Bab 06.

804 Words
Alexander sudah melihat informasi tentang Medelenie, tapi Alexander tidak tertarik dengan wajah cantik Medelenie. Tidak ada rasa ketertarikan sedikitpun Alexander terhadap Medelenie, Alexander hanya memikirkan untuk mengamankan semua yang menjadi haknya. tokk.... tokk... "Tuan muda, Tuan besar meminta anda bergabung dimeja makan untuk makan malam." ujar William dari luar pintu. "Pergilah." perintah Alexander. William yang mendengar perintah itu langsung pergi, Alexander menutup dokumen yang diberikan oleh Kai. "Kau boleh beristirahat." ujar Alexander. Alexander berdiri dan berjalan keluar dari ruangan kerjanya, Kai membungkukkan badannya. Alexander berjalan ke meja makan dimeja makan sudah duduk Frederick, Vivian, dan Ramos. Alexander duduk di kursinya tidak ada ekspresi diwajahnya, Vivian masih merasa takut dengan Alexander sementara Ramos tersenyum karena bisa makan satu meja setelah sekian lama. "Kita mulai makan." ujar Frederick. Maid pun menyiapkan makanan di piring masing-masing, tidak ada yang bicara setelah semua siap maid pun mundur kembali. Frederick, Vivian, dan Ramos mulai makan Alexander menatap makanan didepannya dengan tanpa minat. "Kenapa, tidak makan kak?" tanya Ramos. "Bagaimana, saya bisa makan makanan yang terasa racun." jawab Alexander. Ramos terdiam mendengar ucapan Alexander. "Alexander, jangan merusak makan malam ini. Papa mau seluruh keluarga kita makan bersama disatu meja." ujar Frederick. Alexander terkekeh mendengar ucapan Frederick. "Keluarga? Mereka keluargamu, bukan keluargaku." sahut Alexander. Alexander berdiri dari duduknya, dan menatap Frederick. "Papa, silahkan lanjutkan makan bersama anak dan istrimu. Karena bagi saya, keluarga saya hanya Mama saya." ujar Alexander. Setelah mengatakan hal itu Alexander berjalan pergi meninggalkan ruang makan, Ramos menghela nafas. "Pa, jangan memaksakan kakak lagi. Aku tidak mau dia semakin membenciku, karena yang Papa lakukan." ujar Ramos. Setelah mengatakan itu Ramos juga pergi meninggalkan ruang makan. "Ini sudah puluhan tahun tapi Alexander tidak mau menerimaku. Aku bahkan tidak punya hak untuk memajang foto-foto pernikahan kita, aku nyonya rumah ini tapi aku tidak punya hak sekedar memajang foto-foto." ujar Vivian. Vivian mengatakan isi hatinya pada Frederick, berharap Frederick mau membelanya. "Bukankah, kita menikah demi keuntungan pribadi mu untuk hidup mewah?. Kau memberikanku obat untuk menjebakku, dan rencanamu berhasil untuk akibatnya jangan pernah mengeluh." ujar Frederick. Vivian terdiam mendengar ucapan Frederick,ini memang sudah menjadi pilihannya. "Tapi, kenapa kamu tidak pernah membelaku? Setidaknya bicara pada putramu." lirih Vivian. Frederick berhenti makan dan menoleh pada Vivian. "Alexander hanya ingin mempertahankan kenangan Mamanya, tidak ada yang salah dengan hal itu." ujar Frederick. Vivian tersenyum kecut mendengar ucapan Frederick. "Kamu, masih sangat mencintai Alexandra? Bahkan nama Alexander, juga hampir seperti namanya." ujar Vivian. Nama Alexander dan nama mendiang Mamanya itu hampir sama, cuma membedakan laki-laki dan perempuan. "Kalau, kau tahu seharusnya tidak bertanya." sahut Frederick. Setelah mengatakan itu Frederick tidak melanjutkan makannya, Frederick berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Vivian sendiri diruang makan. "Itulah kamu kenapa tidak pernah membelaku, karena kamu sendiri belum bisa melupakan mendiang istrimu." lirih Vivian. Vivian tersenyum kecut. Sementara itu di tempat Medelenie, Medelenie baru saja ingin pulang tapi sialnya Medelenie berpapasan dengan Romoe dan Bella. Kylie yang melihat Romoe dan Bella menatap mereka dengan tatapan tajam, Bella dengan sengaja melingkarkan tangannya di lengan Romoe dengan mesra. "Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Bagaimana, apa kau sudah menemukan yang lebih baik dari suamiku?" Bella bertanya dengan nada memprovokasi, tapi Medelenie tidak bodoh untuk terprovokasi. "Tentu saja! Sahabatku ini sudah menemukan yang lebih baik, bahkan suamimu ini tidak bisa dibandingkan dengan seujung kuku calon suami sahabatku." bukan Medelenie yang menjawab tapi Kylie, Medelenie menatap Kylie dengan mata melotot Kylie berbicara seenak jidatnya. Aku murahan? Apa kabar denganmu? Aku punya calon setelah putus, sedangkan dirimu menikah dengan kekasih orang lain. Lebih murah mana?" tanya Medelenie. "Itu bukan murahan lagi, tapi tidak ada harganya." timpal Kylie. "Hentikan! Bella sedang hamil tolong jangan membuatnya stres." ujar Romeo. Medelenie terkejut tentang kehamilan Bella dia baru tahu sekarang, Bella sendiri membuat raut wajah polos dan mengusap perutnya. "Wow!! Luar biasa!" Medelenie bertepuk tangan dan tertawa. Medelenie merasa dibodohi sekali sekarang. "b******n, dan murahan perfect couple." ejek Kylie. Kylie menggandeng tangan Medelenie, dan membawa Medelenie pergi dari tempat itu. Kylie membawa Medelenie kedalam mobil, sampai didalam mobil Medelenie tertawa tapi air matanya jatuh. Kylie yang melihat itu mengutuk Romeo dalam hati, Kylie tahu Medelenie sedang hancur sekarang ini. "Kita kerumah ku, kau butuh ketenangan. Aku akan menelpon Paman Devon." ujar Kylie. Medelenie menggelengkan kepalanya menolak. "Kalau aku tidak pulang,Bibi Lilian akan mengambil kesempatan untuk mendekati Papa dengan menggunakan Mama." ujar Medelenie. Medelenie tidak mau Lilian mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Kenapa hidupmu dikelilingi orang-orang setengah waras?" tanya Kylie. Kylie menyebut orang-orang yang sudah membuat sahabatnya tidak senang,itu orang-orang setengah waras. "Ya sudahlah, antarkan aku pulang sekarang. Aku tidak mau bibi Lilian bersikap seolah-olah menjadi Mama, dirumah." ujar Medelenie. Kylie pun menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya, meninggalkan tempat itu menuju pulang ke rumah. Diperjalanan pulang Medelenie melihat keluar jendela, Medelenie benar-benar merasa hidupnya sekarang seperti roller coaster dan sangat membuat Medelenie sangat pusing. “Alexander, dia solusinya” batin Medelenie.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD