A-alexander." Vivian menyebut nama Alexander rasanya sangat sulit. Vivian merasa tubuhnya lemas seperti jelly dihadapan Alexander, suasana semakin tegang karena Alexander mengeluarkan senjata api membuat semua orang menahan nafas.
takk...
Alexandre meletakkan senjata apinya diatas meja, semua menanti apa yang akan dilakukan oleh pewaris De'Luca selanjutnya. Alexandre melepaskan jasnya, setelah itu Alexander menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku, setiap gerakan Alexander menjadi perhatian.
"Apa yang memberikanmu, hak?" tanya Alexander. Nada suara Alexander rendah tapi penuh dengan penekanan.
"T-tidak ada yang salah dengan yang aku lakukan, aku sudah menikah dengan Papamu aku berhak memajang foto pernikahan kam." jawab Vivian. Walaupun dengan nada terbata tapi Vivian berusaha untuk menjawab pertanyaan Alexander.
"Ckk..."
Dengan gerakan tidak terduga Alexander mengambil senjatanya dan menembak foto pernikahan Frederick dan Vivian, Vivian berteriak ketakutan bahkan sampai berjongkok menutup telinganya.
"Posisimu hanya yang kedua, ingat selir tetap selir." ujar Alexander. Setelah mengatakan itu Alexander berjalan pergi begitu saja, jantung Vivian berdetak dengan kencang Vivian jatuh bersimpuh dilantai.
"Anak itu sudah gila!" gumam Vivian. Vivian melihat foto pernikahannya dengan Frederick sudah pecah karena tembakan Alexander, Vivian memejamkan matanya Alexander belum bisa menerima kehadirannya.
"Bereskan semuanya." perintah Vivian. Pernikahan Vivian dan Frederick sudah puluhan tahun tapi Alexander tidak berubah, dan belum bisa menerimanya.
Para maid yang ketakutan segera membereskan foto pernikahan Frederick dengan Vivian yang sudah tidak terbentuk lagi, William menghela nafas sifat Tuan mudanya tidak berubah sama sekali dari dulu.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya William. Vivian berdiri walaupun tubuhnya masih sedikit bergetar.
"Aku baik-baik saja." jawab Vivian. Vivian berjalan pergi ke kamarnya dia butuh istirahat dan menenangkan dirinya, pertemuannya dengan Alexander tidak pernah baik selama ini.
Alexandre pergi ke belakang rumah, dimana ada rumah kaca yang khusus dibangun oleh mendiang Mamanya. Setelah kepergian sang Mama karena kecelakaan, Alexander tidak pernah membiarkan orang lain untuk memasuki rumah kaca tersebut. Didalam rumah kaca terdapat banyak sekali tumbuhan, dan bunga kesukaan Alexandra.
Alexandre masuk ke dalam rumah kaca, pertama melangkah masuk Alexander terbayang dengan sang Mama yang sedang mengurus tanaman-tanamannya, sebagian masa kecil Alexander dihabiskan di rumah kaca ini.
"Hanya disini, aku masih bisa merasakan kehangatan Mama." gumam Alexander. Alexandre memejamkan matanya, dia mengingat setiap momen bersama dengan mendiang Mamanya.
Sementara itu diluar rumah kaca,Kai sedang berjaga karena kalau Alexander sudah masuk ke dalam rumah kaca tidak ada yang boleh mengganggunya, sampai Alexander sendiri yang keluar dari rumah kaca. Ibaratnya rumah kaca adalah area terlarang di kediaman De'Luca .
Kondisi Vivian masih terguncang karena insiden di ruang tamu, maid membawakan teh hangat untuk Vivian.
"Mama." panggil Ramos. Vivian melihat ke arah pintu dan melihat putranya Ramos De'Luca,Ramos berjalan menghampiri Mamanya.
"Ramos, kamu darimana saja? Kamu tahu? Mama hampir terkena serangan jantung karena, kakakmu." ujar Vivian.
"Aku dari perusahaan." jawab Ramos.
"Kakak sudah pulang? Apa yang kakak lakukan?" tanya Ramos. Ramos tahu hubungan Mama dan kakak tirinya itu tidak pernah baik, bahkan sejak dulu.
"Mama menyuruh maid untuk memasang foto pernikahan Papa dan Mama, dan Alex pulang dan dia tidak suka dia menembak foto pernikahan Papa dan Mama hingga hancur." tutur Vivian. Ramos memejamkan matanya mendengar penuturan sang Mama.
"Mama sudah tahu dengan jelas, kakak tidak pernah suka. Kenapa Mama melakukan itu?" tanya Ramos.
"Mama pikir dia tidak akan pulang secepat ini, Mama juga ingin foto pernikahan Papa dan Mama dipajang, bukan hanya foto pernikahan Papa kamu dengan orang yang sudah mati itu." jawab Vivian. Vivian seorang wanita dia juga ingin memiliki foto yang terpajang di rumahnya, bukan hanya foto Alexandra yang masih terpajang rapi.
"Itu resiko Mama menerima menjadi istri kedua." ujar Ramos. Vivian terdiam mendengar ucapan putranya, Ramos mengerti tentang keinginan Mamanya tapi di rumah ini ada Alexander yang bahkan sampai sekarang tidak menerima kehadirannya dan Mamanya.
"Mama, akan mengadukan semuanya pada Papa kamu. Selama ini Mama cukup sabar dengan Alexander, dia harus bisa menerima Mamanya sudah mati dan sekarang Mama nyonya rumah ini." ujar Vivian.
"Lalu, apa yang bisa terjadi?" tanya Ramos. Vivian kembali terdiam, selama ini Frederick berpihak pada Alexander apapun yang dilakukannya Frederick tidak pernah mempermasalahkannya.
"Ma, sudahlah jangan mencari masalah. Jangan mengusik kakak, dia bukan orang yang mudah dihadapi." ujar Ramos. Ramos hanya ingin kehidupan tenang tidak bersinggungan dengan Alexander, walaupun Alexander tidak pernah menganggap mereka ada.
Ramos beranjak pergi dari kamar sang Mama, Ramos keluar dari kamar Vivian. Ramos berjalan ke arah balkon, Ramos bisa melihat Kai sedang berjaga di depan rumah kaca itu artinya Alexander berada di dalam rumah kaca.
"Kak, bahkan aku tidak tahu rasanya punya kakak. Aku hanya tahu kakak itu panggilan, aku tidak bisa mendapatkan peran kakak darimu" gumam Ramos.
Tidak lama kemudian Alexander keluar dari rumah kaca, Alexander menatap ke arah balkon dan melihat Ramos sedang berdiri disana dengan menatapnya. Keduanya bertatapan dengan jarak yang cukup jauh, hingga Alexander yang terlebih dahulu memutuskan tatapan itu. Alexandre berjalan pergi diikuti oleh Kai.
"Dingin tidak tersentuh" ujar Ramos. Itulah gambaran sosok Alexander bagi Ramos.