Siapa yang tidak tahu tentang De'luca, keluarga yang misterius tapi untuk kekayaan tidak perlu diragukan lagi. De'luca juga berpengaruh bukan hanya di dunia bisnis, bahkan diperintahan mereka juga punya power dan rumornya mereka juga punya jaringan dengan dunia gelap(Mafia) Medelenie berfikir tidak ada yang lebih baik dari De'luca untuk misinya.
"Papa, aku tidak bisa menerima begitu saja. Aku harus tahu orangnya terlebih dahulu." ujar Medelenie. Medelenie harus bertemu dengan De'luca, dan kalau bisa mereka membuat kesepakatan.
"Baiklah. Papa akan mengatur waktunya, untukmu bertemu dengan Tuan muda De'luca." jawab Devon. Medelenie menatap foto Alexander, Medelenie hanya pernah mendengar rumor tentang De'luca tidak pernah bertemu sebelumnya.
Setelah selesai bicara dengan Devon dan Medelenie mendapatkan keinginannya, Medelenie keluar dari ruangan kerja Devon. Medelenie berpapasan dengan Lilian, Medelenie tebak Lilian menguping pembicaraannya dengan sang Papa.
"Sekedar informasi, ruangan Papaku kedap suara. Mau menguping pun aku rasa percuma." ujar Medelenie. Lilian terlihat salah tingkah mendengar ucapan Medelenie.
"Bibi, tidak seperti itu." bantah Lilian.
"Bibi hanya khawatir kamu dan Papa kamu terlibat salah paham, Bibi hanya murni menjalankan wasiat mendiang Mama kamu tidak punya maksud lain." sambung Lilian.
"Aku tidak peduli. Tapi aku bisa janjikan,Bibi tidak akan bisa menikah dengan Papaku." ujar Medelenie. Setelah mengatakan itu Medelenie berjalan pergi meninggalkan Lilian yang terdiam.
"Lilian?" panggil Devon. Devon baru keluar dari ruangan kerjanya dan melihat Lilian berdiri di depan ruangannya.
"Iya? maaf aku tadi hanya lewat saja." ujar Lilian. Devon percaya saja karena tidak ada yang perlu dicurigai dari Lilian, Lilian sudah terbiasa di rumah ini karena semenjak mendiang istrinya sakit.
"Bagaimana? Apa Medelenie setuju dengan pernikahan, kita?" tanya Lilian. Lilian menatap Devon menunggu jawaban dari Devon.
"Jangan membahas itu sekarang,belum pasti." jawab Devon. Jawaban Devon itu menggantung, tidak pasti dan membuat Lilian tidak tenang.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu pulang sekarang." Devon mengalihkan pembicaraan. Lilian tersenyum dan mengangguk, akhirnya Devon mengantarkan Lilian untuk pulang.
Sementara itu di sebuah bandar udara, pesawat jet pribadi baru saja mendarat. Pintu pesawat terbuka Alexander De'luca turun dari pesawat pribadinya disana juga sudah terparkir mobil Limosin yang sedang menunggunya.
"Tuan muda, silahkan." Kai tangan kanan Alexander membukakan pintu mobil, Alexander masuk ke dalam mobil.
"Kediaman utama" perintah Alexander.
Mobil pun bergerak meninggalkan bandar udara, Alexander memejamkan matanya suasana sangat hening didalam mobil. Kai dan sopir disampingnya bahkan untuk bernafas pun hati-hati, supaya tidak mengganggu Alexander.
30 Menit perjalanan mobil Limosin itu memasuki halaman mansion mewah, dengan begitu banyak bodyguard. Bodyguard membukakan pintu mobil untuk Alexander, Alexander membuka matanya dan keluar dari dalam mobil.
"Tuan muda." William, kepala pelayan mansion langsung menyambut kedatangan Alexander. Alexandre terus berjalan masuk ke dalam mansion, langkah Alexander terhenti karena melihat foto yang terpajang di ruang keluarga.
"Siapa yang, memasangnya?" tanya Alexander. Wiliam melihat foto yang dimaksud oleh Alexander.
"Nyonya Vivian, yang memerintahkan maid untuk memasangnya." jawab William. Dinding terpasang foto pernikahan Frederick dengan Vivian, berdampingan dengan foto pernikahan Frederick dengan Alexandra, Mamanya Alexander.
"Panggil maid yang memasang foto tersebut." perintah Alexander. William segera mengcode maid lain, untuk memanggil maid yang diminta oleh Alexander.
Dua maid datang dengan ekspresi takut, keringat dingin mengucur deras dari dahi keduanya. Alexandre sudah duduk di sofa dengan tatapan lurus ke depan, dua maid untuk menundukkan kepalanya.
"Siapa yang memberikan kalian, keberanian untuk memasang foto itu di samping foto Mama saya?" tanya Alexander. Tatapan Alexander seperti menusuk dua maid itu.
"Ny-nyonya, yang memintanya kami hanya menjalankan perintah." jawab salah satu maid dengan terbata-bata.
"Tidak berguna." desis Alexander terdengar lebih berbahaya dari desisan seekor ular. Dua maid itu langsung berlutut ketakutan di depan Alexander.
"Tuan muda, mereka berdua hanya mengikuti perintah mohon untuk pertimbangkan." William berusaha untuk membela dua maid tersebut. Alexandre beralih menatap William, William menundukkan kepalanya.
"Apa saya memintamu untuk, bicara?" tanya Alexander. William tidak berani bicara lagi, William menundukkan kepalanya.
"Maaf, Tuan muda."
Suasana didalam mansion teras lebih mencekam dari rumah hantu, bahkan untuk bernafas saja terasa berat. Ini semua karena aura yang dikeluarkan oleh Alexander dingin dan kelam, dua maid yang sedang berlutut itu seperti menanti hukuman dari malaikat maut.
"Ada apa ini?" tanya Vivian. Vivian yang baru saja pulang dari shoping melihat suasana mansion. Tatapan Vivian terhenti pada sosok Alexander yang sedang duduk, shopping bag Vivian terjatuh ke lantai dengan suara cukup keras. Alexandre menatap Vivian dingin dan tajam.