Alif menaruh sepedanya di halaman rumah sambil menatap sang ibu yang menyiram tanaman, mungkin memang menunggu kedatangan dirinya dan Airi.
"Kakak!" pekik Airi yang baru turun dari taksi. "Kakak harus liat ini!" ucap Airi mengambil ponselnya lalu menunjukkan potretnya dengan Ray pada sang kakak. Airi tersenyum senang, senyuman yang membuat Alif juga ikut tersenyum.
"Wah!" timbrung Diana yang juga melihat gambar tersebut. "Cantik banget ya, yang namanya Raysa!" puji Santi membuat Alif tersenyum.
"Airi bakalan pajang poto ini dikamar!" girang Airi menatap sang ibu.
"Foto sama kakak aja nggak pernah kamu pajang," cibir Alif membuat Airi tertawa begitu pun Santi.
"Makanya lepas dulu kacamatanya," kekeh Santi melepas kacamata sang anak.
"Tuh kan! Keliatan gantengnya," puji Santi mengusap kepala Alif.
"Mama ada-ada aja, Alif masuk dulu." Alif beranjak pergi disusul oleh Airi.
"Mah, nanti Alif mau ke Mall ya!" ucap Alif membuat Airi menatapnya.
"Ngapain, kak!?" tanya Airi bingung, pasalnya sangat jarang sang kakak pergi keluar rumah.
"Ya, jalan-jalan, nggak pakai kacamata kok, hahaha!" tawa Alif lalu masuk kekamar. Airi hanya geleng-geleng kepala.
Kini Alif sudah diperjalanan menuju Mall dengan mobilnya, pemuda itu turun setelah memarkirkan mobil sembari merapikan tatanan rambutnya. Ia terlihat tampan dengan setelan kemeja dan celana santai.
Sedangkan disisi lain, Ray tengah memesan ice cream dengan senyum lebar pada pelayan. Sesekali ia membaca pesan yang dikirimkan oleh dua temannya.
"Ini uangnya," ucap Ray kemudian pergi dengan tatapan tertuju pada ice creamnya.
Bruk!
"Yah...." gusar gadis itu menatap ice creamnya yang terjatuh ke lantai saat ia tak sengaja menyenggol seseorang.
"Om kalau jalan pakai mata!" omel Ray bejongkok menatap ice creamnya.
"Om!?"
"Dimana-mana jalan itu pakai kaki, tante!"
Ray mengangkat wajahnya yang sudah memerah akibat dipanggil dengan sebutan, tante.
Seketika Alif melotot, pemuda itu langsung memalingkan wajahnya saat Ray menatapnya dengan serius.
"Dasar! Nggak bertanggung jawab! Ganti ice cream gue!!" teriak Ray memancing perhatian beberapa orang.
"Ganti!!!" pekik Ray memukuli lengan Alif.
"Iya! Iya! Gue ganti!" Alif bersuara membalas tatapan Ray saat ia sudah tak kuasa menahan pukulan gadis itu.
"Gitu dong! Ayo!" Ray menarik tangan Alif menuju kedai ice cream.
"Jadi... Ray nggak tahu kalau gue ini Alif?"
Alif menggelengkan kepalanya hingga langkah mereka terhenti.
"Mas!" panggil Ray pada pelayan kedai.
"Pesan ice cream cokelat satu!" ucap Ray masih memegang lengan Alif.
"Saya ice cream vanilla," tambah Alif diangguki pelayan kedai.
Ray duduk disalah satu kursi tunggu, sedangkan Alif masih berdiri.
"Ini serius, Ray nggak kenal sama gue?" tanya Alif menatap wajahnya pada cermin didekatnya.
"Pokoknya abis ini gue langsung pulang!" tukas Alif.
"Mas, ini ice creamnya sama punya pacarnya," ucap pelayan menyerahkan dua ice cream.
"Dia bukan pacar saya," jawab Alif membayar ice cream tersebut kemudian menghampiri Ray yang tengah bermain ponsel.
"Makasih!" girang Ray dengan senyum lebar.
"Gue Ray!" ucapnya mengulurkan tangan.
Alif nampak berpikir sebelum membalas jabat tangan gadis itu. "Azka," jawabnya membuat kepala Ray mengangguk.
"Kalau gitu, gue duluan," pamit Alif hendak pergi namun Ray mencegahnya.
"Lo sibuk!?" tanya Ray membuat Alif menggeleng.
"Lo udah punya pacar?" tanya Ray lagi, tentu saja Alif menggeleng.
"Oke! Temenin gue nonton!!" ucap Ray kembali menarik tangan Alif hingga Alif tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti perkataan gadis itu.
"Huh! Teman-teman gue sibuk! Jadinya gue sendiri deh!" ucap Ray memulai pembicaraan setelah mereka membeli tiket dan duduk dikursi tunggu.
"Untung ada elo!" girang Ray bertepuk tangan. "Gue udah nunggu rilis film ini lama banget!!" tutur gadis itu.
Alif hanya menganggukkan kepala sebagai respon sebab ia juga bingung harus berbuat apa.
"Lo belum pulang ke rumah?" tanya Alif menatap penampilan Ray yang masih membawa tas sekolah, gadis itu juga masih mengenakan rok abu-abu dan sweater hitam untuk menutupi seragamnya.
"Malas," jawab Ray jujur.
"Di rumah cuma ada abang gue!" ucapnya mengalihkan pandangan.
"Orang tua lo?" tanya Alif seolah tak tahu.
"Sibuk, tapi nggak papa! Mereka kerja juga buat gue!" ucap Ray dengan senyum palsu.
Alif mengangkat tangan mengusap kepala Ray hingga membuat gadis itu terdiam cukup lama memandangi wajahnya.
"Lo, kayak mirip seseorang..." gumam Ray seketika membuat Alif menjauhkan duduknya.
"Siapa nama lo tadi!? Azka!?" tanya Ray mendekat.
"Gue kayak pernah ketemu sama lo! Tapi dimana ya!!"
"Gue---"
"Pemberitahuan... bagi pengunjung..."
"Ayo! Masuk!" ajak Alif menggenggam tangan Ray memasuki bioskop lalu duduk dikursi yang bersebelahan.
Film dimulai, udara semakin dingin namun nampaknya Ray sudah terbiasa dengan hal tersebut. Alif menoleh dan mendapati Ray tengah serius menonton film yang ia sendiri tidak tahu bergenre apa.
"Liat! Liat!" ucap Ray pelan sambil menunjuk ke layar lebar.
Pemuda itu tersenyum sejenak dan kembali menatap Ray dari samping.
"Heh," panggil Alif.
Ray mengangkat telunjuknya memerintahkan pemuda itu untuk diam.
"Gue suka sama lo," ucap Alif namun Ray seperti tak menyadari kalimat tersebut.
Satu jam kemudian, mereka berdua keluar dari bioskop dengan Ray yang tak henti-hentinya tersenyum.
"Seru banget! Kita harus nonton lanjutannya nanti!" ucap Ray antusias.
"Okey..." jawab Alif tersenyum.
"Huh, gue capek!" Ray mengeluh mencari tempat duduk namun Alif mengajaknya memasuki sebuah rumah makan.
"Tau aja lo, kalau gue lagi lapar!" kekeh Ray menyenggol perut pemuda itu dengan sikunya.
"Hm... yaudah mau makan apa?" tawar Alif melihat-lihat menu.
"Nasi goreng spesial, jus melon." Ray menjawab yang langsung diangguki Alif.
Pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka.
"Azka, lo sekolah dimana atau udah kerja?" tanya Ray sambil bermain ponsel.
"Hah?" gelagap Alif bingung harus menjawab apa.
"Privasi," dingin Alif seketika membuat Ray menatapnya.
"Rese!" umpat Ray kesal.
"Lo sendiri?" tanya Alif berharap Ray menjawab pertanyaan menyebalkan darinya.
"Gue sekolah di SMA Samudera," jawab Ray seadanya.
"Keren, gue dengar SMA Samudera itu sekolah elite yang luar biasa pokoknya!" puji Alif membuat Ray tersenyum.
"Kalau nggak salah, keluarga Samudera punya dua penerus ya? Kakak laki-laki sama adik perempuan," ucap Alif lagi.
"Iya! Gue juga kagum sama mereka!" jawab Ray membuat Alif bingung.
"Jadi Ray nggak mau ngaku..."
Alif terkekeh pelan lalu menatap pelayan yang datang membawa pesanan mereka.
"Ayo makan," ajak Alif diangguki Ray yang memang sudah keroncongan sejak di bioskop.
Mereka makan bersama dengan sesekali bercerita tentang kehidupan masing-masing dan tentunya, Alif hanya mengarang dengan mengaku-ngaku sebagai Azka. Awal permasalahan pun dimulai, sebab salah Alif sendiri.