2

1692 Words
2   Gadis sedikitpun tak mengerti kenapa Dewa terlihat sangat membencinya. Tiap kali mereka berdua bertatap muka, Dewa selalu saja menunjukkan ekspresi tidak suka terhadap dirinya. Padahal selama ini menurut Gadis, dirinya tidak pernah merasa punya salah dengan Dewa. Tapi entah kenapa Dewa selalu bersikap dingin terhadapnya. Berusaha tidak perduli, Gadis akhirnya melangkah kembali menuju dimana kelasnya berada. Kakinya yang terayun itu mendadak terhenti, saat suara seseorang yang dikenalinya memanggil dari kejauhan. Hanya sebentar Gadis menoleh kebelakang, sebelum akhirnya kembali mempercepat langkah kakinya seperti tadi. Menghindari Juna. Namun untuk kali ini, Juna berhasil mengejar dan menahan lengan gadis itu. "Dis, kamu kenapa dari tadi ngehindarin aku terus??" Tanya Juna, lalu tidak sengaja melihat memar di pipi kiri gadisnya. Biarpun Gadis sudah berusaha keras menutupi, tetap saja memar itu masih terlihat jelas olehnya. Apalagi dengan jarak sedekat ini dan dengan jenis kulit Gadis yang memang putih bersih. "Loh, Dis. Itu pipi kamu kenapa bisa memar gitu?" "Memar apanya. Ini bukan memar." Gadis berusaha menghindar, dengan melewati Juna. Namun tangan Juna yang berada dibahu dan lengannya itu, cukup menyulitkan Gadis untuk menghindar. "Jun, lepas. Aku beneran nggak papa." "Aku gak akan lepasin kamu, sebelum kamu bilang yang sebenarnya." "Aku udah ngomong yang sebenarnya." Kata Gadis, meyakinkan Juna. "Jangan bilang, ini ada hubungannya sama Dewa? Tadi aku gak sengaja liat kalian berdua bicara." "Ini gak ada hubungannya sama kembaran kamu." "Bener??" "Hmm.." Gadis mengangguk. "Terus itu kenapa pipi kamu bisa kayak gini?" Tanya Juna lagi dengan rasa keingintahuan yang sangat tinggi. Jemarinya terangkat naik menyentuh memar di pipi kiri gadisnya. Otomatis hal itu membuat Gadis meringis sakit. "Jangan di sentuh. Sakit..." "Tuh kan, bener kataku tadi, kalau ini memar. Kenapa bisa kayak gini sih Dis?" Gadis diam, tidak bisa mengelak lagi. "Itu... Ceritanya panjang." "Aku punya banyak waktu buat dengerin." Terdengar bunyi bel masuk kelas. Beberapa murid mulai bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Gadis seakan bisa bernapas lega. Dan menggunakan itu sebagai alasan untuk menghindari pertanyaan Juna barusan. "Eh, udah bel. kita harus masuk kelas." Juna menghela napas kasar. "Okey. Tapi kamu masih harus jelasin ini nanti saat istirahat." Pada akhirnya Gadis hanya bisa mengangguk pasrah. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju kelasnya masing-masing. Selama itu, banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Mengingat Juna ini adalah cowok yang masuk dalam kategori Populer. Apalagi di kalangan wanita. Begitu juga dengan Dewa. Ditambah lagi dengan status Juna dan Dewa yang notabene anak dari pemilik sekolah SMA Adhyastha itu. "Jangan lupa ya nanti. Kamu harus tetep cerita." Juna mengingatkan sekali lagi. Senyum Gadis nampak dipaksakan dengan anggukan kepalanya. Juna mengusap sayang rambut gadisnya. "Ya udah, masuk gih!" Katanya, saat berada didepan pintu kelas Gadis. Gadis menurut. berjalan masuk ke kelas 3 IPS1. Sementara Juna berbalik melangkah pergi menuju kelas dimana anak IPA berada. "Gadiiiiissss!!" Suara melengking itu berasal dari salah seorang teman sebangkunya. Aurel namanya. Aurel adalah teman baik Gadis. Anaknya bisa dibilang sedikit bawel. Memiliki paras yang imut dengan warna kulit kuning langsat. Bermata sipit dan sangat menyukai segala hal yang berbau korea. Entah itu Drama, Film, dan juga musik seperti kpop. Begitu juga dengan make-up dan fasion kesehariannya. "Kok baru datang sih?! Gue pikir Lo gak masuk hari ini." Fikir Aurel, karena tidak biasanya Gadis datang dijam mepet seperti ini. Biasanya Gadis akan lebih dulu datang dibanding dirinya. "Duh, Rel. Bisa gak kamu ngomongnya gak usah sekenceng dan seheboh itu. Liat tuh anak-anak yang lain pada liatin." kata Gadis mengingatkan. Yang sama sekali tak diperdulikan oleh Aurel. "Biarin aja mereka liatin. Mulut-mulut gue juga." Aurel memang begitu, dia sama sekali tidak perduli orang menilainya seperti apa. Jika Gadis adalah tipikal cewek pendiam (disekolahnya) berbeda dengan Aurel yang justru terkesan ceplas ceplos dan terkesan berani saat berbicara. Apalagi ketika ada yang mencari gara-gara dengannya atau saat dimana gengnya Sesil mulai mengganggu teman dekatnya--Gadis. Ia tidak akan berfikir lama untuk membantunya. Gadis hanya menghela napas berat dan hanya diam duduk di kursinya. Tak ingin memperpanjang celotehan sahabatnya. Sembari menunggu guru datang, Gadis mulai sibuk mengeluarkan buku pelajaran pertama, setelah mengaitkan sebelah kiri rambutnya yang terjatuh menutupi sebagian wajah. Aurel yang menyadari ada memar di pipi bagian kiri gadis, seketika bertanya khawatir. "Dis, itu pipi lo kenapa?" "Nggak papa Rel." jawab Gadis singkat, sembari menaruh tas di bawah kolong meja. "Bokap lo ya?" Tebak aurel merasa yakin. Gadis melihatnya sekilas, sebelum akhirnya ia mengangguk membenarkan. Memang Aurel sudah tau jika ayah Gadis sangat tempramen. Itu bukan rahasia lagi. karena memang waktu itu ia kebetulan melihatnya sendiri, Saat Aurel datang kerumah Gadis karena sesuatu hal. Dia juga tau kondisi ibu Gadis yang mengalami gangguan kejiwaan. Ya, hanya sebatas itu Aurel tau. Selebihnya bagaimana kehidupan Gadis yang sebenarnya, ia sama sekali tidak tau. Karena Gadis benar-benar pintar menyembunyikan itu semua. Jelas saja profesi sebagai PSK diusianya yang sekarang, merupakan aib yang harusnya ia tutup rapat-rapat. Bahkan dari beberapa orang terdekat yang menurutnya baik sekalipun. untuk menghindari resiko dari hal-hal yang tidak diinginkan. Aurel tidak membahas lebih jauh lagi. Ia mengerti jika pasti Gadis tidak nyaman dengan itu. Aurel hanya tersenyum manis dan berkata, "Entar pulang sekolah, ikut gue ya?" "Kemana??" "Ke mall. Jalan-jalan sambil cuci mata liat cowok-cowok ganteng. Siapa tau entar ada yang kecantol sama kecantikan gue." Ucap Aurel yang seolah tengah mengalihkan topik pembicaraan yang tadinya sempat membuat raut wajah sahabatnya itu menjadi murung. Gadis melihat Aurel dengan kening mengernyit heran. "Ngapain repot nyari, kalau ujung-ujungnya bakalan kamu tolak juga." pasalnya memang sudah banyak beberapa anak cowok yang nembak Aurel, tapi selalu saja ditolak olehnya. Alasannya simpel, Karena diantara cowok-cowok yang menyatakan perasaan terhadapnya, tidak ada satupun yang memiliki wajah tampan mendekati Taehyung BTS. Apa-apaan?! Aurel hanya nyengir menanggapi ucapan Gadis yang memang benar itu. Netra Gadis terarah pada sebuah bangku kosong yang berada dua deret dari samping bangkunya. "Hayo! Ketahuan kan lo, kalau lagi liatin bangkunya si Dewa." Ujar Aurel, mengejutkannya. Namun Gadis tak menanggapi dan hanya mengalihkan pandangan kedepan. Aurel mendaratkan satu tangannya di bahu kanan Gadis. "Dis, gue tau kalau si Dewa tuh saudara kembarnya Juna. Tapi ya masak gara-gara itu, lo ngegalau pas liat dia gak masuk kayak gini." "Ngomong apa sih?! siapa yang ngegalau coba." "Lah, tadi barusan?" "Aku tuh cuman heran aja sama Dewa, kenapa gak masuk kelas hari ini. Padahal tadi jelas-jelas dia sekolah." "Cie... perhatian banget buk, kayaknya." Ujar Aurel sembari menaik turunkan alis matanya berulang kali. Gadis memutar bola mata, berbarengan dengan sang guru yang akhirnya masuk kelas dengan sapaan khas selamat pagi, lalu memulai materi pelajaran pertamanya. Beberapa jam berlalu. Pelajaran sudah berganti mendekati waktu jam istirahat yang sebentar lagi akan berbunyi. ditengah pelajaran yang masih berlangsung itu, ponsel gadis bergetar. Diam-diam Gadis membuka layar ponselnya di bawah meja. Mendapati sang ayah yang tengah menelfonnya. Karena ini di tengah pelajaran, Gadis tentunya tidak mengangkat panggilan itu dan hanya mendiamkannya lagi, lagi dan lagi. Karena memang ayahnya itu terus saja menelfonnya berulang-ulang. Hingga sebuah pesan masuk dari ayahnya, memaksa Gadis untuk mengangkat tangannya tinggi-tinggi⸺meminta izin pada sang guru untuk pergi ketoilet sebentar. "Ya sudah. Tapi cepat ya?" "Makasih pak." Gadis beranjak cepat dari tempat duduknya untuk keluar kelas. Aurel memperhatikan kepergian Gadis sampai temannya itu menghilang di belokan pintu. Tumben. Gak biasanya Gadis izin ke toilet pas lagi pelajaran kayak gini. Batinnya heran. Tentu saja Gadis tidak benar-benar pergi ke toilet dan hanya menggunakan itu sebagai alasan agar bisa mengangkat telfon dari ayahnya. Rooftop. Adalah tempat yang ditujunya saat ini. Gadis berfikir, atap sekolah adalah tempat yang paling aman untuk mengangkat panggilan, tanpa khawatir adanya orang yang akan mendengar pembicaraannya nanti. Gadis membuka pintu dengan cara mendorongnya. Menyingkirkan batu bata di bawah pintu menggunakan satu kakinya, supaya pintu dapat tertutup dengan sempurna. Suara bising dari pintu yang tertutup, membuat satu orang lain yang lebih dulu berada di rooftop itu menjadi terganggu. Hisapan rokoknya terhenti saat netranya bertemu dengan seorang cewek yang dikenalnya. Bahkan Gadis sampai tersentak kaget saking terkejutnya. Dewa? Nga-ngapain dia disini?? "Ma-maaf. Aku fikir disini gak ada orang." Cetus Gadis setengah tergagap, lalu tanpa berfikir, langsung berbalik hendak kembali pergi meninggalkan rooftop tersebut. Tentu saja Gadis tidak ingin berada disana hanya berdua bersama Dewa. Apalagi dengan sikap Dewa selama ini yang terkesan sangat tidak menyukainya. Loh? Kenapa pintunya gak bisa dibuka sih?! Gadis mulai panik, saat ia sudah berulang kali berusaha membuka pintu, namun yang tejadi pintu itu sama sekali tidak mau terbuka sedikitpun. Menyadari sesuatu, Dewa yang tadinya duduk di pembatas rooftop, akhirnya turun. Membuang puntung rokok diselipan jarinya dan berjalan menghampiri Gadis yang masih berdiri di depan pintu itu dengan raut wajah bingungnya. Sontak saja hal itu membuat Gadis tekejut untuk kesekian kali. "Minggir!" perintah Dewa dengan wajah dinginnya. Tanpa diminta dua kali, Gadis segera menyingkir minggir⸺memberi akses pada Dewa untuk mencoba membuka knop pintu tersebut. Sama seperti yang dilakukannya tadi, Dewa juga kesulitan membuka pintu tersebut. Netra cowok itu teralih pada batu bata dibawah, yang biasa digunakan untuk mengganjal pintu rooftop. "Ck!" decaknya Kesal. Gadis mencoba memberanikan diri bertanya, kenapa pintu itu sangat sulit dibuka. "Ke-kenapa pintunya tiba-tiba gak bisa dibuka? Padahal tadi pas aku masuk, nggak kenapa-napa." "Ini semua gara-gara lo!" Dewa menyalahkan Gadis, dengan nada nyolot dibarengi tatapan tajamnya. Gadis yang tidak tau apa-apa, tentu saja bingung. "Kok aku?" "Iyalah. Emangnya lo gak tau kalau pintu ini rusak dan hanya bisa dibuka dari luar. Berkat lo, kita terjebak disini!" kesal Dewa, pada gadis itu. Tidak terima Dewa menyalahkannya, membuat Gadis tidak bisa hanya tinggal diam saat Dewa memarahinya seperti ini. "Aku mana tau kalau pintu ini rusak. Aku kan baru pertama kali kesini." "Sekarang lo udah tau kan?!" sentak Dewa, masih dengan nada kesalnya. Dan Gadis sama sekali tidak ingin meladeni. Ia tau seperti apa cowok didepannya ini. seseorang yang bisa dibilang kejam, karena sering menanggalkan rasa belas kasihan saat berkelahi dengan lawan-lawannya. Gadis mengambil ponselnya didalam saku⸺bermaksud ingin mengirimi Aurel sebuah pesan agar memberitahukan kepada guru jika dirinya terjebak didalam rooftop tersebut bersama Dewa. Tentu saja Gadis melakukannya tanpa berfikir akibat rasa panik didalam diri. Namun, sebelum semua itu terjadi. Dewa sudah lebih dulu mencegah dengan cara merebut ponsel Gadis begitu saja. "Apaan sih. Balikin nggak!" protes Gadis, akan sikap seenaknya dari cowok itu. "Lo mau ngapain?" "Bukan urusan kamu." jawab Gadis ketus. Lalu berusaha merebut kembali ponselnya itu dari tangan Dewa. Tapi Dewa menghalangi dengan cara menjauhkan saat Gadis berusaha menggapainya. "Jawab dulu pertanyaan gue!" "Balikin dulu hapeku." Melihat sikap Gadis yang berani dan seolah tengah menantangnya ini, membuat Dewa tersenyum sinis. Kakinya melangkah maju diikuti langkah mundur Gadis hingga membuat punggungnya membentur pintu. Dua tangan Dewa menempel dipintu⸺mengurung tubuh mungil Gadis diantara dua lengannya. Rahang tegas cowok itu terlihat di jarak sedekat ini. "Lo berani sama gue?" Ditatap dengan jarak sedekat dan setajam itu, jelas membuat nyali Gadis menciut dengan saliva yang terasa bagai gumpalan duri saat ia menelannya. BERSAMBUNG  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD