Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Aira keluar dari imigrasi Singapore, dan ia sudah melihat suaminya menunggunya. Pria itu terlihat tampan, maskulin seperti biasanya. Aira terkadang tidak mengerti mengapa ada pria seganteng itu di muka bumi, dan yang lebih parah lagi pria itu menyukainya, dan bahkan mungkin menggilainya. Rambutnya yang terlihat sudah dipotong papas tipis di bagian pinggir di atas telinga dan sedikit lebih tebal di puncak kepalanya justru menambah kejantanannya, dengan hanya mengenakan jins belel dan kaos hitam, pria itu terlihat memabukkan di mata Aira. Ia benar-benar telah takluk. “Assalamu alaik.” kata pria itu sambil mengambil koper kecil yang Aira bawa, Aira hanya membawa itu. Itu koper sekedarnya, isinya juga nyaris tidak ada, hanya laptop dan ipad nya saja

