Frederick sudah mengetahui bahwa putra tertuanya sudah kembali, dan yang sudah terjadi di mansion tentu saja William yang memberitahukan pada Frederick. Dan juga kepulangan Alexander atas perintah Frederick sendiri.
Frederick memanggil Alexander ke ruangan kerjanya, Frederick butuh bicara empat mata dengan Alexander. Alexander masuk ke dalam ruangan kerja Frederick, tidak ada sapaan seperti layaknya seorang putra dan Papanya.
"Papa kira kamu tidak akan pulang." ujar Frederick. Frederick mengisap cerutunya, Frederick menawarkan cerutu Alexander hanya menatap dengan tatapan datar.
"Saya tidak punya waktu untuk berbasa-basi." ujar Alexander. Frederick terkekeh mendengarnya, Frederick melemparkan sebuah foto pada Alexander. Alexander melihat foto tersebut dengan tatapan datar, tidak menunjukkan ketertarikan sama sekItu resiko Mama menerima menjadi istri kedua." ujar Ramos. Vivian terdiam mendengar ucapan putranya, Ramos mengerti tentang keinginan Mamanya tapi di rumah ini ada Alexander yang bahkan sampai sekarang tidak menerima kehadirannya dan Mamanya.
"Mama, akan mengadukan semuanya pada Papa kamu. Selama ini Mama cukup sabar dengan Alexander, dia harus bisa menerima Mamanya sudah mati dan sekarang Mama nyonya rumah ini." ujar Vivian.
"Lalu, apa yang bisa terjadi?" tanya Ramos. Vivian kembali terdiam, selama ini Frederick berpihak pada Alexander apapun yang dilakukannya Frederick tidak pernah mempermasalahkannya.
"Ma, sudahlah jangan mencari masalah. Jangan mengusik kakak, dia bukan orang yang mudah dihadapi." ujar Ramos. Ramos hanya ingin kehidupan tenang tidak bersinggungan dengan Alexander, walaupun Alexander tidak pernah menganggap mereka ada.
Ramos beranjak pergi dari kamar sang Mama, Ramos keluar dari kamar Vivian. Ramos berjalan ke arah balkon, Ramos bisa melihat Kai sedang berjaga di depan rumah kaca itu artinya Alexander berada di dalam rumah kaca.
"Kak, bahkan aku tidak tahu rasanya punya kakak. Aku hanya tahu kakak itu panggilan, aku tidak bisa mendapatkan peran kakak darimu" gumam Ramos.
Tidak lama kemudian Alexander keluar dari rumah kaca, Alexander menatap ke arah balkon dan melihat Ramos sedang berdiri disana dengan menatapnya. Keduanya bertatapan dengan jarak yang cukup jauh, hingga Alexander yang terlebih dahulu memutuskan tatapan itu. Alexandre berjalan pergi diikuti oleh Kai.
"Dingin tidak tersentuh" ujar Ramos. Itulah gambaran sosok Alexander bagi Ramos.
"Medelenie Cavendish, calon istrimu. Temui dia dan setelah itu menikahlah." ujar Frederick. Frederick tidak sedang memberitahu, tapi memberikan perintah.
"Tuan De'Luca, apa sampai pasangan hidup harus anda yang menentukan?" tanya Alexander. Frederick mematikan cerutunya dan berdiri, Frederick menatap Alexander.
"Menikah, dan segera punya pewaris atau semua warisan mu Papa bekukan dan alihkan pada adikmu." ujar Frederick. Alexander mengepalkan tangannya mendengar ucapan Frederick, Frederick sangat tahu bagaimana memancing putranya.
"Itu hakku! Dia hanya anak tidak sah, tidak akan bisa mendapatkan semua warisan itu." desis Alexander. Frederick terkekeh dan menepuk pundak Alexander.
"Papa bisa mengubah semuanya dalam waktu singkat, yang tidak sah menjadi sah atau sebaliknya." balas Frederick. Alexander menatap tajam Frederick, Frederick hanya tersenyum.
“Matamu sama persis dengan Mamamu, bahkan cara menatap kalian.” batin Frederick.
"Temui dia, Papa tidak ingin menunggu terlalu lama." ujar Frederick. Tanpa menjawab Alexander keluar dari ruangan kerja Frederick, Ramos melihat Alexander keluar dari ruangan kerja Frederick. Alexandre terus berjalan melewati Ramos, seolah Ramos tidak ada.
"Dari aura kakak, Papa sepertinya sudah membuat kakak tidak senang." gumam Ramos.
Alexandre masuk ke dalam ruang kerjanya sendiri, Alexander memukul meja kerjanya. Frederick jelas-jelas mengancamnya Alexander bisa saja memberontak, tapi Alexander teringat dengan janjinya dengan sang Mama untuk tidak melawan sang Papa.
"Sialan! Aku tidak akan kehilangan sepersen pun yang menjadi hak ku, apalagi untuk anak perebut itu." gumam Alexander. Alexander mengingat wanita yang akan dijodohkan dengannya.
"Kai!" panggil Alexander. Kai segera masuk ke dalam ruangan kerja Alexander.
"Berikan informasi tentang Medelenie Cavendish, secepatnya." perintah Alexander.
"Baik, Tuan muda." jawab Kai. Kai langsung keluar lagi untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Alexander, Alexander sendiri harus mengetahui wanita seperti apa Medelenie sebelum menghadapinya.
Disisi lain Medelenie sendiri mengumpulkan informasi tentang Alexander, tapi nihil informasi tentang Alexander sangat minim. Membuat kepala Medelenie pusing seketika, Kylie meletakkan segelas kopi didepan Medelenie.
"Kau terlihat sangat stres. Apa pernikahan Romoe dan wanita itu, membuat mu seperti ini?" tanya Kylie. Medelenie mendelik ke arah Kylie.
"Tidak, Romeo tidak sehebat itu sampai membuatku stres. Aku sedang memikirkan hal lain." jawab Medelenie. Medelenie gengsi dibilang stres karena Romoe dan Bella menikah, walaupun kenyataannya Medelenie masih sering kepikiran.
"Lalu, apa yang membuat wajahmu tidak enak dilihat seperti itu?" tanya Kylie. Kylie sangat mengenal Medelenie, mereka bersahabat semenjak berusia 5 tahun.
"Kylie, kau tahu Alexander De'Luca?" tanya Medelenie. Medelenie tahu Kylie suka bersosialisasi dengan orang-orang, koneksinya luas, siapa tahu Kylie tahu tentang Alexander.
"Kenapa, kau bertanya tentang dia?" tanya Kylie. Kylie heran Medelenie bukan orang yang suka mencari tahu tentang orang lain.
"Hanya penasaran saja." jawab Medelenie.
"Dan kau, bukan orang yang suka penasaran dengan orang lain." balas Kylie sambil tersenyum. Medelenie memejamkan matanya dia tidak bisa berbohong dengan Kylie.
"Oke!. Aku dijodohkan dengan Alexander De'Luca." ujar Medelenie. Kylie melongo mendengar ucapan Medelenie, Medelenie menjentikkan jarinya didepan Kylie membuat Kylie tersadar.
"Serius? Oh my God!" Kylie syok sendiri mengetahui Medelenie dijodohkan dengan Alexander.
"Ini seperti kau kehilangan berlian, dapat tambang berlian." seru Kylie. Medelenie melihat reaksi Kylie yang heboh sendiri.
"Apa yang kau tahu, tentang dia?" tanya Medelenie. Medelenie berharap Kylie tahu informasi yang tidak dia ketahui tentang Alexander.
"Tidak banyak,nama, dan rumornya dia sangat tampan, tubuhnya tinggi, aku belum pernah melihatnya atau bertemu secara langsung." jawab Kylie. Medelenie menatap datar Kylie, ternyata informasi Kylie tidak membantu sama sekali.
"Ya dia memang tampan." celetuk Medelenie.
"Kau, sudah pernah melihatnya?" tanya Kylie. Mata Kylie berbinar-binar karena dari dulu Kylie sangat penasaran, tapi tidak pernah bisa bertemu.
"Aku melihat fotonya." jawab Medelenie dengan jujur.
"Menurutku, lebih baik kau terima saja perjodohan itu. Karena Romoe dibandingkan dengan Tuan muda Alexander, sungguh tidak ada apa-apanya Romoe." ujar Kylie. Mendengar itu Medelenie semakin bertekad untuk bertemu dengan Alexander, kalau bisa Medelenie akan mengajukan kerja sama.
"Kau benar. Aku harus bisa mendapatkan yang jauh diatas Romoe, bukan?" tanya Medelenie. Kylie menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Harus jauh lebih segalanya, dan tidak ada yang lebih segalanya dari Alexander De'Luca." timpal Kylie. Medelenie mengambil cangkir kopinya, Medelenie menyeruput kopinya sambil berfikir untuk bertemu dengan Alexander secepatnya.
"Dimana kira-kira aku bisa bertemu, dengannya?" gumam Medelenie.
Di tempat Alexander, Alexander sedang melihat informasi tentang Medelenie tidak butuh waktu lama Kai untuk mendapatkan informasi tentang Medelenie.
"Medelenie Cavendish, haruskah kita bertemu?" gumam Alexander. Mata Alexander tidak lepas menatap foto Medelenie.