"Lo naik mobil sendiri?" tanya Alif saat mereka berjalan bersama menuju parkiran Mall.
"Iya," jawab Ray dengan tatapan tertuju pada ponsel.
"Eh!?"
Ray terkejut saat ia hampir terpeleset, untung saja Alif menahan tubuhnya. Keduanya bertatapan cukup lama namun dibuyarkan oleh klakson sebuah mobil. Ray langsung bersegera menghampiri mobilnya begitu pun Alif.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Alif lagi.
"Enggak, gue mau main ke---"
"Pulang aja, udah malam," ucap Alif menghampiri Ray guna menutupkan pintu untuk gadis itu.
"Tapi---"
"Pulang, Ray..." lembut Alif membuat Ray terdiam dengan sikap pemuda itu.
"Kakak lo pasti nungguin, benar nggak?" tanya Alif, Ray mengangguk menatap panggilan dari Faris yang sengaja tak ia jawab.
"Besok lo juga harus sekolah," tambah Alif lagi.
"Oke..." singkat Ray dengan senyum kecil.
"Gue duluan, senang kenal sama lo! Kapan-kapan kita harus nonton lagi!" tukas Ray membuat Alif mengangguk dengan senyum manis.
Ray sudah pergi, kini tinggal Alif yang nampak ngos-ngosan memegang dadanya.
"Gila!!" umpat Alif saking girangnya. "Gue nonton sama Ray!? Ya ampun! Airi bakalan iri! Hahaha!" tawa Alif menghampiri mobilnya.
Pemuda itu menatap wajahnya dicermin dengan ekspresi dingin. "Azka, ganteng juga ya lo! Hahaha!" tawa Alif lagi kemudian tancap gas untuk pulang.
Ray sendiri, kembali teringat pemuda bernama Azka.
"Kok gue nggak minta nomer dia sih!?" gumam Ray pelan. "Ck! Pokoknya gue harus ketemu lagi sama dia!" kekeh Ray dengan senyum kecil.
"Abang!!" teriak Ray memanggil Faris saat ia tiba dirumah.
"Non, kemana aja? Abang panik nyariin Non Ica, abang baru aja pergi ke rumah teman Non Ica." Jelas salah seorang pembantu rumah tangga.
"Bakal kena marah nih, Ica!" keluh Ray bersegera masuk kekamar.
Beberapa saat kemudian, Ray sudah siap tidur ditemani musik yang terdengar dari ponselnya. Baru saja ia memejamkan mata tiba-tiba ketukan pintu terdengar.
Ray bersusah payah meneguk salivanya saat ia membukakan pintu untuk Faris.
"Ca!" kesal Faris langsung memeluk adiknya.
"Kemana aja sih!? Di telepon nggak diangkat! Gue khawatir!" gusar Faris enggan melepas dekapannya pada sang adik.
"Main... ke Mall..." jawab Ray pelan.
"Sendiri!? Astaga! Kenapa nggak pulang dulu?" tanya Faris lagi menangkup wajah Ray yang nampak takut.
"Oke, maafin abang udah bentak kamu... tapi abang beneran khawatir, takut kamu kenapa-napa." Faris kembali memeluknya dengan lembut membuat air mata Ray jatuh perlahan.
"Abang..." isak Ray penuh haru.
"Makasih ya, udah khawatirin Ica... maaf, Ica nggak jawab telepon abang..." lirih Ray membuat Faris mengangguk dengan senyum tulus.
"Ica udah makan?" tanya Faris.
"Udah, di Mall. Tapi masih lapar! Yuk makan bareng!" ajak Ray tersenyum girang membuat Faris terkekeh lalu mencubit dua pipi adiknya.
"Makan diluar?!" tawar Faris.
"Go!!!" Ray kembali masuk kekamarnya guna mengambil jaket dan ponselnya. Mereka pun pergi menggunakan mobil.
Sementara itu, Alif tiba dirumah dengan perasaan senang luar biasa. Ia memanggil-manggil sang adik yang nampaknya sudah tidur.
"Airi mana?" tanya Alif pada Santi yang tengah membaca buku.
"Di kamar, kamu lama banget ke Mall nya," tegur Santi membuat Alif cengengesan lalu bergegas menghampiri kamar Airi.
"Dek!" panggil Alif.
Airi membuka pintu dengan wajah kumal karena tidurnya terganggu.
"Tadi kakak ketemu Ray di Mall!" ucap Alif girang. "Kakak nonton bareng! Makan bareng----"
"Kakak jangan halu..." gumam Airi hendak masuk kekamar namun Alif menahannya.
"Kamu nggak percaya banget!" gerutu pemuda itu dengan kesal.
"Terus, Kak Ray tau dong kalau selama ini abang cuma fake nerd!?" tanya Airi, Alif terdiam lalu menggeleng.
"Ray nggak kenal sama kakak!" tawa Alif terdengar membuat Santi menghampiri dua anaknya.
"Ada apa sih ini?" tanya Santi mengusap pucuk kepala Airi.
"Kakak bilang tadi dia ketemu Kak Ray di Mall, terus Kak Ray nggak kenal sama kakak," tutur Airi.
"Iya, mah! Alif ngaku nama Azka ke Ray! Dia percaya! Hahaha! Emang ya, kacamata berpengaruh banget buat wajah Al!" tawa Alif membuat dua wanita didekatnya terdiam.
"Al!? Kamu ngomong apa!?" tanya Santi bingung.
"Azka!? Ya ampun!" tawa Airi pecah begitu saja.
"Nanti kalau ketemu lagi gimana!? Terus Kak Ray tau kalau kakak cuma bohong!" tegur Airi membuat Alif panik sejenak.
"Ah, nggak mungkin! Aman kok!" kekeh Alif merapikan tatanan rambutnya.
"Huh... kalian ini, yaudah Airi tidur lagi. Al, kamu mandi dulu sebelum tidur," titah Santi lembut.
"Kamu udah makan?" tanya Santi, Alif mengangguk lalu masuk kekamarnya.
Alif merebahkan tubuhnya dengan senyuman yang tak pernah luntur. Ia kembali teringat saat bersama Ray beberapa waktu lalu. Senyuman gadis itu bahkan masih terngiang dikepalanya, aroma rambutnya bahkan caranya menjawab setiap pertanyaan darinya.
"Ray, gue beneran suka sama lo." Alif terkekeh pelan menatap kacamata dan seragam sekolahnya.
"Sorry ya Alif, kayaknya Azka lebih beruntung dari pada elo!" tawa Alif kemudian masuk kekamar mandi guna membersihkan diri.
Faris memarkirkan mobilnya didepan rumah makan, Ray turun lebih dulu disusul oleh Faris.
"Mau makan apa?" tanya pelayan.
"Ica mau sate!" ucap Ray pada Faris.
"Sate seporsi, sama nasi goreng. Minumnya, teh hangat dua," tutur Faris, pelayan pun pergi menyiapkan pesanan mereka.
"Bunda nelepon," ucap Faris menjawab panggilan dari sang ibu.
"Iya, bund? Ayis lagi makan sama Ica," ucap Faris diangguki Ray.
"Iya, Ica cantik baik-baik aja kok," kekeh Faris sambil mengacak pelan rambut sang adik. Ray berdecak lalu mengambil alih ponsel Faris.
"Bund! Abang berantakin rambut Ica!!" adu Ray membuat Renata dan Jonathan yang berada diseberang sana tertawa.
"Dasar," kekeh Faris kembali mengambil ponsel tersebut.
"Kenapa, yah? Sekolah? Baik-baik aja kok," ucap Faris dengan tatapan serius.
"Balapan? Um... Ica, menang kok!" kekeh Faris garing.
Ray nampak menguping pembicaraan tersebut dan berakhir pada kalimat.
"Jaga nama, Samudera."
Faris mengangguk dengan senyum kecil, kemudian menatap Ray yang nampak sedih.
"Jangan dipikirin, Ica tetap hebat kok dimata abang!" puji Faris mencubit gemas dua pipi adiknya hingga Ray tersenyum.
"Abang, nggak pernah nolak permintaan ayah buat ngehadirin rapat perusahaan ya? Pasti capek," ucap Ray kembali membuat Faris tersenyum.
"Ica kagum sama abang," ucap Ray jujur. "Abang udah bisa megang perusahaan, sementara Ray, bisanya cuma megang HP sama stick game!" tawa Ray membuat Faris juga tertawa.
"Selama Ica belum siap, ayah nggak bakal maksa Ica kok buat nerusin perusahaan," tutur Faris lembut.
Ray menarik napas lalu tersenyum seraya mengalihkan pandangannya.
"Kadang, Ica mikir. Ica pengen hidup biasa-biasa aja, asal ayah sama bunda ada dirumah," kekeh Ray membuat Faris terdiam.
"Jangan sedih dong, kan ada abang! Ada bibi, ada May sama Kay! Ica nggak sendiri!" ucap Faris merangkul bahu sang adik hingga Ray tersenyum.
Pesanan mereka pun datang, keduanya makan bersama dengan sesekali bercanda gurau guna menghibur suasana hati Ray.