Chapter 1: Kedatanganku ke Saudi
Hai readers, cerita ini lanjutan dari cerita "A Slave to an Arabian Prince." Nggak mau baca yang itu juga nggak apa-apa, langsung baca cerita yang ini. Tapi cerita sebelumnya itu seruuu banget loh. Jadi aku saranin, setelah membaca yang ini, tetap baca cerita sebelumnya.
Terima kasih, enjoy reading yaaa
Prolog :
Ruang kerja itu berbau aroma gaharu yang pekat, namun ketegangan di dalamnya jauh lebih tajam daripada wewangian mana pun. Di balik meja mahogani besar, Thalal bin Walid menatap kedua putranya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Proyek di Oman berada di titik nadir," suara Thalal memecah keheningan, berat dan penuh otoritas. "Kita butuh suntikan dana segar, dan Sultan Oman telah setuju untuk mengucurkannya. Namun, ada satu harga yang harus dibayar."
Zayn dan Ziyad saling melempar pandang. Keduanya tahu, dalam kamus ayah mereka, 'harga' jarang sekali berkaitan dengan uang.
"Syarat?" tanya mereka hampir bersamaan.
Thalal menyandarkan punggungnya, jemarinya bertaut. "Syarat yang cukup sederhana untuk pemuda tangguh seperti kalian. Sultan menginginkan ikatan darah sebagai jaminan. Ia meminta salah satu dari kalian menikahi putrinya, Yasmin."
Keheningan yang mencekam jatuh seketika.
Zayn merasakan jantungnya berdegup kencang. Pikirannya langsung melayang pada Astri—wanita Indonesia yang ia perjuangkan dengan air mata dan pertentangan hebat. Ia sudah melalui dua pernikahan yang gagal; satu berakhir duka karena maut menjemput Latifa, dan satu lagi berakhir di pengadilan karena pengkhianatan. Ia tak mungkin mengkhianati Astri, satu-satunya wanita yang kini menjadi pelabuhannya, meski orang tua mereka tetap memandang sebelah mata.
Zayn menoleh ke arah adiknya, tatapannya seolah berteriak, 'Kali ini, kau yang harus melakukannya.'
Di sisi lain, Ziyad terpaku. Ia bisa merasakan beban itu perlahan bergeser ke pundaknya. Sebagai putra yang belum pernah menyentuh pelaminan, ia tahu ia adalah target empuk. Namun, batinnya berontak. Yasmin? Gadis Arab?
Ziyad selalu punya selera yang berbeda. Di matanya, standar kecantikan keluarganya yang mengagungkan postur big size khas bangsawan Arab sama sekali tidak menarik. Memorinya justru dipenuhi bayangan gadis-gadis Asia Tenggara yang ia temui saat kuliah—mungil, eksotis, dan memiliki daya tarik yang menurutnya jauh lebih menggoda. Baginya, perempuan Asia adalah definisi kesempurnaan. Namun, ia juga sadar bahwa dalam keluarga Bin Walid, pernikahan adalah kontrak bisnis, bukan soal selera pribadi.
"Ziyad," suara Thalal kini lebih tajam, mengunci netra putra bungsunya. "Kali ini giliranmu. Kakakmu sudah cukup dengan kerumitannya. Kamu belum pernah menikah."
Ziyad menarik napas panjang, mencoba menegosiasikan kebebasannya yang mulai terkikis. "Baik," ucapnya pendek, suaranya terdengar dingin. "Tapi aku punya syarat."
Thalal sedikit memicingkan mata. "Satu hal yang harus kau ingat: ini bukan pernikahan kontrak. Aku ingin kau memberiku cucu dari rahimnya. Kau harus memperlakukannya sebagai istri sungguhan."
"Anak adalah urusan Tuhan, Abi," jawab Ziyad tegas, tak mau didikte soal takdir.
"Dan tidak ada perceraian tanpa alasan syar’i," tambah Thalal lagi, mengunci semua celah pelarian.
Ziyad terdiam sejenak, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Setuju. Tapi syaratku juga tidak bisa ditawar. Abi harus menerima semuanya tanpa kecuali."
Thalal mengamati wajah putranya yang keras kepala itu, lalu menghela napas panjang. "Sebutkan."
Dan di ruangan yang pengap oleh ambisi itu, Ziyad menjabarkan daftar permintaannya. Sebuah kesepakatan rahasia yang mungkin akan mengubah jalannya sejarah keluarga Bin Walid selamanya.
"Baik," sahut Thalal akhirnya. "Abi terima."