Medelenie pergi dari acara pernikahan Romoe dengan perasaan hancur, tapi bersama dengan itu ada sebuah tantangan. Tantangan untuk Medelenie mencari yang lebih baik dari Romoe, tadi saat berbicara Medelenie tidak berfikir setelah masuk ke dalam mobil Medelenie berfikir siapa yang lebih baik dari Romoe.
"Romoe seorang CEO, dia juga dikenal sebagai Pengusaha muda sukses. Sekarang siapa yang lebih baik, darinya?." Medelenie bingung sendiri sekarang
Ponsel Medelenie bergetar, Medelenie melihat layar ponselnya sang Papa menghubunginya. Medelenie menghela nafas sebelum mengangkat telepon dari sang Papa.
"Halo,Pa?" sapa Medelenie.
"Medelenie, pulang sekarang Papa ingin berbicara sesuatu yang penting." terdengar suara tegas dari sang Papa.
"Baiklah, aku pulang sekarang." balas Medelenie. sambungan telepon langsung dimatikan sepihak oleh Medelenie, Medelenie tidak ingin bicara lebih panjang walaupun hanya di telepon.
"Apa lagi sekarang?, hariku sangat sial hari ini." gerutu Medelenie. Medelenie menghidupkan mesin mobilnya, dan menjalankan mobilnya meninggalkan gedung pernikahan.
Butuh waktu 40 menit untuk Medelenie sampai di rumah. Rumah mewah keluarga Cavendish, Security yang melihat mobil Medelenie langsung membuka kan pintu gerbang, mobil Medelenie masuk ke halaman rumah security membukakan pintu mobil untuk Medelenie, Medelenie keluar dari dalam mobil.
"Terima kasih,Pak." ucap Medelenie.
"Sama-sama, Nona. Nona didalam ada Nyonya Lilian." lapor security. Medelenie yang mendengar nama wanita itu, langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan benar saja Lilian sedang duduk di sofa dekat dengan sang Papa.
"Papa!" seru Medelenie.
Medelenie tidak suka dengan wanita yang selalu menempel pada sang Papa, setelah Mama nya meninggal dunia tiga tahun yang lalu karena sakit kompilasi. Medelenie berjalan ke arah ruang tamu dan dengan sengaja duduk diantara Devon sang Papa, dan Lilian.
"Medelenie,kamu sudah pulang? Bibi membawakan sesuatu untuk mu." Lilian berbicara dengan nada lembut. Lilian memberikan sebuah paperbag, tapi Medelenie tidak tertarik dengan paperbag yang diberikan Lilian.
"Medelenie." tegur Devon. Devon sangat tahu putrinya tidak suka dengan Lilian, tapi Medelenie terlalu memperlihatkan ketidaksukaan nya terhadap Lilian.
"Apa aku dipanggil pulang, untuk menerima hadiah?" tanya Medelenie. Devon menghela nafas putrinya yang keras kepala.
"Hormati Bibi Lilian, dia sudah dengan perhatian memberikan mu hadiah." Devon mencoba memberikan pengertian terhadap putrinya dengan lembut.
"Apa dia bendera, yang harus aku berikan hormat?" tanya Medelenie.
"Sudahlah, tidak papa." Lilian berucap dengan lembutnya. Lilian berusaha untuk menunjukkan dia wanita yang penuh kelembutan, dan kesabaran.
"Come on! ini bukan teater untuk bermain sandiwara" sindir Medelenie. Medelenie menyandarkan punggungnya di sofa, dan dengan tangan bersilang d**a.
"Papa, meminta mu pulang karena ingin meminta izin untuk menikah dengan Bibi Lilian." ujar Devon. Ekspresi wajah Medelenie langsung berubah setelah mendengar itu, Medelenie menatap sang Papa.
"Medelenie,ini semua adalah wasiat dari mendiang Mama kamu. Dia ingin Bibi untuk merawat mu dan Papa kamu, dan menemani masa tua Papa kamu." Lilian menjelaskan alasan nya. Medelenie terkekeh mendengarnya, Medelenie bertepuk tangan.
"Dan Papa percaya?" tanya Medelenie. Medelenie merasa itu hanya tipu daya, tidak mungkin Mamanya memberikan wasiat yang menurut Medelenie konyol.
"Mamamu, meninggalkan surat ini. Disurat ini sudah sangat jelas tulisan Mama kamu,Bibi hanya ingin menuruti permintaan terakir Mama kamu" ujar Lilian. Lilian mengeluarkan surat, Medelenie melihat surat tersebut memang itu tulisan sang Mama.
"Tidak, aku tidak percaya." ujar Medelenie. Walaupun itu sudah jelas tulisan dari sang Mama, tapi hati kecil Medelenie tidak percaya sang Mama memberikan wasiat seperti itu.
"Medelenie, ikut Papa. Papa ingin bicara secara empat mata dengan mu." perintah Devon. Devon beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya, Medelenie berdiri dan mengikuti Devon ke ruang kerjanya.
Medelenie masuk ke dalam ruangan kerja sang Papa, Devon duduk di kursi ruang kerjanya Devon memberikan sebuah foto kepada Medelenie. Medelenie mengambil foto tersebut dan melihatnya, Medelenie beralih menatap sang Papa tidak mengerti maksud sang Papa memberikan foto tersebut pada nya.
"Foto siapa, ini?" tanya Medelenie. Medelenie asing dengan orang yang ada didalam foto yang diberikan oleh Devon.
"Your future husband." jawab Devon. Medelenie membulatkan matanya mendengar jawaban sang Papa, siapa yang tidak terkejut tiba-tiba sudah punya calon suami.
"Papa sudah gila! Bagaimana bisa dia menjadi, calon suamiku?" seru Medelenie. Medelenie tentu saja tidak mau tiba-tiba dijodohkan, apalagi Medelenie baru saja patah hati.
"Kamu tidak mau Papa menikah, sebagai gantinya kamu yang menikah" ujar Devon. Devon berucap dengan nada santai, bahkan senyuman tipis terbit dibibir Devon.
"Pa, aku tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan orang sembarangan." tolak Medelenie. Andaikan Medelenie menikah dia harus menikah dengan orang yang lebih dari Romoe, Medelenie harus memenangkan tantangan yang diberikan oleh Theodore.
"Dia bukan orang sembarangan, dia putra sulung De'luca Presdir Shadow Group" ujar Devon. Ekspresi wajah Medelenie sedikit berubah setelah mendengar, siapa yang akan dijodohkan dengannya.
"De'luca?" beo Medelenie.