PACTA | 7

1450 Words
Safira baru saja keluar kamar dan menoleh pada pintu di sebelahnya yang masih tertutup. Bagaimana keadaan lelaki itu di dalam sana? Bisa tidur kah? Atau terlelap sangat nyenyak setelah menciumnya tanpa alasan? Ck, sialan! Semalaman Safira sulit sekali memejamkan mata hanya karena terus mengingat ciuman yang ia dan Sean lakukan. Double sialan! Kalau sudah sadar seperti ini, Safira jadi membenci dirinya sendiri yang bisa bersikap lemah saat Sean melakukan hal semena-mena padanya. Memang bukan ciuman pertamanya, tapi Safira merasa begitu bodoh karena tidak menghindar saat Sean melakukan itu semalam. Menghentakan kaki sambil sedikit menggerutu, Safira lantas memasuki dapur. Ini masih terlalu pagi untuk dirinya beraktifitas, karena sulit tertidur, Safira jadi terbangun lebih awal. Memang menyebalkan, Sean yang mabuk tapi dirinya yang sulit tertidur. Mengeluarkan dua lembar roti dan selai cokelat dari dalam kulkas, Safira berniat membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Masakan yang Mami bawakan tadi malam masih ada, tapi Safira tidak berniat untuk menghangatkan makanan itu. Ia tidak ingin dibuat repot pagi ini. Namun sepertinya tidak dengan lelaki yang baru saja keluar dari kamarnya itu. Begitu suara keluhan terdengar dari luar dapur, Safira tahu satu-satunya yang membuat paginya berantakan adalah sosok itu. "Aduh, Fir ... kepala gue pusing!" Safira langsung mendengkus saat mendengar suara ringisan dari lelaki yang semalam telah mencuri ciumannya. Sedikit banyak ia sudah menyiapkan diri untuk tidak bertindak bodoh seperti semalam. "Fir ... pusing." "Mabok aja terus!" gerutu Safira sambil mengolesi selai cokelat di atas rotinya. "Gilirian pusing nyarinya gue." "Bikinin s**u, Fir, kepala gue sakit banget." Suara itu terdengar lagi dari balik sofa ruang tengah. Safira sama sekali tidak memperdulikannya. Cukup tadi malam ia memperlakukan lelaki itu sebagai seorang suami hingga berakhir dengan sebuah ciuman yang membuat wajahnya memerah dan detak jantungnya yang berdebar cepat. "Ck, gue yakin semalam itu gue kerasukan jin!" dengusnya pelan. "Fir ..." "Bawel deh, Se!" Kali ini ia sedikit berteriak, hingga Sean bisa mendengar suaranya. "Pusing..." keluh lelaki itu lagi Bagaimana tidak pusing, semalam Sean meneguk banyak sekali minuman beralkohol, dan efeknya masih terasa hingga pagi ini. "Siapa suruh lo mabok! Udah deh, jangan banyak ngeluh sama gue, gue gak akan nolongin lo!" ujar Safira dengan kesal. Ya ampun, kenapa sih ia masih saja kesal? Sean beranjak, melangkah dengan tangan memijat kening seraya mendekati Safira yang sedang sibuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Hanya dua lembar roti dan segelas s**u cokelat. "Judes banget anak perawan," cibir Sean yang sudah berdiri di samping perempuan itu. "Perasaan semalem ada yang ngotot gak mau suaminya dipegang-pegang cewek lain. Giliran suaminya minta tolong gak dibantuin." "Suaminya aja gak peduli istrinya pulang naik apa semalam," balas Safira tak kalah menyindir. Ia lantas menggigit sedikit rotinya yang sudah dilapisi selai cokelat. "Elo bahkan gak nanya gue ke rumah Mami naik apa?" ujarnya seraya mengunyah. Sean yang masih merasakan pening di kepala lantas menyandarkan tubuhnya pada meja bar dengan posisi menyamping, membuatnya dengan leluasa memandangi wajah Safira yang sedang asik memakan rotinya sambil duduk di atas stool bar. "Kan gue udah minta maaf." "Maaf lo itu gak guna!" Safira menyentak penuh emosi. "Gak bisa mengembalikan waktu gue yang udah terbuang secara percuma karena nungguin lo!" "Ya udah ... kalo gitu berangkat kerja gue antar." Refleks kedua bola mata Safira berotasi, lalu berdecak dengan bibir mengerucut kesal. "Gak! Makasih. Gue gak akan kena tipu lo lagi!" "Tipu?" "Iya! Elo tuh Tuti, tukang tipu," sindirnya telak. Sean terkekeh geli mendengar sindiran itu. Meski baru dua minggu menjalani biduk rumah tangga bersama Safira, tapi entah mengapa melihat perempuan itu kesal menjadi hiburan tersendiri bagi Sean. "Anak perawan kalo ngambek serem ya?" ejek Sean dengan seringai di bibir. Kontan Safira mendelik ke arahnya, memberi tatapan tajam seolah siap memakannya hidup-hidup. "Apaan sih! Siapa juga yang ngambek." "Nih," Sean mengangkat dagunya. "Anak perawan." Bibir Safira hendak terbuka untuk melemparkan balasan kasar pada Sean yang terus mengejeknya dengan sebutan anak perawan. Tapi, tiba-tiba saja sapuan hangat dari ibu jari Sean terasa menyentuh ujung bibirnya. Kontan Safira membeku, terperangah dengan mata terbuka lebar. Seluruh kalimatnya hilang begitu saja tertelan kembali. Apalagi saat sebuah seringai tercetak jelas di wajah lelaki itu. "Berantakan banget lo makannya," ujar Sean santai sambil menunjukan noda cokelat di ibu jarinya. Safira masih terdiam dengan mata terbuka lebar, dan semakin melebar saat ia lihat tanpa jijik Sean menjilat noda cokelat itu dari jari tangannya. Ya ampun, cokelat itu kan bekas bibirnya. "Manis," celetuk Sean. Seketika Safira tercekat, menahan napasnya. Debar jantung yang ia rasakan tadi malam kini datang lagi, menggetarkan seluruh rongga dadanya. Mungkin bagi Sean perbuatannya itu tidak berefek apapun, tapi tidak dengan Safira yang mendadak membeku. Seperti tersiram air es, tubuh Safira seketika menggigil, anehnya ia malah merasakan panas di sekujur tubuh. "Se—" Tidak peduli pada Safira yang masih mematung, Sean mengambil tangan perempuan itu dan menggigit rotinya sedikit. "Bekas lo enak juga." Ia bergumam dengan mulut mengunyah. Safira benar-benar sudah kehilangan kalimatnya, padahal ia sudah bertekat tidak akan terpengaruh dengan sikap Sean yang mendadak berubah manis. Ya, manis. Sejak dirinya tidak sengaja mengungkit perihal mantan kekasih lelaki itu, Sean mendadak berubah. Anehnya, perubahan itu membuat d**a Safira selalu berdesir aneh. "Ini s**u buat gue ya, Fir?" Tersentak dengan kenyataan, buru-buru Safira menyadarkan dirinya, lalu melepaskan tangan Sean yang masih berada di pergelangan tangannya. "Lo makan roti gue?" "Hm." Sean mengangguk-anggukan kepala tanpa rasa bersalah. "Gue juga mau minum s**u lo." Susu lo? Otak Safira mendadak kotor. Ya Tuhan, tolong sadarkan dirinya sesegera mungkin sebelum jin di dalam tubuhnya mengambil alih kesadarannya dan Sean memanfaatkan keadaan itu. Gue mikir apa sih? Mengerjap cepat, Safira lantas menggeram, menatap s**u cokelatnya yang sudah masuk ke dalam tenggorokan Sean. Ia beralih menyoroti lelaki itu dengan tatapan membunuh. "s**u gue!" Tidak peduli dengan teriakan sang istri, Sean malah terus menenggak segelas susunya hingga tandas, membuat Safira yang melihat itu semakin menggeram kesal. "Lo tuh, ya!" Giginya bergemelutuk dan bibirnya mencebik kesal. "Ngeselin banget sih!" Ia mengepalkan kedua telapak tangannya erat, merasa marah sekaligus tidak berdaya. Sumpah ya, Sean itu apa tidak bisa sehari saja tidak membuatnya kesal? Meletakan gelas kosong itu ke atas meja bar, Sean kemudian menatap Safira sambil tersenyum. "Jangan marah, sayang ... gue kan suami lo," ledek Sean menyebalkan. "Siapa pun pasti gak akan betah punya suami kayak elo!" salak Safira, berpaling dari Sean. Bisa tidak sih, ia mengganti suaminya dengan Cristian Sugiono saja yang selalu mengalah pada Titi Kamal? "Sialan!" gumamnya pelan. "Gue bisa denger loh, Fir," seloroh Sean. Safira lalu mendengkus. "Bodo amat!" "Dosa ngatain suami." "Gak masalah, dosa gue kan ditanggung sama lo!" Safira kemudian memasukan semua rotinya yang tinggal sedikit itu ke dalam mulut, mengunyah tidak sabaran. Deru napasnya sedikit memburu akibat menahan emosi atas ulah Sean barusan, atau mungkin ... sebenarnya Safira sedang berusaha menahan debaran jantungnya yang menggila di dalam sana? "Fir," panggil Sean yang masih betah berdiri di sampingnya. Safira bergeming, tidak berniat menyahut. Anggap saja lelaki itu tidak ada. "Safira." Oke, abaikan saja! Tidak usah diperdulikan. "Fira." Ck, bodo! Sean pasti hanya ingin mengerjainya. "Sayang." Apa?! Menoleh cepat dengan geraman tertahan dan wajah yang memerah, Safira lalu membentak. "Apaan—" Entah ia harus memaki dengan sebutan apa, karena setelah panggilannya mendapat sahutan, yang Sean lakukan selanjutnya adalah menarik tengkuk perempuan itu, lalu mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Sean menempelkan bibirnya sedikit lebih ke sudut bibir Safira. Ada noda cokelat di ujung sana. Safira kontan membelalak dengan tubuh meremang hebat. Ia bahkan tidak bisa berkedip saat merasakan benda lunak itu membelai ujung bibirnya dan menghapus noda cokelat itu dalam sekejap. Ciuman yang awalnya hanya untuk menghapus noda cokelat di bibir, mendadak berubah menjadi lumatan kasar. Safira menahan bibirnya untuk tidak terbuka, tidak ingin Sean menjelajah lebih jauh. Kedua tangannya pun refleks menahan d**a Sean. Dapat ia dengar suara decapan bibir Sean yang memangut bibirnya. Dengan kesadaran yang hampir terenggut, Safira yang tidak ingin kejadian semalam terulang lagi mendorong kuat d**a Sean hingga pangutan itu terlepas. "Lo apa-apaan sih!" Safira menyentak kesal sambil mengusap bibirnya yang basah. "Lo gak bisa cium gue seenaknya kayak gitu, Se!" Sean terkekeh, mengelap ujung bibirnya dengan ibu jari. "Ada cokelat di bibir lo." "Ini pelecehan!" Kening Sean mengernyit seketika. "Sejak kapan suami cium istri disebut pelecehan?" "Sean, gue kan udah bilang kalo kita—" "Apa? Bohongan?" Sean berdecak sinis dengan gelengan kepala. "Gue bahkan punya hak buat nidurin lo saat ini juga, Fir." "Gue bakalan lapor polisi." "Silahkan," tantang Sean. "Gue jadi pengin tahu apa reaksi polisinya saat tahu kalo suami yang nidurin istri sendiri disebut dengan pelecehan." Kedua tangan Safira terkepal erat di atas paha, mencengkram celana bahan yang ia kenakan. Napasnya terdengar memburu dan wajahnya kini terlihat memerah karena menahan emosi. "Tapi lo tenang aja, gue gak akan maksa lo untuk berhubungan badan, gue bakalan tunggu sampe elo sendiri yang nyerahin tubuh lo buat gue."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD