahkan gak kasih kabar, Se!" dumelnya. Sean mengangguk pelan, lalu meringis saat rasa sakit akibat kegiatannya itu terasa. "Gue minta maaf." Safira terdiam. Bukan maaf sebenarnya yang ia butuhkan, Safira hanya ingin mendengar penjelasan Sean. Tapi, siapa dia harus menerima penjelasan dari lelaki itu? "Gimana tadi? Mami gak nanya yang aneh-aneh kan?" Sean bertanya seraya menolehkan wajahnya ke arah perempuan itu. Safira berdehen gugup sebelum kemudian mengerucutkan bibirnya. "Gak ... tadi Mami cuma ngajarin gue masak, sama ngobrolin lo." Lalu bersidekap. "Elo kenapa gak bilang sih kalo punya alergi!?" Sean yang mendapat todongan pertanyaan seperti itu hanya mengernyitkan alisnya dan tersenyum tipis. "Pas Mami tanya tadi, gue deg-deg an banget," keluh Safira. "Harusnya lo bilang sama gue!" "Elo gak nanya juga." "Ngapain gue nanya coba!?" Alis Sean semakin terangkat tinggi. "Lah, terus apa gunanya gue kasih tahu elo? Masakin gue juga enggak." Ish! Safira kesal kalau sudah kehilangan kalimatnya saat berdebat dengan Sean. "Tahu ah!" Kalau sudah kalah, Safira lebih memilih untuk merancau tidak jelas. Sean terkekeh. "Gue juga gak tahu apa-apa tentang lo, Fir. Apa seharusnya kita saling cerita?" "Buat apa?" "Suami istri memang harus saling tahu satu sama lain kan? Kata temen gue sih gitu." Kai yang pernah bilang seperti itu pada Sean, tiga minggu yang lalu saat ia akan menikah dengan Safira. Safira berdecak. "Itu suami istri beneran, Se. Kita kan cuma bohongan." "Emangnya lo bohongan pas bilang mau nikah sama gue?" Sean menyeringai tipis saat menanyakan itu, membuat Safira menggeram sewot. "Bukan gue, tapi elo." "Kapan gue bohong?" Safira memgerucut, menatap Sean tak mau kalah. "Lo bilang sama Mami soal pertemuan pertama kita, ck, ketemu aja enggak ya! Lo gak dateng padahal gue udah nungguin lo selama lima jam." "Gue gak bohong soal itu." "Alah ... ngeles mulu lo tuh!" cibir Safira yang merasa semakin kesal. Ia tidak pernah lupa tentang hari itu. Sudah dandan cantik-cantik, tapi calon suami tidak juga datang. Sialan memang! "Ya terserah kalo lo mau nganggep kayak gitu." Sean mengedik santai. "Tapi yang jelas gue gak pernah bercanda saat ngucap janji di depan bokap lo." Ck, gombal sekali lelaki di sebelahnya ini. Safira jadi merasa kesal. Sebenarnya, hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani. Safira sendiri merasa bingung. Perjanjian pernikahan yang ia buat sudah ia batalkan, setahun masa pernikahan mereka yang Safira utarakan pun tidak pernah Sean setujui dengan jelas. Lelaki itu masih memiliki luka masa lalu, dan Safira tidak berniat untuk menyembuhkannya. Percayalah, Safira tidak berharap banyak Sean bisa mencintainya, begitu juga sebaliknya. Masa pernikahan yang Safira ajukan semata-mata ia buat demi menjaga harga diri, begitu juga dengan perjanjian pernikahan. Sean pernah menolak dirinya, pernah sengaja membuatnya menunggu. Lalu tiba-tiba saja lelaki itu menyetujui perjodohan mereka, dan kemudian menikahinya. Safira merasa seperti dipermainkan. Apa karena keluarganya dari kalangan kaum misqueen? Katakan karena itu Safira memanfaatkan status pernikahan mereka demi mengeruk uang bulanan dari Sean. Dengan dalih menafkahi, sudah seharusnya kan seorang suami menafkahi istrinya, tapi Safira mungkin lupa kalau seorang istri juga memiliki kewajiban untuk melayani suaminya di atas ranjang. Sial! Mengingat itu membuat Safira merasa bodoh. Kalau bukan karena hutang Bapak yang semakin berbunga, Safira juga tidak akan mengajukan perjanjian seperti itu. Dan untuk berhubungan suami istri, Safira sudah bertekat akan memberikan tubuhnya hanya untuk lelaki yang ia cintai dan juga mencintainya. Mereka tidak saling mencintai, dan mereka juga tidak mencoba untuk itu. Sudah jelas kalau hubungan mereka tidak akan kemana-mana. Jadi, dibanding terperangkap dengan pernikahan yang tidak sehat, Safira berpikir kalau lebih baik mereka berpisah. "Fir." Safira sontak terkesiap, berjengit kaget saat merasakan hangat dari sebuah usapan di wajahnya. "Lo mau apa?" tanyanya takut-takut. Sean tersenyum sayu, wajahnya masih terlihat mabuk dan itu refleks membuat Safira langsung mengambil sikap defensif. "Se—sean?" "Lo tidur gih." Ugh ... manis sekali ucapan Sean barusan, yang tanpa sadar menghasilkan gemuruh di d**a Safira. "Udah malem." Melarikan pandangannya ke arah lain, kemana pun asal tidak menatap mata Sean, Safira lantas berdehem gugup. "Hm ... i—ni, gue mau tidur." "Makasih susunya." Tangan Sean bergerak turun, menelusuri rahang Safira dan berhenti di leher perempuan itu, kemudian mengusap tengkuknya pelan. "s**u lo enak." Eh? Ini s**u yang mana? Kok ambigu sekali ucapan Sean barusan. s**u yang ia buat kan? Bukan yang keluar dari—stop! Ia belum menyusui! "Gue suka." Seketika wajah Safira memanas, bukan hanya wajah, sekujur tubuhnya pun serasa meremang. Sial! Apa yang sudah Sean lakukan padanya?. "Hm ... O—oke." Lalu beranjak buru-buru dari sana, masuk ke dalam kamarnya setelah sedikit berlari. Di dalam kamar, Safira segera menutup pintu dan menguncinya agar Sean tidak bisa masuk. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu dan menekan kain berlapis di depan d**a dengan kuat. "Lo masih hidup kan, Fir?" gumamnya pelan. Astaga! Kenapa Sean tiba-tiba berubah manis sih? Apa ini juga pengaruh alkohol? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD